
Hingga pagi menjelang, Erland susah untuk terlelap. Beberapa kali ia terbangun dan melamun untuk beberapa saat.
"Dia hamil anakku?" Pada saat ia menyetubuhi Nayra, wanita itu memang lah masih suci. Ia selama ini menjaga kehormatannya. Tapi hubungan gelap antara dirinya dan Frans membuatnya bimbang.
Secangkir susu yang telah dibuatkan oleh Mario tak lekas ia minum. Bosnya itu malah melamun sepanjang ia menghabiskan sarapan.
"Tuan, Anda kepikiran dengan nona Nayra? Menurut saya coba Anda pikirkan lagi soal perpisahan itu. Nona sedang mengandung anak Anda," ucap Mario merasa kasihan dengan nasib Nayra. Walaupun ia belum terlalu mengenal dekat istri dari bosnya itu, tapi yang bisa ia nilai dari Nayra adalah dia wanita yang sabar.
"Apakah jika kamu dalam posisi saya yang telah dikhianati lalu mau untuk kembali lagi?" Terdengar nada bicara Erland yang meninggi.
Mario menundukkan kepala dan mengambil sesuap roti bakar yang tersisa. "Tidak tahu, Tuan. Tapi bukankah hubungan nona dan Frans sudah terjalin lama? Sebelum mengenal Anda."
Iya itu memang benar, info yang Mario dapat adalah Frans merupakan kekasih Nayra sejak dulu.
"Harusnya hubungan mereka telah berakhir bersamaan dengan pernikahan aku dengan dia."
Situasi yang sulit, Mario takut salah berucap.
"Ya sudah, Anda benar-benar ingin berpisah dengan nona?" tanyanya kesekian kali.
Bukan anggukan atau pun gelengan kepala, Erland malah memilih diam seribu bahasa.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, Erland tiba-tiba jatuh sakit. Ia mendadak pingsan di kantor. Mario langsung membawanya ke rumah sakit.
"Putraku kenapa?" Rhianna datang dengan berlinang air mata. Ia sangat khawatir dengan putra satu-satunya itu.
Mario sebenarnya takut untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa selama tinggal di apartemennya, Erland jarang makan. Ia lebih menghabiskan waktu untuk bekerja.
Sesaat dokter keluar, Rhianna langsung masuk ke dalam. Beliau membelai puncak kepala putranya dengan lembut.
"Erland, cepat sembuh ya, sayang" ujar Rhianna seraya merapalkan doa.
"Nayra ... Nayra ....." gumam Erland dan terdengar oleh Rhianna.
"Erland, bangun ...." Rhianna memcoba membangunkan Erland dan tak berapa lama Erland membuka mata.
Saat matanya terbuka yang ia lihat pertama kali adalah wajah ibunya.
"Erland, kamu sudah sadar." Rhianna langsung memeluk putra kesayangannya itu. Kini rasa khawatirnya sudah mereda.
Terlihat mata Erland yang mencari-cari sesuatu. "Kenapa, Erland? Kamu ini sedang di rumah sakit," ucap Rhianna.
__ADS_1
Erland menghembuskan napas perlahan dan terdiam kembali.
"Erland, mulai hari ini kamu harus kembali ke rumah. Kamu tinggal bersama Mama. Mama kesepian di rumah. Lalu jika kamu terus di apartemen, kasian Mario. Dia juga butuh istirahat setelah seharian di kantor bersama mu." Sepanjang Rhianna berbicara, Erland seperti tak mendengar.
"Erland ...." panggilnya kemudian.
"Kenapa, Ma?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kamu pulang ke rumah! Jangan mengganggu Mario terus!" seru Rhianna.
Erland terdiam kembali setelah menganggukkan kepalanya singkat. Kondisi Erland saat ini membuat Rhianna khawatir.
"Ada apa dengan putraku? Kenapa sekarang jadi sering melamun?" tanyanya pada Mario saat mereka sudah berada di luar ruangan.
Mario lantas menjelaskan bahwa Erland baru saja mengetahui bahwa Nayra sedang hamil. Tapi bosnya itu bingung tentang ayah dari bayi Nayra itu.
Rhianna memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak. Dibantu oleh Mario, Rhianna perlahan duduk seraya mengatur napasnya.
"Ha-hamil???" Sama halnya dengan Erland, Rhianna juga bingung soal Nayra hamil anak siapa.
.
.
.
.
"Orangnya sudah pergi lama. Rumahnya kosong," ucap orang tersebut. Lalu lekas pergi karna sedang buru-buru.
Erland menatap Mario yang juga sama terkejutnya.
"Kemana dia?"
"Tuan, bagaimana kalau kita cari tahu nona lewat Frans," usulnya kemudian.
"Apa mungkin dia tidak ikut pergi bersama Nayra?"
"Kita coba dulu mendatangi rumahnya."
Berbekal segala informasi yang telah didapat, mereka akhirnya sampai di rumah Frans. Seorang wanita paruh baya yang bertubuh gempal keluar dari rumah. Dengan pakaian ala kadarnya, beliau menyambut kedatangan dua sosok pria yang terlihat gagah.
"Ka-kalian siapa?" tanyanya dengan bibir gemetar. Tiba-tiba matanya berlinang seperti hendak menangis.
"Saya adalah Mario, asisten dari Tuan Erland. Dan Tuan Erland adalah mantan majikan dari Frans. Apa—"
"Ya Tuhan ......." Ibu itu malah menangis meraung-raung. Hingga seseorang datang untuk menenangkan ibu itu.
__ADS_1
"Pergilah ke kantor polisi. Kakak saya ada di sana," ucap gadis muda tersebut.
Mendengar itu mereka sangat shock. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Frans. Kenapa ia bisa masuk ke kantor polisi. Baru hitungan bulan saja keluar dari rumahnya, Frans sudah melakukan tindakan kriminalitas.
"Baik. Terimakasih infonya."
Mario menawarkan ingin mengunjungi Mario atau tidak lalu Erland mengangguk.
Di sebuah ruangan yang tertutup, terdapat satu meja sebagai pembatas. Mario berdiri di sisi Erland untuk menjaga tuannya.
Lalu datanglah sosok pria dengan wajah kusut. Tubuhnya tak terurus juga rambutnya yang acak-acakan.
Pria itu tersenyum miring menatap mantan majikannya itu.
"Ada perlu apa?" Frans datang dengan sikap yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sosok sopir yang patuh kepadanya dulu, kini berubah menjadi sosok yang meremehkan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Apa yang telah kamu lakukan?"
Frans tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Saya lebih suka di sini. Mendekam di sini daripada tidur nyenyak di rumahmu itu," ucap Frans masih dengan diselingi tertawa. Dia memukul-mukul meja lalu menatap sinis pada Erland. "Ada perlu apa kalian ke sini? Hubungan antara majikan dan sopir bukankah sudah berakhir. Juga hubunganku dengan istrimu!"
"Hubunganku dengan Nayra juga akan segera berakhir. Kita sedang mengajukan perpisahan."
PLAKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!
Tiba-tiba Frans bangkit lalu menampar pipi Erland dengan keras.
BUGHHH!!!
Mario yang tak terima langsung menghantam wajah Frans dengan pukulan terbaiknya.
Mendengar adanya keributan, para penjaga berdatangan dan langsung menarik Frans untuk masuk ke sel kembali.
"Gilaaaa kau! Nayra sedang hamil! Dia sedang mengandung anakmu!!!!! Kenapa kau—" teriaknya lantang dan suaranya tak terdengar lagi setelah masuk ke ruangan lain.
Mario langsung memeriksa keadaan tuannya. Terlihat pipinya yang memerah akibat tamparan dari Frans.
"Tuan, apa kita perlu ke rumah sakit?"
"Aku bukan anak kecil!!!!!!" kesalnya.
"Apa dia benar-benar mengandung anakku? Apa benar? Anak yang sedang dikandung adalah anakku?" batinnya bertanya-tanya. Tapi mendengar pengakuan Frans, ia semakin dilanda dilema.
"Dimana Nayra????"
Mario menatap tuannya dengan segala kebingungan.
"Saya akan cari informasi soal nona, Tuan. Saya janji akan segera menemukan keberadaan nona. Anda tenang saja," janjinya.
__ADS_1