
Tring
Video tersebut masuk ke hp Hans
"Azka? Benar-benar. Anak ini baru ngabarin." Spontan Hans yang sedang duduk dimeja kerja, mengambil hpnya yang berada didepannya.
Beberapa menit kemudian
Hans tiba-tiba melotot dan menggebrak mejanya.
"Azka? Siapa orang ini?" Hans langsung menelpon nomor Azka.
Yola yang saat itu, akan bergegas meninggal kan ruangan Azka. Tiba-tiba dihentikan oleh Hans yang menelponnya.
Lalau spontan dia melirik ke arah Azka. Yola mengangkat telponnya, tapi langsung dialihkan ke vc. Hans pun menerimanya. Yola mengarahkan layar hpnya ke arah Azka.
Azka yang melihat, bahwa itu Hans sangat terkejut. Dia lalu menggerakan-gerakan tubuhnya kembali.
"Azka?" Hans tidak menyangka. Yola langsung mematikan VC nya, sambil berlalu keluar. Dia mengirimkan chat kepada Hans yang berisi.
"Tuan Hans,
Angkatlah permintaan VC dari saya nanti malam pukul 20:30 WIB. Nanti, anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Perlu anda ketahui, saya bukanlah penjahat. Jadi, anda tidak perlu khawatir. Azka, Melinda, dan kedua anak anda tidak akan saya lukai." Chat dikirim
"Anda belum tahu siapa saya." Chat dibalas oleh Hans.
Pesan hanya diread oleh Yolanda.
"S*****, beraninya orang ini. Dia tidak tahu siapa saya." ucap Hans. Dia pun langsung teriak memanggil ajudannya.
Yolanda lalu pergi ke ruangn Dewa untuk mencari Devan.
Sementara dilantai atas, Rafael baru saja datang. Dia menyapa ketiga temannya yang menunggu Laura. Setelah itu, Rafael pun masuk.
Dia mendapati Laura yang masih tertidur. Lalu, dia keluar lagi memanggil satu temannya.
"Kenapa, Raf?" tanya salahsatu temannya.
"Gak apa-apa. Kamu temani saya." ajak Rafael. Temannya pun masuk ke dalam.
"Apa Laura sudah makan?"
"Belum. Dia gak mau makan."
"Bawa kesini maknannya! Biar saya paksa. Bagaimanapun dia tidak boleh sakit. Tujuan kita bukan untuk menyiksanya." titah Rafael. Temannya pun keluar lagi, dan membawakan minum serta makanan untuk Laura.
Tak lama kemudian, Rafael membangunkan Laura dengan menepuk pundaknya. Spontan Laura membuka matanya. Lalu menggerak-gerakan kepalanya. Rafael pun membuka kain yang menyumpal mulutnya.
Namun, Laura hanya menatap Rafael dengan tajam. Begitupun dengan Rafel, yang hanya melirik Laura sebentar.
"Minumlah! Kalau tidak, kamu bisa mati konyol." ucap Rafael sambil membuka tutup botol.
"Kali ini aku akan menurutinya. Sepertinya mereka orang baik. Tapi, untuk apa menyekap aku dan keluargaku. Belum lagi Azka." Batin Laura.
Rafael memberikan minum kepada Laura, dan Laura minum hamoir setengah botom. Lalu membuka makanan Laura. Namun, Rafael menengok ke arah temannya.
__ADS_1
"Saya minta tolong, kamu suapi dia." ucap Rafael.
"Sayangnya, saya tidak akan makan. Jika bukan kamu sendiri yang menyuapi saya." ucap Laura dengan matanya yang sinis.
Rafael hanya terdiam.
"Tolong panggilkan Dev!" titah Rafael kepada temannya.
"Makanlah!" Rafael menyuapi Laura.
" Saya sampai miris melihat kamu" ucap Rafael menatapnya.
"Saya hanya akan menghabiskan makananya. Tidak mau mengatakan apapun." respon Laura.
"Tidak masalah. Ada satu pertanyaan, tapi."
"Apa?"
"Apa kamu ingin bertemu dengan papa kamu?"
Laura berhenti mengunyah.
"Jangan sampe kamu bilang. Ini suruhan papa. "
Rafael tertawa.
"Apa yang kamu ketahui tentang papa kamu itu?
"Dia seorang ketua Mafia. Bisa melacak keberadaan seseorang, hanya melalui Hp. Dia banyak pengikutnya dan mereka selalu membawa senjata."
"Mama sangat benci kepada papa. Dia sering bercerita." ucap Laura.
"Oh. Saya harus segera menghubungi Yola. Mau gak mau, kita harus cepat pergi dari tempat ini." Batinnya.
"Aduh," Laura merintih.
"Ada apa?" Rafael yang sedang melamun, tiba-tiba melirik lagi ke arah Laura.
"Saya mau pipis. Bisakan antarkan saya ke Toilet." Laura tersenyum.
"Gak bisa. Pipis saja disini." Rafael memberikan minum kepada Laura.
"Kamu memberikan minum kepada saya. Saya malah semakin kebelet. Aduh, ayolah. Lagipula kamar mandi ada disini kan?" bujuk Laura.
Rafael pun membuka tali sekapan Laura. Lalu, Laura buru-buru ke kamar mandi. Sedangkan Rafael keluar.
"Kunci pintu ini, segera! Dan buang kuncinya! Jangan sisakan tanda-tanda kita pernah kesini." titah Rafael sambil menelpon Devan.
"Apa kita akan meninggalkannya?" tanya satu temannya. Kedua teman yang kainnya, yang satu menatap Laptop yang dari sudah lama dimainkannya. Sedangkan yang satunya menghilahkan jejeak mereka pernahnke tempat itu.
"Tentu." ucap Rafael ke temannya yang sedang menhunci pintu.
"Yah. Devan tidak menjawab telponnya." Rafael kesel.
"Lihat-lihat! Lampunya menyala, berarti ada yang akan ke tempat ini." ucap temnnya yang sedang menetap layar laptop.
"Benar saja (Rafael melihat ke arah Laptop). Ayo kita harus turun sekarang!" ajak Rafael kepada tiga temannya.
__ADS_1
Merekanpun bergegas turun, meninggalkan Laura.
Dilantai dasar
"Kita akan pergi dari tempat ini. Tuan Hans sangat licik. Dia pasti akan mengetahui tempat ini. Dan kamu Dev, tolong saling nomor Hans. Saya akan meninggalkan Hp Azka disini." titah Yola sambil memberikan Ho Azka kepada Devan.
"Kenapa ditinggalkan?" tanya Devan sambil menyalin nomor Hans di hpnya.
"Karena Hans pasti mencari tahu alamat tempat ini dari nomor Azka. Ayolah buruan!" Ajak Yola.
"Oh iya, kamu jangan lupa bawa tali ya, untuk nanti sekap saya." ucap Yola sambil tergesa-gesa untuk menelpon Rafael.
"Hah? Gak salah tuh?" tanya temannya Dev, yang diperinyah Yola.
"Lakukan saja, bro!" ucap Devan.
"Hallo, Raf. Ayo buruan turun!" ajak Yola, yang menelponnya.
"Semuanya tunggu di parkiran! Pastikan semua pintu ruang penyekapan sudah dikunci." titah Rafael yang sedang menuruni tangga.
Tut tut tut
Yola mematikan telponnya.
"Kita semua ayo ke parkiran!" ajak Yola. Yang duluan berlalu. Lalu mereka semua, membuntutinya.
Waktu menunjukan pukul 11:27 WIB
Terlihat masih ada satu setengah tumpukan berkas dokumen dimeja Rei. Sedangkan dirinya, masih fokus dengan kegiatannya.
Dreeet dreeet dreet
Hpnya bergetar, tanda telpon masuk. Dia pun meliriknya.
"Hallo! Selamat siang pak?" sapa Rei duluan.
"Selamat siang. Rei, kenapa chat om gak kamu respon?"
"Oh iya om, maaf. Tadi baru selesai meeting jam 10. Dan sekarang masih sibuk om." ucap Rei.
"Yasudah gak apa-apa Rei. Nanti om kirim alamat restorannya ya! kamu ajak istri kamu ya! Om belum bertemu semenjak kamu menikah."
"Iya om."
"Oke terimakasih Rei." Jonatan mematikan telponnya.
"Haduuuuh. Dia kan masih marah. Bagaimana saya membujuknya? Apa saya harus menelponnya? Huh. Bingung sekali," Rei memegang pelipisnya.
Tring
Jonatan mengirimkan alamat Restaurant ke Rei. Tapi, Rei hanya menatap alamat tersebut.
"Aduh. Coba saya telpon dia deh." Rei mencoba menelpon Yola.
"Waduh, Rei nelpon lagi. Gimana ini? Ah, nanti sajalah." Yola mengabaikan telpon Rei. Karena dia yang sudah berada didalam mobil Rafael, masih dicemaskan oleh keadaan.
"Kenapa dia tidak menjawabnya? Coba sekali lagi deh," ucap Rei.
__ADS_1