Cinta Yang Tak Di Restui

Cinta Yang Tak Di Restui
Tidak betah lagi


__ADS_3

Bahagia campur haru yang di rasakan Safina saat itu, Lalu Safina memilih gelang seharga dua juta .


Eemm...Ada angin dari mana ini, kok tumben !! ah udah lah yang penting dia udah beliin aku gelang, gumam Safina.


"Udah kan? yaudah ayu kita lanjutin perjalanan, kata Zaed sambil menarik pelan tangan Safina, "Aa ambil motor dulu di parkiran,"


"Eeh tumben pegang pegang tangan, biasanya dingin," timpal Safina sambil senyum-senyum.


"Ini kan di pasar, kalo ga di pegangin, takut kamu hilang", sahut Zaed.


"Emang aku anak kecil apa, segala bilang gitu. Mentang mentang aku jarang ke pasar !!!"


Lirih Safina sambil menekuk keningnya.


****


Kehidupan rumah tangga mereka dari sebelum nikah sampai sudah menikah memang di bilang cukup rumit, bahkan sampai sudah 3,5 tahun menikah mereka masih satu rumah dengan orang tua. Rumah yang sempat di bangun sampai sudah naik genteng itu jadi terbengkalai sampai bertahun tahun. Zaed hampir putus asa untuk kembali menyelesaikannya, karena masalah prekonomian yang tak ada perubahan.


Dua tahun pernikahan Zaed mulai ada kemajuan dalam usahanya, namun penghasilannya masih minim karena saat itu usahanya terus merugi. Di tambah masalah dalam rumah tangganya yang silih berganti, ujian bertubi tubi, rumah tangga yang tak jelas arah jalannya, mereka seperti menjalankan rumah tangga di jalan. istrinya Safina sebulan sekali pulang ke rumah orang tuanya, karena ia pun sudah merasa tidak nyaman hidup satu rumah dengan mertuanya itu.


Sampai tiba akhirnya Safina memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya, akhirnya Zaed pun menurutinya. Selama ini Zaed sudah banyak mengalah menghadapi sikap Safina juga Bapak mertuanya, ia berfikir panjang mencoba untuk menahan amarah dan mengalah. karena menurut Zaed,


Di saat kamu mampu marah, tapi kamu memilih untuk mengalah. pada saat itu lah Allah akan mempermudah segala urusan mu.


***


Sudah dua tahun menjalankan usaha Zaed selalu merugi, Hikam pada saat itu memberikan solusi untuk segera pindah tempat usahanya di kampung rumah mertuanya yaitu kampung CGH. Karena di sana terkenal ramai untuk pengusaha emas.

__ADS_1


Zaed akhirnya memutuskan untuk pindah tempat untuk usahanya itu, dan memberitahukan Safina.


"Fiin, Aa mulai minggu minggu ini rencana mau pindah tempat usaha di kampung CGH, bareng sama Hikam. kemungkinan Aa gak bisa pulang setiap hari, karena akses jalannya yang masih jarang sama ojeg juga mobil angkot."


Safina mulai terkejut sambil melipat keningnya seraya berkata "Terus , kalo gitu Aa bakal ninggalin Aku berhari hari?"


"Gak cuma berhari hari, bahkan sampai satu minggu," jelas Zaed.


"Hah !!! " Safina tampak melongo merasa tidak bisa terima jika di tinggalkan sampai satu minggu, "Gak bisa gak bisa, tiga hari aja rasanya gak kuat, apalagi satu minggu !!"


"Namanya orang usaha, nanti juga bakal terbiasa, Hikam juga gitu pulang seminggu sekali, si Hana juga awalnya sama, tapi sekarang udah terbiasa. Sekarang mah kan waktu cepet," jelas Zaed.


"Emang kenapa gak bisa pulang setiap hari ?"


"Karena akses jalannya yang masih jarang ojeg sama angkutan umum".


"Emang di tempat kerjaannya pegunungan banget apa, sampe gak ada ojeg gitu?"


"Wooww" Safina tampak terkejut.


"Doain aja mudah mudahan setelah Aa pindah tempat, usahanya lancar gak rugi terus" kata Zaed.


"Amiiiin... Selalu di doain kok," ucap Safina.


"Terus kalo suami lagi usaha jangan suka ganggu, kalo ada masalah dikit di rumah jangan suka ngadu ngadu ke Aa, sekira kira masih bisa di selesaikan sendiri mah. Jangan kayak yang udah udah, Syarifah cuma mencret segala laporan," Jelas Zaed.


"Hmm...Iya deh iya !!!"

__ADS_1


Akhirnya keesokannya Zaed langsung berangkat usaha, merintis dari awal, ke kampung CGH.


***


Hari demi hari Safina semakin tidak betah tinggal satu rumah dengan mertua, di tambah tidak ada suami, yang pulang hanya satu minggu sekali. Biasanya saling bergantian saat mengurus Syarifah, kini Safina full mengurus 24 jam tanpa henti. Umi juga sudah jarang mengasuh Syarifah, karena Umi juga punya tugas mengasuh dua anak adik adiknya yang masih pada kecil kecil, orang tua mereka bertugas sebagai guru sekolah.


Baru berapa hari Zaed mulai usaha di CGH, Safina sudah mulai mengeluh lewat pesan WhatsApp, "Baru 3 hari di tinggal udah kaya 3 minggu."


Zaed :" Sabar, 3 hari lagi juga Aa pulang"


Safina :" Udahan Syarifah nangis terus tiap malam, Aku jadi gak enak kan sama Umi, takutnya di sangka nya gak becus urus anak. Kan Aa tau sendiri Umi kayak gimana."


Zaed :" Kamu kenapa si buruk sangka terus sama Umi, segitu mah Umi baik sama kamu, gak perhitungan sama menantu ?"


Safina terus mengungkapkan rasa ketidak nyamannya tinggal satu rumah dengan mertua.


Sampai sampai bertengkar lewat komunikasi dengan Zaed.


Umi melihat Safina terus memainkan ponselnya, dan menyangka lalu mengatakan "Kalo suami lagi usaha mah teh, jangan suka di tanyain nanti suka keganggu usahanya," jelas Umi. Safina diam menggerutu dalam hati sambil memainkan ponsel.


Apaan sih suka sok tau deh itu Umi, ih sebel.


Sudah Beberapa minggu Zaed mulai merintis usahanya di CGH dari nol lagi, Safina saat itu mengeluh ingin kembali pulang kerumah orang tuanya dan menetap di sana.


Karena Zaed juga merasa capek terus mendengar keluhan Safina setiap hari, pada akhirnya Zaed menuruti keinginan Safina itu. Dan akan mengantarkannya setelah ia kembali pulang usaha.


Tanpa berfikir panjang yang ada dalam pikirannya hanya perasaanya, bagaimana caranya agar keinginan nya bisa tercapai. Di tambah bisnis onlinenya mulai banyak orderan, yang ordernya dari teman teman depok, ia jadi terganggu dan ingin segera menjalankan bisnisnya.

__ADS_1


Beruntung sekali !! Zaed lebih bersikap dewasa, memilih untuk mengalah dari pada sama sama ego, yang akan menyebabkan berakhirnya rumah tangga.


Ikuti saja alurnya, dan nikmati prosesnya. Gua bakal lebih pokus ke usaha sama rumah, biar mertua bisa lihat, jangan terus terusan ngremehin gua !!!


__ADS_2