
Bahrudin sangat membuat kesal Zaed, tapi dia tampak terlihat biasa biasa saja seperti yang tidak merasa bersalah, padahal mereka berteman cukup dekat. Saat itu Zaed langsung mematikan teleponnya karena sudah merasa muak dengan Bahrudin.
Safina masih kesal dengan kata kata Zaed,
Baru aja baikan sekarang galau lagi,gumamnya.
______________________
Bibi Kholis bercakap cakap dengan Safina lewat WhatsApp dan menanyakan,
Bibi Kholis :" Neng katanya waktu itu, Bapak udah ngizinin hubungan kamu sama Zaed yah?"
Safina :" Iya bi", padahal sejujurnya Safina sendiri belum tau kalau Bapak benar benar udah merestui atau belum soal hubungannya.
Bibi Kholis :" Kalau gitu biar lebih jelas bibi mau ngmong langsung sama Bapak, bisa gak?"
Safina sontak kaget dan merasa bingung seraya berkata di depan Uwa dan suaminya, "Duh gimana nih bibi malah pengen ngobrol langsung sama Bapak??"
"Yaudah biar gua yang ngomong pura pura jadi Bapak lu" jawab Bapak Marwi mamang Safina.
"Nah iya biar mamang lu aja yang ngomong Fin" timpal Uwa.
Safina menyetujuinya dan memberitahukan bibi Kholis, "Iya bisa Bi kapan mau ngobrolnya?" katanya.
Bibi Kholis:"Sekarang juga boleh Neng"
Akhirnya Bapak Marwi yang berpura pura sebagai Bapak Safina, ngobrol dengan bibi Kholis lewat telepon. Saat itu bibi Kholis sedang bersama Zaed, namun Zaed enggan berbicara karena malu.
Pada kesimpulannya_____
"Jadi kalo Bapak udah merestui mah, Zaed boleh nih ya pak main ke rumah?" tanya bibi Kholis.
"Iya silahkan pintu rumah terbuka lebar", sahut Bapak Marwi.
"Yaudah kalo gitu terimakasih atas pengertian Bapak, mohon maaf juga apabila ada kata kata saya yang salah?" kata bibi Kholis.
__ADS_1
Telepon di tutup Safina yang tampak lega setelah mendengar percakapan mamang Marwi dengan bibi Kholis mengucap" Syukur Alhamdulillah".
"Denger gak tuh tadi katanya apa?", tanya bibi Kholis sambil menepuk bahu Zaed.
"Sekarang apa lagi yang harus di tunggu, udah besok langsung aja temui orang tuanya, bibi siap anter".
Bibi Kholis terus menasehati dan meyakinkan Zaed, agar mau bergerak dan memperjuangkan cintanya. Zaed pun akhirnya mau dan menyetujui saran bibi.
Bibi Kholis mengatur rencana untuk beberapa hari lagi, ia akan mengajak adik adiknya dan juga bibi sartika untuk ikut serta dalam rencananya.
Bagimana ini kalo mereka bener bener jadi mau datang kesini ??tanya Safina kepada Uwa dan suaminya.
"Yaa kaga gimana-gimana, bagus malah!!" jawab Uwa dengan timpal.
"Tapi mending kasih tau Bapak lu nanti kalo Si Zaed bener jadi mau dateng kesini". kata Bapak Marwi.
2 hari kemudian
Zaed mengabarkan Safina kalau hari ini ia akan segera ke rumah bersama keluarganya, Safina tampak tergesa gesa setelah tau Zaed dan keluarganya akan segera datang ke rumah.
"Aa kenapa dadakan kayak gini sih bukannya bilang dari kemaren kemaren?" kata Safina.
Lantas Safina memberitahukan Bapak juga Emak kalau hari ini Zaed dan keluarganya akan datang ke rumah.
Bapak memang terlihat biasa biasa saja, tapi dalam hatinya menggerutu,
Aah males banget gua kalo dia kesini lagi !!
"Itu beneran sekarang dia mau pada dateng kesini??" kata Bapak dengan nada tinggi.
Lalu Safina menjawabnya agak terbata bata karena takut dan gugup " I..i..iya".
Emak menghampiri dan menyahuti "Udah bang sekarang mah jangan keras bae sama anak, nanti kalo si Zaed sama keluarganya dateng jangan asem bae itu muka," ucap Emak.
"Emang muka gua begini apa adanya jangan di atur atur".
__ADS_1
Setelah beberapa jam kemudian Zaed dan keluarga telah tiba di depan rumah dengan mengendarai mobil carry, Zaed bersama 5 saudaranya, termasuk bibi Kholis, bibi sartika juga adiknya dan Mang Saepul suami dari bibi sartika. Safina dan keluarga menyambut, mempersilahkan untuk masuk dan duduk.
Rasa malu,grogi, dan cemas menghantui pikiran Safina, ia takut Lamaran Zaed yang kedua kalinya akan di tolak lagi dengan Bapak.
Saat itu tampak raut wajah Bapak biasa biasa saja, terlihat tidak asam dari cara bicaranya juga bijak. Bibi Kholis sebagai juru bicara sangat asyik ketika bercengkrama dengan keluarga Safina, beda dengan Zaed, ia terlihat pendiam juga dingin.
Jadi pada intinya maksud kedatangan kami kesini, saya selaku bibi dari Zaed mewakili, kalau Zaed punya niat ingin mempersunting Safina, mendengar ucapan Bapak kemaren yang di telepon, kami meyakinkan diri untuk datang kesini".
Bapak sontak kaget, "Kaaapan yaa? perasaan Saya belum pernah nelpon, sama sekali belum pernah nelepon ibu" kata Bapak.
Emak langsung menyahuti "Itu ken baang waktu kemarenan nya, blom lama juga masa udah lupa".
Bapak tampak bingung kehabisan kata kata, karena Emak dan bibi Kholis terus ngobrol, Emak sengaja mengalihkan pembicaraan, agar tidak membahas soal itu lagi.
Inti dari pembicaraan tadi yang sudah panjang lebar, saat itu juga Bapak telah menyetujui lamaran Zaed, tampak dari raut wajah Safina sedih terharu bahagia, hatinya merasa lega setelah mendengar semua jawaban Bapak. Bibi sartika melihat Safina dengan tersenyum seraya berkata "Alhamdulillah Neng".
Zaed pun merasakan hal yang sama, ia tidak menyangka semua ini seperti mimpi, dengan wajah santainya Zaed sedikit melirik Safina karena merasa bahagia, Safina pun meliriknya tersenyum bahagia.
Kemudian setelah beres makan makan Zaed dan keluarga berpamitan. "Kalau begitu tinggal menentukan tanggal Acara seserahan nya yah pak, nanti saya kabari" ucap bibi Kholis.
Lalu keluar rumah.
Bibi Sartika berkata kepada Safina "Udah lega sekarang mah, tinggal berapa langkah lagi, selamet ya Neng" kata bibi Sartika dengan senyum.
"Makasih bi ini semua karena dukungan bibi dan saudara saudara yang udah mendorong Aa."
"Iya, semua emang pengen yang terbaik buat Zaed Neng, kalo gitu bibi pamit yah", lalu Zaed dan saudara pamit untuk pulang.
Zaed dan Safina memang tampak diam dan malu saat itu, mereka tidak saling menyapa secara langsung, hanya lewat WhatsApp saja.
Di dalam mobil Semuanya membicarakan Bapak Safina "Kelihatannya si emang agak sangar ya muka Bapaknya, tapi dari cara bicaranya enak si orangnya kelihatan bijak," kata mamang Saepul suami dari bibi sartika.
"Itulah gunanya menilai orang jangan dari pisiknya aja," timpal bibi Kholis.
"Alhamdulillah akhirnya lamaran yang kedua kali di terima juga," ucap bibi Sartika.
__ADS_1
"Nah udah plong kan Zay sekarang", kata bibi Kholis sambil menoleh ke arah Zaed. "Sekarang lebih giat lagi tuh nyari duit, pikirin buat tambahan seserahan, gua rasa nikah sama orang kota pasti rada mahal bawain duitnya" ucap bibi Kholis.
"Gak apa apa mahal juga yang penting mampu, lancar sampai acara pernikahan" kata Mang Saepul.