
"Bang abang soal kaya beginian harus pake emosi bae, emang kaga bisa pake kepala dingin omongin baik baik, pelan pelan begitu bang sama anak mah, jangan kasar kasar napa bang. Itu si Safina kan lagi belajar nanti kalo dia jadi kepikiran sakit dah, bagaimana " ????
"Yang bikin gua tambah kesel si Safina malah pacaran di PESANTREN. kaga semenggah banget udah bohongin orang tua."
"Ya allah Bang tibang begitu pake di keselin, biarin amat dia udah gede emang si masih bocah."
"Elu Ya ngebelain dia mulu, tambah kesel gua jadinya"...sahut Bapak sangat geram.
"Cari solusi ke !! bagaimana caranya biar Safina mau nerima lamaran si Haris. "
"Tapi Bang kalo Safina nya kaga mau, jangan di paksa, kasihan dia jangan di tekan." Ucap Emak.
"Hah elu bukanya kasih solusi, malah nambah kesel gua", balas Bapak sambil tukak pinggang.
Ya Allah deh, udah mulai keluar dia adat nya, bagaimana ini, kasihan Safina juga kalo terlalu di paksa. udahan lagi belajar. ada ada bae ujian Ya Allah.
Ustad Hamka menelpon Zaed, menanyakan jam berapa mau berangkat ke rumah Orang tua Safina. Ternyata Zaed sudah di jalan, sedang menuju ke arah rumah Ustad Hamka.
Setiba di depan rumah Ustad Hamka, kemudian Mereka langsung berangkat, menuju Alamat rumah Bapak Asnawi, Bapaknya Safina.
"Zay emang benar kemaren si Misbah dateng ke PONDOK PESANTREN NH. ??" tanya Ustad Hamka dalam perjalanan.
"Iya tad kemaren Misbah datang sama saudaranya Haris."
"Itu kemaren dia abis dari sini juga Zay ke Ana, minta di carikan cewek juga. Ana bilang aja ga ada, Ana santrinya cowok semua. "
"Oh jadi sebelum ke NH, Misbah sama Haris sempat ke Pondok Ustad juga."
"Iya Zay" Sahut ustad Hamka.
" Ana juga sempet ketemu kemaren, tapi Ana ga nyangka kalo dia datang untuk minta di carikan istri." Ana kira itu Bapak bapak , keliatannya berkumis, kucel lagi ". kata Zaed.
" Ahahahah...Ente Lemes juga Zay, sahut Ustad Hamka ".
" Tapi emang bener kan, Ente jujur Tad, pokonya tidak ada dusta di antara kita, Hahaha..."
__ADS_1
Zaed dan Ustad Hamka dalam perjalanan menuju Alamat rumah Safina. Sekitar 3 jam habis magrib mereka sampai di lokasi. Di jalan mereka sempat bertemu Bapak bapak sedang mengendarai sepeda, memakai sarung dan peci. Zaed tidak menyangka kalau itu Bapak Asnawi Bapak Safina.
Setelah sampai di depan rumah, Zaed mengetuk pintu.
Tok tok tok" Assalamualaikum"? Ucap Zaed
Tak lama kemudian, Bapak bapak yang membawa sepeda tadi, tiba tiba menghampirinya dari luar.
"Maaf ada perlu apa yah? tanya Bapak Safina.
Ini Pak Maaf, apa benar ini rumah Bapak Asnawi "? tanya Ustad Hamka.
"Oh, Iya benar, saya sendiri orangnya". Balas Bapak Safina.
"Oh jadi Bapak, Bapak Asnawi, yang tadi kita sempat bertemu di jalan" Ucap Ustad Hamka.
"Emang ada perlu apa yah kesini ? kata bapak.
Kenalkan Pak saya Hamka dan Zaed dari Bogor, Maksud kedatangan Kami ke sini, ingin bersilaturahmi, juga ada beberapa yang mau saya sampaikan ke Bapak. sebelumnya mohon maaf kalau kedatangan kami, mengganggu aktifitas Bapak."
"Jadi begini Pak sebelumnya saya mohon maaf apabila sudah lancang.
Ini saudara saya Zaed punya maksud, ingin melamar anak Bapak yang bernama Safina, Sebenarnya udah saling kenal beberapa bulan yang lalu mereka juga udah sama sama suka."
Bapak pun bertanya soal awal bertemu, lalu Zaed menjawabnya dengan detail.
"Sebenarnya kemarin juga ada yang datang ke saya punya maksud yang sama juga, Tapi saya belum kasih jawaban.
Jadi mohon maaf sebelumnya saya masih butuh waktu menunggu keputusan dulu dari anak saya Safina, karena saya juga ga mau kalau ambil keputusan sendiri, ini kan menyangkut masa depan anak saya."
"Jadi berhubung anak saya Safina masih di PESANTREN jawaban saya menolak ngga nerima juga ngga begitu aja sekiranya."
"Baik Pak kalo gitu, karena ini bukan keputusan yang mudah saya bisa maklumi. Setidaknya Zaed sudah berterus terang dan berusaha," Ucap Ustad Hamka.
Lalu mereka berpamitan pulang, tapi sebelum itu Ustad Hamka bertanya soal rumah OLis sepupu Ustad Hamka.
__ADS_1
" Bapak kenal Damhuri ga? Ini sepupu saya nikah sama orang sini alamatnya juga di sini RT RW nya sama nama suaminya Damhuri, Apa Bapak kenal "?...
Damhuri mah adiknya Ustad Soleh, berarti istrinya saudaranya Ustad ini. kenapa bisa kebetulan begini.
" Oh Damhuri yang nama istrinya Olis ya ?.."
"Iya Pak betul Olis itu sepupu saya orang Bogor juga, Waktu itu saya pernah dua kali ke daerah sini tapi udah lupa lagi." ucap Ustad Hamka.
" Oh jadi Ustad sebelumnya pernah ke daerah sini juga", Sahut Bapak.
" Kalo Damhuri rumahnya ga jauh dari sini, Ustad nanti tinggal lurus aja pas ada belokan kanan lurus aja teruus. Nah nanti kalau udah ada plang pondok pesantren Miftahul huda masuk aja karena damhuri tinggal di sana .
" Baik Pak kalau begitu terimakasih saya pamit. Sekarang saya mau langsung ke rumah Olis istrinya Damhuri."
"Iya iya.. silahkan silahkan. Mohon maaf ini udah jauh jauh datang, saya ga kasih air pisan."
Ustad Hamka dan Zaed, hanya membalas dengan senyuman.
Ternyata benar apa kata Safina, dari tampangnya aja gitu , sangar.
Lalu Zaed dan Ustad Hamka menuju kediaman Olis sepupunya Ustad Hamka. Setiba di PONDOK PESANTREN mereka bertemu dengan Ustad Soleh. dengan sangat kebetulan ternyata mereka udah saling kenal menyapa dan bercengkrama di majlis. Sekalian menanyakan kabar sepupunya Olis, tak lama kemudian Olis datang untuk menemui Ustad Hamka sebagai Pamannya.
Saat itu Zaed dan Ustad hamka bermalam di Majlis , area PONDOK PESANTREN SALAFI milik Ustad Soleh. Mereka masak masak bersama santriawan, di sana ternyata ada Haris yang juga ikut serta.
"Gue kayak pernah liat orang itu, kayak nya dia yang waktu itu sama Misbah. kalo emang benar, berarti itu yang namanya Haris, yang kemarin melamar Safina."
"Tad Ente kenal gak, yang lagi sama santriawan, yang berkumis itu? tanya Zaed.
"OH itu si Haris Zay saingan Ente." sahut Ustad Hamka dengan nada rendah.
"Ooh berarti benar dugaan Ana, soalnya Ana juga ingat ingat dikit. "
"Pokonya kita jangan bahas apa apa, apalagi soal semalam kita habis dari rumah Bapak Asnawi." Ucap Ustad Hamka.
Safina mana mau sama cowok tua begitu, dia kesehariannya pasti menggembala kambing.
__ADS_1
Tak lama kemudian Haris menghampiri Ustad Hamka, tak disangka mereka yang mempunya tujuan sama ingin memiliki Safina, bertemu dan saling bercengkrama seperti yang sudah kenal lama.