
Bunyi ayam berkokok terdengar sangat merdu. Pemilik ayam membiarkan peliharaannya keluar dari kandang. Mereka sudah terbiasa hidup di alam bebas.
"Bibi, aku ikut ....." Bibi Ranny sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia menjadi buruh pengupas bawang di sebuah usaha rumahan.
"Di rumah saja." Ia menatap keponakannya dengan mata sendu. Nayra sudah cukup menderita selama ini atas keegoisannya yang disengaja. Dia harus jatuh dalam jurang kehidupan yang berat. Menikah dengan seseorang yang belum ia kenal dekat dan harus berpisah saat sedang mengandung.
FLASHBACK ON
"Nayra, tolong jujur dengan Bibi. Kenapa Erland sampai mengajukan perpisahan? Sebenarnya apa yang sudah terjadi dalam hubungan kalian?"
Bibi Ranny mengguncang tubuhnya dengan keras. Beliau benar-benar hancur saat melihat masa depan keponakannya yang sangat miris.
Nayra malah menangis, air matanya mengucur deras dan langsung mendekap Bibi Ranny erat. Ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya, karna ini sebuah rahasia.
"Ya sudah, kalau tidak mau cerita. Bibi akan selalu di sisimu sekarang."
FLASHBACK OFF
Bibi Ranny masih penasaran dengan alasan perpisahan keduanya. Tapi ia tak ingin membuat Nayra sedih saat mengingat itu.
"Bi, aku masih kuat. Aku bisa bekerja," ucapnya dan langsung menutup mulutnya. Perutnya tiba-tiba merasa mual.
"Istirahat saja, Nayra!" teriaknya saat Nayra lari terbirit-birit ke belakang.
"Mual-mual lagi, Nayra?" Paman Leo yang sedang memotongi sayuran terkejutkan akan Nayra yang tiba-tiba berlari. Ia ingin bangkit dan berjalan menghampirinya tapi Alvin menahan. Adiknya itu yang malah menghampiri kakaknya. Kakinya sudah lumayan sembuh dan bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.
"Kakak ......" Alvin menggedor-gedor pintu dan yang terdengar adalah bunyi percikan air.
Nayra membuka pintu kamar mandi dengan wajah yang lesu. Ia habis memuntahkan isi perutnya yang baru saja ia isi dengan ubi rebus. Karna masakan belum jadi dibuat.
"Kakak, istirahat di kamar. Sebentar lagi makanan akan segera matang." Alvin menuntun Nayra untuk kembali ke kamar. Tak lupa ia membawakan buah-buahan untuk kakaknya itu.
"Maafkan Kakak ya, Alvin. Kakak hanya bisa merepotkan kalian semua. Kakak gak pernah bantu apa pun di rumah ini." Ia merasa sedih saat fisiknya seperti ini sekarang. Mungkin karna bawaan bayi, ia sering merasa kelelahan. Juga bawaannya yang tidak selalu mood.
"Sudah ya, Kakak istirahat saja. Jaga calon keponakan aku ini," tunjuknya pada perut Nayra yang masih rata.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau nasibnya akan seperti ini. Tapi yang ia syukuri adalah memiliki keluarga yang harmonis. Kini perlakuan Paman dan Bibi telah berubah. Mereka menyayangi Nayra dan Alvin seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
"Alvin ......" Paman Leo memanggil Alvin untuk membantunya menggoreng olahan yang telah ia buat. Karna seperti biasa nanti siang akan dijualkan keliling desa ini.
Paman Leo dengan dana yang terbatas, memilih untuk membuka usaha makanan di sini. Karna jika ia kerja diluar tidak memungkinkan. Fisiknya belum sembuh total apalagi kakinya belum bisa berjalan seperti normal.
.
.
.
"Tuan! Ban mobil kita kempes!" Setelah semalaman tidur di dalam mobil, mereka yang ingin pergi dari situ sampai menunggu pagi kini harus gigit jari. Mario melihat ban mobil belakang kempes.
Pandangannya mengitari hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi. Otaknya benar-benar tak bisa berkerja. Meminta bantuan pun sepertinya sangat sulit untuk menembus jalanan ini.
"Tuan ....." Mario tampak lelah karna tak kunjung bisa menemukan cara untuk keluar dari situ. Mungkin kalau bosnya itu tidak lumpuh, ia akan mengajak berjalan mencari jalan keluar.
"Apa? Kamu ingin meninggalkan aku di sini?" Erland juga merasa ia sangatlah menyulitkan. Kakinya tak bisa berlari atau pun berjalan.
"Tidak, Tuan. Bantuan pasti akan segera datang. Tunggu lah." Bosnya itu masih dengan sikap tenang duduk di dalam mobil. Tak ada rasa cemas sedikitpun.
Kruyukk...
Kruyukk...
Menanyakan soal keadaan perut bosnya malah perut Mario yang berbunyi. Benar saja lapar karna dari semalam mereka tidak makan apa pun. Hanya ada air mineral yang tersisa di dalam mobil.
"Bunuh hewan dan kita bisa makan!" suruhnya kemudian. Tapi Mario langsung menggeleng keras karna tak ada keberanian.
"Makan daun aja ya, Tuan," usulnya. Dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.
Pukul menunjukkan pukul 10 pagi. Sudah 12 jam lebih mereka berada di sana. Mario sudah merasa lemas sedari tadi juga Erland yang sebenarnya lapar tapi ia tahan sejak tadi.
"Tuan! Ular!" Mario langsung masuk ke dalam mobil saat melihat sebuah ular di semak-semak.
"Bodoh! Jangan seperti anak kecil!" Terlihat wajah Mario yang sangat ketakutan, karna hewan reptil itu termasuk yang ia takuti.
"Tuan, aku sudah tidak nyaman di sini." Ia mengacak-acak rambutnya karna merasa frustasi. Ingin makan tapi tak ada makanan, ingin keluar dari sini tapi kendaraannya malah tak bisa dijalankan.
__ADS_1
"Frans benar-benar licik!" geram Erland. Ia tak membiarkan Frans hidup tenang, dirinya ingin membuatnya menderita.
"Ya memang licik, Tuan," timpal Mario kemudian.
"Dan kau bodoh! Bisa-bisanya percaya dengan pria gila itu!"
Mario menyadari akan kecerobohannya yang terlalu mempercayai ucapan Frans.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berpikir dua kali dalam memutuskan segala sesuatu."
Tak ada yang bisa disesali sekarang. Semuanya sudah terjadi.
Semakin lama di dalam mobil, ia merasa panas dan pengap. Ingin sekali keluar dengan menghirup udara segar. Tapi karna kata Mario ada ular di depan, akhirnya ia tak berani keluar.
"Jebloskan Frans kembali ke penjara!" perintahnya.
Mario mengangguk dan langsung meminta bantuan yang lainnya.
"Aduh, Tuan. Baterainya lowbat." Benar-benar jatuh ketiban tangga. Mario harus menghadapi kesulitan demi kesulitan.
"Tuan, Anda tunggu di sini ya. Aku mau mencari buah yang bisa dimakan." Sebenarnya sendirian di dalam mobil dan di area hutan begini, membuatnya takut. Tapi apa boleh buat, daripada nanti mereka kelaparan.
Saat duduk di dalam mobil seperti ini, ia terbayang saat duduk berdua dengan Nayra. Ia membayangkan saat Nayra duduk di sebelahnya. Dan hal yang paling ia ingat adalah saat Nayra memakai rok yang sangat pendek.
"Pakai itu!" Erland waktu itu melemparkan jasnya untuk menutupi paha mulusnya. Entah sikap gentle dari siapa sehingga Erland bisa bersikap demikian.
Ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian kala itu. Dia bahkan bisa bersikap peduli pada seseorang yang baru dikenal.
"Tuan, saya dapat!" Tiba-tiba suara keras dari Mario membuyarkan lamunannya. Asistennya itu datang membawa buah-buahan dengan jumlah banyak. "Ayo, Tuan. Kita makan." Walaupun hanya buah ala kadarnya, setidaknya bisa isi-isi perut.
Suasana hutan saat cuaca terang sangatlah damai. Mereka bisa menghirup udara segar yang bersih.
"Tuan, apa yang akan Anda lakukan jika bertemu nona?"
DEG.
Pertanyaan tiba-tiba dari Mario membuatnya terkejut. Tapi ia memilih memejamkan matanya dan tak mau menjawab pertanyaan dari Mario.
__ADS_1