
Ridhallaahi fii ridhol waalidaini
Wasakhkhotollaahi fii sakhkhotil waalidaini.
Nabi Saw. beliau bersabda : "Ridho Allah terdapat pada ridho orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua."
Jadi kalau ingin berbakti kepada kedua orang tua bikin orang tua ridho, senang, maka Allah juga ridho, kalo sebaliknya orang tua murka kaga ridho maka Allah juga murka.
Sekarang Safina pilih, mau jadi anak berbakti atau jadi anak durhaka? gitu aja, jelas mang Rijal.
Jadi Mamang mau bertanya sekali lagi, Safina mau kaga nerima tunangan sama Haris ?? kalo bersedia besok dari pihak lelaki udah siap.
Safina diam terpaku dalam kebingungan, Namun akhirnya dengan keyakinan ia memutuskan untuk menolak bertunangan dengan Haris. Semuanya yang ada di rumah sontak KAGET, dengan jawaban Safina.
Mang Rijal yang sudah panjang lebar menasehati dengan memakai Hadits, ternyata semua kata katanya sia sia, Tampak dari raut wajahnya yang kecewa, Bibi pun sama, setelah tau Safina masih saja menolak, mereka langsung pamit pulang.
" Udah Wi si Safina mah bener bener keras hatinya susah di luluh, Ana pamit dah" kata mang Rijal tampak kecewa.
Bapak terus mengusap dada karena geram atas sikap dan jawaban safina saat tadi.
Astagfirullah hal'adziiim 3x..." Bener bener keras hatinya kaya batu itu anak ya Allah. Nyakitin banget lu Fin, nyakitin banget orang tua." ucap Bapak sangat geram.
Durhaka lu bener bener durhaka sama orang tua, anak DURHAKA !!!! Tegas Bapak sangat marah, sambil melempar gelas.
Praannnggg !!!!!
"Astagfirullah...Sabar bang sabar udah udah, Fin lari ke kamar sana," kata emak.
"Safina bergegas ke kamar dan mengunci pintu kamar".
Ya Allah Bapak bener bener marah banget, aku takut !!!
"Hati BATU bener bener udah di gelapkan sama CINTA. Makan tuh CINTA, Lagian juga gua kaga ridho sama hubungan lu berdua !!!" ucap Bapak sangat Emosi.
__ADS_1
Emak berusaha nenangin Bapak, dan menasehatinya, " Jangan begitu bang sama anak mah jangan seucap-ucapnya, yang sabar ini ujian buat kita bang !!!"
" Gua harus bagaimana besok, keluarga Haris rencana besok siang mau dateng kesini, mereka kaga tau kalo Safina sebenernya kaga mau , ". kata Bapak campur pusing.
" Banyakin Istighfar, jangan ikutin nafsu, mudah mudahan cepet ada jalan keluarnya". ucap Emak sambil menenangkan Bapak .
Nenek Safina mulai geram dengan sikap Bapaknya yang terlalu memaksakan anak, bagaimana tidak, setiap hari yang di dengar ocehan dan keributan, sampai terdengar ke rumah Nenek yang cuma beberapa meter dari rumah orang tua Safina.
Nenek lebih memihak kepada Safina, karena menurutnya seorang anak berhak menentukan pilihan hidupnya, Nenek beranggapan kalau Bapak terlalu egois, yang hanya mementingkan perasaanya dan harga dirinya saja, tanpa harus memikirkan perasaan anaknya.
Nenek datang ke rumah Safina, karena saking gregetnya Nenek blak blakkan marah marah di depan Bapak, menantunya, " Heh Asnawi orang tua macam apa lu Anak di paksa begitu, udah kaya di sinetron. Elu kalo pengen Safina sama si Haris bae, mending elu yang KAWIN sama si Haris !!!! Tegas Nenek.
Bapak hanya terdiam, karena yang ia hadapi adalah mertuanya. Emak pun terdiam tanpa sepatah kata. Lalu Nenek kembali ke rumahnya, setelah habis ngomel ngomel membela Safina cucunya.
Saat itu Safina terlihat agak lega, karena Nenek berpihak kepadanya. " Alhamdulillah makasih Nek udah membela aku, Nenek emang jagoan."
Keesokan hari
Bapak menemui Ustad Soleh, untuk menunda kedatangannya, karena beralasan safina nya mendadak kurang sehat, lalu Ustad Soleh pun mempercayainya. Dan menunggu kabar selanjutnya sampai Safina benar benar sehat.
Ini semua berkat Keluarga, saudara dan kerabat, yang selalu mensupport. Walau Zaed harus menahan malu karena lamarannya yang di tolak menjadi viral sekampung. ia tetap optimis.
Safina pergi ke rumah Nenek, karena ingin menceritakan hubungannya dengan Zaed, ia mendapatkan support dan semangat baru, karena berkat Nenek Safina kembali Optimis.
" Elu nanti kalo di marahin lagi sama Bapak, larinya ke rumah Nenek ya, biar nanti gua kasih GOLOK itu Bapak lu", Kata Nenek sambil mengunyah daun sirih.
" Hehehe Siap Nek" sahut Safina.
Nenek menyuruh Safina untuk membelikan minyak tanah ke warung agen yang jaraknya agak jauh dari rumah, lalu Safina pergi untuk membelikannya dengan mengendarai motor.
Tiba di warung agen, tanpa di duga Safina bertemu Haris, ia sontak kaget lantas membuang muka, karena saat itu Haris tidak menyadari kalau ada Safina di tempat yang bersamaan.
Safina sudah berusaha menghindar, menutupi setengah wajahnya pakai kerudung, tapi pada akhirnya Haris mengetahuinya kalau itu Safina.
__ADS_1
Haris pun tidak menduga di tempat yang sama ia bertemu Safina,
"Kayak Safina, katanya dia lagi kurang sehat, tapi kelihatannya sehat sehat aja tuh" gumam Haris.
Haris mencoba menegurnya, akhirnya Safina ketahuan juga, " Safina ya?" tanya Haris.
"Oh..hehe..bang Haris," jawab Safina, tampak sedikit malu.
" Kamu lagi ngapain Fin bawa bawa kompan minyak ?" tanyanya lagi.
" Oh Eemm... ini aku mau beli minyak tanah di suruh Nenek".
" Oh gitu," sahut Haris.
Haris juga tidak mau banyak bertanya, karena merasa malu juga sama Safina, apalagi soal sebentar lagi ia akan segera meminangnya. ia benar benar harus menjaga sikap.
" Kalo gitu Saya duluan yah Bang ?" kata Safina sedikit gugup.
" Oh iya, Hati hati ya di jalan" balas Haris dengan senyum.
iiiiikhhh...apaan sii pake segala senyum, jadi geli !!!! gumam Safina dengan sinis.
Safina memang tidak menyukainya dari awal pertemuan, selain berkumis, Haris juga terlihat tua umurnya juga sudah 30 ke atas seperti perjaka tua yang sudah kelewat nikah.
Sedangkan dengan Zaed, Safina jarak umurnya beda 8 tahun, itu masih wajar.
Setelah habis membelikan minyak tanah buat Nenek, Safina kembali pulang, sampai di rumah Emak menegurnya "Fin Emak mau bilang sesuatu nih ke kamar dulu yu?" kata Emak sambil merangkul Safina.
" Nanti Antar Emak yu ke toko Rizki amanah?"
"Mau ngapain, Safina baru aja keluar habis beliin Nenek minyak tanah" ucap Safina agak malas.
"Emak pengen cari sepatu sekolah Uswah udah pada dobrak" jawab Emak.
__ADS_1
Padahal selain ingin membeli sepatu, Emak juga sedang berencana ingin membelikan apa yang Safina mau, Karena itu salah satu cara baru Emak sama Bapak ingin berusaha membuat Safina merasa bahagia, lupa akan kejadian kejadian yang sudah terlewati, agar perlahan lahan terbuka hatinya, Nurut kepada orang tua dan mau menerima lamaran dan segera bertunangan dengan Haris.