
Safina tampak senyum senyum sendiri sambil membenahi piring piring dan gelas, Emak menegurnya seraya berkata "Jangan senyum senyum bae lah, lagian juga udah kaga ada orangnya", kata Ema sambil menyapu.
Saat itu hatinya terus berbunga bunga, rasanya seperti mimpi masih tidak menyangka.
Bapak masih terfikir soal kata kata bibi Kholis tadi, soal Bapak pernah ngobrol di telepon dengan bibi Kholis. Lalu Bapak memanggil Safina minta penjelasan mengenai itu, "Lagian Gua sebenernya baru setengah hati nerima si Zaed", kata Bapak yang membuat nyeletuk di hati Safina.
Safina tampak sedih mendengarnya. Kemudian Emak menyahuti "Tega bener itu bilang kayak gitu di depan anak, udah di bilangin jangan keras bae sama anak mah bang !!!".
"Elu juga sama nya sekongkol". timpal Bapak merasa kesal.
Emak terdiam sambil mengajak Safina pergi ke kamar, "Jangan ladenin Bapak lu mah, kalo di layanan yang ada pegel kita ".
Ternyata Bapak masih setengah hati nerima lamaran A Zaed, Ya Allah buka kan lah pintu hati Bapak, berilah pintu hidayah mu !!
gumam Safina merasa sedih.
Beberapa hari kemudian
Safina tidak lagi ngumpet ngumpet saat nerima telepon dari Zaed, saat itu Zaed memberitahukan lewat telepon, "Neng bilang ke Bapak, Aa mah gak bisa bawa seserahan sesuai keinginan orang tua Neng, bilang Aa orang biasa yang cuma bisa bawa seserahan sekedarnya, bilang kayak gitu biar nanti gak kaget", jelas Zaed.
"Kok Aa bilang kayak gitu?, kan dari pihak perempuan mah gimana di bawanya, gak minta ini itu," jawab Safina, dan Zaed juga mengabarkan kalau dua hari lagi ia beserta keluarga akan segera datang ke rumah, untuk seserahan. "Hah !! cepat banget?" kata Safina.
"Cepat lebih bagus"sahut Zaed.
"Emang udah ada semua persiapan persiapannya ?" tanya Safina.
"Ya makannya Aa kasih kabar sekarang, emang udah persiapan semua, tinggal berangkatnya." balas Zaed.
"Mudah mudahan apa yang Aa rencanakan berjalan dengan lancar" ucap Safina merasa bersyukur.
__ADS_1
Zaed juga mengungkapkan kalau ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya, Safina pun merasakan hal yang sama. Setelah mereka menyudahi obrolannya, lantas Safina menemui Bapak dan Emak, memberitahukan perkataan Zaed tadi.
"Tuh kata gua juga apa dapetin sama orang gunung mah murah di bawainnya" kata Bapak sangat ketus.
"Ya Allah Bang, kita nikahin anak ken karena Allah, bukan karena harta", ucap emak.
"Gua juga tau" sahut Bapak.
"Terus dua hari lagi katanya A Zaed sama keluarga mau pada dateng", kata Safina lagi.
Sialan cepet amat si udah mau seserahan bae !!! gumam Bapak.
Bapak masih terdiam, Emak menyahutinya seraya mengucap "Alhamdulillah."
_____________________
Safina dan keluarga sedang bersiap siap untuk menyiapkan hidangan untuk tamu, Bapak sedang duduk di luar bersama tamu undangannya yaitu Bapak Rt, Bapak amil dan ustad, setelah menunggu beberapa jam akhirnya rombongan keluarga Zaed telah tiba, keluarga Safina menyambutnya dengan rasa bahagia.
Zaed membawa satu set tempat tidur dan perlengkapan kebutuhan wanita dan lain lain semua terlihat begitu banyak.
Hari itu juga Zaed dan keluarga telah menentukan bulan dan tanggal pernikahannya, waktu begitu cepat dan singkat, tidak di sangka hanya dalam waktu satu bulan Zaed dan Safina akan menuju ke satu langkah lagi dalam jenjang pernikahan, dari pihak keluarga Safina pun menyetujuinya.
Akhirnya setelah satu jam acara seserahan pun telah selesai, Semuanya tampak begitu bahagia dan mendoakan agar selalu di berikan kemudahan dan kelancaran sampai ke acara pernikahan.
Lalu setelah itu semua keluarga Zaed berpamitan.
Satu bulan sebelum acara pernikahan
Bapak mengajak Safina ke Pondok pesantren untuk pamit dan minta restu kepada Aang sekaligus mengundang, karena akan segera menikah dengan Zaed. Setelah dari Pondok pesantren langsung ke rumah Orang tua Zaed untuk bersilaturahmi. Safina dan keluarga di antar dengan Ustad Hadi selaku alumni dari PPNH juga, kebetulan memang tetangga juga teman Bapak Asnawi.
__ADS_1
Sampai di Pondok pesantren, Safina bertemu dengan Aang, Bapak memberitahukan kalau Safina bulan depan akan segera menikah dengan Zaed, Aang tampak terkejut setelah mendengar kata kata Bapak. Di kiranya akan nikah dengan Haris pilihan Bapak, Aang tampak begitu bahagia seraya berkata " Alhamdulillah kalau memang jodoh pasti gak akan kemana ya Fin hehehe" kata Aang.
"Iya pak ustad, biar kata ada di ujung berung kalo emang udah jodohnya mah ya !!" balas ustad Hadi dengan timpal.
"Ini udah takdir dan kehendak atas izin Allah, serumit apapun yang udah safina lewati, kalo menjalankannya dengan ikhlas ridho lillah, insya Allah jalan terbaik yang akan di dapati.
Insya Allah saya sudah mengizinkan Safina, tapi ingat pesan Aang !! Walau sudah tidak belajar lagi di Pondok pesantren ini, kalau ingin ilmu berkah dan manfaat tetap hidmat ke Guru walau sudah menjadi Alumni. Karena bagi seorang guru walau muridnya sudah keluar dari pondok pesantren tetap di anggap sebagai murid, tapi seorang murid saat keluar dari Pondok pesantren atau di tempat belajar manapun belum tentu masih menganggap seorang guru sebagai Guru", jelas nasehat Aang.
Kemudian setelah itu Safina kembali ke kobong untuk mengambil semua barang barangnya, dan juga berpamitan kepada teman teman, memberitahukan kalau ia akan segera menikah. Hana saat itu sangat merindukan Safina, ia tidak menyangka Safina akan segera menikah dan akan meninggalkan pondok pesantren. "Secepat itu Fin? kamu kenapa dahului aku??", kata Hana sambil cemberut.
"Yaudah aku doain mudah mudahan abis aku, kamu segera nyusul yah sama Aa itu tuh hehehe.. masih kan?" timpal Safina.
"Hmm...gak tau deh kesel aku keburu berlumut nunggu dia, fokus terus abisnya sama santri", balas Hana tampak mulai tidak nyaman dengan hubungannya.
"Jangan kayak gitu !! kamu harusnya beruntung dapetin hati dia, santriawati lain berlomba lomba susah payah buat dapetin hatinya loh", tegas Safina.
Hana terdiam kehabisan kata kata, iya juga sih seharusnya aku bersyukur, gumamnya.
Setelah semua barang barang termasuk pakaian dan kitab kitab sudah di bereskan, Safina berpamitan kepada seluruh santriawati, sebagian dari santriawati ada yang tampak sedih karena merasa kehilangan.
"Rasanya hati aku patah, pas tau teteh mau nikah terus ninggalin kita" ucap alfi tampak pilu di hati.
"Udah ah jangan kayak anak kecil hehe...cup cup, nanti kan bakal ketemu lagi", jawab Safina.
Terdengar seruan Bapak dari rumah Aang, memanggil Safina untuk segera berpamitan,
Safina lantas pergi meninggalkan kobong dan menemui Aang dan istrinya untuk segera pamit, Safina bersungkem sambil meneteskan air mata, karena tidak tahan memahan sedih bercampur haru.
"Semoga bahagia dan berkah hidup selamet dunia akhirat, doa Aang selalu menyertai," ucap Aang penuh rasa haru sambil mengusap kepala Safina.
__ADS_1