
"Kamu sekarang ingin tinggal bersama orang tua, karena merasa di sini kurang bahagia. Tapi ingat kata kata Aa, Walau hidup sama orang tua sendiri juga tidak menjamin bahagia, bisa jadi sebaliknya," ucap Zaed sedikit menegaskan kepada Safina dengan suara rendahnya.
***
Sejak itu usia Syarifah sudah 4 tahun, di usianya yang sudah 4 tahun Safina kembali pulang ke rumah orang tuanya di antar dengan suaminya, dan akan menetap di sana.
Karena bermacam alasan yang di rancang Safina, ia berhasil meluluhkan hati suaminya. Sampai mengajaknya untuk tinggal dan pindah di rumah orang tuanya.
Namun Zaed masih ragu ia bertekad dengan keyakinannya, ingin mencapai keinginannya merintis usaha sampai sukses dan bisa merapihkan rumah yang sempat terbengkalai.
Walau ia harus bolak balik 2 minggu bahkan sampai sebulan sekali pulang kerumah mertuanya.
Hari demi hari seiring berjalannya waktu, bisnis onlain Safina semakin lancar, dan Syarifah sudah mulai masuk sekolah paud saat itu.
Zaed : "Mau sampai kapan kita kayak gini Fiin, hidup saling berjauhan ?" tanya Zaed di pesan WhatsApp.
Safina :" Sampai Aa bisa merapihkan rumah, baru aku mau pulang", namun hatinya berkata lain.
Zaed :" Ya Allah Fiin,, kapan tau itu mah".
Safina :" Hmm...ya harus gimana lagi, aku gak mau balik kalo masih satu rumah sama mertua."
Zaed :" Aa juga kan sama aja kalo balik ke depok satu rumah juga sama mertua, Aa juga sama gak betah, apalagi sikap Bapak yang kayak gitu."
Safina :" Kalo Aa kan jarang di rumah, jadi ada hiburannya di tempat kerja, sedangkan aku di rumah full setiap hari menghadapi mertua terus."
Karena merasa capek berdebat terus, Zaed langsung tidak merespon percakapannya di WhatsApp. Setelah beberapa menit tidak membalas, Safina kembali bertanya.
Safina :" A ? Kok gak di balas?"
Zaed : " Terserah kamu sekarang mah, kalo di nasehatin kan gimana kamu bae, yaudah lebih baik diam."
Gitu banget si jawabnya, jadi serba salah aku juga. Ya Allah kenapa jadi rumit kayak gini sih, diam di rumah orang tua jauh sama suami, kalo satu rumah sama mertua membatin terus !! gumam Safina merasa gelisah.
Safina :" Aa kapan mau balik ke sini, mau nunggu sebulan lagi ?"
Zaed :" Gimana nanti be".
__ADS_1
Safina :" Singkat banget jawabnya".
Zaed :" Kamu kalo cuma mau bikin emosi, mending gak usah nanya".
Safina :" Oh gitu, gak suka ?? yaudah OKE".
Mereka pun akhirnya tidak melanjutkan percakapannya di WhatsApp.
Safina terlihat greget dengan jawaban suaminya yang singkat jutek itu, namun hatinya merasa gelisah terus memikirkan dan bertanya tanya.
Kenapa sih dia gak ngertiin perasaan aku, rayu ke apa ke, ini mah kalo aku jutek malah di balas jutek. Dia mah gitu gak bisa menghibur perasaan istri.
Zaed saat itu juga setelah habis di buat kesal dengan jawaban Safina, ia lantas main game bersama teman rekan kerjanya untuk menghilangkan rasa kesalnya itu. Sedangkan Safina terus gelisah memikirkan hubungannya dan mengharapkan suaminya kembali menghubunginya.
Sampai keesokan hari, Zaed masih cuek tidak menanyakan kabar seperti biasanya, yang suka menanyakan Syarifah, lagi apa, udah makan belum. Namun hati Safina masih merasa gelisah memikirkan sikap Zaed, ia merasa gengsi jika menanyakan lebih dahulu, malah menunggu suaminya dahulu yang bertanya.
Hatinya mulai tidak tenang karena terus menunggu pesan WhatsApp suaminya. Zaed yang saat itu sedang sibuk bekerja, seketika ingat Syarifah, tapi karena Zaed masih kesal dengan Safina ia malah enggan menanyakan.
Hati jadi gak tenang gini, cuma gara gara masalah kemarin, hmmmp...!!! gumam Safina.
"Masih sibuk, paling seperti biasa sebulan sekali pulangnya".
"Emang kaga bisa dua minggu sekali, jangan sebulan sekali begitu, kesian Syarifah."
"Bingung ongkosnya Pak, kan jauh", balas Safina.
"Aah dari dulu alesan nya itu mulu, kaga bisa di jadiin alesan itu mah, emang be kaga mau kesini", tegas Bapak sambil mengeraskan suaranya.
"Usaha bae kaga ada habisnya dunia mah"
"Bapak mah suka serba salah, gak kesini di omong, kesini di omong. Kayaknya ga ada bagus bagusnya Aa di mata Bapak?", ucap Safina merasa bingung dengan sikap Bapaknya. "Terus aja di salah salahi, dia kan begitu juga karena cari duit, buat keluarganya." Safina tampak berani menyahuti, karena ia juga tidak ingin suaminya terus di salah salahkan.
"Siapa yang nyalahin, emang kenyataannya, FAKTA !!" sahut Bapak.
"Sekarang Safina udah balik lagi kesini, Aa masih aja di komentarin, dia gimana mau betah nanti kalo diam satu rumah sama mertua", ucap safina.
"Iya, mantu gimana mau betah si kalo mulut abang cerewet banget !!" timpal Emak.
__ADS_1
"Orang mah bang jangan usil diem diem bae jadi mertua mah, jangan komentar mulu, biarin mantu pulang sebulan sekali juga, yang penting transferan lancar duit ngalir".
"Orang tua mah bilang kayak gitu NASEHAT, bukannya lagi nyalahin", jelas Bapak.
Lalu Bapak terdiam kehabisan kata kata, sedikit menyadari bahwa yang di katakan Emak itu ada benarnya juga.
Bukan keinginan Zaed pulang satu bulan sekali, justru ia sudah mempertimbangkan dahulu lebih matang. Tapi Zaed masih saja salah di mata mertuanya, padahal ia sudah bersikap bijak terhadap istri juga mertuanya.
Safina sudah tidak kuat menahan rindu menunggu pesan WhatsApp masuk dari suaminya, lantas Safina mencoba kirim pesan WhatsApp lebih dahulu. Dan meminta maaf atas kata katanya kemarin yang sudah membuat suaminya kesal. Karena Zaed tidak juga membalasnya, lalu Safina mencoba menghubunginya.
Nuut.. nuuuuut..nuuuuuuuuut...
Tak lama Zaed mengangkatnya,
Safina -"Halo... Assalamualaikum ?"
Zaed -"Waalaikum salam".
Safina -"Eemm...Lagi sibuk yah, maaf kalo udah ganggu?"
Zaed- "Biasa aja"
Safina -"Aa, Eemm...Maaf !! aku belum bisa jadi istri yang baik, maafin juga karena aku, beban Aa jadi semakin berat", ucap Safina.
Zaed -"Hmmm...Lanjut di WA aja, di sini lagi rame".
Safina -"Lagian tadi aku WA gak di buka buka".
Zaed -"Kalo jam segini lagi sedeng sibuk sibuknya, kan udah di bilangin, kalo mau nelpon malam jangan siang."
Safina -"Iyah deh maaf !!!"
****
Kemudian Zaed melanjutkan balasan kata maaf Safina lewat pesan WhatsApp.
"Istri sama anak, bukan beban buat suami. itu kewajiban suami, kasih nafkah, mendidik, membimbing. Kalo istri di nasehati itu emang udah tanggung jawab suami, jika istri gak di nasehati itu nanti di akhirat pertanggung jawaban suami lebih berat, semua dosa dosa istri di tanggung sama suami. Sebelum istri yang di hisab, suami dulu yang di hisab baru istri. Makannya pentingnya istri harus nurut sama nasehat suami, karena pertanggung jawaban suami itu lebih berat.
__ADS_1