
"Darimana saja kamu!" Paman Leo sedari tadi menunggu kembalinya istrinya itu yang pergi tanpa pamit.
"Aku lelah!" jawabnya dan melewati begitu saja suaminya.
"Hey!"
"Aku lelah!!!!!!" serunya tak kalah lantang dari suaminya.
Alvin hanya bisa terdiam melihat keluarganya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Alvin, kakakmu masih belum keluar kamar?" Bibi Ranny menanyakan soal Nayra dan Alvin hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, nanti Bibi akan merayu kakakmu."
Hingga jam menunjukkan pukul 8 malam, Nayra masih betah di dalam kamar. Dari segala bujuk rayu Paman Leo, Bibi Ranny dan Alvin tak didengarkan oleh Nayra. Dari dalam kamar ia hanya menyahut tidak mau dan tidak mau.
Mereka akhirnya pasrah dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
"Nayra, ini Bibi taruh makanan di depan kamar. Keluarlah dan ambil makanannya sendiri. Bibi mau istirahat."
Terdengar sahutan dari dalam dan Bibi Ranny pergi meninggalkan kamar keponakannya itu.
Pagi pun menjelang. Matahari bersinar terang di awan yang cerah. Suara kicauan burung di langit menambah semaraknya pagi ini. Setelah beberapa hari ini pagi ditemani awan yang mendung, tapi hari ini cuaca berubah cerah.
"Ya Tuhan. Nayra! Kamu tidak makan?" Terlihat makanan yang ia taruh di depan kamar keponakan cantiknya itu masih utuh. Ia sangat khawatir dengan keadaan keponakannya.
"Nayra! Nayra! Buka pintunya!" Bibi Ranny menggedor-gedor pintunya tapi tak ada sahutan dari dalam.
"Nayra!!!!!!" Paman Leo dan Alvin datang mendengar kegaduhan pagi ini.
"Bagaimana ini Nayra tidak ada suaranya dari tadi. Aku khawatir," ujarnya dengan wajah cemasnya.
Karna Paman Leo tidak memungkinkan untuk mendobrak pintu akhirnya Alvin meminta bantuan tetangga untuk mendobrak pintu kamar kakaknya.
"Ya Tuhan. Nayra ......." Bibi Ranny langsung memeluk keponakannya yang sudah tergeletak di atas lantai. Badannya panas sekali. Dengan bantuan tetangga sekitar mereka membawa Nayra ke klinik terdekat untuk diperiksa. Karna tak memungkinkan untuk dibawa ke rumah sakit yang tentu akan memakan biaya besar.
"Nona mengalami dehidrasi. Itu membuatnya pingsan. Tolong perhatikan lagi makanan yang dikonsumsinya. Kasian bayi yang ada di dalam kandungannya," ucap dokter tersebut.
DEG.
DEG.
__ADS_1
Lututnya langsung lemas seketika saat mengetahui keponakannya ternyata sedang hamil. Ia sudah mencurigainya dari awal tapi ia belum sempat menanyakan pada keponakannya itu. Karna yang ia harapkan adalah kecurigaannya tidak benar. Kasian jika Nayra hamil dengan bersamaan perpisahan dengan suaminya.
Bibi Ranny lantas menangis, menangisi nasib keponakannya yang malang. Ia harus melewati masa-masa kehamilan sendirian tanpa dampingan dari pasangan.
"Nayra ....." Kedua matanya terbuka perlahan dan mengerjab lalu pandangannya mengitari ruangan yang asing. "Kamu sedang berada di klinik, Nayra," ujar Bibi Ranny memberitahu.
"Makan dulu, ayo duduk." Bibi Ranny membantu Nayra untuk duduk dan memaksanya untuk makan. Tak segan-segan ia memukul keponakannya yang selalu menolak suapannya. "Bibi sedang memberi makan calon cucu bukan kamu!" kesalnya.
"Bibi ....." Air matanya menggenang saat Bibi Ranny ternyata sudah mengetahui soal kehamilannya.
"Kamu tidak perlu merasakan enaknya makanan ini! Tapi calon cucuku harus merasakan!" ujarnya dengan kesal.
Nayra akhirnya menurut dan menerima suap demi suap yang Bibi kasih.
"Minum yang banyak!" Bibi Ranny masih dengan rasa kesalnya tapi penuh perhatian.
"Bibi ....."
"Jangan panggil aku Bibi jika kamu masih saja menyembunyikan rahasia di belakang, Bibi!!!!" Bibi Ranny bangkit dari kursinya untuk meletakkan piring yang sudah kosong. Tapi lengannya tiba-tiba digelayuti oleh Nayra.
"Maafkan, Nayra." Nayra meminta maaf karena sudah merahasiakan soal kehamilannya. Ia sebenarnya bingung soal kehamilannya yang tak ia sangka-sangka akan terjadi. Perutnya yang masih rata itu ia elus-elus dan air matanya menetes perlahan.
Bibi Ranny yang semula berdiri kini terduduk kembali dan memegang kedua tangan keponakannya itu.
"Kita besarkan malaikat kecil ini sama-sama," ujar Bibi Ranny dan berhasil membuat air mata Nayra mengucur deras.
TOK!
TOK!
TOK!
Mario datang dengan membawa sebuah berkas di dalam amplop. Ia sudah menebak apa isi di dalamnya dan ia berikan pada bosnya.
"Ini, Tuan."
Erland yang semula fokus pada laptopnya kini beralih melirik amplop coklat itu.
"Pergilah!" usirnya kemudian. Mario lantas meninggalkan ruangan.
Bukannya melihat isi di dalam amplop itu, ia malah menyimpannya ke dalam laci lalu meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
Hari-hari pun berlalu, Erland jarang ada di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktu di apartemen Mario. Setiap kali jam pulang, ia pasti ikut pulang ke apartemen asistennya itu.
Sering sekali menginap di sana. Dia jarang pulang ke rumah, sampai-sampai Rhianna harus datang ke apartemen Mario untuk melihat putranya.
"Tuan, Anda ingin terus menginap di sini?" Mario mendecakkan lidahnya, bukannya keberatan Erland menumpang tapi ia tidak bebas jadinya. Ia jadi tidak leluasa membawa teman wanita ke apartemennya.
"Aku bayar biaya sewa apartemen ini untuk satu tahun ke depan!"
Mario yang ingin mengutarakan kekesalannya lagi malah terdiam saat mendengar perkataan Erland barusan.
"Serius, Bos???" tanyanya dengan wajah girang.
"Aku bayar sekarang!" Ia mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Wah rejeki besar nih! Aku tidak perlu berhemat lagi untuk satu tahun ke depan."
"Terimakasih kasih, Bos!"
Langit semakin gelap, tapi Erland masih terjaga. Ia tidak bisa tidur. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Tuan, Anda belum tidur?" Mario terbangun karena ingin buang air kecil. Ia buru-buru ke kamar mandi untuk menuntaskan keinginannya.
"Apa yang sedang Anda pikirkan?" Mario kembali seraya membenarkan celananya. Ia tatap Erland yang sedang menatap ke sembarang arah. "Tuan?" panggilnya lagi saat Erland tak kunjung menjawab.
"Ambilkan amplop di dalam tas," suruhnya kemudian.
Mario mengambil sebuah amplop di dalam tas bosnya, amplop yang berisikan surat perpisahan yang semula ia berikan pada Nayra untuk ditandatangani.
"Anda belum membawanya ke pengadilan? Anda masih memikirkan akan berpisah atau tidak?" tanyanya bertubi.
Ternyata di dalam amplop itu bukan hanya ada surat perpisahan, tapi ada sebuah kartu dan juga sebuah kertas lembaran putih.
Ia membaca seksama lembaran kertas putih itu dan ia tercengang beberapa saat.
"Mario!!!!!" teriaknya kemudian. Mario lantas mendekat dan merebut kertas putih itu dan gantian membacanya.
"Nayra hamil ........" Erland sangat terkesiap saat mengetahui tentang kehamilan Nayra yang masih sah menjadi istrinya tersebut.
"Iya, Tuan. Nona Nayra benar-benar hamil." Mario langsung memandangi bosnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia membayangkan bagaimana pria lumpuh itu bisa menyetubuhi seorang perempuan.
"Ya Ampun, Mario. Kamu jangan menghina!"
__ADS_1
Mario menampar pipinya keras, merasa bodoh dengan pikirannya yang secara langsung menghina fisik bosnya itu. Namanya seorang lelaki normal pasti membutuhkan kepuasan batin. Jadi, bisa dipastikan kalau bosnya itu masih normal dengan segala kekurangannya.