
Sore hari di kota Jakarta
Seorang wanita memakai cadar menunggangi kuda. Dia baru saja menaiki kuda tersebut sambil membawa pedang.
Lalu seorang pelatih menintruksikan agar dia pergi ke tengah lapangan.
"Nyonya? Apa anda bisa lihat kuda yang ditunggangi pria ditengah lapangan itu?"
"Tentu saya bisa melihatnya pak."
"Dia membawa pedang. Sepertinya dia pun sedang ada problem seperti nyonya."
"Terus pak?"
"Kalau nyonya mau. Nyonya bisa mengajaknya berperang." Tantang Sang Pelatih.
"Siapa takut. Terimakasih pak." Yola menghentakan tali kuda nya. Lantas kuda itu berlari kencang sampai saat akan tiba ditengah lapangan. Kudanya berjalan pelan.
"Wahai Pria!" Sapa Yola.
Pria yang sangat tampan dan dingin itu, hanya meliriknya. Tanpa menjawab apapun.
"Wahai pria!" Sapa Yola kembali.
Pria itu meliriknya kembali. Lalu memalingkan wajahnya.
"Apa Kau ingin bermain pedang denganku?" tanya Yola sambil membentangkan pedang, kedepan kuda yang ditunggangi pria tersebut.
Pria itu mengeluarkan pedang. Dia menyingkirkan pedang Yola dengan pedangnya.
"Siapa yang nyuruh anda menghampiri saya?" tanya Pria tersebut sambil memasukan pedangnya kembali.
"Tidak ada. Hanya saja Sang Pelatih, menantang saya. Agar saya bermain pedang denganmu."
Pria itu tidak menjawabnya. Dia mendekatkan kudanya ke dekat kuda Yola. Lalu dia menatap tajam Yola.
"Bagaimana?" Yola membuyarkan tatapan pria tersebut.
"Siapa nama anda?"
"Apa anda ingin berkenalan dengan saya, terlebih dulu?"
"Jawab saja!"
"Saya Yolanda."
Pria tersebut tidak berkutik.
"Apa kita akan bermain pedang?" tanya Yola.
"Dengan senang hati." pria tersebut mengeluarkan pedangnya. Lalu Yola yang kaget langsung mundur. Dan menyuruh kudanya agar berlari. Pria tersebut mengejarnya.
Merekapun berperang.
Dipinggir lapangan. Sang Pelatih mengumumkan kepada semua yang ada disana. Agar mereka melihat pertunjukan dua orang yang bermain pedang di lapangan tersebut.
Semua orang bersorak.
"Apa mereka pasutri pak?" tanya Seorang pria yang menuntun kuda kepada sang pelatih.
"Bukan. Spertinya masing-masing dari mereka sedang ada problem."
"Oh. Maaf pak. Apa pria itu seorang CEO?"
"Tentu. Dia anak dari Ali Wijaya. Masih ingat kan?"
"Loh? Pak Ali yang biasanya berolahraga disini? Bukanka dia sudah meninggal?"
"Kamu terlalu banyak tanya. Fokuslah melihat mereka!" Ketus Sang Pelatih.
"Apa dia Alvin Wijaya? Anak tunggalnya?" Pria tersebut masih penasaran.
"Iya. Diamlah! Kamu terlalu banyak berbicara." ucap Sang Pelatih.
"Maaf! Saya permisi!" Pria tersebut berlalu.
__ADS_1
Ditengah Lapang
"Sepertinya anda pria dingin. Apa boleh saya bertanya?" teriak Yola sambil mencoba memboikot pedang Alvin.
"Ya."
"Siapa nama anda?"
"Alvin."
"Alvin? Em. Apa sering kesini?"
"Tentu."
"Kalau saya, dulu dikampung ada lest berkuda. Terus saya ikutan."
"Wanita ini terlalu banyak bertanya. Berarti dia wanita exstrovert." Batin Alvin.
"Apa yang anda pikirkan?" tanya Yola.
"Tidak ada."
"Apa anda sudah menikah?" Yola penasaran.
"Astagfirullah. Saya baru ingat Sarah dirumah." Batin Alvin.
Yola yang melihat Alvin melamun. Langsung mengarahkan Pedangnya kepada Dada Alvin.
Yola pun tertawa.
"Akhirnya. End." Yola memundurka kudanya dan berlalu pergi. Sedangkan Alvin masih melongo.
Semua orang bersorak
"Wah, sepertinya kamu kuda yang sangat cerdik, brown white." Puji Yola. Kuda nya hanya merespon dengan berjalan pelan-pelan.
Namun, tiba-tiba dia teringat Rei. Apa yang dialaminya tadi pagi, benar-benar membuatnya harus move on.
Saat Yola sedang melamun. Tiba-tiba, duk duk duk duk duk. Suara Kaki kuda dari belakang mengejar kuda Yola. Dia spontan melihat ke arah belakang. Ternyata itu Alvin. Karena kaget, Yola yang tidak bisa mengendalikan kudanya hampir terjatuh. Namun, dia masih bisa menahannya.
"Anda tadi bermain licik. Membuat saya lengah terhadap pedang."
"Bukan saya yang licik. Tapi anda yang melamun. Harusnya anda bisa fokus. Faham?" ucap Yola sambil turun dari kudanya.
Begitupun dengan Alvin yang ikut turun. Mereka pun berjalan berdua dengan menuntun kuda.
Semua orang bertepuk tangan.
Dirumah Sakit
Rei yang saat itu mencoba menelpon Alvin terlihat kesal. Terlebih lagi, dia dipanggil terus oleh Dokter.
Dokter ingin meminta persetujuan dari suami Sarah, yaitu Alvin.
Ketubannya yang terus merembes, membuat dia harus diransang agar mulas. Jadi, bayi harus dilahirkan saat itu juga.
"Keluarga Nyonya Sarah?" Panggil Dokter.
Rei langsung menghampirinya.
"Bagaimana pak? Sudah bisa dihubungi?"
"Belum Dok,"
"Kasih saya waktu satu jam lagi Dok?"
"Baiklah. Tapi secepatnya ya pak."
"Atau nggak. Gini aja pak. Bapa tolong jelaskan ke keluarganya. Nyonya Sarah ketubahnya pecah, 3 minggu sebelum hpl. Jadi, dia belum merasakan mulas.
Jadi, kita sarankan untuk meransang mulas tersebut dengan pil yang dimasukan ke rahim. Jika masih tidak mulas, lanjut ke ransangan infusan pertama. Jika masih belum mulas, ke rasangan infusan kedua. Dan terakhir jika masuh belum mulas. Terpaksa, kita harus melakukan operasi Cesar pa." ucap Dokter menjelaskan.
"Ya Allah, Sarah." ucap Rei dalam hatinya.
"Bagaimana keadaan ibu dan bayinya?"
__ADS_1
"Baik-baik saja pak. Kami selalu mengecek detak jantung bayi dan gerakannya selalu kami hitung." Dokter kembali menjelaskan.
"Terimakasih Dok. Saya coba telpon suaminya lagi." ucap Rei sambil berlalu. Dokter hanya mengangguk.
"Sus, dia udah menikah belum ya? Kirain suaminya nyonya Sarah loh." tanya Dokter wanita cantik tersebut.
"Hihi. Kenapa Dok? Tampan banget ya? Apa bu Dokter terkesima?"
"Kalau belum menikah saya mau sus. Hihi."
"Apa bu Dokter hanya melihat dari sisi ketampanannya saja?"
"Nggaklah. Selain tampan, sepertinya dia pria yang baik dan penuh tanggungjawab."
"Mungkin bu Dok, bisa menanyakan statusnya saat nanti bertemu dia lagi." ucap Suster tertawa kuda.
"Yasudah. Saya mau ke ruang persalinan dulu. Nanti kalau udah mau dicek denyut jantungnya, tolong kabari saya ya." titahnya.
"Baik bu dokter." ucap suster yang masih membawa buku dan pulpen.
Ditempat Olahraga Kuda
"Saya duluan Alvin. Senang bertemu dengan anda." ucap Yola membawa tas.
"Oh iya. Hati-hati Yolanda." Alvin jutek.
Saat Yola berbalik badan. Kurang lebih jarak satu meter terlihat ada Revan yang menuntun kuda.
"Kak Revan?" Panggil Yola dibalik cadarnya.
Alvin yang mendengar kata Revan langsung menoleh ke arah Yola.
"Yolanda? Jadi kamu yang bermain pedang tadi?" tanya Revan penasaran.
"Iya kak." jawab Yola sambil mengelus kuda hitam yang Revan tuntun.
"Berarti kamu kenal sama Alvin?" tanya Revan yang juga memanggil Alvin.
"Vin?"
Alvin pun berdiri menghampiri sahabatnya.
"Baru kenal. Sang pelatih menyuruh saya untuk bermain dengannya kak."
"Oh gitu. Ini Alvin sahabat kakak." ucap Revan.
"Kami sudah berkenalan kak." Melirik Alvin sebentar.
Revan dan Alvin hanya tersenyum.
"Kak, aku duluan ya." Pamit Yola.
"Kenapa buru-buru?" tanya Revan. Sedangkan Alvin mengeluarkan kunci mobil dia pun akan pergi.
"Aku ada urusan kak."
"Pulang sama siapa?"
"Ojek online kak. Aku gak pake taksi. Males kena macetnya kak hehe."
"Mau bareng kakak?"
"Nggak usah kak. Udah ya aku duluan kak."
"Baiklah. Hati-hati! Pulang ke rumah jangan malam-malam!" ucap Revan sambil memberikan kuda nya ke pria lain yang baru saja datang.
Yola hanya menganguk sambil berlalu.
"Vin, mau kemana?"
"Mobil. Ambil hp." ucapnya sambil berlalu.
"Kesini lagi kan? Kita belum sempat berbicara."
Alvin yang dingin hanya mengangguk.
__ADS_1