
Seluruh mata tertuju pada ibu-ibu berpakaian panjang dengan tas di lengannya. Matanya melotot memandangi satu persatu wajah yang datang. Tangannya menggenggam erat tongkat panjang yang ingin sekali ia lemparkan ke dalam rumah mewah itu.
"Hey, jangan buat keributan di sini!" bentak seorang satpam di balik gerbang yang tinggi. Melalui celah gerbang yang lebar, ia dapat melihat beberapa manusia yang berdiri berjejer di belakang satpam tersebut.
"Panggil majikan kalian!" teriak Bibi Ranny penuh dengan keberanian.
"Itu bukannya bibi dari Nayra?" Salah seorang pelayan mengenali wajah Bibi Ranny saat pertama kali datang ke rumah itu.
"Iya benar," jawab pelayan yang lain.
Lalu Dara yang yang jelas-jelas mengenali wajah dari Bibi Nayra itu berjalan mendekat.
"Bibi, ada keperluan apa datang kemari?" tanya Dara dengan lembut. Ia memberi isyarat pada satpam untuk diam saja. Dara lantas membuka gerbang dan menghampiri Bibi Ranny yang sedang tersulut emosi.
"Dimana majikan mu yang kejam itu? Aku ingin menghabisinya!!!!"
"Dara masuklah!" Satpam ketakutan mendengar perkataan Bibi Ranny dan menyuruhnya untuk segera masuk tapi Dara menolak.
"Bisakah kita bicara baik-baik, Bi," ujar Dara masih dengan sikap tenangnya.
"Tidak bisa! Aku ingin memberi perhitungan dengan orang kaya sombong itu! Berani-beraninya dengan segala kelimpahan harta dia bisa injak-injak kami! Kami tak perlu dikasihani!" Bibi Ranny menghela napasnya sesaat dan melanjutkan berbicara. "Cepat panggilkan majikan mu itu!" Tak segan-segan ia mendorong Dara untuk memanggilkan majikannya membuat wanita muda itu hampir terjatuh. Tapi Dara tak lekas pergi, ia masih berdiri di tempat.
"Hey!" teriak Bibi Ranny dengan keras bersamaan pukulan tongkatnya pada gerbang.
"Hey, kau! Jangan merusak benda yang ada di sini! Kau bisa kena tuntutan!" teriak lantang Pak Satpam tak mau kalah.
"Bibi, tuan Erland dan nyonya Rhianna tidak ada di rumah. Jadi—"
"Ohhh sedang jalan-jalan keluar? Senang-senang? Setelah membuang keponakan saya dengan percuma? Ya sudah, katakan padanya bahwa aku akan membayar semuanya!!!!!! Biaya sewa kontrakan dan juga biaya rumah sakit suami saya yang baru saja di operasi!!! Saya tidak mau memakan uang menjijikkan itu dari orang kaya yang sombong!!!!!!"
Bibi Ranny melempar tongkat ke sembarang arah dan langsung berlalu pergi. Setidaknya ia sudah meluapkan emosinya yang menggebu-gebu.
"Dara masuk lah!" Pak Satpam langsung menariknya masuk setelah Bibi Ranny berjalan menjauh. Tapi Dara masih dengan rasa penasarannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Nayra? Juga tentang keluarga ini?
__ADS_1
.
.
.
Saat makan siang, Erland tak memilih untuk makan siang di luar. Ia memilih untuk makan siang bersama dengan ibunya di rumah sakit.
"Kenapa ke sini? Bukannya kamu sibuk?" Rhianna setelah mendengar bahwa Erland sudah mengajukan perpisahan, beliau sudah mau berbicara banyak. Tak lagi diam atau pun menangis tiba-tiba.
"Tidak, Ma. Aku akan selalu meluangkan waktu untuk Mama."
Bibirnya melengkungkan senyuman melihat putra semata wayangnya selalu menuruti kemauannya.
"Terimakasih, Erland. Kamu sudah selalu di sisi Mama."
Ia mengangguk dan tersenyum singkat lalu melanjutkan makannya. Tapi untuk makan seperti biasanya rasanya sulit untuk tenggorokannya menelan makanan. Jujur saja ia merasa hampa saat menjalani kehidupan ini. Setiap bangun tidur ia hanya melihat langit-langit tanpa ada seorang pun di sisinya. Saat ia mandi pun hanya ada air yang mengalir. Tak ada yang menemaninya di dalam.
"Bersihkan area punggungku!"
"Erland ....." Ia tak sadar saat Rhianna sedari tadi memanggil-manggil namanya.
"Iya, Ma," sahutnya saat Rhianna membenturkan sendok pada piringnya.
"Kenapa melamun? Memikirkan pekerjaan? Ya sudah cepat kembali ke kantor. Mama gak apa-apa di sini sama Bi Har."
"Nyonya, Tuan ......" Tiba-tiba dari luar Bi Har lari tergopoh-gopoh menghampiri mereka berdua. Tangannya gemetaran memegang ponselnya. Pelayan senior itu tanpa menjelaskan langsung memberikan ponselnya pada Erland dan memutarkan sebuah video dari kiriman seseorang.
Erland mengamati video itu dari awal sampai akhir dan tercengang saat mendengar semuanya.
"Ada apa, Erland?" Rhianna yang penasaran langsung merebut ponsel tersebut dan juga sama terkejutnya. "Hey dasar! Orang ini tidak tahu malu!" kesalnya pada Bibi dari Nayra itu yang telah membuat keributan di rumahnya.
"Ma, apa ini semua perbuatan Mama?" tanya Erland penuh selidik. Ia tidak tahu menahu soal pengusiran Bibi Nayra. Karna yang ia tahu bahwa saat itu Nayra meminta bantuan padanya untuk mencarikan kontrakan dan ia memberikan kartu yang bisa ia gunakan untuk menyewa. Semuanya telah dibayar lunas, lalu kenapa Bibi Nayra bisa di usir?
__ADS_1
Rhianna memutar bola matanya jengah. Ia meletakkan piring dan bersidekap dada. "Jelas saja. Mereka tidak pantas menikmati kemewahan yang kamu punya. Mereka harus hidup seperti semula."
"Ma, darimana Mama tahu kalau—"
"Apa yang Mama tidak tahu, Erland? Mereka menyewa kontrakan dari uang milikmu, kan? Mereka tidak pantas mendapatkan itu!" Tak percaya bahwa Mamanya akan berbuat sekejam ini.
"Lalu soal biaya rumah sakit? Maksudnya apa?" Erland benar-benar tidak tahu soal biaya rumah sakit yang dikatakan Bibi Ranny. Beliau mengatakan akan mengembalikan semuanya, tapi untuk biaya itu dia tidak tahu menahu.
"Mama tidak tahu, Erland. Mungkin saja wanita tidak tahu malu itu sudah banyak menggunakan uangmu untuk keperluan keluarganya yang tidak tahu diri itu."
Kepalanya mendadak pening. Ia benar-benar tidak bisa berpikir. Semuanya seakan membingungkan. Ada hal-hal yang benar-benar tidak ia ketahui. Nayra sepertinya sudah banyak menyembunyikan rahasia darinya.
"Panggilkan Mario, Bi." Bi Har yang sedari tadi masih berdiri di situ juga hanya bisa diam mendengarkan kenyataan yang ada.
Mario segera datang dan membawa Erland pergi.
"Erland, jangan pikiran wanita itu lagi! Mama akan melenyapkan mereka semua jika kamu masih memikirkannya!" teriak Rhianna sesaat Erland keluar dari ruangan.
"20jt itu?"
Ia tiba-tiba teringat akan pengeluaran dari kartu milik Nayra. Uang sebanyak itu mungkinkah untuk biaya operasi keluarganya? Keluarganya sakit pun ia tidak tahu menahu.
"Mario ....."
"Iya, Tuan. Anda perlu apa?"
Melihat keadaan tuannya yang sedang kacau. Ia merasa prihatin.
"Aku ingin ke makam Papa," ujarnya kemudian.
Disaat hatinya sedang kalut, hanya bercerita dengan Papa-nya yang bisa membuat hatinya tenang. Ia merindukan sosok Papa-nya yang karakternya sangat mirip dengannya. Ia dan Papanya berkesinambungan satu sama lain.
"Papa ..... Bolehkah Erland menangis di sini?"
__ADS_1
Mario yang melihat Erland menangis hanya bisa mengawasinya dari jauh. Ia tak mau menganggu bosnya yang sedang mencurahkan isi hatinya pada sosok pria yang berjasa dalam hidupnya.