CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 11 TUGAS BARU


__ADS_3

Pagi buta, ia sudah bangun. Menyiapkan keperluan Erland untuk mandi dan pakaian untuk ke kantor. Ia memanggil Bi Har untuk membantu Erland. Karna dia akan pergi sebentar.


"Kamu mau kemana, Nayra?" Bi Har memperhatikan penampilannya kali ini. Tak ada yang beda, hanya saja Nayra sedikit memoleskan make up tipis di wajahnya yang cantik. Juga sepasang sandal dengan hak rendah dan sling bag sebagai pelengkap tampilannya.


"Aku mau ke rumah teman, Bi. Tidak lama kok." Nayra melirik jam lagi, sepertinya dia sudah terlambat. Tanpa basa-basi ia segera berlalu pergi.


Sebuah taxi untungnya langsung ada saat keluar rumah. Ia segera menaiki dan menuju ke sebuah cafe tempat pertemuannya dengan Frans.


"Lama sekali!" Kini Frans yang gantian tepat waktu. "Aku ijin dengan nyonya Rhianna hanya sampai jam 9. Lihat ini jam berapa?" Baru saja Nayra duduk, ia sudah diomeli Frans.


"Ya sudah lah. Kan aku sudah sampai nih, cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan denganku."


Pria itu masih memasang wajah sebalnya. Tapi karna tak mau membuang-buang waktu, akhirnya ia mengatakan apa yang sudah di dalam isi kepalanya. Ia sudah menyusun beberapa pertanyaan sekaligus permintaan untuk Nayra.


"Kamu pasti akan berpisah dengannya, kan? Setelah satu tahun pernikahan." Frans meraih kedua tangannya, ditatap dalam-dalam kedua bola matanya yang menyejukkan hati.


Nayra mengangguk, ia menggenggam erat jemarinya juga. "Itu isi perjanjian aku dengan tuan Erland," katanya.


"Lalu perjanjian apa lagi? Kalian belum melakukan—" Terlihat ragu saat mengatakannya, tapi Nayra ternyata sudah tahu maksud perkataan Erland.


"Tidak, kita tidak melakukan itu juga. Kita tidak saling mencintai," katanya membuat Frans menghela napasnya merasa lega.


"Jadi, kalian tak mungkin memiliki anak, kan? Kamu masih menjaga yang satu itu?" Frans melirik ke bagian sensitifnya membuat Nayra merasa malu.


"Apaan sih! Pokoknya aku sama dia tidak saling mencintai. Tidak mungkin kita akan melakukan itu," ucapnya yakin.


Frans pun lega, setidaknya wanita yang dicintainya masih suci tanpa sentuhan pria lain.


"Oh ya, sekarang gantian aku yang bertanya. Kamu kenapa kerja di rumah tuan Erland? Memangnya kerjaan kamu sebelumnya kenapa?"


Frans tertawa kecil lalu menjelaskan bahwa ia sebenarnya ingin memantau pergerakan Nayra bersama suaminya itu. Tak mau jika wanita pujaannya terlalu dekat dengan suaminya.


"Tapi aku dan tuan Erland sudah menikah. Sudah tentu kita akan selalu bersama dan juga satu kamar. Tapi percayalah, aku dan dia tidak melakukan hal diluar batas." Nayra berusaha menjelaskan. Berbicara lembut kepada dirinya juga tak pernah, apalagi sampai Erland menyentuhnya. Itu tidak mungkin.

__ADS_1


"Baiklah. Aku percaya padamu. Aku tidak rela jika pria lumpuh itu memakai tubuhmu. Aku sungguh tak rela."


"Jika tak rela kenapa dari dulu kamu tidak menikahi aku?" Kini gantian Nayra yang bertanya. Ia mengaduk minumannya dengan rasa berkecamuk di dada.


"Secara materi aku belum siap, sayang. Tolong kamu yang sabar."


Lagi-lagi soal materi, padahal Nayra tak meminta pesta yang berlebihan.


Di ujung jalan, Frans menurunkan Nayra. Sebenarnya tidak tega membiarkan wanita itu harus jalan kaki. Tapi tak mungkin juga Frans mengantarkan Nayra sampai ke rumah. Itu akan membuat siapa pun curiga. Walaupun mereka bisa beralasan kalau tidak sengaja bertemu di jalan. Tapi mereka tidak mau membuat orang lain berpikiran lain.


Mama Rhianna ternyata sengaja berdiri di depan pintu. Tepat Nayra pulang, ia disambut oleh ibu mertuanya.


"Kamu habis dari mana, Nayra?" tanyanya. Terlihat Rhianna yang memakai pakaian santai. Sepertinya hari ini dia tidak akan pergi. Mungkin karna Erland sudah mulai masuk kerja, jadi Rhianna bisa santai di rumah.


"Habis ke rumah temen, Ma. Ada sedikit hal yang harus diselesaikan," jawabnya. Rhianna mengangguk lalu mengajak menantunya masuk.


Tapi baru saja melangkah masuk, Rhianna kembali berjalan ke luar. Ia memanggil nama Frans sopir barunya. Nayra yang penasaran akhirnya berhenti, dan berdiri tak jauh dari pintu utama.


"Frans, mulai hari ini kamu yang mengantarkan dan menjemput Erland. Jadi, kamu mulai hari ini pergi ke kantor Erland. Menunggunya sampai dia pulang."


Nayra mulai gelisah. Apa jadinya jika Frans yang jadi sopir Erland.


"Ma, memangnya kenapa dengan sopir mas Erland?" Tiba-tiba Nayra datang, membuat mereka seketika mengalihkan pandangannya pada sosok Nayra.


"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja sepertinya Frans lebih cocok sebagai sopir Erland. Dia masih muda dan cekatan."


Nayra melirik Frans yang tersenyum senang. Entah senang atau mungkin ini mainan baru untuk Frans.


Hingga malam menjelang, hati Nayra tak tenang. Erland dan Frans belum pulang. Dia duduk di ranjang dengan sesekali menghadap jendela, barangkali mobil yang mereka tumpangi telah masuk. Tapi hingga pukul 7 malam, suaminya belum pulang juga.


"Nayra, ayo keluar kita makan malam dulu." Suara Mama Rhianna memanggil, ia segera keluar dari kamar.


"Ma, mas Erland belum pulang?" tanyanya.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah rindu ya?" Bukannya menjawab, Mama Rhianna malah menggodanya.


BIM!


BIM!


"Itu Erland pulang." Suara klakson mobil terdengar, Nayra langsung berjalan ke depan. Terlihat sosok Frans yang keluar dulu dari mobil, lalu membuka pintu belakang. Juga membantu Erland untuk duduk di kursi rodanya.


Melihat Frans yang sudah pulang, hatinya tenang.


"Dia menungguku pulang?" kata Erland dalam hati. "Tumben berdiri di depan saat aku pulang."


"Semoga saja tidak ada kejadian yang kurang menyenangkan dari mereka berdua. Aku berharap kamu tetap profesional, Frans," kata Nayra dalam hati.


Frans mendorong kursi rodanya dan berhenti tepat di depan Nayra. Nayra mengambil alih pegangan kursi rodanya. Tapi belum sempat ia melangkah, pinggangnya dicolek tiba-tiba oleh Frans. Nayra tersenyum geli dengan candaan Frans.


"Putra Mama yang tampan sudah pulang." Rhianna menyambut hangat putra satu-satunya itu dengan senyuman menawan.


Memang tak ada yang bisa ia banggakan selain membanggakan putranya.


"Frans, sesuai janji saya kamu bisa menempati kamar belakang ada yang kosong satu. Jadi, kamu tidak perlu bolak-balik pulang. Kamu bisa pulang saat weekend. Kecuali jika saya atau Erland membutuhkanmu saat weekend."


Nayra tercengang dengan perkataan Rhianna.


"Apa? Frans mau tinggal di sini juga? Mati aku!"


Frans tersenyum senang, ia tak hentinya mencuri-curi pandang pada sosok Nayra. Itu artinya ia bebas mengawasi wanitanya di sini.


"Terima kasih, Nyonya. Anda dan putra Anda memang sangat baik sekali," pujinya berlebihan.


Nayra tak bisa berkutik, ia duduk dengan perasaan tak menentu.


"Nay, Nayra ....." Berkali-kali Rhianna memanggil tapi Nayra tak merespon. Hingga akhirnya Rhianna menyentuh tangannya.

__ADS_1


"Iya, Ma." Nayra terkejut, dan menatap ibu mertuanya dengan seksama.


"Kamu mau makan angin? Kok piringnya gak di isi-isi makanan, sih." Nayra baru tersadar, lalu ia segera mengambil nasi dan lauk pauk.


__ADS_2