
"Frans, jaga ucapan mu!" Nayra tampak tak suka dengan hinaan dari kekasihnya itu terhadap suaminya.
"Oh, kamu marah? Membelanya? Jangan-jangan kamu sama dia sudah—" Suaranya seakan tercekat di tenggorokan, Frans tak kuat melanjutkan perkataannya. Takut itu adalah sebuah kebenaran.
"Sudah apa?" tanyanya. Suasana diantara keduanya tampak tegang. Nayra melipat kedua tangannya di atas perut sembari menatap kekasihnya itu.
"Aku curiga, saat kalian berdua bangun kesiangan. Kalian—" Frans kembali memotong perkataannya lagi, ia tak mau pikiran negatifnya menjelajahi otaknya.
"Apa yang harus dicurigai? Apa kamu tidak pernah bangun kesiangan?"
Pengunjung cafe seketika langsung memperhatikan mereka berdua, terdengar keduanya saling berdebat menjadi pusat perhatian.
Frans akhirnya menarik kekasihnya keluar dari cafe. Karna suasana di dalam sana sudah tidak nyaman.
***
Nayra berjalan sangat pelan saat memasuki rumah. Padahal hari sudah menjelang sore. Hanya ada satpam di depan yang menyambut kedatangannya. Para pelayan pun tak tampak berada di luar.
Tapi saat ia membuka pintu, Erland sudah berada di ruang tamu bersama seorang wanita cantik.
"Selamat sore, Nona Nayra." Wanita cantik yang ia perkirakan berumur lebih tua darinya langsung berdiri dan menyambutnya. "Akhirnya Anda pulang juga," lanjutnya.
Tiba-tiba tangannya ditarik dan diajak ke sebuah ruangan.
"Anda siapa?" Nayra berusaha menepis tangannya perlahan. Ia menatap wanita asing itu dengan heran.
"Oh, maaf. Saya lupa memperkenalkan diri. Saya adalah seorang ahli make up artist, saya disuruh tuan Erland mendandani Anda malam ini. Katanya untuk menghadiri acara penting." Nayra yang tidak tahu apa-apa dan merasa ini sangat mendadak dengan tegas menolak. Ia tidak mau, Erland pun tak memberitahunya dari awal. Acara penting apa? Dia tidak cukup punya kepercayaan diri untuk bertemu orang-orang penting.
"Nona, percaya sama saya. Anda akan saya buat sangat cantik dan memesona malam ini," rayunya kemudian. Wanita itu memaksa Nayra untuk duduk dan langsung mengikat rambutnya tinggi untuk mempermudah saat di make up.
"Suami saya tidak mengatakan apa pun. Saya—"
"Mungkin untuk kejutan. Sudah ya, Nona tenang saja."
__ADS_1
Akhirnya Nayra pasrah, dia menurut saja. Sepanjang waktu wajahnya di rias, ia kembali teringat perdebatannya dengan Frans tadi. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk ia jawab sendiri.
"Lalu kenapa saat aku telfon pagi itu kamu malah diam saja? Kamu mengangkatnya dan tidak mengatakan apa pun! Apa kamu terlalu nyaman tidur dengannya?"
Saat ia bangun kesiangan, tak pernah ia mengangkat telfon pagi-pagi. Ia tidak merasa mengangkat panggilan dari kekasihnya itu. Tapi kenapa Frans mengatakan seperti itu?
"Erland ....."
Erland tiba-tiba datang, ia sudah memakai jas rapi berwarna navy. Dia tampak tampan.
"Apa Erland yang mengangkatnya?"
Jika begitu, ia tak mempermasalahkannya. Karna sebelum itu ia telah mengganti nama kontak Frans dengan nama wanita. Tapi apa Erland mendengar suara dari Frans?
"Sudah selesai. Anda tinggal ganti baju."
Seorang pelayan datang membawa sebuah paper bag. Dan ia menolak untuk dibantu dalam memakai gaun itu. Nayra pergi sendiri ke kamar mandi untuk memakai gaun pemberian Erland.
Ternyata gaun yang dibelikan untuknya berwarna senada dengan jas yang dipakai Erland. Gaun tanpa lengan dengan panjang semata kaki tetapi ada belahan di sebelah kanan membuat dirinya terlalu sexy malam ini. Bagian dadanya terekspos dengan belahan yang indah. Dia ragu untuk keluar karna tak nyaman dengan gaun itu.
"Terima kasih," ucap Nayra.
Berjalannya waktu, pelayan di rumah ini akhirnya menerima Nayra sebagai nona baru. Sepertinya tak ada lagi omongan tidak enak yang ia dengar sekarang. Semuanya sudah normal dan mau memperlakukan Nayra sebagai nona rumah.
"Tuan sudah menunggu di mobil." Mendengar penuturan pelayan itu, Nayra cepat-cepat berjalan. Ia tak mau Erland menunggu lama, walau ia tidak tahu akan kemana mereka berdua malam ini.
"Mama dimana?" Ia baru teringat akan Rhianna, karna saat ia pulang tak melihat ada Rhianna.
"Nyonya Rhianna sudah ditempat acara sedari tadi." Mendengar Mama Rhianna juga hadir, dirinya semakin nervous. Ini pasti acara penting sekali yang dihadiri banyak pengusaha-pengusaha terkenal.
"Lama sekali!" ketus Erland saat Nayra baru masuk.
"Maaf."
__ADS_1
Nayra duduk sangat tidak nyaman, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan nanti di sana. Bertemu dengan kalangan atas membuatnya mati kutu.
"Gak usah tegang! Nanti di sana ada mama," ucap Erland yang menyadari wajah Nayra yang cemas.
"Kenapa ngomongnya mendadak sih? Terus apa aku harus wajib ikut?" tanyanya dengan muka sebal. Istrinya itu membuang muka ke luar jendela. Bertanya tanpa mau menatap wajah suaminya.
"Harus! Karna kamu yang dibutuhkan di sana," jawab Erland. Matanya mencuri-curi pandang ke arah istrinya, karna malam ini Nayra tampak cantik dan seksi dengan gaun yang dikenakan. Belahan gaun yang mencapai paha, membuat matanya tak berkedip.
"Maksud Anda?"
Erland langsung celingukan saat Nayra tiba-tiba memandang ke arahnya. Tak mau ketahuan sudah memperhatikannya sedari tadi, ia membuang pandangan ke arah lain.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya! Berisik!"
Nayra menghentakkan kakinya kesal, ia kemudian bersidekap dada. Jalanan kota di malam hari tampak padat, mereka sampai kejebak macet. Mungkin karna ini weekend, jadi banyak orang yang keluar rumah.
Mobil mereka berhenti di sebuah restoran mewah. Pelayan restoran sudah berdiri di depan pintu dan dengan ramah menyambut kedatangan mereka. Pelayan tersebut mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan yang letaknya masuk ke dalam restoran. Seperti ada ruangan khusus yang disediakan untuk tamu yang menginginkan suasana privat.
Saat masuk ke ruangan tersebut, ternyata di dalam sana hanya ada tiga orang. Mama Rhianna dan sepasang pria dan wanita. Pria yang berada di ruangan itu tampak tak asing di penglihatannya. Nayra mengamati betul wajah itu dan baru tersadar sesuatu.
"Oh dia adalah Jack."
Penampilan Jack sedikit berbeda malam ini, membuatnya hampir tak mengenali sosok pria yang memperkenalkan diri sebagai teman dari suaminya itu.
Pandangan Jack tak beralih dan fokus menatap Nayra yang berada di belakang kursi roda Erland.
"Kau tampak lelah, Nona?" Jack menghampiri Nayra dan mengganti posisinya untuk mendorong kursi roda milik Erland. Jack menempatkan Erland di tempat duduk yang telah disediakan. Sedangkan Nayra menyusulnya.
"Menantu Anda sangat cantik," puji Jack kepada Rhianna.
Hanya senyum singkat yang Rhianna perlihatkan. "Istrimu juga sangat cantik dan anggun," balasnya kemudian.
"Oh ya, perkenalkan ini istri saya namanya Meichan."
__ADS_1
Erland pun terkejut kalau Jack ternyata sudah menikah. Tak ada kabar dari temannya itu yang ternyata sudah beristri.