
"Frans!!!" Pria itu mengambil satu cangkir yang ingin ia berikan pada Erland. Membawanya entah kemana, langkah kakinya cepat hingga Nayra kehilangan jejak.
"Frans, mau kemana kamu?" teriaknya dan tak sengaja kedengaran oleh staf yang ada di lantai itu.
Seluruh pasang mata melihat Nayra yang sedang berlari menyusul seseorang. Dan Nayra akhirnya kembali lagi ke dapur. Tapi ia memilih duduk di sana.
Ruang dapur yang sepi, membuat Nayra nyaman di sana. Mungkin staf kebersihan sengaja menghindari Nayra yang sedang duduk di dapur.
Di kesendiriannya, Nayra kepikiran dengan Alvin. Sejak kepergiannya dari rumah mertuanya, ia belum mengunjungi Alvin di rumah mendiang orang tuanya.
****
Hari-hari pun berlalu, Erland sudah pulih dari sakitnya dan beraktivitas seperti biasanya. Sedangkan Nayra, ia sudah ada janji dengan Rhianna. Yang katanya akan mengajaknya ke tempat arisan para ibu-ibu sosialita.
"Mama gak salah ngajak Nayra?" Dirinya sudah berganti baju sesuai dengan pilihan Rhianna dan juga wajahnya sudah dipoles make up oleh seorang ahli make up yang didatangkan langsung oleh ibu mertuanya.
"Loh, salah kenapa, Nay? Kamu ini kan menantu Mama. Teman Mama juga harus mengenal kamu, walaupun kemarin waktu acara pernikahan sudah melihat kamu tapi Mama ingin mengenalkan secara langsung dari jarak dekat," kata Rhianna sembari meneliti penampilan Nayra yang tampak anggun. Dia merapikan sedikit sanak rambutnya yang menutupi dahinya.
"Nayra malu, Ma ..." Nayra tampak tak percaya diri, apalagi di sana ia akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki kasta yang tinggi. Dia takut, takut jika akan mempermalukan Rhianna.
"Malu kenapa, Nay. Sudah yuk kita berangkat."
Rhianna menarik tangan menantunya dan Nayra hanya mampu menurut mengikuti langkah kaki ibu mertuanya. Dalam hatinya tak berhenti berdoa, berharap di sana ia takkan salah berucap atau pun bertingkah.
Arisan yang diadakan setiap sebulan sekali itu untuk kali ini bertempat di sebuah restoran yang telah ditunjuk salah satu anggota geng arisan. Restoran mewah yang terkenal di kota. Rhianna menggandeng Nayra yang memasang wajah gelisahnya.
"Santai aja, Nay. Mama akan selalu di samping kamu." Rhianna tampaknya tahu apa yang dikhawatirkan menantunya. Dia tersenyum menenangkan Nayra yang merasa tak nyaman.
Sesuai rencana Rhianna, ia pun mengenalkan Nayra sebagai menantunya. Semua tampak kagum dan memuji paras cantiknya Nayra. Mereka tak berhenti memuji juga merasa salut dengan Nayra yang mau menerima kekurangan dari putra Rhianna.
Acara arisan pun telah usai, kini Nayra bisa bernapas lega. Satu persatu anggota arisan mulai meninggalkan ruangan. Kini hanya ada beberapa teman dari Rhianna yang masih betah untuk sekedar mengobrol hal yang tidak terlalu penting menurutnya.
__ADS_1
Rhianna mengatakan bahwa mereka akan pulang bersama Erland karna jam ini bertepatan dengan kepulangannya. Sopir yang mengantarkan mereka tadi sudah diberitahu untuk pulang saja.
"Nay, coba kamu telfon Erland. Dia sudah jalan apa belum?" pinta Rhianna kemudian dan melanjutkan lagi mengobrol dengan temannya.
Nayra tampak ragu untuk menelpon Erland, karna ia tak pernah sekalipun bertukar suara atau pun mengirimkan pesan untuknya. Walaupun dirinya sudah menyimpan lama nomer ponsel suaminya yang diberikan oleh Rhianna.
Wanita itu berjalan menjauh dari sisi Rhianna. Jarinya mulai mencari nomer ponsel suaminya yang masih dinamai dengan sebutan Tuan Erland. Butuh beberapa saat hingga panggilan itu terangkat.
"Hallo, Tuan. Saya disuruh mama Rhianna menanyakan apa Anda sudah jalan pulang?"
Nayra menghembuskan napasnya merasa lega saat apa yang sudah tersusun di otaknya dengan mudah ia ucapkan. Tapi tak langsung dijawab, hening dalam beberapa saat. Dan hampir saja Nayra mengeluarkan suaranya lagi, tapi tiba-tiba terdengar deheman dari sebrang telfon.
"Ehem. Iya aku sedang jalan pulang. Tunggu saja."
Tutttt .....
Panggilan langsung terputus begitu saja. Sudah tentu Erland-lah yang mematikan panggilannya sepihak sebelum Nayra sempat menjawab.
"Gimana? Sudah ada kabar?" tanya Rhianna tak sabar.
"Sudah, Ma. Mas Erland sedang di jalan katanya suruh tunggu."
Sebenarnya Nayra tak mau jika harus pulang bersamaan seperti ini. Apa jadinya jika dalam satu mobil ada dia, Erland, Rhianna dan Frans. Suasana bakal canggung sekali pasti.
Mobil yang ditumpangi Erland telah sampai. Rhianna duduk di depan bersama Frans sedangkan Nayra duduk dibelakang bersama Erland.
Didalam mobil cukup hening, sampai tiba-tiba Rhianna menanyakan sesuatu yang membuat mereka semua terkejut.
"Frans, kamu sudah menikah?" tanya Rhianna tiba-tiba membuat Frans yang sedang fokus menyetir sambil mengamati orang di belakangnya menjadi sedikit terganggu.
"Belum, Nyonya," jawabnya cepat. "Tapi, saya sudah punya calon," lanjutnya kemudian. Ia lantas melirik ke arah belakang melalui spion. Nayra yang sadar segera membuang muka. Ia tak mau ada yang curiga dengan mereka.
__ADS_1
"Oh, sudah punya calon? Iya pantas saja, kamu ini tampan, gagah, siapa yang gak mau sama kamu ya, Frans?" puji Rhianna diselingi tawa kecil.
Frans pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia tak menyangka bahwa majikannya ini ternyata sangat ramah dan juga tidak kaku. Tidak kebanyakan orang kaya yang lain yang terkesan sombong dan tidak punya keakraban dengan karyawannya.
"Tapi ketampanan saya masih kalah dengan ketampanan Tuan Erland, Nyonya." Frans pura-pura merendah karna penasaran dengan reaksi dari Erland. Tapi suami dari Nayra itu tak menanggapi, ia acuh seperti tak mendengar apa pun.
"Erland! Kamu dengar tadi? Frans memuji kamu tampan loh. Jarang-jarang ada pria yang memuji kamu," kata Rhianna sambil tertawa.
Entah apa yang lucu, mereka berdua tertawa lepas. Nayra pun hanya terdiam karna tak merasa itu hal yang lucu. Dia malah khawatir, perkataan Frans makin menjadi yang bisa-bisa membuat Erland marah.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Nayra mendorong kursi rodanya sampai ke kamar. Ia melepas anting dan aksesoris lainnya. Sebelumnya ia tak pernah seheboh ini dalam berdandan. Bahkan sepatu hak tinggi yang ia pakai lebih tinggi dari acara pernikahannya waktu itu. Kakinya terasa pegal sekali.
"Aku pinjam ranjang mu sebentar." Kakinya ia selonjorkan di atas ranjang seraya ia pijit perlahan.
Erland yang masih berada di atas kursi roda hanya mampu memandangi Nayra. Ia melihat bagian tumitnya memerah.
"Suruh pelayan obati kakimu," kata Erland tiba-tiba. Ia langsung membuang muka dan menjalankan kursi rodanya menuju jendela.
"Dia tadi bilang apa? Obati kakiku?"
Nayra tersenyum singkat, merasa bahwa Erland memperhatikannya sedari tadi.
"Saya siapkan air mandi untuk Tuan dulu." Nayra lantas turun dan bersiap menuju kamar mandi.
"Pergi! Dan obati kakimu!" seru Erland. Ia memutar kursi rodanya dan melayangkan tatapan tajamnya pada Nayra.
"Hm, baik, Tuan." Nayra menunduk dan mengangguk. Ia segera keluar kamar untuk mengobati kakinya. Tepat dibalik pintu setelah ditutup, Nayra memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Ada apa? Kenapa wajahmu berkeringat? Apa yang terjadi?" Secara tiba-tiba Frans berada di hadapannya. Dia memegang kedua bahunya dengan wajah khawatir.
"Frans! Kenapa kamu di sini?" Nayra ketakutan, dia langsung celingukan takut-takut ada yang lewat.
__ADS_1