
Setengah jam kemudian.
Semua Mahasiswa sudah berkumpul didepan panggung termasuk sebagian Dosen.
Yola yang saat itu sedang menunggu Rafael dibelakang panggung, menatap layar hpnya.
Dia menscroll-scroll status WA orang. Terus dia iseng membuat statusnya.
"Angin bawalah jiwa ku melayang 😌
Karena jiwa hampir putus asa. Ketika memikirkan dia yang tidak menyukaiku. Mungkin hanya menghargaiku, mungkin itu semua karena dia tahu aku mencintainya. Semuanya mungkin 😆"
Rafael yang baru saja mengirim pesan kepada grup seninya, membaca status tersebut.
"Nyatanya dia sedang galau." ucap Rafael sambil berlalu.
Dia pun berlalu menghampiri Yolanda yang saat itu menjadi Pembawa Acara. Dia ditemani oleh satu orang Mahasiswa adik tingkatnya.
Rafael yang saat itu baru tiba, menyuruh Yola untuk memulai acaranya. Yola yang saat itu sudah ditungguin dipanggung oleh teman pembawa acaranya itu. Langsung membuka jaket dan masker yang dipakainya. Dia saat itu memakai dress berwarna merah maroon.
Terlihat bentuk tubuhnya yang sangat indah. Dan paras cantiknya yang dipoles oleh sedikit make up. Membuat semua orang yang melihatnya terpesona. Dia naik ke atas panggung. Lalu semua orang mensorakinya. Namun, dia hanya tersenyum sebari mencari sosok suaminya. Tapi tidak terlihat olehnya. Padahal suaminya ada dibarisan Para Dosen. Dia sedang menatap Yola dengan mimik wajahnya yang datar.
"Tubuh kamu mulai diobral Yola?" menyunggingkan bibir.
Kemudian Yola dan Adik tingkatnya membawakan acara dengan sangat baik. Pertama mereka basa-basi menyambut penononton. Lalu memanggil para anak seni yang akan tampil. Rafael yang saat itu menjadi ketuanya membawa gitar. Sebelum mulai, dia menyapa para penonton, setelah itu dia menggoda sedikit Yolanda semua orang mensorakinya.
"Penonton! Pembawa acara wanitanya begitu cantik kan?"
Semua orang mengiya kan nya. Dan banyak yang cemburu. Termasuk Rei yang menatap mereka dengan tajam. Parasnya yang sangat tampan berubah seperti mimik seorang Mafia muda yang tampan dan kejam. Sedangkan Laura dan teman-temanya berdecih kesal.
"Ehm. Sepertinya saya punya lirik lagu untuk kamu." ucap Rafael. Semua orang bersorak.
Yola hanya tertawa dan menganggukan kepalanya. Lalu mendekat kepada Rafael.
Rafael memainkan gitarnya. Sorakan penonton kembali Ramai. Namun, adik tingkat yang membawa acara bersama Yola menintruksikan agar mereka tenang.
"Disini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar ku lihat senyum ditidurmu malam nanti"
Semua orang bersorak.
"Lanjutkan!"
"Romantis"
"Sosweeet"
"Tembak-tembak!" Teriak orang-orang.
Yola hanya menepuk jidatnya. Wajahnya yang sangat putih mulus. Tiba-tiba memerah merona.
"Kenapa lagu nya galau?" tanya Yola sambil tertawa kuda.
"Saya tahu isi hati kamu dan mimik wajah kamu yang cantik itu tidak bisa berbohong."
Semua orang bersorak. Yola hanya tersenyum.
"Ada lagi nih lagu buat kamu."
ucap Rafael sambil memainkan gitarnya dan beralih memegang drum.
Semua orang masih ramai bersorak.
Tatap matamu bagai busur panah
Yang kau lepaskan ke jantung hatiku
Meski kau simpan cintamu masih
__ADS_1
Tetap nafasmu wangi hiasi suasana
Saat kukecup manis bibirmu
Cintaku tak harus, miliki dirimu
Meski perih mengiris
Iris segala janji
Aku berdansa diujung gelisah
Di iringi syahdu lembut lakumu
Kau sebar benih anggun jiwamu
Namun kau tiada
Menuai buah cintaku
Yang ada hanya sekuntum rindu
Cintaku tak harus,
Miliki dirimu
Meski perih mengiris
Iris segala janji
(Yola yang tahu lagunya duet dengan Rafael)
Malam-malamku bagai malam seribu bintang
Yang terbentang di angkasa bila kau disini
'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi
Malam-malamku bagai malam seribu bintang
Yang terbentang di angkasa bila kau disini
'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi
Malam-malamku bagai malam seribu bintang
Yang terbentang di angkasa bila kau disini
'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi
Cintaku tak harus, miliki dirimu
Meski perih mengiris
Iris segala janji
Cintaku tak harus, miliki dirimu
Meski perih mengiris
Iris segala janji
Sya-lala-lala-la
Sya-lala-lala-la
Sya-lala-lala-la
Sya-lala-lala-la
Sya-lala-lala-la
Sya-lala-lala-la
__ADS_1
Sya-lala-lala-la
Setelah lagu selesai, Rafael mengeluarkan bunga mawar merah dan memberikanya kepada Yola.
"Cieeeeeeee." Sorak semua orang.
Rei yang melihatnya hanya berdecih dan memutarkan kedua bola matanya.
"Semakin malas berada dikeramaian." batinnya.
Dia mengeluarkan hpnya dan memiscall Dimas. Kemudian mengirimkan pesan.
"Dimana? Saya mau bicara." Pesan terkirim.
"Di Stand makanan pak."
"Pergi ke Mobil saya. Kita pergi ke Hotel. Jalankan misi."
"Baik. Pake mobil bapa ya. Saya kesini bareng mama tadi."
"Tunggu di parkiran."
Setelah dia mengirimkan chat ke Dimas. Tidak sengaja, dia melihat status WA. Lalu dia melihat nama Yolanda. Dia peasaran dengan status Yolanda itu. Namun, dia pergi ke privasi wa. Dan menonaktifkan laporan dibaca. Lalu kembali melihat status Yola.
"Siapa pria yang dia maksud? Saya atau Revan?" tanya Rei dalam hati. Namun, dia tidak memikirkanya. Lalu beranjak pergi.
3 jam telah berlalu.
Terlihat Yolanda yang saat itu sedang minum sambil ngobrol bersama teman-temanya, termasuk Imel dan Devan. Dia yang sudah memakai jaketnya dan ransalnya menghubungi Revan.
Truut truut truut
"Masih dimana kak?"
"Ini udah jalan ke Pantai." jawab Revan yang saat itu sedang membawa motor R15 milik Yolanda mendadak berhenti.
"Yaudah, saya juga jalan sekarang deh."
"Oke hati-hati!"
Yola bergegas pamit kepada teman-temanya, termasuk Rafael yang masih sibuk mengobrol dengan anak-anak seni.
Di Hotel
Rei dan Dimas saat itu baru beres merencanakan misi untuk membongkar identitas Revan. Lalu Dimas yang terlihat mumet dan berkeringat harus memakai kacamatanya kembali dan mengubah rambut yang dijambul menjadi rambut yang diponikan.
Saat itu, dia membawa selembar kertas yang dimasukanya ke dalam tas ransal. Lalu dia pamit ke Rei untuk pulang memakai taksi. Namun, Rei melarangnya. Dia mengajak Dimas diajak pergi ke Pantai untuk menemui seseorang. Dimas pun menyetujuinya.
Setengah jam kemudian, Yolanda baru saja turun dari mobil Adventure Revan. Dia memarkirkan mobilnya persis dekat Motor R15 nya. Lalu dia sedikit berlari. Dia pergi ke tempat yang biasa dia ngobrol bersama Revan. Yaitu, disalahsatu meja yang ada di warung tepi Pantai.
"Kak, udah lama?" Panggil Yolanda ke Revan yang sedang menikmati keindahan Pantai.
Nb: Beberapa hari ke belakang. Karina Ibunya Revan. Meminta agar Yolanda yang sudah menikah. Menyuruhnya agar menganggap Revan itu sebagai kakak nya.
"Nggak. Baru aja." Melihat ke arah Yola."
"Kak? Ini maksud aku." Memberikan kunci tempat rahasia Rei.
"Jangan terburu-buru! Duduk dulu!"
"Tapi kak, aku gak bisa lama. Mempeng dia gak ada dirumah. Maksud aku, aku pengen masuk ke tempat itu."
"Kunci ini saya yang simpan. Kamu jangan terburu-buru. Terlalu berbahaya. Nanti malah ada problem yang lain."
"Iya sih. Tapi aku penasaran kak."
"Saya tidak tahu suami kamu yang mana. Padahal saya mengenal banyak Dosen dikampus kamu."
Yola tidak menjawabnya. Dia hanya memperlihatkan Foto Rei yang sedang duduk saat mengajar dikelasnya. Revan yang melihat foto itu sangat shok.
"Kamu hanya bilang bahwa dia Dosen Muda. Siapa nama aslinya? Dan nama Mahasiswi yang dekat denganya?" Revan menatap Yola dengan penuh tanya sambil memegang kedua pundak Yola.
"Namanya Ricard Putra Alexandar. Gadis itu namanya Laura."
__ADS_1
Revan yang mendengarnya hanya terdiam dan masih memegang pundak Yolanda. Disaat bersaman Ricard dan Dimas akan duduk dimeja lain diwarung tersebut. Mereka sangat kaget melihat Yola dan Revan.
Ricard langsung menintruksikan agar mereka berpencar. Dimas yang menyetujuinya memberikan kunci motor metik milik Ricard. Namun, Ricard menyuruh Dimas untuk memegangnya.