
Ucapan Erland nyatanya tidak main-main. Sebuah perintah yang telah dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Ruangan kamar yang tadinya sunyi, kini berubah menjadi sebuah kamar yang indah.
Lilin-lilin yang menyala terbentuk untuk sebuah jalan menuju tempat tidur. Cahaya lampu terlihat redup dengan dibantu cahaya lilin yang banyak.
Dengan perasaan tak menentu, Nayra berusaha mendorong kursi rodanya dengan baik. Mereka berjalan mengikuti arah lilin yang terbentuk.
"Stop!" Dipertengahan jalan Erland menghentikannya. Kepalanya lantas menoleh ke belakang. "Bersihkan dirimu segera. Jangan pikirkan aku, sebentar lagi ada pelayan yang datang."
Wajahnya berubah pucat pasi, Nayra benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi entah kenapa ia tidak bisa berontak, ia seperti pelayan yang mengikuti semua perintah dari majikannya.
"Tuan ... Ada apa dengan malam ini?" Ia menatap wajahnya di cermin dan bertanya dalam hatinya. Lalu menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air segar itu. Seluruh tubuhnya ia bersihkan dengan sabun yang berlimpah. Rambut berwarnanya juga tak luput ia bersihkan. Hingga sela-sela giginya juga tak ketinggalan ia bersihkan. Sesaat ia terdiam dan menatap tubuh polosnya sendiri.
"Nayra ... Ada apa denganmu kali ini?"
Ia berjongkok dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, mungkinkah akan terjadi malam ini?
"Tuan ...." Ia terkejut saat melihat Erland sudah duduk di atas ranjang. Kelopak bunga yang bertaburan di sekitar lantai kamarnya juga di atas ranjang menjadi perhatiannya saat ini. Begitu indah dan wanginya semerbak.
Dan kini fokusnya kembali pada Erland yang sudah berganti pakaian mengenakan piyama. Wajahnya yang terkesan angkuh dan dingin, tapi malam ini berubah menjadi wajah yang menyenangkan.
Nayra masih mengenakan piyama handuknya juga rambutnya yang masih basah.
"Pakai baju itu," tunjuknya pada sebuah baju yang terletak di atas meja. Warnanya biru tua dan berenda.
"Tuan, apa—"
"Aku tidak butuh jawaban atau pun pertanyaan."
Baju berwarna biru itu kini sudah digenggamannya. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Ini bukankah terlalu seksi?" Baju dengan dua tali tipis itu menampakkan kedua bahunya yang indah. Juga leher jenjangnya yang nampak jelas. Serta potongan bajunya yang hanya sebatas atas lutut. Dan yang membuatnya tak nyaman adalah model bajunya yang V, menampilkan belahan dua aset berharganya.
__ADS_1
Tapi dengan segala pertimbangan akhirnya ia keluar dari kamar mandi setelah berkali-kali membuat keputusan yang sulit.
Erland menatap takjub penampilan istrinya malam ini. Dia cantik dengan tubuh rampingnya. Juga pakaian yang dikenakannya menambah kesan anggun dan seksi. Wanita itu berjalan menunduk tak berani menatap mata elang milik suaminya.
Dia adalah seorang pria yang normal, tentu jiwa kelakiannya bangkit melihat makanan lezat di hadapannya.
Saat menaiki ranjang, kedua tangan Nayra berusaha menutup kedua aset berharganya. Ia tampak malu dan berusaha menyembunyikan.
Tiba-tiba lampu padam. Membuat jarak pandang mereka terbatas. Hanya ada satu lilin saja yang menyala di dalam kamar mereka. Sebuah tangan kekar bergerak melingkar ke pinggangnya, membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Tu—" Suaranya terputus saat secara mendadak bibirnya dilahap oleh suaminya. Dia tak berdaya dan langsung jatuh di atas tubuh suaminya.
Mereka melakukan dengan sepenuh hati. Entah apa yang tengah dirasakan kedua manusia itu. Tak ada penolakan atau pun pemberontakan, semuanya terjadi apa adanya.
***
Di kediaman Rhianna, setelah mendapat kabar bahwa putranya dilarikan ke rumah sakit, ia langsung terbang menuju kota bulan madu putra dan menantunya. Sama halnya dengan Nayra, ia juga sangat khawatir.
Frans yang berada di sebelahnya bingung untuk bagaimana. Berdekatan dengan nyonya besarnya membuatnya tak bebas bergerak.
Ia disuruh ikut untuk menemani Rhianna. Untuk mempermudah nantinya mengantarkan majikannya ke sana kemari.
Kesempatan ini akan Frans gunakan untuk memberi perhitungan pada Nayra. Kekasihnya itu benar-benar membuatnya naik pitam. Beberapa panggilannya dan juga pesannya sama sekali tak dihiraukan.
Nayra benar-benar bersenang-senang bersama suami lumpuhnya itu. Itu pikiran Frans selama ini.
Setelah sampai di kota yang mereka tuju, mereka langsung bergerak ke sebuah penginapan yang ditempati Erland dan Nayra.
"Apa tuan Erland sudah pulang dari rumah sakit, Nyonya?" tanya Frans.
"Sudah. Katanya mereka sampai tadi malam."
__ADS_1
Walaupun Erland tak sampai di opname, tapi ia tetap khawatir. Ia harus melihat langsung keadaan putranya.
Saat sampai di depan kamar penginapan mereka, Rhianna langsung menyelonong masuk karna ia juga tahu kata sandinya.
Tapi saat ia membuka pintu malah dirinya disambut oleh lilin-lilin yang banyak.
"Ada apa ini? Frans, apa kita salah masuk kamar?" Seingatnya Rhianna tak pernah memerintahkan untuk membuat kejutan lilin-lilin seperti ini.
"Tunggu, Nyonya. Saya ke bagian resepsionis dulu."
"Tidak usah," cegahnya cepat. Langkahnya ia percepat dan tujuannya kini ke dalam kamar. "Oh, Tuhan." Rhianna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Frans langsung berjalan menyusul karna merasa penasaran.
"Kita datang diwaktu yang tidak tepat, Frans!" Rhianna langsung menarik Frans keluar, padahal Frans belum tahu apa yang telah dilihat Rhianna barusan.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya dengan penasaran. Tak hanya penasaran, tiba-tiba pikiran negatif langsung bersarang di kepalanya. Mukanya merah padam menahan amarah.
"Saya merasa bersalah, Frans. Telah mengganggu waktu bulan madu mereka. Padahal mereka sedang bersenang-senang di sini," ucapnya seraya menahan tawa dan juga matanya yang berbinar-binar.
"Nyonya, saya ijin ke toilet sebentar." Frans langsung berlari menuju kamar tadi. Untung saja pintu tidak ditutup sewaktu Rhianna menariknya keluar barusan. "Apa yang telah mereka lakukan?" Ia mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menghajar siapa pun.
"Frans ...." Nayra yang telah bangun dan berniat untuk membersihkan diri terkejut melihat Frans yang ada di kamar penginapannya. Kekasihnya itu langsung menariknya keluar.
"Kau membohongi ku, Nayra! Kau mengatakan tidak akan melakukan apa pun dengan pria lumpuh itu tapi nyatanya apa! Kau membohongiku! Kau berjanji akan kembali padaku tapi—" Frans memukul-mukul tembok dengan kekecewaan yang teramat sangat.
Mendengar itu, dirinya merasa ikut tersayat. Ia memegang bahu Frans dan berusaha menatap kedua matanya yang memerah.
"Kita bicarakan nanti kalau aku pulang. Kamu kesini dengan siapa? Apa dengan mama?" tebaknya kemudian. Karna pasti Rhianna sudah tahu kalau Erland kemarin masuk rumah sakit.
Frans langsung menepis tangannya dan berjalan meninggalkan kekasihnya itu. Dari arah belakang, ia menatap punggung Frans yang lebar. Tubuh tegapnya perlahan menghilang dari pandangannya.
Ia merasa berdosa sekarang, menyakiti pria yang mencintainya. Tapi keadaannya seperti ini, Nayra tak bisa memilih sekarang. Pilihan yang sulit dan juga keadaan yang memaksa.
__ADS_1