
Safina lantas membuka kado dari Zaed yang isinya adalah bantal love yang bertuliskan kata I Love you, sambil memeluknya ia tersenyum bahagia dan berbunga bunga.
Gak nyangka dia seromantis ini .
Emak juga tersenyum bahagia melihat Safina bahagia, Sekarang Gua kaga lagi maksain dia sama Haris, terserah pilihan Safina terus asalkan dia bahagia, gumam Emak.
"Udah jangan di tangkapin terus itu bantal, makan dulu sana" kata Emak.
Lantas Safina ke dapur untuk mengambil makan, ia makin semangat makan karena Zaed membuat hatinya berbunga bunga.
Zaed telah sampai di rumah lalu duduk di sofa ruang tamu sambil meluruskan kaki karena merasa pegal, kemudian Kakek menghampiri seraya berkata "Safina anaknya baik juga ramah, itung-itungan nya juga udah bagus banget", ucap Kakek.
Tampak Zaed merespon dengan raut wajah yang enak.
Kedatangan Safina waktu itu sudah di ketahui ke seluruh keluarga Zaed, Bibi sartika istri dari adiknya Umi, menceritakan lewat telepon tentang Safina kepada Bibi Kholis adik Umi. Dan Mereka berencana ingin membantu Zaed untuk bisa sampai ke jenjang pernikahan dengan Safina.
Seiring berjalannya waktu Bibi Kholis mencoba chat Wa Safina, berkenalan dan bertanya soal hubungannya dengan Zaed. Lalu bibi Kholis menyarankan untuk tinggal di rumahnya sambil mengajar ngaji di sana, namun Safina menolaknya karena beralasan tidak di izinkan oleh kedua orang tua. Bibi Kholis saat itu habis berduka cita karena kepergian suaminya, ia mengundang Safina untuk datang di acara 40 harian mendiang suaminya, Bibi juga berharap agar Safina bisa datang karena bibi mempunyai rencana ingin mempersatukannya dengan Zaed.
Safina mengucap insya Allah ia mau memberitahukan ini dahulu kepada kedua orang tuanya.
"Ok Kalo gitu bibi tunggu kabar selanjutnya yah, mudah mudahan Neng Safina di izinin, karena kapan lagi ini kesempatan baik buat kamu biar bisa ngobrol langsung sama Zaed, perbaiki hubungan kamu," ucap Bibi.
Bibi kholis ada benarnya juga, mending aku ikuti sarannya, tapi Aku juga harus minta saran Emak juga Uwa baiknya gimana, gumam Safina.
Keesokannya
Safina dan Emak ke rumah Uwa membicarakan soal kata kata bibi kholis (bibinya Zaed) waktu kemarin. "Saran gua sih mending elu dateng ke acara 40 hari nya Fin, kayaknya ada bener nya juga saran bibi nya si Zaed," kata Uwa.
"Mending sama elu po anterin si Safina, kalo sendirian kesannya bagaimana gitu ya", jawab Emak dengan timpal.
"Gua si siap siap aja, yang penting ada yang ngongkosin, soalnya gua kaga punya duit".
"Soal ongkos tenang, biar Safina yang atur" sahut Safina.
__ADS_1
Akhirnya Safina memutuskan akan datang ke acara 40 hari nya almarhum suami bibi Kholis, yang akan di antar oleh Uwa juga anaknya bernama Elsa. Safina juga akan segera memberitahukan bibi Kholis.
Safina :"Assalamualaikum Bibi insya Allah Safina hadir di acara 40 hari nya nanti, doain biar gak ada halangan".
Bibi Kholis :" Waalaikum salam Amin mudah mudahan Neng Safina bisa dateng di acara bibi yah, itu yang sangat bibi harapkan.
Satu minggu kemudian
Sudah tiba di acara 40 harinya almarhum suami bibi Kholis, Safina dan Uwa bersiap siap berangkat ke bogor. Emak sudah merencanakan dengan matang membuat ide baru agar Bapak tidak mencurigai Safina.
Akhirnya rencana berjalan dengan baik, setelah beberapa jam Safina dan Uwa sampai juga di alamat rumah bibi Kholis. Setelah sampai di depan pintu gerbang Safina tampak kebingungan.
"Di mana yah rumahnya, katanya cat rumahnya warna oranye, tapi ini adanya rumah besar bertingkat" katanya.
Safina mencoba menghubungi bibi memberitahukan kalau ia sudah sampai di lokasi, tapi Safina tidak tahu yang mana rumahnya. Bibi memberitahukan kalau rumahnya yang berwarna oranye berlantai dua.
"Nanti masuk aja yah bibi lagi di ruang tamu kok" kata Bibi.
Kemudian Safina dan Uwa masuk ke rumah bibi kholis dan mengucap salam "Assalamualaikum?"
Safina pun menjawabnya " iya Safina".
Dengan sangat pangling bibi Kholis, mengajak duduk dan merangkulnya seraya berkata " Ya Allah kamu sama siapa kesini nya ?" tanya bibi Kholis.
Safina menjawabnya agak gugup karena malu, "Safina kesini sama Uwa juga Elsa anaknya".
Akhirnya Uwa dan bibi berkenalan dan mereka saling bercengkrama. Di atas ada Umi, saudara saudara juga Nenek, bibi Kholis mengajak Safina ke atas untuk bertemu Umi juga keluarga keluarganya. Wida berseru dari lantai dua karena bahagia dengan kedatangan Safina.
"Ssttt jangan teriakan kayak gitu ah, emang lagi di tengah tengah hutan" kata bibi Sartika.
Kemudian Safina datang menemui Umi, Nenek, bibi Sartika juga keluarga yang lainnya.
"Di sini keluarga besar semua, jadi kalo lagi ada acara semua keluarga sanak saudara pada kumpul semua," jelas bibi Kholis.
__ADS_1
Di sana Safina belum melihat Zaed, dalam hatinya bertanya tanya dan mengharapkan kehadirannya. "Neng, Zaed udah bibi WA sore dia mau kesini katanya, kamu nanti istirahat dulu di kamar anak bibi yah di antar sama bibi sartika, kalo gitu bibi mau ke bawah lagi soalnya masih banyak tamu," kata bibi Kholis dengan nada sedikit rendah.
Lalu bibi sartika mengantarkannya ke kamar untuk beristirahat, Safina membuka ponselnya tiba tiba ada satu pesan WhatsApp dari Zaed.
Zaed:" Neng ?"
Safina tidak langsung buru buru membalasnya, ia malah sengaja melambatkan balasan.
Udah di baca tapi gak di bales?? gumam Zaed.
ia mencoba kirim pesan WhatsApp lagi dan menanyakan sedang apa. Karena Safina juga tidak tahan menahan rindu, Lantas Safina membalasnya.
Safina:"Iyah apa, Eemm... maaf Aku abis dari kamar mandi tadi kagok mau balasnya."
Zaed :"Oh gitu, kemaren kadonya udah di buka?"
Safina :"Udah dong, masa belum kan penasaran".
Zaed :" Itu sebagai pertanda ungkapan perasaan Aa yang masih sama sampai sekarang".
Safina :"Kenapa gak di ungkapin langsung aja, gak gentle banget jadi cowok !!!"
Zaed :" Waktu itu kan posisinya di tempat rame, malu takut ada yang dengar".
Safina :" Hmm..kalo malu pake HELM".
________
Bapak menanyakan Safina kemana, karena hari ini dari pagi belum melihatnya, lalu Emak menjawab "Seperti biasa, lagi di rumah si Elsa".
Akhir akhir ini Bapak memang jarang melihat Safina padahal satu rumah, di tambah hubungannya yang tidak sedekat dahulu, Bapak juga terlihat tidak terlalu mengekang Safina.
"Kalo main bilangin jangan seharian gitu", tegas Bapak.
__ADS_1
"Biarin bang emang dia main ke jauh apa, dari pada di rumah bae suntuk juga kan anak muda di rumah mulu." jawab Emak.
Bapak langsung terdiam dan pergi bekerja bukan apa apa gua kangen aja sama si Safina dari pagi belom liat dia, gumam Bapak.