
Haris memang sudah terlanjur jatuh cinta dengan Safina, ia jadi sangat sulit untuk melupakannya. Tetapi dengan berjalannya waktu yang cukup memakan waktu lama, Haris pada akhirnya bisa mengikhlaskan kalau Safina memang bukan jodohnya.
Pagi hari pukul 06.30
Safina bangun kesiangan, ia terlihat kebingungan saat keluar kamar ingin segera ke kamar mandi.
Pasti di dapur ada Umi terus ketemu deh sama adik adik Aa, duh aku jadi malu mau ke kamar mandinya.
Zaed memanggilnya "Neng kok malah diem? udah ke kamar mandi sana bersih bersih" kata Zaed.
Dengan sangat terpaksa Safina bergegas ke kamar mandi, sambil merasakan sakit di bagian vaginanya.
Ketika lewat dapur ternyata ada Umi, Lalu dengan sangat malu Safina menyapa dan langsung ke kamar mandi.
Penganten baru jam segini baru bangun, gumam Umi.
Mulai dari memasak, menggoreng, sampai sudah beres lagi berbenah di dapur, Safina belum juga keluar dari kamar mandi, Wida sampai gundam "Penganten baru mandi aja sampai setahun", katanya sambil menggelengkan kepala karena kebelet pengen buang air kecil.
Adik adik Zaed memang banyak, di sekitar rumah juga di kelilingi dengan saudara saudara juga adik adik Umi, jadi 24 jam di rumah orang tua Zaed selalu ramai dengan anak anak juga saudara.
Tampaknya Safina tidak terbiasa dengan keramaian, namun seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa menjalankannya. Safina memang tampak masih malu malu, butuh waktu untuk beradaptasi, tapi Safina juga ternyata sangat senang dan penyayang dengan anak kecil.
Zaed mengajak istrinya berkunjung ke rumah saudara saudaranya yang dekat, tapi Safina menolaknya "Aa tapi itu Neng lagi sakit", kata Safina merasa kesakitan.
"Itu apanya yang sakit ?" tanya Zaed.
Safina menunjuk ke arah Vaginanya, lalu Zaed senyam-senyum senyum seraya berkata "Masa si !!emang abis di apakan?" sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Neng serius ih malah ketawa" sahut Safina sambil cemberut.
Safina memang terlihat beda saat berjalan seperti merasakan nyeri di bagian vaginanya, mungkin karena habis malam pertama waktu malam tadi.
"Yaudah kalo gitu nanti aja kita berkunjung nya" kata Zaed sambil mengusap kepala Safina dengan penuh kasih sayang.
"Tapi Neng jangan ngeciriin ke yang lainnya kalo itunya lagi sakit, kan malu" kata Zaed lagi.
"Hmm...lagian Neng juga malu kali, gara gara Aa sih" balas Safina sambil mencubit tangan Zaed.
"Kok nyalahin Aa?? kan Neng juga mau !!"
"Kan di paksa itu mah, ya Neng jadi pasrah"
"Kamu tuh bisa banget jawab jawabin nya, jadi makin gemes Aa" jawab Zaed merasa greget dengan Safina.
____________
Dari hari ke hari, minggu ke minggu sampai bulan ke bulan, rumah tangga mereka penuh dengan lika liku tidak semulus yang di kira, mulai dari mertua dan saudara, kehidupan rumah tangga Safina di kelilingi dengan adik adik ipar dan saudara saudara Zaed, salah sedikit di omong, dikit dikit di omong, mungkin memang seperti itu hidup rumah tangga yang masih satu rumah dengan mertua, dan dikelilingi banyak saudara.
Safina sebenarnya sangat merindukan kedua orang tuanya sejak lama, tapi ia hanya bisa menahan kerinduannya itu dengan sendiri. Setelah beberapa bulan pernikahan Bapak mengirim pesan WhatsApp ke Safina.
Bapak :"Anak macem apa lu udah beberapa bulan kaga nyaba nyaba ke orang tua, lu kaga inget emang waktu nikah di bawa kabur sampai sekarang belom pulang pulang ke orang tua, sekalinya pulang hari itu dateng, hari itu juga langsung pergi, nanyain kabar ke apa ke emang inget sama orang tua, lu udah bikin orang tua sakit hati, makan ati doang ???"
Tampak Safina matanya mulai berkaca kaca menahan bendungan air mata, ia tidak bisa menjawab panjang lebar, Safina hanya meminta maaf kepada Bapak, tapi Bapak malah mengabaikannya karena merasa sakit hati dan kecewa.
Maafin Safina Pak, gak ada maksud sedikit juga, bikin kecewa Bapak, Fina gak ada niat buat nyakitin hati Bapak !!!
__ADS_1
gumam Safina sambil mengusap air mata.
Sungguh pilu hati Safina waktu itu, membaca pesan dari Bapak yang membuat hatinya patah. Di tambah Kehidupan rumah tangga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, juga dirinya selalu menjadi bahan omongan mertua dan saudara, tapi Safina saat itu masih terlihat sabar dan tabah.
______________
Sudah dua bulan pernikahan pihak dari besan wanita rencana berkunjung ke rumah besan lelaki, sebagaimana adat orang betawi yang melakukan besan ke mempelai lelaki, tapi saat itu karena besannya orang bogor, keluarga Safina tidak di perbolehkan untuk melakukan besan ke pihak besan lelaki. Jadi waktu itu keluarga besar Safina hanya berkunjung saja, untuk menyambung tali silaturahmi.
Ketika sampai di lokasi Safina terlihat semakin kurus tidak seperti waktu awal nikah agak berisi, Emak menegurnya "Elu kurus amat si, cape ya di sini ?", kata emak dengan nada sedikit rendah.
"Safina emang sengaja pengen diet Mak". jawab Safina, padahal ia juga baru menyadari akhir akhir ini memang terlihat agak kelonggaran memakai gamis.
Emak mulai curiga, menyangka Safina kecapean di perlakukan seperti pembantu, padahal Safina selama tinggal di rumah mertua, bangun selalu kesiangan, berbenah juga cuma nyapu saja. Tapi Safina jadi bahan omongan dan sindiran mertua dan saudara saudaranya.
Bibi Sartika datang menemui Emak dan bersalaman, Emak menanyakan soal Safina, "Bi Safina kelihatannya betah gak tinggal di sini?
Lalu bibi Sartika menjawabnya "Betah bu, cuma Safina tidur mulu jarang keluar hehe" jawab bibi sartika sambil tertawa kecil.
Emak pun menimpalinya seraya berkata "Mendingan begitu, dari pada keluar gibahin orang ken dosa mending di rumah diem diem" kata Emak sambil bercanda.
Bibi Sartika hanya tersenyum sinis, lalu mengalihkan pembicaraan yang lain.
Bapak Safina saat itu terlihat acuh kepada Zaed, namun Zaed tetap menegurnya.
Sudah dua jam keluarga Zaed dan keluarga Safina bersilaturahmi, Emak dan Bapak akhirnya berpamitan untuk pulang, Emak kasih pesan ke Safina "Jangan capek capek ya, urusin aja diri lu, makan biar banyak jangan dengerin apa kata orang" kata Emak.
Safina meresponnya dengan senyum.
__ADS_1
5 bulan pernikahan Safina sudah hamil dua bulan, Zaed terlihat bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya, Safina pun memberitahukan Emak kalau ia sedang hamil. Ketika usia hamil sudah 7 bulan Safina di jemput dengan orang tuanya untuk tinggal di sana sementara sampai lahiran, karena Bapak juga beralasan ingin mengadakan acara syukuran 7 bulannya kehamilan anaknya. Lalu Zaed dengan sangat terpaksa menyetujui dan mengizinkan permintaan Bapak Safina, karena Zaed tau watak Bapak Asnawi, juga tidak ingin membuat hati mertua nya kecewa.