CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 22 HASILNYA?


__ADS_3

Bau harum masakan membuat langkah Rhianna terhenti. Ia memutar tubuhnya dan berjalan ke salah satu pelayan yang sedang memasak.


"Kamu tidak masak seafood, kan?" tanyanya. Ia juga melihat bahan-bahan masakan yang berjejer di atas meja dapur. Di sana banyak sayuran hijau yang segar juga daging mentah.


"Tidak, Nyonya," jawab pelayan itu.


"Baiklah. Siapkan segera," ujarnya sambil berlalu pergi.


"Nyonya, tuan Erland dan nona Nayra sepertinya belum bangun. Mereka belum keluar kamar dan pintunya dikunci," ucap Bi Har pada Rhianna. Entah kenapa senyum Rhianna merekah.


"Biarkan saja. Mungkin mereka butuh istirahat banyak."


Bi Har lalu mengangguk dan kembali ke pekerjaannya. Tapi seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua langsung mengepalkan tangannya. Dia merogoh ponsel dan langsung menghubungi nomer seseorang.


Entah panggilan ke berapa dan akhirnya diangkat. Tapi sunyi, tak ada suara apa pun yang keluar dari sebrang telefon. Dengan kesal Frans langsung mematikan sambungan telepon itu.


Sebuah ponsel yang rasanya asing berada di genggamannya saat ini, ia menoleh sekilas pada wanita di sebelahnya. Lalu perlahan jari jemarinya menyentuh pundak wanita itu. Tepuknya pelan dan tak berapa lama, mata wanita itu mengerjab. Perlahan membuka kedua matanya dan persis di hadapannya adalah wajah suaminya.


Nayra langsung terjingkat kaget dan menyadari bahwa hari telah pagi. Sinar mentari telah terang benderang. Cahaya indah itu masuk melalui sela-sela jendela kamar. Walaupun gorden belum dibuka, tapi sinarnya telah membuat ruangan menjadi hidup.


"Siapkan aku air hangat untuk mandi," perintahnya kemudian dan ia melemparkan ponsel milik istrinya yang langsung jatuh di pangkuannya.


Mata Nayra membulat, ia segera meraih ponselnya dan mengecek isinya. Tak ada notifikasi apa pun, bahkan tak ada riwayat apa pun.


"Ponselmu jatuh tadi," ucap Erland dan seketika membuat hatinya lega.

__ADS_1


Nayra langsung turun dari ranjang dan bersiap menyiapkan air hangat untuknya. Walaupun rasa kantuknya masih terasa. Nayra masih mengantuk, bisa dihitung ia hanya tidur beberapa jam saja.


Tubuhnya hampir saja ambruk saat tak sengaja menginjak lantai yang licin. Untung saja ia langsung berpegangan pada benda disekitar kamar mandi.


Tak lupa ia membasuh wajahnya terlebih dahulu agar terasa segar. Saat ia bercermin, kejadian semalam sekilas teringat. Dengan cepat ia menggelengkan kepala dan berdoa agar bisa melupakan itu semua.


Dan ia juga teringat akan ponselnya, walaupun Erland selama ini tidak pernah memperdulikannya tapi ia juga harus berhati-hati. Seperti tadi yang tiba-tiba ponselnya berada di genggaman tangannya. Ia takut apabila Frans tiba-tiba menghubunginya. Dan tentu itu akan jadi masalah besar.


***


"Nay ...." Kepalanya hampir saja limbung, saat tersadar dirinya mengantuk berat. Bahkan sendok yang berada di tangannya terlepas begitu saja. Kesadarannya tersentak saat ibu mertuanya memanggilnya dengan penuh kelembutan. "Kamu masih mengantuk, Sayang?" Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar, menatap Rhianna yang memandanginya dengan heran.


Nayra menggeleng cepat, tapi usahanya untuk berbohong nyatanya sia-sia. Ia ketahuan menguap setelah menggelengkan kepala membuatnya sangat malu.


"Semalam tidur jam berapa sih? Apa semalam tidur kamu kurang?" tanya Rhianna penuh perhatian, ia juga berusaha mencari jawaban dari sorot mata putranya. Tapi Erland tampak acuh dan hanya sesekali melirik sekilas percakapan keduanya.


Pagi ini, Nayra tampak tak bersemangat. Ia benar-benar kurang tidur.


"Nay, kamu belum coba itunya ya?" tanya Rhianna saat Erland sudah berangkat ke kantor.


Seketika Nayra langsung menepuk jidat. "Oh ya, Ma. Nayra lupa." Ia benar-benar lupa akan janjinya pada Rhianna. Walaupun ia sudah menebak hasilnya nanti bagaimana, tapi setidaknya ia menghargai pemberian dari Rhianna.


"Ya sudah, coba aja sekarang. Ayo, mumpung masih pagi," suruhnya bersemangat.


Bunyi kran yang mengalir menemani dirinya seraya menunggu hasil yang akan tercetak jelas di benda pipih tersebut. Rasanya aneh saat menggunakan benda itu karna seumur hidupnya ia baru kali ini memegang benda tersebut.

__ADS_1


Rhianna yang menunggu di luar tak melunturkan senyumannya sedari tadi. Entah kenapa ia begitu bahagia walaupun ekspektasinya akan jadi kenyataan atau tidak.


Nayra disambut pelukan oleh Rhianna, dirinya didudukan di atas ranjang. Sedangkan tangan kanannya sudah menggenggam erat benda pipih itu.


"Mana, Nay? Coba Mama lihat." Rhianna menengadahkan tangannya. Wajahnya begitu sumringah membuat Nayra tambah bersedih. Ia merindukan sosok ibu sepertinya, yang penuh perhatian dan juga sangat menyayangi. Nayra dianggap seperti anaknya sendiri tanpa dibedakan. Dulu saat baru bekerja di sini juga perlakuan Rhianna sama persis dengan apa yang beliau lakukan padanya.


"Maaf, Ma," lirihnya dan air matanya menggenang.


Rhianna masih tersenyum saat melihat hasilnya dan kemudian memeluk Nayra kembali. "Tidak apa-apa, Nayra. Mama—" Suaranya terpotong dan terdengar isakan tangis.


"Ma ... Mama nangis?" tanyanya. Rhianna tak melepaskan pelukannya, ia bahkan menangis dan air matanya turun deras mengenai punggungnya. "Ma ..." Nayra ikut merasakan kesedihan. Air matanya yang sedari tadi berusaha ia tahan akhirnya tumpah juga.


"Mama terlalu berlebihan, Nay. Maafkan Mama." Sesaat setelah pelukan itu lepas, Rhianna meminta maaf. "Mama terlalu mengharapkan seorang cucu. Mama terlalu memaksakan. Kamu tahu sendiri, Mama hanya punya Erland. Dia satu-satunya darah daging Mama. Mama bersyukur bisa ketemu dengan kamu, yang mau menerima segala kekurangan dari Erland. Maafkan, Mama. Jika Mama terlalu memaksakan semuanya."


Nayra paham apa yang dirasakan dan dikhawatirkan Rhianna, hanya saja ia sedikit kecewa pada keputusannya yang menikahkan Erland dengannya. Mungkin saja kalau Erland menikah dengan wanita pilihannya sendiri, mungkin peluang untuk mendapatkan cucu secepatnya akan cepat terkabul. Nyatanya yang dijalani pernikahan putranya adalah pernikahan kontrak dengannya.


"Nayra yang minta maaf, Ma. Nayra sudah bohongi Mama. Sepertinya Nayra tidak bisa memberikan cucu untuk Mama. Maafkan, Nayra."


Permintaan maaf hanya mampu ia ucapkan dalam hati. Ia tak mungkin jujur semuanya.


"Nay, Mama harap kamu selalu sabar ya menghadapi sikap dan sifat anak Mama. Erland itu sebenernya sangat penyayang dan kalau sudah mencintai seseorang, ia akan berusaha mendapatkannya. Mama lihat-lihat sekarang ini Erland banyak melempar pandangan ke kamu dan sering mencari perhatian."


Penuturan dari Rhianna membuatnya terheran. Apa maksud dari perkataan ibu mertuanya?


"Mencari perhatian? Maksud Mama?"

__ADS_1


"Aduh, Nay. Contohnya kaya kemarin sih, Erland tiba-tiba pulang cepat. Terus pulang-pulang langsung cari kamu, langsung nanyain kamu. Itu contoh kecilnya, pastinya banyak lah hal yang sudah kalian lalui bersama. Kamu yang lebih tahu, Nay," ujarnya panjang lebar.


Nayra masih kebingungan dan mencerna perkataan ibu mertuanya dan ia pun mulai memutar memorinya kembali dan teringat akan kejadian slow romantis itu. Saat tiba-tiba Erland menciumnya dan kejadian malam tadi. Itu terjadi begitu saja.


__ADS_2