CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH

CINTA UNTUK SUAMI LUMPUH
BAB 7 ISTRI ERLAND


__ADS_3

Rhianna memberikan pakaian formal untuk menantunya. Erland akan datang ke kantor bersama Nayra. Ia akan memperkenalkan istrinya pada para karyawannya.


"Ini bagus untukmu, Nayra." Rhianna memberikan satu setelan pakaian formal berwarna coklat. Sebuah blazer dilengkapi kemeja putih dan rok span pendek.


Nayra tampak berbeda kali ini. Penampilannya terlihat seperti nyonya besar.


"Kamu cantik sekali, Nayra." Rhianna begitu takjub melihat perubahan penampilan Nayra hari ini. Erland yang berada disitu juga tak mengedipkan matanya melihat penampilan Nayra yang berbeda.


"Terimakasih, Ma." Nayra sebenarnya tak nyaman dengan pakaian seperti ini. Apalagi roknya yang terlalu ketat dan pendek. Ia harus ekstra hati-hati kalau duduk nanti.


"Ya sudah, sana berangkat. Para karyawan pasti sudah menunggu kedatangan kalian. Dan ingat ya Erland, kamu harus memperkenalkan Nayra nanti di sana. Mereka juga harus mengenal Nayra sebagai istrimu."


Erland mengangguk, walaupun sebenarnya ia malas. Rencananya ia akan datang ke kantor sendirian, tapi Rhianna memintanya untuk mengajak Nayra.


Di dalam mobil Nayra membenarkan roknya yang terlihat sangat pendek. Erland yang menyadari ketidaknyamanan Nayra dengan segera melemparkan jasnya.


"Pakai itu!" Tidak percaya dengan bentuk perhatian kecil yang ditujukan padanya, Nayra tersenyum senang. Ia memakai jasnya untuk menutupi pahanya.


"Terima kasih, Tuan." Tak lupa ia pun berterima kasih.


Perjalanan terasa begitu cepat. Hingga mereka akhirnya sampai di sebuah perusahaan yang besar. Mario sudah berdiri di depan menyambut kedatangan keduanya.


"Selamat pagi, Tuan Erland dan Nona Nayra," sapanya hangat.


Terlihat para karyawan sudah berbaris rapi di dalam gedung. Walaupun Erland sekarang duduk di kursi roda, tapi ketampanannya tak kan pernah sirna. Mereka masih mengangumi paras tampannya. Dan mereka juga mengagumi hati Nayra yang tulus menerima kekurangan Erland, sehingga mau menikah dengan pria lumpuh.


"Selamat pagi semua ...."


Serentak mereka menjawab sapaan dari Erland. Lalu ia pun melanjutkan perkataannya. "Mulai hari ini saya kembali memimpin perusahaan ini setelah sebelumnya mama saya yang memimpin. Dan juga saat ini saya sudah menikah. Ini istri saya, namanya Nayra Stepler." Nama Stepler ia ambil dari nama belakangnya sendiri.


Setelah perkenalan dan sambutan pagi, mereka pun kembali ke meja kerja masing-masing.

__ADS_1


Mario bergantian mendorong kursi rodanya. Sedangkan Nayra berjalan dibelakangnya.


Erland merindukan ruang kerjanya. Tapi sepertinya ada yang berubah. Mungkin Rhianna yang merubahnya. Dulu banyak sekali foto Stella yang terpajang di ruang kerjanya. Kini tak ada lagi, tapi ia menemukan sebuah bingkai foto yang kecil berdiri tegak di meja kerjanya.


"Mama ...." Foto itu adalah foto pernikahannya. Erland dan Nayra memakai baju pengantin tanpa ada senyuman di kedua bibir mereka. Tak suka dengan foto itu, ia membuangnya ke laci.


Nayra yang melihat Erland membuang foto pernikahan mereka, seketika hatinya tercabik. Hanya foto, tapi Erland seakan membencinya.


***


PLAKKK!!!!


Satu tamparan keras mengenai pipinya yang mulus. Ini kali pertamanya ia mendapat tamparan keras dari seorang pria.


"Kamu berani-beraninya menemui pria lain di belakangku!" Kemarahan dari seorang pria bertubuh tegap itu membuat wanita cantik yang menjadi sasaran amarah pria itu membeku.


Wanita itu memegangi pipinya yang merah. Sungguh sakit bersamaan hatinya yang tersayat.


"Kalau aku melihat kamu menemui dia lagi, akan aku pastikan perusahaan papa kamu akan hancur!!!!" ancamnya dengan nada berapi.


Stella langsung tercengang, pria di hadapannya ini benar-benar menakutkan. Papanya telah salah memilihkan suami untuknya. Nyatanya Gio mendapatkannya dengan cara yang licik.


Stella merutuki kebodohannya karna telah memilih Gio sebagai suaminya. Ia tidak tahu kalau Gio memiliki sifat arogan dan kasar. Awalnya Stella bimbang karna ia juga tak bisa terus hidup dengan Erland yang lumpuh, itu sangat menyusahkan baginya. Ia ingin hidup normal dengan manusia yang normal juga.


Tapi kini, ia menyesal. Hidup dengan manusia normal yang memiliki kesempurnaan fisik nyatanya tidak membuat dirinya bahagia.


***


Berkas-berkas terlihat menumpuk di meja kerjanya. Erland harus mengeceknya satu persatu. Ia harus memastikan bahwa kerjaan para karyawannya sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Tuan, saatnya makan siang. Mau makan apa, biar saya pesankan."

__ADS_1


Erland sekilas melirik Nayra yang terlelap di atas sofa. Wanita itu mungkin jenuh menunggunya kerja hingga ia ketiduran.


"Suruh wanita itu beli makanan!" Erland menunjuk Nayra. Tapi Mario kebingungan sendiri. Mana mungkin dia menyuruh nonanya untuk membeli makanan.


"Tuan, biar saya saja. Nona masih tidur."


"Bangunkan dia!" kata Erland dengan nada tinggi.


Mario akhirnya berjalan menghampiri Nayra. Dengan sentuhan lembut ia menepuk bahu nonanya.


"Nona, bangunlah." Tak berapa lama Nayra mengerjabkan matanya. Saat ia membuka mata ia terkejut melihat wajah Mario persis di hadapannya. Dia terkejut dan lantas menghindar. "Maaf, Nona. Jika saya mengagetkan Anda."


"Nayra, belikan aku makanan, cepat!" Baru saja membuka mata dan mengumpulkan nyawa, suara Erland yang besar membuat matanya terbuka lebar. Dengan tubuh yang lemas khas bangun tidur, ia lantas berdiri.


"Iya, Tuan. Anda mau makan apa?" tanya Nayra dengan lembut.


Mario yang melihat perlakuan Erland terhadap Nayra, membuatnya tak tega. Kenapa tuannya ini memperlakukan istrinya seperti pelayan? Sebenernya apa yang terjadi pada pernikahan kalian?


"Mario, tetaplah di sini!" Mario yang ingin menyusul Nayra terpaksa ia urungkan. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri tuannya. Ia setia berdiri di samping Erland. "Jangan mengatakan apa pun pada mama."


Mario mengangguk patuh. Sudah menjadi hal biasa, jika Mario sering menyimpan rahasia besar yang dimiliki Erland.


Nayra berjalan sendirian menuju sebuah restoran yang terletak di depan perusahaan. Karyawan yang melihat nonanya panas-panasan demi membelikan makan siang untuk suaminya merasa kagum. Jarang ada istri orang kaya yang mau seperti itu.


"Ini, Tuan. Pesanan Anda." Nayra menaruh kotak makanan di mejanya. Juga ia memberikan satu kotak makanan untuk Mario.


"Aduh, Nona. Tidak perlu repot-repot seperti ini. Saya bisa beli sendiri." Mario tidak enak hati karna Nayra juga membelikannya makanan. Ia pikir Nayra tidak akan teringat padanya.


"Tidak apa. Ayo makan."


Nayra dan Mario makan di sofa. Sedangkan Erland makan di meja kerjanya.

__ADS_1


Nayra dan Mario tampak akrab. Mereka berbincang sangat lama dan sesekali tertawa. Erland yang mendengar tawa mereka seketika mengepalkan tangannya. Entah apa yang ia rasakan sekarang, rasanya ia merasa diacuhkan. Bahkan Nayra yang biasanya akan menawarkan untuk menyuapinya sekarang malah tidak sama sekali. Ia sibuk makan sendiri dengan ditemani Mario di sebelahnya.


__ADS_2