CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 46 SURAT BERPISAH


__ADS_3

TOK!


TOK!


TOK!


"Nayra ..... Alvin ....."


Suara familiar itu menganggu tidur mereka berdua. Di pagi yang mendung ini, kedua kerabat datang di waktu yang tidak tepat.


Alvin yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya perlahan bangkit. Ia meraih tongkat yang menjadi tumpuannya. Tongkat itu hanya ia gunakan sesekali saat kakinya merasa berat untuk melangkah. Karna biasanya ia terbiasa berjalan terseok-seok.


"Alvin ....." Bibi Ranny datang bersama Paman Leo. Mereka membawa banyak barang seperti orang pindahan.


"Siapa yang datang, Alvin?" Suara Nayra dari dalam, ia berjalan menuju pintu.


"Maafkan Bibi—"


"Alvin, Paman dan Bibi mau tinggal di sini lagi. Tolong ijinkan kami di sini. Kami telah diusir dari kontrakan," sela Paman Leo dengan cepat. Sama halnya dengan Alvin, beliau juga memakai tongkat.


"Masuk lah." Alvin membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"Paman, Bibi ...." Nayra terkejut melihat keduanya datang juga barang-barang yang mereka bawa.


"Nayra ...." Bibi Ranny langsung memeluknya seraya menangis. Ia bisa merasakan getaran tubuhnya yang seperti orang ketakutan.


"Kenapa, Bi?" Nayra merasa iba melihat Bibinya menangis seperti ini. Ia juga terenyuh hatinya.


"Bibi tadi di usir tiba-tiba oleh segerombolan pria berpakaian hitam. Mereka memberi waktu 10 menit untuk kami meninggalkan kontrakan. Dan pemilik kontrakan hanya diam melihat kami di usir. Entah suruhan siapa, tapi saat kami ingin keluar pemilik kontrakan hanya mengatakan tak bisa berbuat apa-apa. Bibi dan Paman juga kebingungan. Kami tidak bisa melawan karna mereka berjumlah banyak dan tampangnya seram-seram. Apalagi Paman sedang sakit, jadi—"


"Cukup, Bi." Nayra terduduk dengan lemas. Ia sepertinya tahu siapa yang berbuat seperti itu pada Paman dan Bibinya.


"Bisakah Anda menyewakan kontrakan untuk paman dan bibi saya? Rumah mereka kebakaran. Dan saat ini mereka sedang menginap di rumah, tapi Alvin tidak suka jika serumah dengan paman dan bibi."


"Ambil itu dan gunakan semau mu."


Ia teringat saat Erland melemparkan kartu untuknya. Dan ia mengatakan untuk digunakan semaunya.


"Apa kartu itu sudah tidak berguna?"


Ia menggeleng cepat. Yang ia pikirkan bukanlah kartu dengan isi uang berlimpah itu, tapi apakah ia akan sama-sama diusir seperti Paman dan Bibinya. Apakah Nayra akan dibuang sekarang?


Nayra berlari dan menuju kamar. Ia mencari tasnya dan melihat kartu berwarna hitam itu masih di sana. Ia menggenggam erat kartu itu dan mengucurkan air matanya.


"Berpisah? Dibuang? Pernikahan kontrak?"


Ia menangis tersedu-sedu. Memikirkan nasib ke depannya. Kepalanya tiba-tiba berputar. Dan ....


BRUGHHH ...


Dia pingsan dan jatuh kelantai. Bibi langsung berlari saat mendengar suara orang terjatuh.

__ADS_1


"Nayra .... Nayra!"


.


.


.


Lembaran putih dengan noda tinta yang penuh. Terus ia baca berulang kali. Sampai-sampai Mario yang berdiri tak kunjung pergi karna menunggu berkas itu untuk ditandatangani.


"Tuan ...." Erland langsung mendongak. Dan melempar berkas itu ke lantai.


"Tuan, tidak menyetujui kerjasama ini?"


Erland bingung, ia tidak pernah mengambil lokasi usaha di kota terpencil. Menurutnya susah untuk mencari konsumen walaupun ini kerjasama dengan perusahaan yang bagus.


"Terlalu banyak resiko," ucapnya.


Mario akhirnya mengambil lembaran itu lagi dan disimpannya. Itu adalah kerjasama yang baru akan terencana beberapa tahun ke depan. Karna harus menunggu penggusuran dibeberapa tempat dengan jangka waktu yang sudah ditentukan.


"Mario ...."


"Iya, Tuan."


"Bagaimana dengan yang kemarin? Apa kamu sudah menyelesaikan?"


Asistennya itu mengangguk. "Sudah, Tuan. Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengantarkan berkasnya."


"Pergilah," usir Erland pada Mario.


Kini ia sendirian di dalam ruangan. Matanya menatap pada sofa di ruangannya, lalu terlintas bayangan Nayra tertidur di atas sofa. Wajah lugunya, polosnya serta manisnya memenuhi pikirannya.


"Maaf, Tuan. Jika hari ini saya mengganggu Anda. Ini mama yang nyuruh untuk saya nganterin makan siang."


Saat Nayra datang mengantarkan makan siang, saat itu ia merasa senang. Walaupun itu suruhan Rhianna tapi ia merasa diperhatikan olehnya.


Banyak kenangan yang terjadi di ruangan ini dengan Nayra. Banyak hal yang tak terlupakan. Tiba-tiba sudut matanya basah, ia merasakan kepedihan di dalam hatinya.


Saat mengetahui kenyataan bahwa Frans-sopirnya adalah kekasih dari Nayra. Mereka diam-diam menjalani hubungan dibelakangnya.


.


.


.


Siang hari yang gelap. Hujan turun dengan derasnya. Nayra dan keluarga kecilnya sedang menikmati makan siang bersama. Setelah tadi Nayra pingsan dan tak berapa lama sadar. Bibi Ranny telah menyiapkan makanan semuanya. Ia berubah dan bersikap lembut kepada kedua keponakannya itu.


"Setelah makan kamu harus ke dokter, Nayra," suruh Paman Leo.


"Tidak perlu, Paman. Mungkin hanya darah rendah," jawabnya meyakinkan.

__ADS_1


"Hm, baiklah. Tapi jika ada yang dikeluhkan langsung bilang pada Paman atau Bibi."


Nayra langsung mengangguk dan mengiyakan.


Setelah itu pandangannya mengarah pada Alvin. "Makan yang banyak, Alvin. Kamu harus cepat sembuh," kata Paman Leo eengan senyuman indahnya.


"Paman juga harus cepat sembuh," balas Alvin. Ia mengambilkan potongan ayam ke dalam piring Paman Leo.


Nayra yang melihat sikap Alvin merasa bahagia. Sepertinya adiknya itu sudah tak benci dengan mereka berdua.


"Nayra, kamu pasti tau, kan? Kejadian hari ini ada sangkut-pautnya dengan suami kamu. Kamu sedang marahan ya dengan suami kamu. Sedang ada masalah?"


Pertanyaan Bibi Ranny membuat semuanya menoleh padanya.


"Nayra, sebenernya apa yang sedang kamu sembunyikan? Biaya kontrakan dari uang suamimu, kan? Dia yang membayar," timpal Paman Leo. "Maksudnya apa sih kami diusir secara tidak sopan begitu? Orang kaya kok gak punya sopan santun!" gerutunya kemudian.


"Paman—"


Terdengar ada suara orang memanggil dari depan. Nayra lekas bangkit dan berjalan keluar.


"Atas nama Nayra? Anda betul?"


Nayra mengangguk dan menerima amplop coklat besar.


"Apa ini?" Dari arah belakang Bibi Ranny langsung merebutnya. "Dari siapa?" Bibi Ranny langsung membukanya walau sebenarnya Nayra tidak suka.


"Nay, apa-apaan ini?" Bibi Ranny langsung memegangi dadanya. Ia merasa terkejut bukan main karena membaca berkas di dalam amplop itu.


Ia sudah menduga bahwa Erland akan mengirimkannya surat perpisahan.


"Nayra ....." Keponakannya itu langsung berlalu pergi. "Nayra ....." Ia memanggilnya beberapa kali seraya mengejar langkah Nayra.


Di dalam kamar ia menangis, sebenernya ia ingin menahan. Tapi rasa sesaknya bukan main. Ia sampai menutupi isakannya dengan sebuah bantal.


Bibi Ranny yang langkahnya seketika lemas langsung terduduk di lantai dengan berkas masih ia genggam erat.


Paman Leo dan Alvin langsung menghampiri Bibi Ranny. Tapi mereka hanya mendengar tangisan Bibi Ranny. Ia sama halnya dengan Nayra yang bisa merasakan sakit di hatinya.


"Ini tidak bisa didiamkan! Orang kaya itu harus diberi pelajaran!"


Bibi Ranny langsung pergi mengambil tas.


"Bibi mau kemana?" Alvin ingin mencegahnya tapi Bibi langsung melesat cepat. Ada sebuah tongkat panjang tak lupa ia bawa sambil menyelesuri jalanan setapak. Tak peduli dengan pandangan orang lain, yang ia pikirkan adalah nasib keponakan.


TAK!


TAK!


TAK!


Di depan rumah mewah Bibi Ranny memukuli gerbang yang tertutup itu dengan tongkat yang dibawanya. Hingga para pelayan di dalam langsung berlarian keluar. Karna mendengar teriakan dan juga pukulan tongkat itu.

__ADS_1


__ADS_2