Cinta Yang Tak Di Restui

Cinta Yang Tak Di Restui
Suami pengertian


__ADS_3

Safina beruntung, karena memilik suami yang bisa menyimpan kekurangan istri dan mampu menahan emosi setelah tahu semua perbuatannya. Safina menyesali semua perbuatannya, perlahan-lahan ia berusaha memperbaiki untuk menjadi peribadi yang lebih baik lagi.


Jika aku memang di takdir kan untuk kembali dan ikut dengan suami, aku pasrah ya Allah, mungkin ini memang sudah jalan takdir ku.


pikir Sarifah dalam rasa bersalah dan penyesalannya.


Emak datang membawa Syarifah menemui Safina yang sedang di kamar sendiri, ternyata filing seorang ibu itu kuat, Emak mempunyai firasat tidak enak mengenai Safina, dan mulai merasa curiga dengan sikapnya akhir-akhir ini.


"Emak mau tanya, elu lagi ada masalah ya?" tanya emak dengan tatapan yang penasaran.


Safina menelan ludahnya merasa panas di dada karena menahan rasa takut, ia takut Emak kecewa dengan kejujurannya.


"Jujur! Emak tau elu lagi ada masalahkan?" tegas emak lagi. "Apa jangan-jangan bener elu terjebak bank onlain?" firasat Emak yang merasa yakin dengan sangkaannya.


Tiba-tiba Safina merasa jantungnya semakin berdetak kencang, karena cemas apa yang ia sembunyikan akan terungkap. Akhirnya ia pasrah dan berusaha jujur, karena ia pikir tidak akan ada untungnya jika terus-terusan menyimpan beban sendiri, mungkin ada baiknya Emak tahu, toh suami juga sudah tahu.


Safina menarik napas dalam-dalam, dan mengatakan yang sejujurnya dengan tatapan menunduk karena merasa malu.


"Iya, apa yang Ema curigai itu benar,"


Seketika Emak merasa kaget dan lemas, karena tak kuat menahan kesal, Emak pun mengeluarkan air mata karena saking kesalnya. "Elu kenapa si Fiiin jadi orang ceroboh banget, kurang apa emang elu? duit di kasih sama suami, tiap minggu di transfer, setau Emak elu di transfer gede, merasa cukup lah segitu mah, tapi kenapa???!!! Kok bisa elu punya utang bank onlain?! Tegas Emak sambil menangis tak kuat menahan kesal dan kecewa.


Safina terlihat tungkul malu, merasakan penyesalan yang begitu mendalam, karena sudah membuat Emak kecewa. "Maaf Mak Safina minta maaf!" ucapnya yang berulang kali meminta maaf.

__ADS_1


Segini baru Emak yang tau, bagaimana jika Bapak juga tau??!! ya Allah nggak bisa ngebayangin bagaimana ekspresinya udah mengobarkan api di depan singa. Pikir Safina semakin cemas.


"Terus suami elu udah tau masalah ini?" Emak bertanya lagi, setelah habis di buat kesal dan kecewa.


"Udah,"


"Berarti elu selama di sini udah ngasih duit riba sama gua sama anak elu, dosa, riba mah! emang elu kaga di ajarin waktu di pesantren!"


"Namanya juga orang khilaf Ma!"


"Jangan sekali-kali lagi elu ulangi, cukup ini yang pertama dan yang terakhir, tegas Emak mengancam Safina. "Kaga Rido gua kalo di kasih duit sama anak dari hasil riba mah." Emak menegaskan berulang-ulang kali agar Safina paham.


Hati Emak merasa teriris-iris setelah mendengar kejujuran anak pertamanya, ia tidak menyangka Safina bisa seceroboh itu, padahal di depan teman ibu-ibu, Ema selalu membagus-baguskan kepribadian anaknya.


Tapi apa yang terjadi! Safina malah membuatnya kecewa dan malu berkeping-keping.


Terdengar suara motor Honda beat di depan rumah, ternyata Zaed yang habis keluar membeli sesuatu. Emak lantas meninggalkan Safina dan pergi ke rumah kakaknya yang bersebelahan dengan rumahnya.


"Fin, Syarifah kemana?" Zaed menanyakan anaknya karena habis membelikan makanan dan buah kesukaannya.


Safina menjawab terlihat sambil melengoskan pandangannya, "tadi sama Emak nggak tau kemana!"


Karena Safina tidak ingin Zaed tahu bahwa ia habis menangis, lantas Safina beralasan ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

__ADS_1


Zaed nampak santai tanpa ada rasa curiga melihat sikap istrinya, yang habis menangis itu.


Aku harus terlihat tegar di depan suami, kan dia udah tau ini, jadi beban aku juga udah nggak terlalu berat. Pikir Safina kembali tersenyum.


Safina menarik napas sambil melangkah keluar dari kamar mandi, dan kembali menemui suaminya. "Ini buah-buahan simpen di kulkas terus bagi Emak sama Bapak," imbuh Zaed terlihat begitu tenang.


"Mmmh...Ayah," Safina menyebut suaminya dengan panggilan Ayah.


"Kenapa?" Zaed membalas sambil memainkan ponselnya.


"Emak udah tau soal masalah yang aku lagi hadapin," ungkap Safina rasa campur aduk, ada rasa gugup dan takut, padahal suaminya bersikap santai, walau terlihatnya dingin.


"Terus?" singkat Zaed.


"Teruus !! Ya gitu deh Emak marah banget tadi.


"Bapak, tau juga nggak?"Zaed berbalik tanya.


Safina diam sebentar, dan berpikir, hal yang paling di takuti emang ini ketika Bapak tau, aku nggak bisa bayangin ekspresinya.


"Emm...Bapak belum tau, aku nggak mau kasih tau, biar Bapak yang tau sendiri."


Zaed tidak merespon lagi, ia pokus memainkan ponselnya sambil merebahkan badannya di tempat tidur. Namun dalam pikirannya ia berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari permasalahan yang di buat istrinya, agar tidak semakin rumit dan menyebar kemana-mana.

__ADS_1


"Kayanya udah waktunya ngopi ini, kepala udah mulai cenat-cenut," sindir Zaed agar istrinya mau membuatkan kopi untuk suaminya.


"Siap sayang...!" Safina lanjut ke dapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya.


__ADS_2