
PYAARRRRRRRR!!!
Orang-orang yang berada di ruangan itu terdiam membeku saat patahan tongkat itu mengenai jendela kaca.
Jendelanya remuk dan pecahan kaca jatuh berserakan mengenai lantai.
"Bereskan semua sebelum kalian pergi!!!!"
Drap!
Drap!
Drap!
Sosok pria bertubuh tinggi berkacamata itu berjalan pergi meninggalkan kekacauan yang ada. Dia tidak menyangka kalau rencananya kali ini akan gagal, sungguh diluar prediksi.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 9 malam. Nayra masih setia di ruangan menemani Alvin yang sedang terlelap. Adiknya itu akhirnya sudah sadarkan diri dan ia tadi sempat menyuapinya makan sebelum tidur.
DUG!
Suara benturan yang keras cukup mengagetkan Nayra yang hampir terlelap dan jatuh ke ranjang dengan posisi duduk. Kepalanya sudah berayun maju menahan kantuk.
"Tidur lah di sini." Erland sudah menyiapkan sebuah sofa besar untuk istrinya beristirahat. Juga kamar rawat Alvin yang sudah dipindah ke ruangan yang lumayan besar dan luas.
"Mas, disini dari kapan? Kenapa gak ke rumah? Saya tidak apa-apa di sini sendirian." Setelah tadi Erland sempat pergi tanpa pamit, kini suaminya itu datang kembali dengan segala barang yang dibawanya.
"Tidur cepat. Aku mau pulang."
Langkahnya tertatih-tatih karna menahan kantuk seperti tak bertenaga. Ia berjalan menuju sofa yang sudah disediakan. Di sana juga sudah ada selimut tebal dan sebuah bantal.
"Ya sudah sana pulang." Ia menarik selimut dan tidur membelakangi. Hanya memejamkan mata beberapa menit pun ia sepertinya sudah terlelap.
TES!
Setetes air matanya jatuh saat melihat Nayra yang tidur sangat lelap. Wajah polosnya dan juga sikap apa adanya membuatnya tak percaya bahwa wanita sepertinya bisa mengelabuhinya selama ini.
"Aku tahu pernikahan kita kontrak, tapi kamu tidak berhak membuat hatiku terluka."
"Cepat kesini!" ucapnya pada seseorang di telfon. Ia pun pergi meninggalkan ruangan dan pulang ke rumah.
__ADS_1
Lalu pada esok harinya Nayra bangun saat suara berisik memenuhi ruangan. Ia perlahan membuka mata dan sudah ada dokter dan seorang perawat yang sedang mengecek kondisi Alvin.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" tanyanya. Sembari ia merapikan rambutnya yang berantakan, ia langsung menanyakan keadaan adiknya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perbannya harus sering diganti dan minum obat teratur," ucap sang dokter dan berlalu pergi.
"Kak, kenapa masih di sini? Kakak gak pulang?"
Nayra langsung menggelengkan kepala, bagaimana ia bisa tenang di rumah sedangkan adiknya di sini sedang dirawat. Tidak ada yang menjaganya selain dirinya.
"ALVIIINNN ...."
Suara melengking terdengar cukup keras di suasana yang masih sepagi ini. Bibi Ranny datang dengan segala kehebohannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa ditabrak? Siapa yang menabrak mu? Ya Tuhan ...."
Nayra dan Alvin terkejutkan dengan kedatangan Bibi Ranny yang tiba-tiba. Alvin menatap Nayra seperti meminta penjelasan tapi Nayra langsung menghendikan bahu karna ia sama sekali tak memberitahu Bibi Ranny tentang Alvin.
"Bibi tahu dari mana Alvin di—"
PLAK!
Bibi Ranny reflek memukul lengan Nayra dengan tatapan tajamnya. "Kamu ini kenapa tidak memberitahu Bibi! Kamu benar-benar ya ..... Tidak menganggap Bibi lagi!"
Nayra meringis kesakitan sembari mengusap-usap lengannya yang dipukul tapi wanita itu malah cengengesan.
Kata-kata itu yang seharusnya keluar dari mulut Bibi Ranny dari dulu. Tapi baru sekarang Bibi Ranny menganggap mereka keluarga.
Keponakannya langsung terdiam bersamaan. "Maafkan, Bibi. Kesalahan Bibi yang dulu." Bibi Ranny langsung menunduk sedih, ia sadar akan sikapnya yang dulu.
"Bibi, kenapa ke sini? Nanti paman yang jaga siapa?" Nayra mengalihkan pembicaraan.
Paman Leo ternyata sudah selesai operasi dan pulang ke kontrakan. Saat ini hanya berobat jalan dengan sesekali kontrol ke rumah sakit seminggu sekali.
"Tenang saja. Tetangga kontrakan Bibi itu orangnya baik-baik semua," ujarnya dengan yakin. Kini perhatiannya kembali pada Alvin yang dipenuhi perban. Belum lama Pamannya mengalami kecelakaan, kini keponakan yang pria juga mengalami kecelakaan.
Sekitar hampir setengah jam mereka mengobrol dan akhirnya Bibi Ranny pamit untuk pulang. Beliau juga membawa bingkisan untuk mereka. Dan untuk kesekian kalinya beliau mengucapkan terimakasih pada Nayra yang sudah membantu biayai operasi Paman Leo.
"Cepat sembuh, Alvin."
Bibi Ranny sebenarnya ingin menemani keponakan yang sedang sakit itu, tapi ia juga tak boleh acuh terhadap kondisi suaminya sendiri.
"Nayra, aku butuh bicara empat mata." Saat Bibi Ranny baru saja keluar, lalu masuklah Frans. Sopir suaminya itu tiba-tiba datang dan langsung menariknya keluar ruangan. Alvin yang melihatnya tak bisa berbuat banyak karna tubuhnya sedang penuh luka.
"Apa? Kamu kurang paham apa yang aku katakan tadi malam?" Nayra menepis tangannya dan langsung membuang muka.
__ADS_1
"Aku sangat paham, Nayra! Kamu ingin hubungan kita berakhir, tapi aku butuh penjelasan!" Saat Frans terbangun dari tidurnya, ia terkejutkan dengan pesan yang dikirimkan Nayra yang menginginkan hubungan mereka berakhir.
"Aku sudah menikah, Frans! Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Aku tidak bisa!" jelasnya.
"Kalian akan pisah sebentar lagi! Apa yang tidak bisa? Kamu mengatakan itu dulu, bahwa kalian akan pisah nantinya. Kenapa sekarang seperti tidak mungkin?" Frans mencoba mengingatkan akan pembicaraan mereka dulu.
"Tetap saja nantinya berpisah pun, hubungan kita saat ini tidak dibenarkan, Frans."
"Aww!!" pekiknya. Tangannya dicengkeram erat oleh Frans dan tak mengijinkan Nayra untuk pergi.
"Kenapa kamu jadi berubah seperti ini, Nayra!" Frans mendorongnya sampai bersandar pada tembok. Di sebuah lorong rumah sakit yang jarang dilewati orang, Frans sedang berduaan dengan Nayra di situ.
"Lepas, Frans!" Nayra tak bisa berkutik saat tubuhnya dikunci oleh Frans. Ia tak bisa bergerak saat kedua tangannya digenggam erat.
CUP!
Frans mengecup sekilas bibir milik kekasihnya itu.
"Frans!" Nayra marah tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Karna kedua tangannya dikunci oleh Frans.
"Katakan sekali lagi apa yang ingin kamu inginkan dari hubungan ini."
Nayra menghela napasnya sesaat dan ia berteriak lantang. "Aku ingin mengakhiri hubungan—"
Secara tiba-tiba bibirnya dilahap oleh bibir milik Frans. Frans menciuminya tanpa ampun sampai Nayra hampir kehilangan napas. Ia terus bermain dengan bibir seksi milik kekasihnya yang cantik.
"NAYRAAAAAAAA!!!!!!"
Sebuah suara yang dahsyat mengagetkan mereka berdua.
TUK!
TUK!
TUK!
Bunyi sepatu heels menggema di lorong tersebut. Kedua jantung mereka langsung berdegup dengan cepat.
"Ma---ma ...." Suaranya hampir hilang saat menyadari sosok yang datang. Ingin rasanya langsung pingsan seketika.
PLAK! PLAK!
Keduanya mendapat tamparan keras dari Rhianna. Kedua mata wanita paruh baya itu langsung memerah menahan amarah juga kecewa bersamaan.
"Dasar wanita—. Aaa—" Suaranya terputus dan ia langsung jatuh tak sadarkan diri setelah memegangi dadanya yang sesak.
__ADS_1
"Mama ...." Nayra langsung panik begitu pun Frans yang langsung mencari dokter atau pun perawat. Nayra langsung menangis tersedu-sedu, ia ketakutan sekali. Rasa takutnya saat ini seperti tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya berjuta kali lipat.