Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Yolanda Kecelakaan


__ADS_3

"Kelak kamu akan mengerti. Bahwa menahan diri untuk membuat seseorang tak tersinggung dengan lisanmu, lebih mulia daripada mengutarakan isi hati." Tulis Yola dalam story WAnya. Karena tidak mau hpnya terjatuh. Dia yang baru saja naik motor, buru-buru memasukan hpnya ke tas. Saat dia akan memakai helm. Tiba-tiba,


Tiiid tiiid tiiddd


Braakk braak


Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Begitupun Pengemudi ojol dan Yola. Pengemudi sudah berhati-hati dalam mengemudikan motornya. Yola pun sudah bersiap-siap memasang helm.


Namun, kecelakaan itu harus tetap terjadi atas Izin Allah. Alvin yang terburu-buru memarkirkan mobilnya, tidak melihat ke arah belakang. Sehingga mobil belakangnya menabrak motor ojol yang membawa Yola. Saat mereka baru beberapa menit baru saja jalan.


Itu dikarenakan Alvin mendapat berita dari Rei. Bahwa Sarah akan melahirkan.


Yola yang saat itu belum keburu memakai helm. Kepalanya dan hidungnya terluka. Dikarenakan dia yang jatuh dan terbentur bapingblok yang ada diparkiran tersebut.


Sedangkan pengemudi tidak terluka parah, karena dia memakai helm. Hanya kaki kanannya saja tertindih motor.


Alvin yang menyadari bahwa mobilnya menabrak motorpun langsung turun dari mobilnya. Lalu menghampiri mereka berdua.


"Pak, mari saya bantu. Maafkan saya, saya buru-buru tadi pak." ucap Alvin sambil mengangkat motor yang menindih pengemudi tersebut.


"Saya gak apa-apa mas. Tapi mbaknya mental." ucap pengemudi sambil melirik Yola dan sedikit mengurut pahanya yang tertindih tadi.


Alvin tidak menjawab. Dia melihat ke arah Yola yang sedang berusaha bangun.


"Maafkan saya. Mari saya bantu." ucap Alvin kepada Yola.


Saat Alvin lebih mendekat, dia baru menyadari bahwa itu Yola.


"Loh? Yolanda? Ternyata kamu. Apa yang terluka?" tanya Alvin.


"Saya baik-baik saja. Gak ada yang sakit kok, vin." ucapnya berbohong.


"Bohong mbaknya mas. Tadi kepalanya terbentur keras. Itu juga dicadar ada bercak darah dari dalam. Periksa dulu mbak." ucap pengemudi kepada Yola yang masih belum bangun.


"Memang ini sangat sakit. Tapi saya harus kuat. Saya gak boleh terlihat lemah." ucap Yola. Namun, apadaya benturan dikepala yang sangat keras membuat kepalanya sakit dan mengeluarkan banyak darah. Itu terlihat dari darah yang rembes ke hijabnya.


"Mbak? Kenapa bengog?" tanya pengemudi sambil akan memegang bahu Yola. Namun, Yola menepis pelan tangan pengemudi tersebut.


Alvin yang masih terbengong. Tanpa fikir panjang. Dia membuka pintu mobilnya. Yola memeganggi kepalanya yang sakit. Dadanya menjadi sesak, pandangannya burem, dan darah dari hidungnya terus mengalir.


"Pak, benar. Saaaayyyya gak kuat. Saya pusing." ucap Yola. Dia yang masih duduk spontan pingsan. Pengemudi tidak membiarkannya jatuh. Alvin yang sudah kembali langsung menggendong Yola. Dan memasukaknya ke dalam mobil. Lalu Alvin menghampiri pengemudi yang masih terlihat bingung dan masih mematung.


"Pak, ini uang buat bapa. Maaf tadi saya buru-buru. Istri saya mau melahirkan. Wanita ini kenal sama saya. Biar saya yang urus. Saya pamit pak," ucap Alvin sambil menggenggam tangan pengemudi itu dan memberikannya uang. Lalu buru-buru pergi.


"Saya sangat merasa bersalah sama wanita itu. Semoga dia baik-baik saja." ucap pengemudi sambil melihat uang ditangannya.


"Terimakasih mas," ucapnya lagi sambil melambaikan tangan yang menggenggam uang tersebut.


"Yola? Bertahanlah! Maafkan saya. Saya sangat panik. Benar-benar panik." batin Alvin. Sambil melihat ke arah Yola dari kaca spion. Dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang.

__ADS_1


Di Rumah Sakit


"Keluarga Sarah?" Seperti biasanya Dokter memanggil.


Rei yang sedang duduk diluar kamar Sarah. Langsung menghampiri loket Administrasi.


"Iya?" tanya Rei.


"Pak maaf, suaminya udah bisa dihubungi?" tanya Petugas Admin.


"Sudah dijalan mau kesini."


"Jadi gini pak, tadi kan Nyonya Sarah langsung dicek hb. Ternyata hb nya rendah. Hanya 7,4. Untuk lahiran, normalnya kan 11. Tolong bapa ke PMI ya! Nyonya Sarah butuh 4 Labu. Di Bank Darah kita hanya tersisa 2. 2 labu lagi tolong ambil disana ya!" titah Petugas tersebut.


"Bagaimana keadaanya?"


"Nyonya Sarah sudah dipasang selang oksigen pak. Kami masih menunggu persetujuan suaminya, untuk tindakan selanjutnya."


"Berarti ini saya ke bank darah dulu? Baru ke PMI?"


"Iya. Disana cukup ngantri pak. Oh iya?"


"Kenapa?"


"Apa bapa sudah berkeluarga?"


"Penting pak. Karena bapa wali pertama dari keluarga Sarah. Sebelum suaminya datang."


"Sudah."


"Baiklah. Nanti bapa akan mengisi formulir Wali ya!"


Rei yang belum berpengengalaman mengurus yang akan lahiran. Hanya iya iya saja. Diapun berlalu ke bank Darah.


Kring kriing kriing


Telpon didekat petugas tersebut berbunyi.


"Hallo?"


"Ini saya. Bagaimana? Apa kamu mendapatkan infonya?"


Petugas tersebut melirik ke arah pintu kamar rawat Sarah. Dokter tersebut sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum.


"Tentu. Dia sudah menikah bu."


"Oh. Yasudahlah. Dia gak usah ngisi formulir itu." Menghela nafas kecewa dan langsung mematikan telponnya. Petugas itu hanya menatap telpon yang sudah mati. Lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalannya.


45 menit kemudian Di RSU Jakarta

__ADS_1


Alvin memberhentikan mobilnya, pas depan pintu rumah sakit. Lalu dia buru-buru mengangkat Yola kedalam. Tidak lupa, dia juga menyuruh security untuk memarkirkan mobilnya.


Saat dipintu masuk. Dia bertabrakan dengan Rei yang akan pergi ke PMI.


"Alvin? Kenapa anda lama sekali?" tanya Rei menatap tajam Alvin.


"Nanti saya jelaskan. Saya buru-buru." Alvin melewati Rei begitu saja.


Rei mengepalkan tangannya, dia langsung membuntuti Alvin.


Ketika perawat sudah membawa Yola masuk ke dalam ruangan. Rei buru-buru menghampiri Alvin.


"Siapa wanita itu? Kenapa dalam keadaan seperti ini anda masih bisa memperhatikannya?" Rei mencengkaram kerah kaos hitam Alvin.


"Saya belum ada waktu untuk menjelaskan. Dimana dia?" tanya Alvin sambil melepadkan tangan Rei.


"Ikut saya!" ajak Rei.


"Tunggu!"


"Dimana istri anda? Apa dia tahu anda membantu istri saya?"


"Jelas tahu. Dan dia pasti salah faham. Anda harus bantu saya menjelaskan semua ini kepadanya."


"Apa anda masih menyimpan rasa terhadap istri saya?"


"Tidak lagi. Setelah saya sadar, bahwa istri saya sangat mencintai saya." Tegas Rei.


"Baguslah!" ucap Alvin.


Rei tidak menjawabnya. Dia langsung berjalan menuju kamar Sarah, yang kemudian dibuntuti Alvin.


Diruang rawat Yolanda


Terlihat Dokter Tampan yang memakai kacamata, sedang mengobati luka Yola. Dia memakai sarung tangan lateks dan membersihkan lukanya dengan cairan ncl.


"Sus, tolong pegang ini. Lukanya cukup dalam. Darah terus keluar." titah Dokter kepada suster yang menemaninya. Untuk memegang gunting yang sedang menopang kapas diluka kepala Yola.


Lalu Dokter itu membawa alat untuk menjahit bagian yang luka tersebut. Sedangkan suster membersihkan luka dihidung Yola.


"Pak, apa gadis ini akan marah jika kita membuka cadar dan hijabnya tanpa izin?"


"Dia akan mengerti. Saya juga heran kenapa suaminya malah meninggalkannya." ucap Dokter tampan itu.


"Siapa tahu gadis ini belum menikah. Itu pasti bukan suaminya Dok," Suster meyakinkan.


"Hem. Selesaikan dulu saja ini. Nanti saya cari tahu." ucap Dokter tersebut yang fokus menjahit luka.


Suster itu hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2