
Akhirnya saat usia kandungan Safina jalan 7 bulan ikut pulang ke rumah orang tuanya, tapi tidak bersama Zaed karena posisinya sedang bekerja.
Namun hati Safina sangat berat karena jauh dari suami, ia tampak kasihan melihat Zaed, rasanya serba salah Safina sangat sayang sama suami, di sisi lain Safina juga tidak ingin terus membuat hati orang tua kecewa.
Zaed meyakinkan Safina agar tidak mengkhawatirkan dirinya, "Nanti juga seminggu sekali Aa pulang ke sana, sebelum acara selamatan Aa usahain udah di sana", kata Zaed.
Semenjak habis hajatan Bapak Asnawi seperti banjir rejeki, beda dengan Zaed setelah nikah ia sempat menganggur dan sekalinya dapat kerjaan hasilnya tidak seberapa.
Bapak Asnawi merasa kesal dengan Zaed, karena setiap kali menyuruh untuk berkunjung, selalu alasan tidak punya uang, bahkan sampai merendahkan Zaed mengatakannya di depan Safina "Jadi suami gak becus, setiap elu pengen pulang kudu bae orang tua yang jemput" kata Bapak Asnawi dengan ketus.
"Gua mah sengaja alesan mau bikin acara selamatan 7 bulan, biar lu bisa pulang sampai lahiran di sini" jelas Bapak di dalam mobil.
Bapak juga ingin tau setelah Safina pulang ke rumah orang tuanya, Zaed akan menepati janjinya pulang seminggu sekali atau tidak.
Di rumah orang tua
Waktu itu janji Zaed meleset dia tidak bisa pulang tepat waktu karena belum cukup membawa Uang, Namun Bapak beranggapan lain "Itu mah alasan dia doang, apa susahnya si, tibang ke sini pake motor bensin doang juga cukup".
Tapi Zaed berpikir panjang, yang ia pikirkan tidak hanya ongkos bensin, Zaed juga memikirkan bekal resiko untuk di sana, juga untuk pegangan istrinya.
"Udah apa bang jangan ngrecom bae, kali mah si Zaed nya emang belom punya duit," sahut Emak.
"Lu liet kan waktu acara 7 bulan, emang dia ngasih buat nambahin !! ken kaga, ngasih bayar dukun lahiran doang seratus" kata Bapak sangat ketus.
"Yang udah jangan di bahas, takut pahalanya ilang" balas emak dengan timpal.
Safina hanya terdiam, karena berfikir buat apa di layani kalau akhirnya jadi keributan.
Sudah menincak bulannya di usia kandungan Safina, saat itu sebelum Zaed pulang ke rumah mertuanya, ia terlihat bingung karena belum mendapatkan uang untuk biaya lahiran istrinya, Akhirnya pada saat itu Zaed sampai menggadaikan BPKB motornya ke Bank, untuk kebutuhan juga biaya lahiran, lalu setelah itu Zaed kembali ke rumah mertuanya dengan tepat waktu.
Keesokan malamnya pukul 20.00 Safina melahirkan dan Alhamdulillah ibu dan anaknya lahir dengan selamat, berjenis kelamin perempuan.
__ADS_1
"Alhamdulillaah" ucap Zaed merasa bersyukur.
"Biaya lahiran mah kalo belom punya bilang, siapa tau Bapak bisa bantu, namanya orang tua kan ke anak mah gak perhitungan" kata Bapak di depan Zaed.
Zaed merasa tidak enak hati dengan ucapan Bapak, ia merasa di anggap tidak mampu membiayai istrinya lahiran.
"Saya punya pak jangan khawatir" jelas Zaed.
Karena kesal dengan sikap Bapak Asnawi, Zaed lantas ke ruang administrasi membayar semua biaya lahiran istrinya, setelah itu keluar untuk membeli kebutuhan kebutuhan Safina dan perlengkapan Bayi, juga makanan sangat banyak.
"Saya mau izin keluar dulu pak" kata Zaed.
Sepertinya walau Zaed sudah di buat kesal dan tersinggung dengan sikap mertuanya, ia tetap bersikap baik di depan mertuanya itu.
Dua hari di rumah persalinan bidan
Safina dan bayi nya kembali ke rumah, Zaed berkata kepada Safina kalau ia hanya beberapa hari saja di sini dan akan kembali pulang ke bogor karena alasan bekerja dan akan kembali lagi setiap satu minggu sekali tapi tidak janji, karena kalau janji takut tidak bisa menepati.
"Kalo di sini lama lama, Aa juga bingung harus ngapain, udah ada Emak yang bantuin, sedangkan keuangan udah menipis, kebutuhan kita kan sekarang makin bertambah, liat sekarang kita udah punya anak," jelas Zaed.
"Yaudah terserah Aa aja" jawab Safina.
Keesokannya
Safina tampak kesepian karena suaminya sudah kembali ke bogor karena akan bekerja, Zaed tipe suami yang penyayang, Safina rindu kata canda Zaed saat memangku buah hatinya, juga rindu sikap siap siaga Zaed yang setiap malam membuatkan susu untuk buah hatinya.
Emak mengurus Safina dengan sangat telaten,
walau Emak tipe yang cerewet tapi itu bukti sayang orang tua kepada anak.
Setelah usia dua bulan, Zaed yang sedang di Bogor menelpon Safina yang masih di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Neng, Nenek di sini lagi sakit udah payah banget, tadi pesen ke Aa kepingin liat anak kita Syarifah, takutnya gak ada umur mending besok kamu balik, minta di antar sama Emak Bapak, soal ongkos mobil Aa yang bayar dari sini", kata Zaed.
"Syarifah masih dua bulan A, kasian kalo di ajak naik mobil takut masuk angin, ini kan jauh perjalanannya". jawab Safina merasa keberatan karena masih belum tega membawa Syarifah dalam perjalanan jauh.
Zaed berusaha meyakinkan Safina agar menuruti perkataannya, Akhirnya Safina luluh juga mau menuruti perintah suami.
"Tapi Aku takut mau bilangnya ke Bapak", kata Safina merasa gelisah.
"Biar nanti Aa yang bilang ke Bapak sama Emak", balas Zaed dengan optimis.
Hati Safina merasa lega, karena ia tak perlu repot repot lagi untuk memberitahukan ke Emak dan Bapak.
Waktu Zaed ngobrol di dalam telepon, Bapak merespon dengan baik, di depan Zaed, Bapak berkata enak, tapi di belakang, Bapak membicarakannya sambil menggerutu, dan menjelekkan menantunya sendiri.
"Oh yaudah gak masalah Bapak mah, kan lagian juga si bayi usianya udah 2 bulan, jadi boleh di bawa keluar, tapi karena mau ke perjalanan jauh, nanti Bapak kasih jampe dulu biar gak sawan". ucap Bapak Asnawi.
Bapak dan Zaed sudah sepakat, tinggal menunggu waktu besok.
Pagi hari
Safina pulang ke Bogor di antar oleh Bapak, Emak, juga bibi istri dari Bapak Rijal.
3 jam sampai di lokasi, Umi, Abi beserta keluarga menyambutnya dengan hangat.
Bayi Sarifah di perebutkan saudara dan adik ipar, karena sangat rindu dengannya.
Akhirnya setelah sudah beberapa jam Bapak dan Emak pamit pulang, sebelum itu Bapak tampak sedih karena akan berpisah dengan cucu pertamanya, Bapak menggendong dan mencium cucunya itu dengan penuh kasih sayang.
"Yah deh !! inten permata Bapak sekarang kaga bisa cium wangi bedaknya lagi dah", kata Bapak sambil mencium bayi Syarifah.
"Udah apa Bang lebay banget jadi aki aki," kata lelucon Emak.
__ADS_1
"Sebulan sekali ya Neng pulang ke rumah Bapak", kata Bapak di depan Zaed.