
Bapa Asnawi merasa pilu ia di kelilingi saudara dan teman teman, mereka saling menenangkan, memberikan support agar selalu optimis dan sabar dalam menghadapi ujian.
"Ente harus sabar, ikhlas, mungkin ini jalan yang terbaik buat anak ente," kata ustad Hadi merasa kasihan.
Safina yang hari itu juga pergi meninggalkan pelaminan bersama suaminya Zaed, Uswah adiknya Safina menangis menggerung gerung, karena tidak ingin Kakaknya pergi. Lies temannya Safina merasa kesal dengan sikap keluarganya Zaed, Lies berkata kepada bibi Kholis karena merasa geram "Keluarga gak punya hati main bawa bawa bae gak mikirin orang tuanya apa, acara belom beres pengantin main di bawa pergi aja".
"Maaf yah yang gak tau permasalahannya mending diam jangan ikut campur" jawab bibi Kholis.
Safina terlihat sedih sambil meneteskan air mata sepanjang jalan, semua orang melihatnya merasa kasihan ada juga yang merasa kesal melihat sikap keluarga Zaed.
Uswah dan Elsa terus menarik tangan Safina, "Kakak kakak.. jangan pergi, kasihan Ibu sama Bapak, acaranya belum selesai" katanya sambil menangis.
Safina tak kuasa menahan bendungan air mata, "Maafin Kakak, kakak harus ikut suami sekarang juga", jawab Safina tidak berdaya.
Emak tampak masih terlihat tegar, walau hatinya sedih bagai di iris iris, "Udah ikutin apa kata suami, Emak sama Bapak kaga apa apa" kata Emak meyakinkan Safina.
"Bapak mana??" tanya Safina karena ingin pamit.
"Bapak ada, udah gak usah di temuin, kalo di temuin Bapak nanti makin sedih," kata Emak.
Bibi Kholis terlihat memburu-buru Safina, Lies temannya menyahutinya karena geram dengan sikap bibinya yang tidak sabar.
"Sabar dong bu, emang gak kasihan apa liat Safina nangis nangis?
Bibi Kholis terdiam, karena tidak ingin memperkeruh keadaan. Kemudian Safina pamit dengan Emak sambil meminta maaf, Lalu Safina pergi dengan Zaed bersama keluarga menaiki mobil. Saat di dalam mobil mereka tampak diam diam, lalu bibi Sartika menarik tangan Zaed untuk memegang tangan Safina
"Pegangan dong kalian harus terlihat bahagia", kata bibi Sartika.
__ADS_1
________
Hubungan Bapak Asnawi dengan Bapak Rijal suami dari bibi Safina, semenjak menolak lamaran Haris mereka sudah tidak akur, bahkan saat acara pernikahan pun Bapak Rijal tidak ada, begitu juga dengan ustad Sholeh pamannya Haris, ia tidak datang walaupun sudah di undang.
Setiap tamu undangan yang datang selalu menanyakan kemana pengantinnya kok tamannya kosong, padahal taman pengantinnya saat itu terlihat mewah. Ketika tamu menanyakan pengantinnya, Bapak kembali sedih sambil mengusap dada namun berusaha untuk terlihat tegar.
Tiba di malam hari, Bapak terus menangis teringat Safina dan merasa malu kepada semua tamu undangan.
Semua gara gara dia emang gara gara dia keluarga brengsek kaga tau adab !! gumam Bapak merasa kesal.
Tanpa di duga Bapak Rijal datang menemui Bapak Asnawi dan meminta maaf, "Maafin ana ya Wi, ana udah tau semua, Ente yang sabar ya?di balik ujian yang ente hadapin pasti ada hikmahnya", ucap Bapak Rijal sambil memijat bahu.
"Gua udah di bikin malu, mau di taro di mana muka gua, anak gua di bawa pergi SAKIT HATI gua", kata Bapak merasa kesal hati bagai di iris iris.
"Udah sabar sabar". balas Bapak Rijal sambil menenangkannya.
Di perjalanan bibi Kholis menelpon Zaed mengajak beristirahat di rumah makan, sekalian acara selamatan nikah. Sampai di sana Zaed, Safina dan keluarga bertemu di rumah makan yang di tunjukkan bibi Kholis tadi, Mereka berkumpul di rumah makan juga bersama ustad Hamka .
Safina tampak bahagia, walau hatinya masih merasa sedih terbayang bayang kejadian di rumahnya waktu siang tadi.
Zaed dan Safina tiba di rumah jam 9 malam tepat di malam jumat, waktu itu cuacanya sangat dingin karena hujan, Safina tampak terkejut setelah masuk ke kamar Zaed melihat ranjang tidurnya serba ungu dan di hiasi bunga bunga, kemudian Safina izin ke kamar mandi karena ingin membersihkan badannya.
Setelah beberapa menit Safina kembali ke kamar, Zaed yang saat itu sedang rebahan melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, Safina tampak malu karena Zaed terus memandangnya.
"Kenapa sih ngeliatin terus?" kata Safina.
"GR yah?" tanya Zaed dengan timpal.
__ADS_1
"Iiich siapa yang GR, Anti yaa !!" jawab Safina sambil memanyunkan bibirnya.
Zaed mulai merayu "Jangan manyun kayak gitu, Aa jadi makin suka tau liatnya".
Safina membuang muka sambil mengurai rambutnya, Lalu Zaed mendekati memeluk dari belakang sambil merayu "Neng kamu kalo lagi kayak gini kelihatan aura cantiknya".
Rasa merinding dan gemetaran yang di rasa, jantung pun semakin berdetak kencang Safina lantas melepas pelukan Zaed karena merasa grogi.
Tiba tiba terdengar seruan dari luar "Zay malam jum'at woyy", ternyata suara Ajiz yang sedang lewat di depan rumahnya.
Zaed menghiraukan dan langsung mengajak Safina ke tempat tidur, tiba tiba Zaed terbangun lagi karena lupa belum sholat isya "Oh iya Aa lupa belum sholat, tunggu yah sholat dulu ?" katanya.
Lantas Safina secepat kilat mengganti pakaian tidur yang terlihat sangat tipis juga menerawang, ketika Zaed masuk kekamar ia langsung sholat, tidak tau kalau Safina sudah mengganti pakaiannya yang terlihat ****.
Selesai sholat Zaed melihat Safina menyelimuti seluruh tubuhnya, lalu mendekati sambil membuka selimut "Kamu kenapa nutupin badan kayak gitu dan sedikit terkejut karena melihat Safina memakai baju tidur **** berwarna pink."
"Wow aku terkejut !!!" kata Zaed sambil bercanda dan lalu memeluk Safina di atas ranjang.
_____________________
Kejadian pernikahan Safina saat itu menjadi VIRAL sekampung, namun tidak mematahkan semangat orang tua Safina, mereka terlihat optimis menyikapi omongan omongan orang yang terus membicarakannya.
Beberapa hari setelah acara pernikahan, rumah orang tua Safina terlihat tertutup, Emak dan Bapak pun jarang keluar rumah sampai satu minggu.
Seiring berjalannya waktu Bapak dan Emak Safina mulai beraktifitas seperti biasa, tidak lagi mengurungkan diri, tapi rasa sakit hati Bapak kepada Zaed juga dengan keluarganya masih membekas.
Hubungan Bapak Asnawi dengan ustad Sholeh pamannya Haris sudah mulai membaik, ketika Bapak menghadiri acara pengajian Bapak bapak di majlis taklim, tiba tiba adiknya ustad Sholeh menyindirnya "Abis di bikin malu sama anaknya, sekarang di berakin mukanya di depan orang banyak".
__ADS_1
Bapak hanya bisa terdiam dan sabar, tidak menghiraukan sindirannya.
Tapi Hubungannya dengan Haris Saat itu belum membaik, Haris merasa frustasi karena lamarannya di tolak oleh Safina, Haris terus mengurungkan diri merasa murung setelah tau Safina telah menikah dengan pilihannya.