
Emak sedang duduk santai dengan kakaknya , dan juga Syarifah, sambil menggerutu kesal karena ulah Safina. "Darah tinggi gua jadi naik gara-gara ulah si Safina".
"Emang dia hutangnya gede ?" tanya Muanah Kaka dari Sukarti emak Safina.
"Gua belum sempet nanya, tadi langsung ada suaminya datang."
"Mending obrolin baik-baik, mumpung lagi ada suaminya. Selesain secara keluarga, jangan sampai kejadian ini sampai di datengin Debkolektor. Saran Muanah dengan kebijakannya, yang masuk akal, sehingga Sukarti menyetujui sarannya itu.
Tapi bagaimana pun juga Bapaknya si Safina harus tahu, dari pada nggak di kasih tahu bisa tambah berabe nanti. Pikir Sukarti sebelum kembali ke rumah untuk bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Akhirnya Sukarti kembali kerumah untuk menemui suaminya. Zaed melihat dan menegurnya dengan nada santai, mengambil Syarifah dari pangkuan mertuanya. "Neng...!! kesini sama Ayah !" ucap Zaed dengan penuh kasih sayang. Karena kebetulan sedang bersama Zaed, Sukarti pun mengajak menantunya itu untuk berbicara empat mata.
"Itu, emak mau tanya! emang bener Safina punya hutang bank onlain?" tanya emak dengan serius.
Zaed terdiam kebingungan, haruskah ia memberi tahukannya atau tidak.
"Emak lihat dari raut wajahnya beda akhir-akhir ini, dia kayak lagi nyimpen beban, apa iya dia lagi ada masalah?"
"Alhamdulillah dah kalo begitu mah, mudah-mudahan Masalah ini cepet selesai, biar ceria lagi si Fina. Emak juga jadi nggak kepikiran terus," balas Emak dengan hati lega.
__ADS_1
***
Zaed memberitahukan istrinya kalau besok ia akan berangkat lagi ke Bogor untuk melanjutkan pekerjaannya, yang sudah satu Minggu di liburkan. Dan alhamdulilah sudah satu Minggu ia kembali aktif melanjutkan pembangunan rumah yang sempat terbengkalai sekian lama. "Doain juga mudah-mudahan di lancarkan proses merapihkan rumah kita, dan mudah-mudahan juga, di tahun ini sebelum bulan ramadhan, rumah udah bisa di tempati." ungkap Zaed di hadapan istrinya.
"Amin... mudah-mudahan Allah melancarkan dari segala urusan kita." balas Safina, walaupun sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam, perasaannya antara senang dan sedih.
Senangnya, karena impiannya yang selama ini di nanti-nanti akan terwujud. Sedihnya, karena itu tandanya sebentar lagi ia akan berpisah dengan kedua orang tuanya, juga adiknya.
Menyikapi situasi saat itu, Safina tampak masih labil, ia masih suka berubah-rubah pemikiran. Terkadang Safina ingin rasanya mandiri tanpa harus bergantung terus dengan orang tua, juga jika situasi hatinya sedang kacau, ingin rasanya pisah rumah dengan orang tua. Safina teringat ucapannya dahulu, yang mana, ia tidak ingin kembali ke Bogor, jika rumah yang sudah di bangun sejak dua tahun pernikahan itu belum juga selesai, sungguh ia tidak ingin kembali.
__ADS_1
Namun kenyataanya Zaed telah membuktikan, Safina pun tidak bisa merubah ucapannya itu dan kini ia mulai berubah dan berjanji akan menjadi istri yang patuh terhadap suami.
"Masa rumah tangga harus begini terus! Aa juga kan capek, harus bolak-balik dari Bogor ke Depok. Terus-terusan kayak gini, apa enak? jadi bagai rumah tangga awet di jalan!" jelas Zaed membuat pintu hati istrinya mulai terbuka, menyadari akan ke egoisannya selama ini.