Cinta Yang Tak Di Restui

Cinta Yang Tak Di Restui
Baikan


__ADS_3

Bibi Kholis mencoba menghubungi Bapak ingin bicara baik baik, yang angkat waktu itu Emak.


"Assalamualaikum oh ini ibunya Neng Safina yah, jadi gini bu sebelumnya saya minta maaf, kalo Safina belum bisa pulang, Zaed bukannya gak bolehin Safina jenguk Kakeknya yang lagi sakit, tapi di sini juga posisinya abis berduka, Zaed sama kita semua masih sangat berduka, karena keadaan juga, kita mohon pengertiannya dari keluarga yang di situ ," jelas bibi Kholis.


Emak menjawab "Bi sekali lagi saya juga minta maaf, ini masalahnya kakeknya kritis bahkan udah koma. Takutnya gak ada umur karena dari waktu sakit sampai udah payah, Safina belum pernah jenguk, saya masih bisa maklumi !! karena emang kondisinya jauh, saya sebagai orang tua kan berhak kasih tau, kalo misalkan posisi saya ada di posisi bibi gimana? mau berbuat apa? saya heran !!! masa Kakeknya udah kritis begini, Safina gak di ijinkan ketemu, KEJAM amat !! kan pada ngerti agama?"


Nut nut nut nut.....!!


tiba tiba teleponnya mati, karena gangguan sinyal.


"Yang angkat Emaknya terus malah begitu jawabannya", kata bibi Kholis di depan Umi, mang Saepul, juga Zaed.


"Begitu bagaimana?" tanya Umi.


"Katanya kejam amat Kakek udah kritis sampai koma, gak di ijinkan ketemu ", jelas bibi Kholis.


"Kalo misalkan ke Depok ana bingung duitnya, belum mikirin jajan, pegangan buat istri," sahut Zaed.


Mereka tampak bingung dan serba salah, "Terserah elu Zay dah itu mah, kita ngelarang larang ya gak mau, takut salah," kata mang Saepul.


"Udah sekarang mendingan nenangin pikiran dulu, baikan tuh sama neng Safina, lain kali adat jangan kayak gitu lagi", tegas bibi Kholis.


Pukul 03.00 pagi


Dapat kabar dari saudaranya bernama Eros kalau Kakek Safina sudah tiada, Safina menangis pilu ada rasa penyesalan Karena belum sempat menjenguk waktu sakit, Lantas Safina memberitahukan suaminya kalau Kakek nya sudah tiada, "Inalillahi wainnailaihi roojiun.. Yaudah nanti kita ke sana" ucap Zaed merespon dengan baik.


Alhamdulillah di kirain dia masih kesal sama aku !!! gumam Safina merasa bersyukur.


Zaed memberitahukan Umi di depan bibi Kholis kalau Safina Kakeknya sudah meninggal waktu pertengahan malam, "Jangan sampai gak dateng, dari pada jadi omongan nanti nya," kata bibi Kholis.


"Bilangin Teh Safina, masalah semalam jangan sampai keluarganya tau, sama aja aib rumah tangga", tegas Umi.


Pukul 07.00 pagi Zaed dan Safina juga anaknya Syarifah bersiap siap untuk segera berangkat ke Depok dengan mengendarai motor.


Tiba di pukul 08.35

__ADS_1


Tampak ramai di rumah Almarhum Kakek, saat itu jenazah Kakek sedang di mandikan, tak kuat menahan bendungan air mata tangis Safina pun pecah. Safina menemui Nenek meminta maaf karena waktu sakit belum bisa menjenguk, Emak menyahutinya "keluarga lu di sana kejam amat si, semalem udah di kabarin Kakek udah sekarat, koma, malah kaga di ijinkan, jawabnya bagaimana kalo misalkan Kakek di posisi Emak sama Bapak pasti bakal digituin juga dah yakin", ucap Emak dengan ketus di depan Safina.


Safina sedih seraya meminta maaf kepada Emak juga Nenek, tapi Safina tidak menceritakan kejadian waktu semalam, karena tidak ingin masalah rumah tangganya di ketahui orang tuanya.


"Untung dateng tepat waktu, kita lagi nungguin elu dateng Fin, udah bilang ke pak Amil nya jangan dulu di kuburin", kata Uwa kakak dari Emak Safina.


"Iya maaf, Safina belum sempat jenguk Kakek waktu masih hidup, terahir bertemu waktu lebaran tahun kemaren", jawab Safina merasa terpukul.


Setelah selesai di mandikan, lalu di kafani, kemudian di kuburkan Safina tidak ikut mengantarkan jenazah sampai pemakaman karena menurut orang sana pamali wanita ikut memakamkan jenazah.


Emak memang kesal dengan sikap keluarganya Zaed, tapi Emak tidak menampakkan sikap kesalnya itu di depan Zaed.


Selesai di makamkan Zaed kembali ke rumah orang tua Safina karena ingin beristirahat, "Duluan aja kerumahnya, Aku mau di rumah Nenek dulu" kata Safina.


Zaed dan Safina masih terlihat dingin, mungkin karena pertengkaran semalam masih membekas di hati.


Emak melihat Safina bercakap dengan Zaed, lalu menghampiri Safina, "Fin kenapa kaga sekalian aja elu pulang ke rumah, istirahat dulu sana bikinin suami lu kopi, nanti baru ke sini lagi Syarifah biar sama Emak".


"Hmmm...yaudah", Safina menyahutinya dengan malas.


"Si intan permata mana intan Bapak?"


"Oh Neng Syarifah tadi lagi sama Emak dulu Pak ", jawab Zaed.


"Ooh masih di sana berarti ya? orang mah ken bawa pulang dulu kasihan capek,"


Safina datang menyuguhkan kopi untuk suaminya, seketika Safina berubah terlihat senyum di depan suaminya sambil menyuguhkan kopi, karena ada Bapak sedang bersama Zaed.


"Eemm... Bapak mau ngopi juga gak?" tanya Safina.


"Kaga kaga, Bapak mah lagi mantang minum kopi sekarang mah".


Zaed menyahutinya "Kenapa Emangnya Pak di pantangin ?"


"Inii, kan Bapak mah punya sakit lambung, jadi udah lama di pantangin minum kopi mah, yaudah Bapak ke belakang dulu ya", jelas Bapak terburu buru ingin ke kamar mandi.

__ADS_1


Saat Safina bangun dari duduknya ingin pergi ke kamar, Zaed memanggilnya "Neng??"


Lalu Safina berhenti dan diam


"Duduk dulu" kata Zaed.


Kemudian Safina duduk di hadapan Zaed tampak cemberut.


"Aa minta maaf, udah jangan cemberut terus kan gak enak sama Bapak, Emak, jangan bilang apa apa yah soal kejadian semalam ?"


"Lagian buat apa di ceritain ke orang orang, orang lain juga belum tentu peduli sama hidup kita", jawab Safina agak ketus.


"Yaudah atuh jangan cemberut begitu, senyum dikit".


"Berat mau senyumnya juga"


"Kan Aa udah minta maaf !!"


"Maaf aja gak cukup" Sahutnya dengan ketus.


"Terus Aa harus bagaimana, Kamu maunya apa ??"


Safina mulai bingung sambil memikirkan keinginannya.


Eemm aku lagi pengen apa ya ?? tapi rasanya kosong , lagi gak kepingin apa apa.


"Mmm...gak neko neko, cuma pengen kasih sayang dan perhatian dari suami !!!" jelas Safina.


Zaed tersenyum, "Kan itu mah udah biasa, biasanya juga suka di perhatiin di sayang sayangin" balas Zaed dengan timpal.


"Mana ?? selama ada Syarifah perhatian Aa lebih memihak ke dia, "


"Aduh hehe Safina Safina... Masa sama anak sendiri cemburu? Aa lebih perhatian sama Syarifah kan emang putri kita, seharusnya kamu bersyukur, suami yang lain mah ada yang anaknya di buang, bahkan gak nerima kehadiran anaknya", jelas Zaed.


"Kayak di sinetron aja ", sahut Safina sambil cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2