Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
HB


__ADS_3

"Lepasin! Lepasin!" teriak Dewa.


"Tolong panggilkan Security!" titah Revan.


"Hari ini, hari terakhir dia berada disini!" ucapnya lagi.


David yang melihatnya hanya terdiam.


"Dia sempat akan memukul papa van,"


"Aku tahu pah, tapi memukul wajah itu gak boleh. Dan sabar itu lebih baik, ketika kita sedang berkesempatan untuk marah." ucapnya.


"Gak usah munafik lho!" Lepasin gue!" Teriak Dewa dan memberontak.


Buru-buru dua orang security yang sudah datang membawanya keluar.


Dua jam kemudian di Kampus


Saat itu, Yola, Rafael, Devan, Imelda, dan Dimas masih mengobrol diruang kelas. Mereka sedan asyik berdiskusi.


Dreeet dreet drett


Rei menelpon Dimas


Kemudian Dimas keluar dari kelas untuk menjawab telpon tersebut.


"Hallo pak, kenapa?"


"Yola dimana?"


"Waduh. Gak salah bapa nanyain dia? Udah mulai tertarik?"


Rei tercengang.


"Saya mau pulang ke rumah."


"Tumben pak, udah gak mau di Hotel lagi? Udah gak kuat pengen ketemu Yola?"


"Kaaa'mu itu. Tinggal jawab saja dimana Yola?"


"Hem. Masih dikelas."


"Sedang apa?"


"Aduh. Udah mulai cinta ya?" tanya Dimas cengin.


"Ya ampun. Tinggal jawab aja!" Rei kesel.


"Masih mengobrol pak,"


"Apa belum lihat hp?"


"Tuh kan. Saya bilang juga apa. Bapa sudah mencintainya kan?"


"Tinggal jawab aja yeh." Rei makin kesel.


"Belum. Dia masih ngobrol. Pak?"


"Apa?"


"Udah cinta ya?"


Karena gak mau ketahuan, Rei pun ngeles.


"Saya mau pulang ke rumah, ngajak mantan saya." Rei menyunggingkan bibir merasa puas.


"Apaaaaaaah?" teriak Dimas.


Spontan, mereka yang dikelas kaget. Termasuk Yola, yang buru-buru keluar kelas memanggilnya.


"Apa yang terjadi dim?" tanya Yola.


Dimas belum mematikan telponnya, begitupun dengan Rei. Dimas hanya pura-pura menggenggam hpnya.


"Nggak. Coba-coba kamu lihat hp kamu! Disana ada berita viral." Dimas berbohong.

__ADS_1


"Berita apa?"


"Ada Dosen tampan, menikahi janda perawan. Katanya mereka punya anak 3 sekaligus. Tuh Si Dosen benih nya sehat." ucap Dimas meyakinkan.


"Aihh. Ahaha. Ih Dimas. Yang benaraar? Bohong kali." Yolanda malah tertawa.


"Uwahhhaaa haaa." Dimas juga ikutan tertawa.


Sedangkan Rei yang mendengar dibalik telpon, hanya terdiam. Dan mengerutkan kening.


"Coba cek dulu. Hp kamu ! Ada berita" titah Dimas.


"Yaudah yaudah. Habis ini saya pulang bareng Rafael ya." ucapnya sambil berlalu.


Rei yang mendengarnya langsung mematikan hpnya. Sedangkan Dimas langsung melihat hpnya yang dari tadi digenggam.


"Udah dimatiin? Syukurlah pak Rei gak denger tentang benih itu." ucapnya.


Dreett dreet dreet


Dimas menelpon Rei


"Apalagi?" Rei malas menjawab.


"Jangan sekali-kali bawa dia ke rumah! Awas aja ya pak. Saya bisa ngundang bapa di Ring kalau sampe membawanya. Saya tahu bapa lemah." ucap Dimas bangga diri.


"Untuk itu saja kamu menelpon saya?"


"Ya tentu lah. Saya takut bapa beneran membawanya. Bapa kan gak mungkin bercanda." ucapnya.


"Matikan telponnya!"


"Oke pa." Dimas pun mematikan telponnya. Sedangkan Rei, dengan penuh kekecewaan masih menatap layar Laptopnya diruangan Dosen.


Dia menarik nafas dalam dan membuangya. Lalu dia tiba-tiba memegang dadanya, yang kemudian menunduk.


Dikelas, Yola menatap layar hpnya. Lalu dia melihat chat yang dikirim Rei.


"Rei? Tumben." ucapnya dalam hati.


"Saya masih dikelas. Gak bisa pulang bareng. Saya ada janji. Maafya!" balasnya.


"Yola? Yola? Itu" panggilnya.


"Apa sih?" Yola bingung.


"Itu Yol. Sini-sini!" Dimas menarik tangan Yola.


"Kenapa?" Yola semakin bingung.


"Ibu barusan nelpon saya. Katanya Pak Rei dadanya seperti sakit, tapi Pak Rei gak mengatakan apapun." ucap Dimas.


"Haaah? Serius dong? Dimana dia?" Yola panik.


"Ya masih diruangan guru."


"Yaudah. Saya mau ke Rafael dulu. Kamu tolong ke ruangannya. Bilang saya nunggu di Parkiran." ucapnya sambil berlalu.


"Oke oke." Dimas buru-buru pergi menemhi Rei.


Diruang Seni


Terlijat Rafael yang sedang berbicara didepan semua anak-anak seni. Lalu dia melihat Yola yang mengisyaratkan, agar dia menghampirinya sebentar.


"Maafya mengganggu."


"Gak apa-apa yol. Kenapa?"


"Saya ada urusan mendadak. Kamu bisa gak kalau duluan sama Devan ke Markas?"


"Oh itu. Bisa-bisa. Ini juga saya masih ada pertemuan sama anak-anak.".ucapnya serius.


"Yaudah. Nanti kalau ada apa-apa tolong kabari ya!" ucap Yola sambil berlalu.


"Iya." jawab Rafael. Lalu kembali masuk ke ruang seni.

__ADS_1


Diruang Dosen


"Bu? Pak Rei mana?"


"Itu Dim. Coba deh kamu kan dekat sama dia. Ibu kasihan. Dia lagi sakit kayanyah." titah Bu Laila. Dimas pun masuk ke dalam.


"Pak? Apa yang terjadi? Yola dari tadi nunggu bapa diparkiran." ucap Dimas berbohong.


"Sepertinya HB saya turun lagi. Kepala saya pening, pandangan sesekali buram dan gelap gelap. Saya merasa ngap sekali."


"Saya beresin ya pak. Ujian kan udah selesai. Udah bapa periksa aja dulu ke RS ya." ucap Dimas sambil menutup Laptop Rei.


"Kamu duluan aja jalan. Nanti saya nyusul, ini masih jam pelajaran. Dosen lain pasti bertanya-tanya."


"Tapi ibu udah tahu pak."


"Udah jalan. Tunggu diluar ke."


Dimas pun menunggu Rei diluar. Lalu membantunya untuk pergi ke Mobil


Beberapa menit kemudian


Rei sudah berada di parkiran bersama Dimas. Dimas mencari Yola. Sedangkan Rei, dia sudah masuk ke mobil. Duduk dursi sebelah pengemudi.


Diluar, terlihat Yola yang berjalan bersama Imelda. Mereka sedang berbicara dengan serius.


"Yolaandaaaaaa? Buruan yeh!" Teriak Dimas.


Yola tidak menjawab. Dia hanya menghampiri Dimas ke dekat Mobil.


"Mana suamiku, dim?" tanya Yola tersenyum terlihat dari matanya yang menyipit.


"Didalam. Kamu yang nyetir ya!"


"Iya. Makasih ya dim." Tersenyum.


"Yaudah ya mel, aku pergi dulu. Motor aku bawa ke kotsan kamu aja!" titahnya sambil masuk ke dalam mobil.


Didalam mobil


Saat itu adalah waktu dimana mereka dekat kembali, seteoah satu bulan yang lalu.


Yola menyalakan mesin mobil. Sebelum melajukan mobilnya. Tanpa mengatakan apapun. Dia mendekat ke arah Rei yang memejamkan matanya, dengan nafas yang seperti berat.


Lalu Yola menyentuh kening Rei dengan punggung tangannya.


"Gak demam kamu. Tapi, kalau ngap kaya gitu. Biasa jad8 HB nya kurang. Nanti cek dulu yah." ucap Yola serius.


"Gak usah dicek." ucap Rei yang masi memejamkan matanya.


"Kenapa?" tanya Yola sambil melajukan mobilnya keluar Kampus.


"Gak mau. Mau makan yang bikin HB naik aja." ucapnya serius.


"Eh nggak ngggak nggak. Hb kamu harus dicem dulu. Cuma diambil darah doang. Kamu juga tahu kan?"


"Tahu. Tapi gak mau" Rei kekeh.


"Kalau kamu makan yang bikin HB naik. Blm yentu kamu ngap sama pusing karena HB kamu turun. Tahu darimana coba?"


"Tahu lah. Kalau banyak fikiran HB bisa turun cepet." ucapnya kekeh


"Iya tapi harus dicek dulu. Lagi mikirin apa kamu?"


"Dibilang gak mau. Saya mau pulang aja."


"Iya pulang setelah dicek HB nya yah. Atau kamu takut kali diambil darah." Tertawa kuda.


Rei tidak menjawa. Dia membuka matanya.


"Kenapa?" tanya Yola melirik Rei


"Saya gak mau disuntik. Dari kecil saya gak pernah disuntik. Papa sama mama kalau saya sakit, mereka gak rawat saya. Saya dirawat nenek." Rei bercerita seperti anak kecil.


"Oh pantes." Batin Yola.

__ADS_1


"Yaudah yaudah. Beli makan aja sama beli buah ya. Lagian gak mau diurusin sih. Malah pergi-pergian terus. Kaya takut banget kalau kamu dekat saya."


"Saya ngap." Rei menunduk dan menarik nafasnya yang berat.


__ADS_2