CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 26 RENCANA RHIANNA


__ADS_3

Beberapa detik, ia memandangi wajah suaminya.


"Aku akan bersamamu hanya dalam waktu satu tahun? Kenapa seperti itu."


Dirinya memang tak pantas untuk bersanding dengan pria seperti Erland. Harusnya pria tampan itu bersanding dengan perempuan yang jelas asal usulnya.


"Nona, kesibukan Anda apa selama menjadi istri Erland? Apa Anda punya perusahaan sendiri?"


Ia teringat akan pertanyaan Jack tadi, dia bahkan menanyakan hal yang memang sangat wajar dikalangan orang-orang seperti mereka. Dirinya yang bukan apa-apa dan bukan orang terpandang, merasa tak pantas memiliki keluarga seperti ini.


"Tuan, kita memang beda."


Ia menutup mata berusaha melupakan apa yang sudah terjadi hari ini. Berharap esok hari akan ada kehidupan yang lebih baik.


***


Satu suapan terakhir mendarat di mulutnya. Rhianna kemudian mengambil sesuatu di tasnya. Ia menyodorkan sebuah tiket.


"Apa ini, Ma?" Erland tahu itu adalah tiket pesawat. Hanya saja ia bingung apa tujuan Rhianna memberikannya itu.


"Tiket bulan madu. Mama sudah booking hotel dan beberapa tempat wisata untuk kalian kunjungi berdua," jawabnya sangat antusias. Rhianna tersenyum lebar dan meneguk air dengan cepat.


Nayra langsung memandang ke arah Erland. Dia meletakkan sendok dan juga buru-buru minum. Rhianna masih dengan senyum semangatnya dan menatap Erland dan Nayra bergantian.


"Ma, sepertinya—"


"Tidak ada penolakan! Hargai usaha Mama."


"Tapi, Ma. Bagaimana Erland mau senang-senang di sana, jalan pun gak bisa. Jangan berlebihan, Ma," ucap Erland keberatan.


"Kan ada Nayra, kalian berdua akan bersenang-senang di sana. Kemana pun bareng."


Sekuat tenaga Erland menolak, Rhianna tetap pada pendiriannya. Ia bahkan membujuk Nayra dengan muka memelasnya.


"Ya udah, Ma," Jawab Nayra pada akhirnya menyetujui dan mendapat tatapan tajam dari Erland.


"Tuan, mau berangkat sekarang?" Frans tiba-tiba muncul. "Kata mas Mario, ada meeting pagi," ujarnya memberitahu.


Arah pandang Frans mengarah pada kekasihnya. Nayra yang ditatap pun membuang muka. Jelas saja Frans mendengarnya tentang apa yang sedang mereka bertiga bicarakan barusan.


"Bulan madu? Aku tidak akan membiarkan!"


"Erland, pokoknya besok kamu harus berangkat sama Nayra," teriak Rhianna saat Erland sudah berjalan menjauh. "Nayra, persiapkan baju dan barang-barang yang mau dibawa besok ya."


Nayra mengangguk dan kembali ke kamar. Di sana dia mengambil koper besar dan mulai memasukkan pakaiannya dan juga pakaian Erland.


"Bulan madu? Apa yang akan terjadi nanti?"


Ia menggeleng kuat. "Tidak, tidak akan terjadi apa pun!"


[Jangan berangkat besok! Aku akan menggagalkannya!]

__ADS_1


Sebuah pesan masuk dari Frans, Nayra langsung melotot membaca pesan itu.


[Frans! Jangan konyol! Jangan buat masalah, lagipula kita sudah ada perjanjian. Kenapa kamu masih saja belum percaya?]


Setelah mendapat pesan dari Frans membuat dirinya tidak mood untuk packing. Dia membiarkan bajunya tercecer di lantai. Belum selesai memasukkannya dalam koper.


TOK!


TOK!


TOK!


"Nayra ...."


"Dara, masuk saja." Terdengar suara sahabatnya memanggil. Nayra mempersilakan Dara untuk masuk saja.


"Ciee ... Yang mau bulan madu," godanya seraya menyenggol lengannya.


"Apaan sih. Bantuin aku kemas pakaian dong."


Kehadiran Dara cukup membantu dirinya. Tapi tiba-tiba ia teringat akan Frans.


"Dara, kamu suka nonton gak?"


Dara menatap sahabatnya dengan heran. "Ya, suka aja sih. Kamu mau ngajak nonton, Nay? Ayo aja sih."


Nayra menggeleng, "Frans suka nonton. Kamu coba ajak dia nonton."


"Iya, apa aku aja yang ngomong?"


Tanpa ragu Dara langsung mengangguk. Ia mengatakan tidak cukup berani untuk mengajak Frans bicara. Karna dirinya pernah mengajak Frans berbicara tapi pria itu sangat dingin.


"Baiklah, nanti aku ngomong."


Nayra juga ingin mengetes Frans. Apakah dia juga tertarik dengan wanita lain?


[Dara menyukaimu. Kamu tahu Dara, kan? Pelayan yang sering bersamaku itu. Dia katanya mau ngajak kamu nonton, kamu mau gak?]


Setelah Dara pergi, Nayra mengetikkan pesan untuk Frans. Dan tak berapa lama Frans membalas.


[Mau, ada film baru sih.]


Nayra langsung berapi-api membaca balasan dari Frans. Tak terduga bahwa kekasihnya itu malah menerima ajakan dari Dara.


[Apa? Kamu mau? Jalan dengan Dara?]


[Kenapa? Kamu aja mau berbulan madu dengan pria lumpuh itu!]


Nayra menghentakkan kakinya dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Hatinya sakit mendengar Frans yang secara terbuka menerima ajakan dari Dara.


[Aku juga ingin bersenang-senang dengan wanita selain kamu.]

__ADS_1


Begitu balasan yang dikirimkan padanya lagi membuat Nayra tambah panas.


"Tidak masalah, Nayra. Kamu dengan Dara bukan saingan yang sebanding. Tidak mungkin Frans akan berpindah hati."


.


.


.


Hari mulai sore, di jam-jam ini Erland akan segera pulang. Nayra sudah bersih-bersih dan memakai pakaian yang bagus.


Tak berapa lama terdengar deru mesin mobil dari depan. Nayra langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu utama. Di sana ternyata sudah ada Rhianna.


Pandangan Erland langsung mengarah pada Nayra yang berdiri di sebelah ibunya. Nayra langsung menghampiri dan mengambil alih pegangan kursi rodanya yang semula dipegang oleh Frans. Tak ada lempar pandang antara dirinya dengan Frans seperti biasa. Nayra sengaja menghindari dan Frans juga begitu.


"Kenapa wajahmu?" Nayra yang sedang melepaskan sepatu miliknya lantas mendongak.


"Kenapa, Tuan?" Ia meraba wajahnya sendiri dan merasa tidak ada apa-apa.


"Wajahmu cemberut, seperti ada sesuatu," ucap Erland merasa sok tahu. Padahal apa yang dikatakan suaminya ada benarnya. Ia memang masih diselimuti perasaan jengkel atas ulah Frans.


"Ah, tidak. Wajahku memang seperti ini."


"Iya, Jelek!" ejek Erland sembari tertawa singkat.


Nayra langsung memandang ke arahnya dengan tatapan tak percaya bahwa Erland bisa tertawa. Dia mengejeknya dan seperti menertawainya.


"Rambutmu kusut! Seperti tidak dirawat." Erland memegang rambutnya sedikit dan mengibaskannya. "Pakai kartuku untuk perawatan! Jika orang-orang memandangmu seperti ini, dikira aku tidak memberikanmu uang!"


Nayra masih terdiam dengan keterkejutannya sendiri. Ini pertama kalinya Erland mengomentari penampilannya. Bahkan ia tak segan untuk menyuruhnya merawat diri.


Dan baru tersadar bahwa Erland yang sekarang sudah tidak sering banting-banting barang secara tiba-tiba. Ia sudah berubah, bahkan berbicara pun panjang tidak seperti dulu yang singkat-singkat.


"Apa kamu tuli?" Erland menoyor kepala istrinya, karna sedari tadi ia mengajaknya berbicara tapi Nayra hanya diam saja.


"Iya, Tuan. Nanti saya ke salon.".


"Jangan nanti! Sekarang!"


Nayra langsung terkagetkan, dia meletakkan sepatu milik Erland dan kembali ke tempatnya semula. Ia berdiri menatap Erland.


"Salon mana yang buka malam-malam, Tuan?"


"Banyak! Jangan alasan!"


Nayra memutar bola matanya jengah, bukan karna banyak alasan, hanya saja dia males jika malam-malam pergi keluar.


"Cepat bersiap-siap. Aku akan menemanimu."


"Hah?????" Nayra teriak dalam hati. "Mimpi apa aku semalam."

__ADS_1


__ADS_2