CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 36 CURIGA


__ADS_3

Erland langsung memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia menurunkan ponselnya yang sedari tadi masih menempel di daun telinganya. Melihat tatapan dari suaminya yang tak biasa, Nayra terdiam sejenak.


"Tuan, maaf—"


"Kamu habis dari rumah, kan? Bertemu dengan Alvin?" Erland langsung memotong perkataan dan tanpa diduga Nayra langsung menganggukkan kepalanya. Dia mengiyakan pertanyaan dari Erland.


"Kamu telah berbohong, Nayra!"


Erland mengepalkan tangannya seketika. Entah apa yang sebenernya disembunyikan oleh istrinya. Kenapa ia berani berbohong.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku ingin mandi." Erland mencoba bersikap biasa.


Seketika Nayra menghembuskan napasnya lega. Ia segera menuju kamar mandi untuk mempersiapkan air mandi untuk suaminya.


"Tidak usah malu. Kita kan sudah pernah melakukan yang lebih dari ini." Erland menyentuh dagu istrinya tiba-tiba, lalu ia menatapnya dengan dalam. Ditatap suaminya seperti itu membuat dirinya membeku. Darahnya berdesir disertai detak jantungnya yang berdegup kencang.


Nayra kembali meneruskan melepaskan celana yang dipakai suaminya. Melihatnya tanpa celah sedikitpun.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" ajak Erland dan membuat Nayra langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau, Tuan," tolaknya kemudian.


Mendengar penolakannya Erland langsung menarik tangannya. Tapi seketika ia mengendurkan tarikan tangannya melihat ekspresi Nayra yang kesakitan. Entah kenapa ia menjadi tidak tega.


"Keluar lah." Erland akhirnya melepaskan tangannya dan ia mulai membersihkan tubuhnya sendiri di dalam bath up.


"Aku akan menunggu Tuan selesai mandi," ucapnya kemudian.


"Aku bilang keluar!" seru Erland tanpa mau menatapnya.


"Ya sudah. Panggil saya kalau Anda sudah selesai, Tuan."


Erland mengangguk lirih.


****

__ADS_1


"Iya, aku tadi ketemu nona Nayra di sebuah cafe."


Ada tiga pelayan yang sedang bergerombol di belakang. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu.


"Aku tidak tahu ia habis bertemu dengan siapa. Aku bertemu saat ia sudah keluar dari cafe itu."


Dara terus berjalan menghampiri segerombolan pelayan itu seraya kupingnya dipasang untuk menangkap semua obrolan yang sedang mereka bicarakan. Karna ia dengar ada nama Nayra disebut-sebut.


"Atau nona jangan-jangan nona Nayra bertemu dengan pria lain?"


"Heyyyy!!!!!" teriak Dara. Ia bertolak pinggang dan memandangi satu persatu wajah-wajah pelayan tersebut.


"Kaburrrrrr!!!!"


Belum sempat Dara memarahi pelayan tersebut, mereka sudah duluan pergi meninggalkannya.


"Dasar tukang gosip!!!!" Dara tidak habis pikir dengan pelayan di rumah ini. Mulut mereka memang tidak bisa dijaga. Terus saja membicarakan Nayra yang tidak baik.


Wanita berambut pendek itu memilih duduk seraya mengatur napasnya yang memburu. Ia menahan emosi dan sebenarnya belum melepaskan semuanya. Ingin rasanya Dara mengadukan ini kepada Nyonya Rhianna, itu pasti akan membuatnya naik darah dan langsung memberikan peringatan keras untuk pelayan tersebut. Tapi Dara tidak mau jadi tukang ngadu, ia biarkan saja dan berharap majikannya suatu saat mengetahui dengan sendirinya. Yang terpenting adalah pelayan tersebut tidak mencelakai Nayra atau pun yang lainnya.


****


"Tuan ....."


"Kenapa kamu berbohong!!!!!!" Erland tiba-tiba berteriak keras membuat Mario terkejut seketika. Ia seperti hilang kendali dan mengeluarkan perkataan yang membuat Mario kebingungan.


"Aku tidak pernah berbohong, Tuan. Saya tidak membohongi Anda," jawabnya dengan jujur. Mario kembali mengingat-ingat entah apa yang dimaksudkan oleh Erland, apa iya dirinya pernah membohongi Erland?


"Bukan kamu!!!!!"


Erland mendecak lidahnya kesal. Setelah ia kembali ke kantor bukannya cepat menyelesaikan pekerjaan yang sudah ia tinggal beberapa hari ini, ia malah kepikiran dengan Nayra yang berbohong.


"Apa penyebab wanita berbohong?" Erland mengajukan pertanyaan itu pada Mario. Asisten itu lekas berpikir.


"Ada banyak sebabnya, Tuan. Satu, karna takut kena marah. Dua, karna ia sedang menjaga privasi. Dan ketiga karna ia sedang menyembunyikan sesuatu."

__ADS_1


Ia melemparkan pulpennya ke lantai. Kembali memegangi kepalanya tapi kali ini dengan kedua tangannya.


"Apa mungkin bisa jadi karna ada pria lain?" tanya Erland kemudian.


Mario terdiam. Ia langsung mengerti apa yang dimaksudkan bosnya itu.


"Apa Anda sedang mencurigai nona Nayra, Tuan?"


Wanita yang tak pernah ia pikirkan selama ini, entah kenapa hari ini terus bersarang di kepalanya. Dugaan-dugaan yang negatif terus mengotori ruang kepalanya. Dia jadi teringat bagaimana dulu ia pernah mengangkat telefon dari ponsel Nayra dan suara itu berasal dari suara seorang laki-laki. Waktu itu ia masih berpikir positif dan tidak terlalu memikirkan. Tapi sejak kejadian kemarin bahwa Nayra tega-teganya membohonginya, ia jadi sangat mencurigai istrinya itu.


"Apa mungkin ia sedang menjalin hubungan spesial dengan pria lain?"


Erland terus berpikir yang tidak-tidak. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Bagaimana kalau kita sewa orang untuk memata-matai nona Nayra, Tuan. Jika Anda benar-benar sedang mencurigai nona, apa salahnya Anda menyewa seseorang untuk mengintainya?"


Iya, Erland punya segalanya. Apa pun bisa ia lakukan. Mungkin cara itu menjadi cara yang terbaik untuk saat ini.


***


Pigura foto yang terletak di atas meja kecil, selalu menjadi pusat perhatiannya dikala sedang di kamar. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya dari kegiatan yang menguras tenaganya hari ini. Ia kemudian tersenyum saat melihat potret masa kecil Erland yang sedang digendong oleh mendiang Papa-nya.


Dunia memang terasa sepi, sejak kepergian suaminya. Dirinya hidup hanya bersama Erland. Keinginan untuk memiliki anak kembali nyatanya tak pernah dikabulkan oleh Tuhan. Dia hanya diberi kesempatan untuk memiliki satu anak. Tapi Rhianna sudah sangat bersyukur.


Di samping figura foto itu, ada sebuah kalender kecil. Dirinya baru sadar bahwa sudah lama Erland menikah dengan Nayra. Keinginan untuk menimang cucu sudah sangat ia dambakan. Rumah ini akan terasa hidup jika mendengar tangisan atau rengekan seorang cucu.


"Nayra ...." Rhianna menghampiri Nayra yang sedang merapikan baju-baju Erland untuk dimasukkan ke dalam lemari.


"Iya, Ma." Ia lekas merapikannya dengan cepat dan ikut duduk bersama Rhianna. Beliau menepuk sisi sebelahnya dan Nayra menurut.


"Nay ...." Rhianna menggenggam erat jari jemarinya. Tatapan matanya begitu dalam dan teduh. Membuat Nayra bisa melihat ketulusan dari seorang ibu. "Mama sangat berterima kasih sama kamu. Karna kamu sudah mau menjadi istri yang baik untuk Erland. Kamu sudah mau sangat bersabar menghadapi sifat dan sikap Erland."


Kedua matanya tiba-tiba berair, ia teringat akan nasib putranya yang lumpuh.


"Mama tidak tahu jadinya jika bukan kamu yang menjadi istri Erland. Mama—" Suaranya tercekat di tenggorokan, ia tak bisa melanjutkan kata-kata. Nayra langsung memeluk ibu mertuanya untuk menenangkan.

__ADS_1


"Tidak usah terima kasih, Ma. Nayra hanya menjalankan kewajiban Nayra sebagai seorang istri."


Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya. Entah apa yang akan terjadi pada Rhianna, jika dia tahu tentang perjanjian pernikahan antara dirinya dan Erland.


__ADS_2