CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 39 TELAT MAKAN


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pembayaran, ia berlari ke toilet terdekat. Perutnya serasa mual tak tertahan. Sambil memegangi perut, ia berusaha memuntahkan seisi perutnya. Tapi tidak ada yang bisa ia keluarkan, hanya air liur yang tersisa. Karna sedari pagi memang belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Nayra merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Ternyata panggilan dari Alvin dan belum sempat ia angkat panggilan itu sudah berhenti.


[Kak, aku berangkat sekolah dulu. Sudah siang, takut telat.]


Jarak sekolah dari rumah sakit ini memang cukup dekat, hanya jalan kaki sekitar 300 meter saja.


Mendengar Alvin pamit untuk pergi ke sekolah membuatnya seakan tertampar. Dia sadar bahwa setelah menikah, ia seakan acuh dengan pendidikan adiknya. Ia tak lagi cerewet dalam menyuruhnya belajar, ia tak lagi marah jika Alvin malas ke sekolah dan ia tak lagi bertanya soal kegiatan adiknya di sekolah.


Ia terlalu sibuk dengan kehidupan rumah tangganya sendiri juga dengan Frans.


.


.


.


Di apartemen Mario, Erland yang sudah menyelesaikan sarapannya masih tak habis pikir dengan dana yang keluar dari atm istrinya tersebut.


"Dasar tidak berguna! Apa yang kalian lakukan? Hah? Tidur?" Emosinya berada di ubun-ubun. Setelah ia mengecek cctv dan Nayra kedapatan pergi pagi buta tadi. Bersamaan dengan dana yang keluar tersebut, membuatnya menjadi tanda tanya besar.


"Cepat cari dimana istriku sekarang!"


Bodyguard yang ia sewa tak ada satu pun yang mengikuti kemana istrinya pergi. Mereka beralasan karena baru saja bangun dan tidak menyangka Nayra akan pergi dini hari.


"Tuan, apa Anda tidak memecat pria itu sekarang?" Mario merasa geram juga atas info yang sudah ia dapatkan. Ia juga hampir tak mempercayai awalnya.


"Untuk apa? Aku ingin mereka menderita lebih dulu!." Ia menyesap secangkir teh dan meletakkan cangkir itu dengan kasar. "Aaargghhhh!" Ia berasa mimpi sekarang, tentang kenyataan yang sulit ia percayai kali ini.


"Apa nyonya Rhianna harus kita beritahu sekarang, Tuan?" tanya Mario seraya membereskan piring-piring usai mereka sarapan.

__ADS_1


"Diam lah! Aku tidak butuh kamu bicara!"


****


"Dara, apa kamu tahu dimana Nayra?" Frans secara tiba-tiba mendatangi Dara yang sedang menjemur pakaian. "Eh, maksudku nona Nayra."


Dara tadi cukup terkejut dengan pertanyaan Frans yang seakan santai menyebut nama Nayra tanpa sebutan nona. Tapi setelah itu Frans memperbaiki panggilannya pada Nayra membuatnya tak lekas curiga.


"Oh, nona Nayra pergi tadi pagi-pagi sekali. Entah kemana, aku tidak tahu. Memangnya kenapa?"


"Oh tidak apa-apa. Hanya saja aku diberi amanah oleh tuan Erland, untuk mengantarkan kemana saja nona pergi. Jadi, jika nona sudah pergi sendiri ya sudah. Aku belum bangun tadi," ujarnya panjang lebar. Ia kemudian berlalu pergi, tapi tiba-tiba tangannya ditarik.


"Frans, kamu ada waktu kosong gak nanti malam?" Dara masih berusaha mendapatkan hati Frans, ia tak mau menyerah begitu saja. Cintanya harus terbalas, bagaimana pun caranya.


"Frans, kamu disini rupanya. Ayo antarkan saya ke tempat teman saya." Rhianna tiba-tiba datang dan memotong percakapan mereka berdua.


"Dara, maaf aku tidak punya waktu," tolaknya langsung.


Dara yang mendengar penolakan itu langsung wajahnya berubah masam. Ia pikir Frans akan menerima ajakannya tapi secepat itu ia menolak tanpa pikir dua kali.


"Hey! Diam kau!" Sepertinya hampir seluruh pelayan di sini tahu kalau dirinya naksir pada Frans. Dan mereka dengan senangnya terus mengejeknya.


****


Untuk mengurangi rasa mual, Nayra pergi ke kantin. Ia memesan semangkuk sup ayam. Mungkin jika sudah terisi perutnya, itu akan mengurangi rasa mualnya.


"Ini Nona silahkan." Tak butuh lama untuk menunggu pesanannya datang.


Disebuah meja paling pojok kantin, Nayra memilih duduk di sana. Dan ia mulai memakan supnya perlahan. Tapi baru saja dua suap mendarat di perutnya, Nayra mulai merasakan mual kembali. Ia tak bisa menghabiskan sup ayam itu karna lama kelamaan baunya amis.


Ia akhirnya memesan menu lain, karna yang tadi tidak cocok di perutnya. Pilihannya jatuh pada roti bakar tanpa selai. Entah kenapa ia memilih menu itu dan syukurlah akhirnya cocok dan bisa masuk ke dalam perutnya banyak. Rasanya memang hambar, tapi ia bisa memakan habis roti bakar itu.

__ADS_1


Setelah merasa kenyang, ia pun berniat untuk kembali ke ruang rawat pamannya. Dan tak lupa ia membelikan makanan untuk Bibi Ranny.


"Nayra, terimakasih." Bibi Ranny memeluknya dengan erat. Dan lagi-lagi beliau menumpahkan air mata. Beliau juga teringat akan tingkah laku kejamnya dulu pada keponakannya itu. Tak bisa memaafkan dirinya sendiri setiap teringat akan sikap jahatnya dulu.


"Iya sama-sama, Bi. Ini Nayra bawakan makanan. Bibi makan dulu." Amarah kepada Paman dan Bibinya lambat laun semakin memudar. Nayra sudah berdamai dengan keadaan. Ia tak mau mempermasalahkan yang dulu-dulu.


Operasi Pamannya akan dilakukan besok. Sedangkan hingga saat ini Paman Leo belum juga sadar. Beliau masih kehilangan kesadaran.


"Nay, dimana suamimu? Suamimu tidak kesini? Menjenguk pamanmu?" tanya Bibi Ranny.


"Mas Erland lagi ke luar kota, Bi. Kemungkinan besok pulang," jawabnya.


Bibi Ranny mengangguk singkat. Tangannya cekatan membuka bungkusan makanan yang dibelikan Nayra untuknya. Ia lantas memakan dengan lahap seperti orang kelaparan.


"Nay, Bibi masih berasa mimpi tau. Kamu bisa menikah dengan pria kaya raya seperti Erland. Kamu sangat beruntung," ucap Bibi Ranny sambil mengunyah daging sapi berbentuk pipih itu. Rasa lezat daging dan sayuran menjadi satu kesatuan di dalam mulut. Rasa pedas, manis dan asin menjadi satu.


"Bibi mau nambah lagi?" Nayra berusaha mengalihkan perhatian dengan menawarkan makanan lagi. Ia malas jika membicarakan tentang pernikahannya.


"Tidak, ini sudah cukup. Oh ya Nay, apa Erland juga sangat mencintai kamu?" tanyanya kemudian.


"Jika tidak cinta apa bisa melakukan pernikahan?" Kini ia bertanya balik. Walaupun kenyataannya mereka sama-sama tidak saling cinta waktu itu.


"Bisa saja kalau dijodohkan, Nay. Dulu paman dan Bibi juga dijodohkan."


Nayra tertawa pelan, soal cerita itu karena baru ia dengar kali ini.


"Paman dan Bibi djodohkan, karna dulu Bibi sangat suka bekerja jadi tidaklah pernah punya kenalan seseorang pria," jujurnya kemudian.


"Lalu mulai kapan Bibi mulai jatuh cinta pada paman?"


"Hmmm. Sejak kita sering bertemu dan tidur di ranjang yang sama. Rasanya ada sebuah kenyamanan tersendiri." Bibi Ranny membayangkan awal mula pernikahannya dengan Paman Leo. Yang tak dipercaya akan bertahan selama ini.

__ADS_1


"Sering bertemu dan tidur satu ranjang? Aku dan tuan Erland juga begitu. Apa tuan pernah merasa nyaman denganku?"


Nayra menggelengkan kepalanya kuat, merasa konyol dengan apa yang ia tanyakan sendiri di dalam hatinya.


__ADS_2