
Langkah kaki Frans semakin jauh, meninggalkan hunian mewah itu. Dia berjalan menuju halte. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidupnya nanti, ia tidak tahu. Tak ada yang ia pikirkan lagi sekarang selain untuk mencari pekerjaan baru. Ia harus punya penghasilan untuk kelangsungan hidup dia dan juga keluarganya.
"Hey, Frans! Apa kabar?" Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Sosok lelaki bertubuh tinggi, kulit sawo matang dan rambutnya gondrong. Tapi penampilannya sangat rapi dengan memakai kemeja lengan panjang dan celana hitam bersepatu.
"Adit?" Frans sampai tak mengenali sahabat lamanya itu. Penampilannya berubah 180 derajat.
"Iya, apa kamu lupa denganku?"
Bis yang mereka tunggu akhirnya datang, mereka naik bersama-sama.
"Iya, kamu berubah, Dit. Aku sampai hampir tak mengenali," ucap Frans. Bagaimana tidak, teman yang ia kenal pendiam saat di sekolah dulu kini berpenampilan bak seperti preman kantoran.
"Penampilanku berubah karna pekerjaan."
Frans mengamati penampilan temannya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Juga saat lelaki itu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dan ia cukup tercengang dengan ponsel milik Adit. Yang ia taksir harganya puluhan juta.
"Kamu kerja dimana, Dit? Ajak-ajak aku lah. Aku habis keluar dari kerjaan nih."
Adit langsung tersenyum dan mengangguk, ia mengatakan bahwa ada bagian kosong di pekerjaannya.
"Wah, ternyata rejeki gak kemana. Lepas dari orang kaya, aku bakal jadi orang kaya beneran."
.
.
.
Sudah sejak kemarin, Rhianna hanya diam. Dia hanya mengangguk, menggeleng dan sesekali mengatakan tidak atau tidak mau.
Sampai detik ini pun Erland belum tahu alasan Rhianna yang menyuruhnya untuk menceraikan Nayra.
"Hah? Apa yang terjadi di rumah?" Erland baru mendapat kabar dari pelayan di rumah bahwa Frans pergi meninggalkan rumah kemarin. Padahal tidak ada perkataan mengundurkan diri kepadanya.
Ia lantas mengaitkan tentang kondisi Rhianna dan kepergian Frans yang mendadak. Juga Nayra yang tak kunjung memberi kabar untuknya. Ia paham pasti Nayra sedang menemani Alvin yang baru saja kecelakaan, tapi tak biasanya istrinya ini tidak memberitahu keberadaannya.
"Erland, apa sudah kamu urus semuanya?" Rhianna yang tiba-tiba mau berbicara panjang membuat Erland buru-buru mendekat.
__ADS_1
"Mengurus apa, Ma?"
Rhianna berdecak lalu melemparkan bantal ke arahnya. "Perceraian! Apa kamu masih kurang paham? Mama ingin kamu menceraikan perempuan itu!"
Permintaan Rhianna sebenernya gampang ia kabulkan karna memang mereka menikah diatas perjanjian. Walau perjanjian tersebut belum habis masa waktunya. Tapi tujuannya untuk mendapatkan semua kekayaan dari mendiang Papa-nya sudah terlaksana.
Tapi entah kenapa Erland tak bisa mengabulkan permintaan ibunya yang terasa berat.
"Ma—"
"Kalian menikah kontrak,kan?"
DEG.
"Mama sudah tahu. Mama waktu itu tidak sengaja membuka lemari kamu dan menemukan sebuah surat perjanjian," ucapnya membuat Erland seketika membeku. Saat Rhianna membaca isi perjanjian tersebut sebenarnya ia ingin marah. Tapi kemudian ia tersadar bahwa memang mereka menikah atas sebuah paksaan darinya. Nayra juga waktu itu terpaksa mengiyakan karna masih membutuhkan biaya sekolah adiknya, juga Erland yang harus segera menikah atas wasiat Papa-nya.
"Jadi, untuk apa buang-buang waktu lagi. Sekarang saja langsung ceraikan. Dan kamu bebas memilih perempuan lain yang lebih segalanya dari wanita tidak tahu diri itu."
Erland semakin penasaran kenapa ibunya sampai sebenci itu dengan Nayra. Padahal dulu selalu menyanjung Nayra dan sangat menyayanginya.
"Apa alasan Mama menyuruhku untuk berpisah dengannya?"
"Erland, Mama tidak mau pakai Frans lagi untuk jadi sopir. Mama ingin cari sopir baru." Rhianna malah mengalihkan pembicaraan. Tak mau menjawab pertanyaan dari Etland.
Mendengar itu Erland langsung tersadarkan sesuatu.
"
Apa Mama sudah tahu yang sebenarnya? Siapa yang memberitahu Mama?"
[Mario, apa kamu yang memberitahu Mama soal Frans dan Nayra?]
[Tidak, Tuan. Saya tidak mengatakan apa pun sama Nyonya.]
Begitu lah balasan dari Mario. Kini ia pun bertanya-tanya sendiri.
"Tuan, kenapa nona tidak kesini sejak nyonya Rhianna dirawat?" Sejak Rhianna dirawat, Bi Har yang setia menemani dan juga membantu semuanya. Pekerjaannya kembali seperti semula yang menjadi pelayan untuk Erland.
__ADS_1
"Tidak tahu," jawabnya. Ia juga sempat kesal karna Nayra sama sekali tidak menjenguk apalagi memberi kabar.
Saat Bi Har membantu memakai baju, ia tiba-tiba teringat akan Nayra. Wanita itu sering ia goda saat ingin memakai pakaian dan itu membuat pipinya semerah tomat. Ia tersenyum dalam hati mengingat kenangan lucu itu.
"Nona, Nona Nayra ....." Saat Bi Har sedang membuang sampah di depan, ia seperti melihat Nayra dari kejauhan.
Erland langsung bergerak ke depan saat mendengar teriakan Bi Har yang menyebut nama istrinya.
"Ada apa, Bi?" tanyanya.
Pelayan senior itu menunjuk ke beberapa orang yang sedang berjalan melewati koridor rumah sakit. Tapi Erland tidak melihat Nayra di antara orang-orang itu.
"Saya sepertinya melihat nona Nayra, Tuan. Nona tadi berdiri di sana dengan mata terus memandang ke arah sini. Saat saya panggil, Nona malah pergi." Bibi Har sebenernya rindu dengan Nayra, karna mereka sudah lama tidak bertemu. Entah apa yang sedang terjadi pada keluarga majikannya, ia tak berani bertanya. Karna itu bukan haknya mengetahui apa yang telah terjadi.
"Tuan, Nyonya Rhianna untuk hari ini belum bisa pulang dulu. Kondisinya belum stabil dan harus diperiksa secara berkala. Mungkin sekitar 1 minggu lagi bisa pulang."
Mendengar penjelasan dokter, Erland semakin cemas dengan keadaan Rhianna. Ia sedih saat ibunya sedang sakit begini.
"Bagaimana? Mama bisa pulang, kan?" Rhianna sudah tidak betah harus berlama-lama di rumah sakit. Suasananya tidak nyaman dan lebih nyaman tinggal di rumah. Setiap hari disuntikkan oleh cairan dan juga minum obat sesuai resep dokter membuat dirinya bosan.
"Mama belum bisa pulang, Ma. Mama belum terlalu sehat. Masih harus dirawat. Mama kondisinya belum stabil jadi dokter belum bisa memberikan ijin untuk pulang."
Rhianna langsung membuang muka. "Bagaimana mau sehat, kamu aja tidak mau menceraikan wnaita menjijikkan itu!" gerutunya.
Ia melihat keadaan ibunya memang memprihatinkan. Wajahnya pucat sekali dan untuk makan susah.
"Mama ingin aku menceraikan Nayra sekarang?"
"Iya! Mama ingin kamu berpisah dengannya," kekeh Rhainna tak mau diganggu gugat.
"Baiklah."
Mendengar jawaban putranya, Rhianna langsung bersorak riang. Akhirnya keinginannya akan cepat dikabulkan.
"Kita hidup berdua lagi, Erland. Mama lebih bahagia dengan keluarga kecil kita. Tak ada orang asing yang masuk ke rumah. Mama janji tidak akan mengajak orang asing untuk datang."
Kini yang Erland pikiran adalah membuat senyuman yang lebar untuk ibunya. Apa pun akan ia lakukan untuk kesenangan ibunya.
__ADS_1
"Mario, tolong urus cepat surat perpisahan aku dan Nayra. Aku—"
Ia merasa sesak di dalam dada. Kenangan indah bersama Nayra selalu terbayang-bayang dalam ingatan.