
Gua tau dia sebenarnya udah gak betah tinggal satu rumah sama mertua, di tambah banyak adik adik ipar juga di kelilingi banyak saudara, gumam Zaed .
Zaed berfikir berencana ingin menjual tanah warisannya untuk membangun rumah, dengan waktu yang begitu singkat akhirnya tanah yang ia mau jual itu ada yang minat, tapi hanya seharga 20 juta, karena tanah warisannya tidak begitu luas. Ia memberitahukan Safina "Neng besok Aa mau mulai bikin pondasi rumah kita, doain yah biar lancar?"
Seketika Safina merasa terkejut " Serius??"
"Iyah, kamu cukup doain jangan mikir yang aneh aneh," kata Zaed.
"Pasti, setiap sholat kan emang gak putus putus doain suami", balas Safina.
"Nah gitu, itu namanya istri sholehah".
Namun dalam hati Safina mulai bertanya tanya, Kok mendadak tiba tiba mau bangun rumah, Aa punya uang dari mana yah??
Karena penasaran Safina langsung bertanya, soal uang dari mana dia bisa membangun rumah, Lantas Zaed memberitahukan yang sebenarnya dan mengatakan " setidaknya Aa udah mulai bikin pondasi, selebihnya Aa mau nyicil dikit dikit, sampai beres."
"Mudah mudahan selalu ada jalan kemudahannya, buat ngebangun rumah sampai beres, Amiiin..." ucap Safina dengan penuh harap.
Safina tampak bahagia setelah mendengar kabar dari Zaed, dan ia kembali ceria tidak seperti kemarin yang selalu cemberut.
Pada akhirnya Zaed mulai membuat pondasi rumah, sanak saudara ikut serta dalam pembangunan, mereka saling bergotong royong. Aby saat itu kondisinya sedang kurang sehat, tapi ia tetap ingin membantu, Aby memang tidak boleh kecapean karena mempunyai penyakit paru paru dan lambung,
Zaed sudah melarangnya tapi Aby bersikap kekeh ingin bergotong royong dalam pembangunan rumah anaknya.
Satu bulan kemudian
__ADS_1
Pembangunan rumah sudah berdiri kokoh, tapi belum sepenuhnya selesai, Aby kembali drop penyakit paru parunya kambuh lagi, waktu itu Zaed membawanya ke rumah sakit, dan Aby di rawat karena kondisinya yang semakin memburuk.
Pekerja bangunan sampai di liburkan karena Zaed sedang dalam musibah, Sampai sudah sekian tahun bangunan rumah yang baru setengahnya beres terbengkalai begitu saja, Karena pada saat itu Zaed fokus membiayai pengobatan Aby nya yang sedang sakit parah.
Sudah dua tahun Aby sakit, berobat ke sani sini, tak kunjung sembuh, sampai tiba pada waktunya Allah berkehendak lain, Aby yang kondisinya semakin memburuk pada malam pukul 02.00 Wib sudah tidak bernafas lagi.
Zaed merasa terpukul baru satu tahun kepergian Neneknya, sekarang kehilangan Aby yang ia banggakan walaupun bukan dari darah dagingnya, tapi Zaed merasa Aby sebagai panutan untuknya. Sungguh merasa sangat terpukul, dan melihat usia Syarifah saat itu baru 2,5 tahun sudah di tinggal kakeknya.
Satu minggu kepergian Aby, Safina dapat kabar kalau Kakeknya sedang koma, Bapak menyarankan agar segera pulang, "Kakek takut gak ada umur mending balik dulu jenguk Kakek."
Safina merasa sedih dan bingung ingin mengatakan kepada suaminya, karena posisinya masih berduka, ia merasa serba salah saat itu.
Tapi karena dari keluarga Safina terus menelponnya, Safina terpaksa memberitahukan Zaed yang sebenarnya, waktu itu di rumah sedang ramai ramainya keluarga sanak saudara sedang berkumpul. Safina sedang di kamar memanggil suaminya, ketika Safina memberitahukan nya, Zaed tiba tiba emosi dan marah "Elu , kuburan Aby gua masih basah udah ngajakin balik, di mana otak lu, dasar brengsek !!!" dengan nada kasar sampai terdengar keluar kamar.
Lalu bibi Kholis menghampiri ke kamar dan menegurnya "Ya Allah ada apaan Zay ?? Elu marah marah begitu, kedengeran sama keluarga, sama tetangga."
Safina terlihat menangis terisak, tak kuat menahan sedih dan malu.
Zaed terus mengoceh karena kesal dengan Safina.
"Ada apa emangnya ??" tanya bibi Kholis.
Zaed lantas menjelaskan " Kuburan Orang tua gua masih basah udah ngajakin balik gara gara Kakeknya sakit".
Safina menyahutinya sambil menangis "Kakek lagi sakit udah kritis, sekarang koma dari siang, Safina takut gak ada umur, jadi kepingin pulang dulu jenguk Kakek, apa salah Safina bilang kayak gitu ???"
__ADS_1
Bibi Kholis dan Umi malah mendukung Zaed, dan malah menyalahkan Safina, "Seharusnya kamu ngertiin kondisi keluarga di sini yang lagi berduka, jangan memperkeruh suasana", kata bibi Kholis.
Umi tampak geram dengan sikap Safina, semua keluarga malah menyalahkannya, Zaed yang sudah terlihat tenang di tegur mamang Saepul "Elu mah tibang masalah begitu sampai koar-koar an, gak ada malunya".
"Elu mah kalo lagi kesel, berantem, suka kedengaran tetangga bae, malu orang mah, punya pikiran jadi orang" kata Umi sangat ketus, Zaed diam terpaku menyesali sikapnya tadi.
Sakit hati banget di sentak gitu sama suami sendiri, di tambah sikapnya yang gak ada bijaknya, dia sama keluarganya sama aja, gak ada yang memihak sama Aku semua nyalahin aku, kenapa si selalu salah terus di mata mereka ??? gumam Safina merasa kecewa.
Bibi Kholis dan Umi terus menasehati Safina yang sedang di kamar, "Pahit getirnya nasehat harus di terima Neng, ini karena bibi sayang, segini mah kamu harus bersyukur punya mertua kayak Umi, gak mau nyuruh menantu, bahkan masih mau nyuciin pakaian mantu, kalo mertua lain mana mau udah jarang malah," ucap bibi Kholis.
"Umi mah teeh... gak mau perhitungan sama anak, bahkan minta juga gak pernah, malah Umi mah pengen bisa bagi anak," kata Umi.
Hati Safina mulai tersentuh dengan ucapan ucapan bibi Kholis juga Umi, ia berfikir tidak semua mertua jahat, pasti ada sisi baiknya. Namun hatinya masih sakit karena sikap Zaed yang sudah menyentaknya dan memarahinya di depan orang banyak.
Aku belum bisa terima, gak mau maafin dia pokonya gak mau, dia udah bikin aku malu sampai ke ubun ubun.
Suasana sudah mulai tenang, Zaed sudah bisa di ajak bicara baik baik dengan keluarga, tapi dua pasangan yang saling mencintai itu belum bisa di damaikan, mereka masih tampak diam diam.
"Elu juga salah si Zay, seharusnya masalah kayak gitu bicarain secara baik baik, emosian bae elu mah" kata bibi Kholis.
"Ya namanya juga orang emosi, kayak gak tau bae adat Ana", jawab Zaed.
" Jadiin pelajaran tuh, kedepannya jangan kayak gitu lagi, kalo lagi emosi rem dikit". timpal bibi Kholis.
Gua emang salah, tadi seharusnya gak langsung ngegas gitu di depan Safina, emosi gua bener bener gak bisa di kontrol tadi, akhirnya gua yang jadi malu karena sikap gua sendiri, jadi gak enak sama Safina, dia lagi apa ya sekarang? kekamar gak ya? aaakkkhhh...tapi gua masih sedikit kesel sama dia !!!
__ADS_1