
Wanita itu memilih untuk berjalan-jalan di luar. Hamparan bunga yang indah menjadi perhatiannya saat ini. Bahkan ia sampai memejamkan mata sembari menghirup udara segar. Ia berjalan setapak demi tapak jalanan bebatuan yang datar. Langkahnya semakin kecil saat ia menoleh ke belakang, terlihat jauh ruangan yang ia tempati tadi. Ia tak menyangka bahwa langkahnya sudah sejauh ini.
Seorang pelayan melambaikan tangan ke arahnya dan berusaha mendekatinya. Nayra paham apa maksudnya dan segera ia menghampiri pelayan tersebut.
"Nona, ayo ikut saya cepat." Tangannya ditarik paksa meninggalkan pemandangan indah yang membuat dirinya terpana.
"Kemana? Suami saya dimana?" Dari luar, Erland tak nampak ada di ruangan terbuka itu. Matanya berusaha mencari-cari keberadaannya.
"Tuan Erland dilarikan ke rumah sakit, Nona."
DEG.
DEG.
Tangannya terlepas begitu saja dan hampir terjatuh ke belakang karna merasa tak percaya. Ia lari ke ruangan tadi dan berusaha mencari suaminya.
"Nona! Nona!"
Suara pelayan tak dihiraukan, ia tak percaya bahwa baru saja ia meninggalkan suaminya tadi di sini lalu tiba-tiba pelayan mengatakan bahwa Erland dilarikan ke rumah sakit.
Ia ingat betul bahwa Erland sedari tadi baik-baik saja. Pria itu tak mengeluhkan apa pun. Bahkan keadaannya sungguh baik-baik.
"Nona, tuan Erland sedang dilarikan ke rumah sakit. Tadi jatuh." Pelayan tersebut ingin rasanya menutup mulut, tapi ia tak tahan untuk memberitahu.
Wajahnya berubah panik. Urat-urat di wajahnya sangat tegang.
Nayra segera menaiki mobil yang sudah disiapkan.
"Dimana suami saya?" Nayra gelisah di dalam mobil, ia bahkan tak bisa berhenti bergerak seraya matanya terus menuju ke depan.
Di sebuah rumah sakit yang tidak sebesar di kotanya, mereka berhenti. Nayra berlari sendirian menuju meja resepsionis. Salah satu perawat mengantarkan Nayra menuju ruangan di mana Erland sedang diperiksa.
"Tunggu di sini ya, Nona," ucap perawat tersebut dan kemudian pergi.
Ia menatap pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Keringat dingin keluar membasahi wajahnya dan juga tangannya yang semakin lama semakin dingin. Ia sangat khawatir, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada suaminya. Niat mereka untuk bulan madu nyatanya harus terjadi seperti ini.
"Nona, duduklah." Pelayan tadi ternyata menemaninya, ia menuntun Nayra untuk duduk di kursi tunggu.
Ia merutuki kebodohannya yang dengan sengaja meninggalkan Erland sendirian.
"Ini semua salahku ...." lirihnya dalam penyesalan.
"Mama ...." Ia teringat akan Rhianna, ibu mertuanya harus tau tentang putranya tapi hati kecilnya menolak.
__ADS_1
Baru saja ia duduk, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Tak banyak kata, dokter tersebut langsung menyuruhnya masuk karna Erland sudah sadar.
Tangannya yang dingin berusaha mendorong pintu berwarna putih itu. Cahaya lampu yang sangat terang menyambutnya yang baru setengah badan masuk. Ruang perawatan yang sangat luas. Ada sebuah sofa, televisi dan juga lemari besar di sudut ruangan.
Di atas ranjang besi tak ia temukan Erland di sana. Tapi bunyi kran air di dalam toilet sudah membuatnya lega.
KLEK.
Matanya langsung tertuju pada suara pintu terbuka. Erland keluar bersama seorang perawat pria. Perawat berjenis kelamin laki-laki itu pun pamit dan meninggalkan ruangan.
Matanya berusaha mencari dimana infus di pasang di tubuhnya. Tapi tak ia temukan.
"Maafkan saya, Tuan. Karna sudah meninggalkan Anda di ruangan tadi. Saya—" Nayra kehabisan kata-kata, ia kini takut karna Erland sedari tadi tak berhenti menatapnya seakan mengintimidasi.
Erland mendekatkan kursi rodanya ke Nayra.
"Aww ...." Erland menyentuh lututnya yang memar. Ia pun meringis kesakitan. Karna saat Nayra ingin buru-buru menyusulnya ke rumah sakit, langkahnya yang tergesa-gesa membuatnya tak fokus. Lututnya terbentur oleh meja. Tapi ia tak pedulikan itu dan langsung menaiki mobil. Dan lihat saja kini lututnya memar.
"Ini tidak apa-apa, Tuan," ucap Nayra dan menjauhkan lututnya.
"Kenapa bisa terluka?" tanyanya dan langsung memencet tombol untuk memanggil seorang dokter.
"Tadi tidak sengaja kebentur meja ,Tuan. Tadi saya panik sekali saat mengetahui Anda dilarikan ke rumah sakit. Oh ya, bagian mana yang terluka, Tuan? Lalu kenapa Anda tidak diinfus? Anda harus banyak istirahat," katanya panjang lebar.
Lagi-lagi sebuah kesedihan yang dalam dirasakan Erland. Nayra tak mampu untuk menyela. Bukan berarti ia membenarkan, tapi semakin dijawab sepertinya semakin Erland mengatakan kalimat yang menyedihkan lagi.
"Lutut istriku terluka, tolong obati." Dokter dan perawat yang datang langsung memeriksa Nayra. Ia pun menunjukkan lututnya.
"Ahh sebenernya ini tidak apa. Suamiku memang berlebihan," katanya sedikit tidak enak. Baginya ini luka kecil, tidak seharusnya mendapatkan pertolongan yang berlebihan seperti ini.
"Tidak berlebihan, Nona. Suami Anda sangat mencintai Anda. Lihatlah, dia tidak mau diinfus karna ingin segera pulang untuk menyelesaikan bulan madu kalian."
Mendengar pengakuan dari sang dokter, Nayra langsung mengalihkan tatapannya pada Erland. Tapi suaminya itu malah buang muka dan lebih memilih menatap yang lain.
"Apa??? Apa benar seperti yang dikatakan dokter? Tuan ingin menyelesaikan bulan madu?"
Hatinya tak seratus persen percaya, ia masih berusaha menatap suaminya untuk mencari-cari kebohongan.
Tanpa sadar Nayra terus menatapnya, walaupun Erland masih mengalihkan pandangannya.
"Tuan ....." Ia memberanikan diri untuk memanggilnya.
"Ayo pulang. Aku lelah," ujar Erland.
__ADS_1
Nayra dengan sigap mendorong kursi rodanya. Lalu saat di luar ruangan ternyata masih ada pelayan. Pelayan tersebutlah yang menggantikannya mendorong kursi roda Erland.
"Jangan kasih tahu Mama kalau aku jatuh."
Untung saja Nayra tadi tidak jadi untuk memberitahu Rhianna. Jika ia sudah terlanjur memberitahu pasti akan beda lagi ceritanya.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, Tuan. Karna sudah meninggalkan Anda sendirian tadi. Untuk ke depannya saya tidak akan meninggalkan Anda sendirian lagi, Tuan. Saya janji," ucap Nayra sungguh-sungguh.
"Saya tidak akan memaafkan kamu."
Matanya langsung terbelalak mendengar jawaban dari suaminya.
"Maaf, Tuan. Tolong maafkan saya." Nayra memohon sembari mengatupkan tangan.
"Pergi kamu!" seru Erland.
DEG.
"Tu-tuan, ngusir saya?" tanyanya terbata.
"Bukan kamu!"
Pelayan yang paham pun langsung mengerti. Ia langsung meninggalkan pasangan suami istri itu.
"Oh kirain saya," ujar Nayra sudah ketakutan.
Tak tahu mengapa, Erland tersenyum tipis. Ia sempat menahan tawa dan akhirnya berubah lagi dengan sikap dinginnya.
"Saya akan memaafkan kamu dengan satu syarat."
Nayra langsung bersemangat. "Syarat apa, Tuan?"
"Habiskan malam ini bersama saya."
DEG.
DEG.
DEG.
DEG.
Jantungnya berdetak cepat, ia lalu memegangi dadanya takut jantungnya copot. Perkataan Erland baru saja membuatnya pikirannya traveling. Dia membayangkan hal-hal kotor yang entah mengapa hanya itu yang melintas di kepalanya.
__ADS_1
"Nayra .... Bukan itu pasti maksudnya. Bukan .... Coba pikirkan hal yang lebih positif."