
Mereka termenung dalam keheningan malam, merenungi nasib hubungan yang menggantung, tidak ada akhir jalan cerita, namun keyakinan cinta mereka begitu kuat.
Seiring berjalannya waktu, Bapak sudah tidak lagi membahas soal Haris, seperti sudah mulai pasrah menyerahkan keputusan kepada Safina, suasana rumah pun sudah mulai tentram. Safina sudah mulai terbuka dengan Saudara selaku kaka dari Emak, ia biasa memanggilnya Uwa, Safina curhat tentang perasaan dan hubungannya, bahkan Uwa sangat mendukung hubungannya dengan Zaed.
Safina menceritakan soal sikap Zaed yang menggantung hubungannya, Uwa menasehati dan memberikan saran kepadanya. Lalu Safina menceritakan soal mimpi, bahwa di dalam mimpinya itu ia melihat Zaed sedang tertidur pulas di kebun samping rumah Safina.
Waktu itu Safina sedang membeli bakso di depan rumah, ia melihat banyak orang berkerumun di kebun tersebut, Safina mencoba menghampirinya karena penasaran, ternyata ada Zaed yang tertidur pulas di kebun samping rumahnya dikerumuni orang banyak, karena sulit di bangunkan. Dalam mimpi itu Safina mencoba membangunkan namun Zaed tidak juga bangun, tapi tidak lama kemudian akhirnya Zaed terbangun dari tidurnya setelah di bangunkan Safina.
Safina tampak kebingungan memikirkan mimpi yang ia ceritakan rasanya seperti nyata, " Ada apa sama mimpi itu ? terus apa maksudnya ??" tanyanya kepada Uwa.
Uwa lantas menjawabnya "Eemm Menurut Uwa si ya itu tandanya si Zaed kayak lagi mati pikiran, sulit buat memperjuangkan hubungan, tapi karena ada Safina yang mendorongnya, dia jadi kembali semangat memperjuangkan nya."
Jawaban Uwa memang masuk akal juga,tapi mimpi itu jadi membuat Safina kepikiran. "Mungkin bisa jadi jawaban Uwa ada benarnya", jawab Safina.
"Uwa merasa suatu saat Zaed kembali memperjuangkan elu Fin" kata Uwa dengan yakin.
Safina terdiam sejenak, Apa iya yang di bilang Uwa itu?? Mudah mudahan omongan bisa jadi doa, gumam Safina.
Memang tampaknya Bapak sudah tidak lagi memaksakan Safina untuk tidak harus menikah dengan Haris, tapi kedekatan mereka tidak lagi seperti dahulu. Safina berkeyakinan jika memberitahukannya ke Zaed soal sikap Bapak saat ini, pasti dia akan memperjuangkan kembali hubungan mereka, kemudian Safina terfikir ingin menulis surat lagi untuk Zaed.
Dalam isi surat tersebut walau sebetulnya tidak benar, Safina memberitahukan kalau Bapak sudah menyetujui hubungannya, meyakinkan Zaed agar mau memperjuangkan kembali.
Safina begitu takut kehilangan, sampai ia terus berusaha meyakinkan Zaed agar merespon dan kembali memperjuangkan hubungan mereka.
Uwa ikut serta untuk membantu Safina, untuk memperbaiki hubungan cinta mereka yang menggantung.
Setelah beberapa minggu, Safina dapat kabar kalau Ria teman di pesantrennya akan segera menikah, ia kaget secepat itu Ria akan menikah padahal usianya masih sangat muda. Lewat telepon Safia di undang untuk menghadiri acara pernikahan Ria, ia menanyakan soal hubungannya dengan Zaed, karena mendengar nada dering panggilannya seperti sedang patah hati, Safina lalu menjawabnya tapi tidak memberitahukan yang sebenarnya.
"Eem ada sedikit masalah tapi tidak apa apa ini hanya masalah kecil", jawab Safina.
__ADS_1
Ria bercerita kalau ia sangat dekat dengan Wida adiknya Zaed "Bagaimana kalo nanti teteh ke rumah akunya bareng sama Wida?" kata Ria. Safina langsung minta di kirimkan nomor Wida, karena ia juga ingin tau soal Zaed melalui adiknya.
Setelah Ria memberikan nomor ponsel Wida, mereka mengakhiri teleponnya, " Yaudah kalo gitu di tunggu ya teh kehadirannya" kata Ria.
"Insya Allah yah Ri" jawab Safina.
Kemudian Safina mencoba menghubungi Wida lewat chat WhatsApp, Wida meresponnya mereka saling menanyakan, sampai pada akhirnya dengan berjalannya waktu Safina dan Wida semakin akrab walau hanya lewat ponsel, mereka seperti yang sudah kenal lama.
Beberapa hari lagi di acara pernikahan Ria, Safina rencana akan datang, ia sudah merencanakannya dengan Wida akan janjian untuk bertemu, karena Safina tidak tau alamat jalan rumahnya. Tapi ternyata Wida juga punya rencana ingin mempertemukan Zaed dengan Safina.
Wida :"Teteh kenapa gak ke rumah Wida aja kita ketemuan di rumah hehe..
Safina :"Jangan ngaco deeh.. masa teteh di suruh ke rumah, nanti kalo Aa Zaed tau gimana? kan hubungan teteh lagi kurang baik.
Wida :"Eemm yaudah kalo gitu mah terserah teteh aja.
Safina mempercayainya, padahal Wida memberikan alamat rumahnya, yang tak jauh dari jembatan tersebut.
Keesokan hari
Hari di pernikahannya Ria, Safina meminta izin kepada Emak dan Bapak, ada undangan pernikahan temannya yang tidak jauh dari rumah. Sebenarnya Emak sudah mengetahui kalau hari itu Safina mau ke Bogor menghadiri acara pernikahan Ria. Emak justru menyembunyikan yang sebenarnya agar Bapak mengizinkan, Lalu Bapak mengizinkannya.
Uwa kakaknya Emak pun sudah tahu kalau Safina akan pergi menghadiri acara pernikahan temannya di Bogor Uwa juga menyembunyikan kebenaran, agar Bapak Safina tidak mencurigainya.
Akhirnya Safina pergi menuju ke Bogor dengan sendiri naik angkot. Setelah beberapa jam sudah masuk daerah Bogor, Safina bertanya sama supir " Bang ini mobil mau kearah nanggung kan??"
Tiba tiba di dalam angkot ibu ibu yang duduk di sebelah Safina bertanya "Mau kemana Neng emangnya" tanya ibu ibu tersebut.
"Saya mau ke Nanggung bu" jawab Safina.
__ADS_1
"Oh mau ke rumah siapa?" sahut ibu yang duduk di sebelah Safina.
"Sebenarnya alamatnya kampung jangkar kecamatannya nanggung" balas safina.
Lantas ibu tersebut menanyakan lagi hendak kemana dan mau ke rumah siapa, Safina menjawabnya ingin ke rumah temannya yang bernama Wida.
"Oh kebetulan banget saya orang jangkar, ibu kenal sama Wida kebetulan rumah nya juga gak jauh dari rumah saya," katanya.
Tapi kok Wida malah kasih alamat rumahnya, kan perjanjiannya gak kayak gitu kemaren?? gumam Safina tampak bingung.
"Kalo gitu bareng aja sama saya Neng, sebentar lagi kita turun terus naik ojeg, Neng tinggal ikuti ibu dari belakang" ucap ibu yang duduk di sebelahnya.
Lalu Safina dan ibu tersebut turun dari angkot dan lanjut naik ojeg menuju alamat rumah Wida. "Mau kemana neng ?" tanya tukang ojeg.
"Antar ke alamat jangkar ya Bang, terus berhenti di jembatan jangkar " jawab Safina.
"Oh iya Neng".
Safina mulai gelisah kebingungan harus bagaimana, karena alamat yang ia tuju adalah alamat rumah Zaed, Wida sengaja menjebaknya agar Safina ke rumah dan akhirnya bertemu Zaed.
Safina :"Wida teteh lagi di jalan mau ke arah alamat yang kamu kasih kemaren, kamu sekarang lagi di mana?".
Wida yang masih terlihat santai bahkan belum mandi sama sekali sedang menunggu Safina di luar. Wida sudah memberitahukan Umi kalau Safina kekasihnya Zaed akan datang kesini.
Wida :"Teteh udah sampai di jembatan emang?"
Safina :"Bentar lagi sampai".
Setelah beberapa menit Safina tiba di jembatan jangkar, tak lama kemudian Wida datang menemuinya.
__ADS_1