Cinta Yang Tak Di Restui

Cinta Yang Tak Di Restui
Kabur


__ADS_3

"Jangan di ingat ingat lagi, harus lupain itu orang cuma jadi racun buat lu " Tegas Bapak sambil membawa Hand phone dan menyitanya di tempat yang aman, agar safina tidak lagi menghubungi Zaed.


Safina terdiam menahan pilu. Bapak begitu tega menghapus Foto Zaed yang ia punya satu satunya . Bapak terus mengoceh, soal ketidak sukanya dengan hubungan Safina dan Zaed. Karena gara gara itu Safina jadi membangkang sama orang tua.


Bapa menganggap karena Zaed, Safina telah di buta kan oleh Cinta. Sampai sampai berani menyahuti nasehat Bapak, Bagaimana Safina tidak geram, nasehatnya saja sangat menyakitkan sambil marah marah pula. Safina tak tahan menahan ocehan setiap hari, sampai akhirnya ia memutuskan pergi karena ingin menenangkan pikiran, saat mau pergi Uswah adiknya ingin ikut juga, lalu mereka pergi mengajak Uswah ke arah perkebunan.


Bapak yang tak lama kemudian melihat Safina dan Uswah pergi, lalu menyusul mereka yang berlari ke arah kebun sampai akhirnya kehilangan jejak. Tiba di bangunan kosong Safina dan Adiknya Uswah beristirahat di sana, sampai menjelang sore mereka kembali pulang.


Sampai di rumah, Safina terlihat biasa biasa saja, tidak ada rasa takut terhadap Bapak.


Namun Bapak juga tidak mengatakan apa apa setelah tau Safina dan Uswah kembali.


Lalu Emak datang menghampiri Safina Menyuruhnya untuk segera makan, karena dari pagi Safina belum makan. Safina tidak mau makan nafsu nya pun sudah hilang, karena kenyang seharian makan ocehan Bapak.


Dalam lamunan Zaed teringat Safina, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya, soal rencana tunangan dirinya dengan Haris.


Neng apa kamu akan mengakhiri hubungan kita, apa secepat ini kamu akan meninggalkan Aa !!


Zaed sebenarnya ingin menanyakan kabar karena rindu, namun dia justru ingin Safina dahulu yang menanyakan kabar. Karena Zaed ingin tau Safina masih berharap atau tidak. setelah ia tau Safina mau tunangan dengan pilihan Bapak nya.


KEESOKAN HARI


Safina ke rumah Bibi, ingin meminjam Ponselnya karena ingin menghubungi Zaed. ia tak khawatir Ponsel nya di sita sama Bapak, yang dia khawatirkan kalau ia lupa dengan nomor HP nya Zaed.


Terdengar dari luar kobong suara Nada dering panggilan ponsel Zaed. Saat itu Zaed sedang di luar kobong bersama Fakih dan Hikam. Tak lama ia mengambilnya dengan lelet, dan melihat ke arah panggilan, ternyata nomor baru.


Nomor siapa sih, paling males gue kalo angkat nomor yang ga di kenal.


Ko ga di angkat angkat sih teleponnya ??


gumam Safina penuh harapan.


Kemudian Safina mencoba untuk kirim chat WA, " Assalamualaikum Aa ini aku Safina " ???

__ADS_1


Zaed baru menyangka kalau nomor baru itu Chat dari Safina, ia pun langsung membalasnya.


Zaed :" Waalaikum salam Neng"


Safina : " Aku boleh telepon ga sekarang??"


Zaed :" Boleh , bentar Aa aja yang telepon Eneng yah ".


Akhirnya Zaed menghubungi Safina, mereka saling menanyakan kabar, untuk melepas rindu.


Safina memberitahukan beberapa hari ini ia tidak memegang HP, karena di sita sama Bapaknya.


"Aa sebenarnya ada yang mau aku bicarakan, sebelumnya Neng mau tanya dulu, apa Aang udah menyampaikan semuanya?"


"Tentang apa?"


"Tentang tunangan".


"Udah " Singkat Zaed.


"Neeng !!! kenapa diam"? tanya Zaed.


"cuma ini reaksi Aa setelah tau Aku mau tunangan" ?? ucap Safina agak ketus


"Terus Aa harus bagaimana ?"


"Emang Aa ga ada pikiran mau memperjuangkan hubungan kita apa, ko malah nanya gitu ?...ga peka banget !!!


"Bukannya Aa ga mau memperjuangkan hubungan kita, Aa udah membuktikannya di depan Bapak itu salah satu perjuangan, cuma saja Bapak ga menganggap malah menggantung lamaran Aa. Neng kamu ga tau betapa hancurnya hati ini, setelah tau kalau Orang yang sangat Aa Cintai, akan segera tunangan dengan pilihan Bapak nya."


Hati mana yang ga kecewa setelah tau Lamaran yang menggantung ternyata di tolak. Walau tidak secara Langsung." ucap Zaed dengan pilu.


"Hati Aa Rapuh saat ini Neng Rapuuh !!!"

__ADS_1


Safina tak kuat menahan air mata, lalu meminta maaf kepada Zaed atas semua sikap Bapak. Dan mengungkapkan perasaanya, bahwa ia tidak ingin berpisah dan kehilangan dirinya.


Zaed pun sama mengungkapkan perasaanya yang sama, rasanya tidak bisa hidup tanpanya.


Terdengar seruan dari luar ternyata Bibi memanggil Safina, untuk segera menutup telponnya.


"Fiiin.... udah dulu teleponnya, Bibi ada yang mau beli pulsa nih" ucap Bibi dari arah pintu luar.


Lantas bagaiman Safina bergegas menutup telponnya, dan mengusap pipinya yang basah.


"Iyah Bi bentar" Sahut Safina.


Safina kembali ke rumah, Akhir akhir ini ia sikapnya berubah drastis, saat kembali ke rumah, ia menampakkan wajah kebencian kepada Bapak.


"Elu mengapa liat orang tua kayak BENCI begitu" ? tanya Bapak. sekarang orang tua udah di anggap musuh, udah kaga ada harga di mata anak. " ucap nya dengan geram.


Safina terus diam dan mengabaikannya !!!


Bapak semakin geram dengan sikap Safina, lalu membawa bawa nama Zaed. Dan mencoba menghubunginya ingin segera memaki makinya. Safina tak bisa diam ia pun langsung bergegas mengambil Ponselnya yang di genggam Bapak. Saat Safina berhasil mengambil Ponsel, Bapak Emosinya naik dan mulai main tangan.


Tangan Bapak melayang, Safina berusaha menghindari diri sambil berlari keluar ke arah jalan. Bapak mengejarnya dan terus mengejar sampai akhirnya kehilangan jejak. Entah mau kemana Safina berlari, Saat berlari Yang di pikirkan, bagaimana caranya agar terhindar dari pukulan Bapak, ia sangat ketakutan saat itu Sampai tiba di Semak semak Safina terdiam di sana sambil menggenggam Ponselnya.


Pikirannya sudah mulai tidak terkontrol, ia tidak ingin kembali pulang bahkan rasanya ingin pergi jauh jauh dari sini. Saat bersembunyi di semak semak dan rumput rumput yang rindang, Safina melanjutkan perjalanannya dari arah perjalanan ia melihat ada rumah kontrakan, saat sampai di rumah kontrakan ia berpura pura sebagai orang yang nyasar, padahal waktu itu posisi persembunyian Safina tidak jauh dari rumahnya.


Safina mengaku nyasar, dan ingin ikut bermalam di rumah kontrakan tersebut, akhirnya karena iba ibu ibu kontrkan mengizinkannya dan berencana akan mengantarkan ke rumahnya besok.


Bapak, Emak dan Saudara, mulai mencari keberadaan Safina, sampai menjelang sore Safina tak kunjung di temukan Entah kemana ia pergi.


Karena saking paniknya sejak siang belum juga di temukan, Bibi dan Emak sampai berfikir pendek, menyangka Zaed yang sudah membawa Safina pergi karena tau sebentar lagi Safina mau tunangan. Padahal kejadiannya Safina sedang bertengkar dengan Bapaknya, memang saat kejadian Emak tidak tau bahwa mereka sedang bertengkar .


Bibi ingat tadi siang Safina sempat menghubungi Zaed kekasihnya, Bibi menyangka Safina di bawa kabur olehnya. Dan mencoba menghubunginya.


"Halo ini Zaed bukan ya"?? tanya Bibi.

__ADS_1


"Iya saya Zaed, maaf ini dengan siapa?"


"Ini saya Bibi nya Safina tolong kalo ada Safina di situ suruh dia pulang, orang tuanya nyariin dari siang pada khawatir, udah cari kemana mana Safina belum juga pulang. Tolong Safina jangan di bawa jangan di ganggu lagi soalnya dia sebentar lagi mau tunangan." ucap Bibi tanpa harus bertanya dahulu lebih jelas.


__ADS_2