
Dreeeett Dreeet Dreet
Hp Yola bergetar, Rafael Menelpon
"Kenapa gak diangkat? Tidak seperti biasanya." Rafael gelisah.
Rafael menatap hpnya. Tertulis nama "Yolanda"
"Saya sudah menjadi orang yang melakukan hal luar biasa untuk cinta, terutama untuk cinta yang tak akan pernah terbalas.
Yaa walaupun sekarang saya merasakan. Satu rasa sakit dan penderitaan terbesar, yaitu cinta bertepuk sebelah tangan dengan seseorang."ucap Rafael menatap nama Di hp tersebut.
"Hanya bisa menutup luka. Menahan api cemburu. Memendam rasa kecewa. Karena mau marah pun harus sadar, 'siapa kamu?'" ucap temannya Rafael sambil tertawa, yang sedang menjaga pintu ruang penyekapan Laura.
"Jadi kamu mendengarkannya?" tanya Rafael menaikan alisnya.
"Tentu saja. Karna disini dari semenjak Dev pergi, saya hanya menjaga pintu ini. Sekaligus melihat kamu yang mondar-mandir terus." Ledek temannya.
"Hem. Dia gak bisa dihubungi. Tidak seperti biasanya. Tapi hpnya aktif. Dia aktif sekitar 2 jam yang lalu." ucap Rafael.
"Dia wanita yang kuat. Tidak akan terjadi apa-apa."
"Tapi terakhir nelpon saya, dia menangis. Sepertinya Si Dosen itu penyebabnya." ketus Rafael.
"Hem. Lupakan dulu itu. Coba telpon Dev dan temannya. Gimana kabar mereka." titah temannya.
"Baiklah." Rafael pun menelponnya sambil pergi ke balkon.
Dirumah Sakit.
Dokter tampan itu, baru saja membuka sarung tangan lateksnya. Lalu dia mencuci tangan. Dia duduk sambil menyuruh Dokter untuk menemui keluarga Yola. Lantas Suster itu pun keluar dari ruang tersebut.
Beberapa menit kemudian
Suster itu kembali masuk ke ruangan.
"Maaf Dokter, saya sudah mencari keluarga dari bapa gadis itu. Tapi tidak,"
Tuk tuk tuk
"Nah, apa mereka?" ucap Suster. Dokter tampan itu, hanya menaikan alisnya.
"Tunggu sus! Apa tadi tidsk bertemu dengan keluarganya?"
"Tentu tidak pak, pembicaraan saya tadi tetpotong oleh suara ketukan pintu itu." ucapnnya.
"Buka pintunya! Izinkan masuk jika dia keluarga gadis itu." titah Dokter.
Disisi lain, Yola membuka matanya. Dia terlihat masih pusing. Karena tiba-tiba ada diruangan sana. Dia langsung memanggil-manggil orang.
__ADS_1
"Tolong! Apa ada orang disini?" panggil Yola.
Spontan Alvin yang baru saja datang membuntuti suster tersebut, dan barengan denhan Dokter itu yang terburu-buru akan menghampiri Yola.
"Yolanda?" sapa Alvin.
"Alvin? Apa kamu yang membawa saya kesini?" tanya Yola.
"Iya. Nanti saja ceritanya. Bagimana keadaan kamu?"
"Keadaan saya ya seperti ini. Tapi tidak apa-apa tidak ada yang sakit."
"Hukum cadar untuk kamu bagaimana?" Tiba-tiba Alvin bertanya seperti itu.
"Masih memegang sunah menurut imam Ahmad. Kalau wajib yang menurut imam syafi'i saya beleum berani." ucapnya.
Dokter itu sangat terkesima. Begitupun dengan Suster yang tersenyum. Sedangkan Alvin hanya menganggukan kepalanya.
"Maafkan saya. Dokter terpaksa harus membuka cadar kamu. Karena harus mengobati luka kamu."
"Tidak apa-apa. Saya faham. Oh iya, tas saya mana? Saya udah ada janji. Mereka pasti nunggu saya." ucap Yola yang teringat Rafael. Tak menunggu lama, Dokter itu pun langsung membawakan tas dan memberika nya ke Yola. Alvin dan suster hanya melongo.
"Terimakasih, pak Dokter." Yola mengeluarkan tas dalam hpnya.
"Untuk apa masih disini? Saya baik-bauk saja. Sebentar lagi saya akan pergi." ucap Yola.
Lagi-lagi Alvin dan Suster melongo melihat sikap Dokter tampan itu.
"Baik Dok. Saya hanya akan mengabari teman saya dulu."
"Yola? Istri saya mau melahirkan. Ada disini juga. Bentar lagi sahabat saya kesini untuk menjaga kamu. Saya akan mengurus istri saya dulu." ucap Alvin.
"Terimakasih Alvin." Yola hanya melirik sebentar.
"Maaf, jadi anda ini bukan suaminya?" tanya Dokter sambil tersenyum. Suster hanya melirik Dokter tersebut dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bukan. Memangnya kenapa?" tanya Alvin.
"Tidak apa-apa. Saya hanya bertanya." ucap Dokter itu, sambil membenarkan infusan Yola.
"Hem. Kalau begitu saya pergi dulu ya." ucap Alvin. Ketika dia baru akan membalikan badan. Tiba-tiba pintu diketuk.
Suster langsung membuka pintu. Ternyata itu adalah Rei.
"Maaf, suru masuk sus!" titah Alvin.
"Sudah saya urus. Anda langsung bertemu Dokter kandungan saja." ucap Rei.
Yola yang baru saja mengirimkan pesan ke Rafael. Langsung menyimpan hpnya di perutnya. Lalu dia melihat ke arah Rei dan mereka saling kaget. Rei melihat keadaan Yola. Sedangkan, Yola yang juga kaget langsung berteriak.
__ADS_1
"Susterr! Dokter! Ambilkan cadar saya tolong!" titah Yola sambil melihat ke arah kiri.
"Yola? Kenapa bisa seperti ini?" Rei menghampori Yola. Alvin, Dokter, dan Suster kaget.
"Jangan kesini! Tolong!" ucap Yola.
"Saya suami kamu. Kenapa sikap kamu seperti ini?" ucap Rei membentak. Spontan mereka lebih kaget.
"Suami? Apa maksud kamu?" Tanya Alvin ke Rei.
Rei hanya menatap dan melirik Alvin sebentar.
"Apa hubungan kamu sama Alvinn Yola?" tanya Rei nada keras.
"Jangan salah faham dulu. Mobil saya tidak sengaja menabrak motor ojol yang ditumpangi Yola. Dia terpental. Kepalanya terbentur keras kena Bapingblok. Dan darah keluar dari hidungnya, Rei." Alvin menjelaskan.
"Diamlah! Tidak harus menjelaskan apa yang terjadi kepada dia vin. Dan kalian berdua tolong keluar dari sini! Suster mana cadar saya?" teriak Yola dengan berusaha tenang.
Alvin dan Rei tidak menyangka Yola akan berteriak seperti itu. Doker tampan itu hanya kebingungan, melihat apa yang terjadi didepannya.
"Maaf nyonya, cadar nya penuh darah. Saya tidak bisa memberikannya." ucap Suster menunduk. Yola yang mendengarnya hanya pasrah.
"Jadi, hanya kepada says kamu tidak ingin memperlihatkan wajah kamu?" Rei kesal.
"Karena untuk apa Rei?
Kalau bukan keadaan saya seperti ini, biasanya saya menutup wajah saya. Sama smua orang, termasuk kamu.
Dan kamu memang suami saya. Tapi jangan pernah merasa rugi tidak melihat wajah saya lagi.
Karena kenyataanya, kamu tidak pernah mencintai saya. Kamu terlalu sibuk dengan wanita lain. Tidak hanya istrinya Alvin yang baru saja saya tahu, tapi yang sebelumnya pun kamu seperti itu." Bentak Yola,
"Yola? Dengarkan Saya!!" Bentak Rei.
"Keluar Kalian berdua,tolong!" teriak Yola. Alvin mengajak Rei keluar. Rei hanya mengikuti apa kata Alvin.
"Ayo! Ini bukan saatnya menjelaskan. Dia wanita. Dia sedang marah. Dia sama seperti kita. Hati dan fikirannya tidak akan berfungsi jernih, ketika dia sedang marah." bisik Alvin.
"Saya disini nunggu dia. Anda urus dulu istri anda." titah Rei sambil menyender dipintu.
"Baiklah! Jangan kemana-mana!" ucap Alvin sambil buru-buru pergi, untuk menemui Dokter Kandungan.
"Jadi Yola istrinya Reicard. Dan Yola seorang Mahasiswi?" tanya Alvin dalam hatinya.
"Salah saya Yola. Ini salah saya. Saya benar-benar minta maaf." batin Rei. Dia menutup wajahnya dengan satu tangannya.
"Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Suster.
"Tidak ada Suster. Terimakasih!" ucap Yola tersenyum.
__ADS_1