Cinta Yang Tak Di Restui

Cinta Yang Tak Di Restui
kacau


__ADS_3

Safina dan keluarga melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tua Zaed untuk bersilaturahmi sekalian mengantarkan surat undangan, sudah satu setengah jam mereka telah tiba di lokasi.


Saat ustad Hadi bersalaman dengan Zaed "Saya kayaknya gak asing lagi liat muka ente", kata ustad Hadi sambil menunjukkan jarinya ke hadapan Zaed.


"Saya juga sama kayak gak asing lagi liat ustad" balas Zaed dengan tersenyum.


Bapak menimpalinya "Kan emang alumni di PPNH juga tad".


"Ooh...pantesan saya kayak kenal, kalo gitu kita satu alumni di pesantren yang sama ya ?haha...iya iya", kata ustad Hadi.


Sudah dua setengah jam setelah banyak pembahasan yang di perbincangkan sampai acara makan makan, selesai itu Safina dan keluarga berpamitan pulang karena waktu yang sudah malam.


__________


Waktu terus berputar, hari demi hari silih berganti, suka duka telah terlewati tiba waktu yang di nanti nanti, yang mana akan menjadi sepasang suami istri, semoga Allah memberkahi sampai hidup akhir hayat nanti.


Tiba di hari pernikahan, Safina terlihat sedang menggunakan gaun pengantin berwarna putih,


ia tampak begitu anggun, saat itu Safina di temani dengan temannya Lies.


Rombongan besan dan pengantin lelaki sedang di perjalanan menuju lokasi pengantin perempuan, Zaed membawa rombongan besan 25 mobil pribadi 3 mobil bak untuk membawa kue kue, sayuran, buah buahan dan dua ekor kambing Badoet.


Setelah tiba di jam 11 siang, rombongan besan dan pengantin lelaki datang menuju lokasi pengantin perempuan, di kawal oleh kepolisian kebetulan itu saudara dari keluarga Zaed yang ikut serta dalam rombongan besan, waktu itu rombongan besan begitu banyak sampai satu tenda penuh, sebagian ada yang tidak kebagian duduk sampai mengungsi di rumah tetangga sebelah.


Keluarga Besan membawa kue kue dan sayuran semobil bak penuh, pisang satu mobil bak dan dua ekor kambing badoet. Keluarga mempelai wanita mengucap syukur Alhamdulillah karena bawaan yang begitu banyak dan lengkap, juga membawa rombongan besan yang tak terhitung jumlahnya.

__ADS_1


Semua rombongan besan duduk, keluarga mempelai wanita memberikan sambutan, setelah itu selanjutnya giliran dari keluarga mempelai lelaki yang memberikan sambutan.


Setelah memberikan sambutan sambutan, semua tamu di persilahkan untuk makan, selesai makan lalu sholat zuhur, selesai sholat zuhur baru melaksanakan ijab kobul di masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah.


Beberapa menit kemudian, Safina sebagai mempelai wanita di persilahkan keluar dari kamar untuk segera ke masjid karena akan melaksanakan ijab kobul, Safina di iringi dengan bibi Kholis dan kedua anaknya, "Kamu pangling banget Neng" kata bibi Kholis dengan memujinya, Safina membalas dengan senyuman.


Tiba di masjid, sebagian tamu undangan dan rombongan berkumpul di masjid, menyaksikan ijab kobul pengantin. Saat itu wali nikah Zaed selain Abi nya, juga ada Aang yang ikut menjadi wali nikah Zaed.


Terlihat haru saat itu, Safina duduk diam terpaku sambil tak kuasa menahan bendungan air mata bahagia, jantungnya semakin berdebar-debaran saat duduk bersampingan dengan Zaed, dan menghadap ke bapak amil. Zaed pun merasakan hal yang sama Jantungnya berdetak kencang namun ia terlihat santai,


hanya Bapak Safina yang sikapnya agak beda saat itu.


Ijab kobul telah di mulai, Zaed terlihat begitu tegas dan lantang saat mengucap ijab kobul dengan berbahasa Arab.


"Saahh" jawaban serentak para tamu undangan yang menyaksikan.


"Alhamdulillaah ,"serentak semuanya.


____________💖💖💖💖__________


Akhirnya hari itu tepatnya tgl 24 April tahun 2013 mereka telah sah menjadi suami istri. Selesai itu pengantin pria dan wanita bersalam salaman terutama kepada kedua orang tua, saudara, guru, dan kemudian kepada tamu undangan. Saat itu Bapak Safina tidak ada entah kemana, padahal seharusnya setelah ijab kobul bersalam salaman terlebih dahulu, tapi Bapak malah langsung pergi entah kemana.


Mang Saepul merasa geram dengan sikap Bapak, karena tidak habis pikir sama sikap Bapak Safina yang tampak beda, seperti tidak merasa bahagia melihat anaknya bahagia.


Setelah semuanya selesai berfoto foto bersama pengantin wanita dan pria, para tamu undangan dan rombongan besan kembali ke tenda mempelai, Safina kembali ke kamar karena akan segera mengganti kostum.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


Beberapa menit terdengar suara keributan di luar, Safina sontak kaget "Ada suara apa ya itu di luar, kok kaya suara orang ribut ?" kata Safina bertanya dengan tukang rias.


Ternyata mang Saepul ngamuk, karena merasa kesal dengan sikap Bapak yang tidak menghargai Zaed. "Saudara gua itu jangan di gituin hargain dikit !!!" tegas mang Saepul sangat marah sambil melempar aqua ke depan muka para tamu undangan.


Suasana menjadi kacau balau karena sikap mang Saepul semua tamu undangan kena imbasnya. Zaed juga merasa geram karena merasa tidak di hargai dengan Bapak mertuanya, namun Zaed bisa menahan emosinya.


"Ya Allah ada apa ini?" Safina tampak bingung dengan kejadian di luar yang ramai.


Tangis Safina pun pecah karena mengetahui mang Saepul marah marah di depan Bapaknya.


suasana semakin kacau, Bapak Asnawi terlihat meminta maaf dan mengklarifikasi dengan tenang, "Saya minta maaf apabila ada sikap saya yang kurang berkenan di hati, tadi saya buru buru karena belum sholat zuhur, sedikit pun gak ada maksud apa apa, saya bener bener gak tau, yang saya pikir waktu itu belum solat zuhur jadi terburu buru." jelas Bapak.


Mang Saepul sudah bisa di tenangkan, namun suasana menjadi beda, terlihat orang orang penting termasuk Aang dan ustad Hamka berkumpul dan bermusyawarah, Aang menyarankan agar Zaed segera membawa Safina pulang ke bogor, karena melihat situasi yang sudah tidak lagi nyaman, Aang memprediksi kalau ada pihak ke tiga yang tidak suka membuat acara ini kacau. " Kalo Zaed terus di sini Aang khawatir suasana nya akan semakin kacau", jelas Aang.


Akhirnya keluarga Zaed menyetujuinya, Aang lalu menemui Safina menjelaskan kejadian tadi, dan menyarankan agar ikut dengan Zaed, karena saat itu juga Zaed langsung pulang.


"Sabar ya Neng kamu harus ikuti sarang Aang, mungkin ada baiknya kamu langsung ikut sama Zaed, dia sekarang kan udah jadi suami, kamu harus nurut apa kata suami", ucap bibi Kholis yang tak tega melihat Safina terus menangis.


Lalu Safina mengangguk, tak henti henti menangis karena berat untuk meninggalkan acra resepsi yang belum selesai.


Emak hanya bisa sabar tidak bisa berkata apa apa, karena emak juga di beri nasehat oleh Aang selaku guru, juga pemimpin pondok pesantren NH. Emak tampak tegar walau sebenarnya hatinya begitu sedih, setelah tau anaknya akan langsung di bawa pergi oleh suaminya, padahal saat itu baru selesai ijab kobul.


Bapak Asnawi tampak sedih berat tak kuasa menahan bendungan air mata, tangisnya pun pecah.

__ADS_1


__ADS_2