
Satu jam kemudian
Rei baru saja datang ke Cafe, dia menghampiri Revan yang sudah duduk menunggunya. Setelah itu, Revan menawarkan minum kepada Rei. Namun, dia meolaknya dan malah melihat jam ditanganya. Dengan beralasan takut kemalaman mencari Yola.
Ditempat lesehan
Yola dan Rafael baru saja selesai makan. Lalu mereka pergi ke parkiran. Kemudian Yola duduk santai diatas mobil bagian depan sebelah kiri. Sedangkan Rafael, dia berdiri menyender disisi kanannya. Sehingga, dianatara mereka ada jarak. Mereka merasakan dinginnya angin malam, sambil menikmati cahaya bulan dimalam itu yang sangat indah dan bersinar.
"Raf? Agama kamu apa?"
"Kristen protestan. Kenapa?"
"Em. Di agama saya, bentar lagi bulan suci ramadan Raf." Sambil menatap bulan. Dia tersenyum dibalik cadarnya. Rafael spontan meliriknya.
"Tatapan kamu ke bulan itu, sangat penuh arti Yol." ucapnya merapatkan kedua bibir tipisnya.
"Tentu Raf. Saya benar-benar merasa dilema saat ini." Yola melihat ke arah Rafael, dengan tatapannya yang sayu. Lalu kembali melihat ke arah bulan itu.
"Kamu boleh cerita Yol."
"Hem. Nanti sajalah Raf, kita selesaikan saja dulu kasusnya. Habis itu, mungkin beban saya sedikit berkurang." ucapnya.
"Baiklah. Saya tidak akan memaksa." Rafael tersenyum dengan terpaksa.
"Yaudah ya Raf, saya harus pulang dulu ke rumah. Semoga Rei gak ada disana." ucapnya sambil masuk ke dalam mobil. Rafael pun masuk mengikutinya.
Saat mobil mereka akan berbelok ke afah jalan raya. Tidak sengaja, Rafael menabraka mobil yang sedang melintas luamaan kencang dijalan tersebut.
Brak
Suara Mobil Rafael menabrak mobil itu pun terdengar.
"Astagfirullah, Rafael! Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Yola kaget. Namun, Rafael hanya meminta maaf. Sambil memundurkan mobilnya. Begitupun pengemudi mobil yang ditabraknya, dia meminggirkan mobilnya.
"Maaf pak. Saya benar-benar tidak sengaja." ucap Rafael.
"Kamu masih muda, mulut kamu seperti bau buah-buahan. Apa kamu habis minum?" Pria itiu menyipitkan matanya.
"Kalaulah saya minum, memangnya kenapa? Tuhan saya akan menebus dosa saya." ucap Rafael.
"Tapi dengan kamu minum, membahayakan keselamatan kamu. Seperti barusan." Pria itu masih merespon dengan santai.
"Hem. Apa bapa pernah minum?"
"Belum. Hanya saja saya tahu baunya."
"Berarti bapa salah. Tak selamanya bau buah itu, miras. Saya tadi memang gak sengaja nabrak mobil bapa. Karena saya buru-buru."
__ADS_1
"Apa saya bisa," pria itu belum selesai berbicara. Tiba-tiba Yola menghampirinya.
"Loh? Kak Revan?" Sapa Yola.
"Loh? Yola ya? Apa ini teman kamu?" Tanya Revan penasaran, sambil melirik Yola yang menggunakan cadar. Sedangkan, Rafael hanya melongo.
Dari belakang, mobil Rei lewat. Karena lihat mobil Revan berhenti. Rei pun memarkirkan mobilnya, tepat didepan mobil Revan. Tanpa disadari oleh mereka bertiga yang mengobrol dibelakang mobil Revan.
"Iya kak. Ini Rafael, teman aku. Kaka kenapa disini?"
"Tunggu! Tunggu! Kakak? Apa maksudnya? Kakak kandung atau gimana, yol?" tanya Rafael sebari bergantian melirik Yola dan Revan.
"Bukan saatnya bercerita. Saya harus pulang, kepala saya sudah terasa pening. Apa sudah selesai Raf?
Kakak, maafya kak. Aku yang nyuruh Rafael buru-buru tadi. Aku juga gak lihat Rafael nabrak mobil kakak tadi. Soalnya aku duduk dibelakang."
"Kepala kamu kenapa, Yol?" tanya Revan.
"Dia kecelakaan, diparkiran tempat olahraga kuda." dengan cepat Rafael menjawab.
"Apa itu benar?" tanya Rei yang baru saja menghampiri mereka. Sontak merekapun kaget. Apalagi Revan, karena ngobrol sampe lupa kalau dia pergi bersama Rei yang gak semobil.
Mereka berdua hanya terdiam, sedangkan Yola langsung pergi ke mobil Rafael. Lalu dia melajukan mobil Rafael dengan cepat. Rei yang melihatnya melotot. Dia langsung pergi lagi ke mobilnya untuk mengejar Yola.
Revan dan Rafael hanya melongo melihat tingkah pasutri tersebut.
Yola menelpon Rafael.
"Kenapa kamu ninggalin saya, YOLANDA?" tanya Rafael kenceng.
"Kenapa kamu bertanya. Dari awal kamu tahu, saya sedang menghindari Dosen kamu."
"Bahkan kamu pun tak mau menyebut namanya (Rafael menepuk jidat, Revan mengerutkan alisnya). Hati-hati bawa mobilnya. Pak Dosen sedang mengejar kamu."
Yola kaget, dia langsung melirik ke arah kaca spion.
"Benar saja Raf. Tolong kasih hp kamu, ke Kak Revan." titahnya.
"Hallo kak? Kak, minta tolong pulang bareng temanku dulu ya. Aku meminjam mobilnya, malam ini saja kak. Terimakasih." Sebelum Revan menjawabnya, Yola langsung mematikan telponnya.
"Apa dia bilang?" tanya Rafael saat Revan mengembalikan hpnya.
"Kamu pulang bareng saya!" ajak Revan sambil berlalu.
Yola menyetir mobil itu dengan sangat kencang, layaknya seorang pembalap.
"Apa hp dia sudah aktif? Sepertinya dia memang menghindari saya. Baiklah!" ucap Rei sambil melajukan mobilnya dengan pelan. Dia hanya mengirimkan chat kepada Yola.
__ADS_1
"Tadinya saya akan mengejar kamu, untuk memastikan keadaan kamu. Sayangnya saya berfikir ulang. Saat saya tahu, ternyata kamu pergi bersama temanmu. Padahal saya nunggu kamu dirumah. Temui saya besok siang!" chat terkirim, centang dua.
Yola menscrool hpnya, dia hanya meliaht isi chat tersebut tanpa masuk ke aplikasinya.
"Saya yakin. Dia tidak akan pulang ke rumah. Saya harus buru-buru kesana." ucapnya lalu dia bergegas pergi ke rumahnya.
Didalam mobil
"Maaf. Boleh saya tanya, pak?" Rafael melirik Revan.
"Silahkan! Saya bukanlah pria dingin. Saya terbuka, kamu gak usah kaku." jawab Revan ramah.
"Apa bapa kerja di PT Raffertyson Investama?"
Revan menengok ke arah Rafael.
"Apa tahu itu dari Yola?"
"Tentu saja. Dia sering cerita. Dia merasa sangat beruntung, punya kakak seperti bapak. Hanya saja, dia tidak pernah menyebutkan bapak itu kakak kandungnya atau bukan."
"Dia wanita yang pemberani."
"Hemm. Bapak menyanjungnya apa naksir, pak?"
"Hem. Tentu saja tidak. Saya sangat menghargai wanita yang sudah bersuami. Dulu dia sering pergi dari ruamhnya, jika ada masalah. Tapi saya melarangnya. Karena seorang istri tidsk boleh keluar rumah, tanpa seizin suami."
"Ya. Tapi dia bilang. Suaminya pernah bilang, jika dia akan pergi. Ya pergi saja, tidak harus izin setiap saat. Dan malam ini pun dia katanya mau ambil baju ganti doang, dia akan menginap di Hotel."
"Apa mereka bertengkar lagi?"
"Tadi pagi waktu saya nelpon, suara dia seperti orang menangis. Benar saja. Dia sedang kesal kepada pak Dosen. Lalu dia menanyakan tempat olahraga kuda. Eh, pas sore dia bertemu saya. Kepalanya udah luka."
"Ehm. Ya. Dia habis bermain pedang menggunakan kuda ditempat tadi. Kami tak sengaja bertemu. Tapi dia pulang duluan."
"Wah? Berarti mungkin ya. Bapak kenal sama Pak Alvin? CEO itu."
"Tentu. Yola bermain pedang sama dia."
"Benar-benar. Tadi Yola cerita banyak tentang itu. Dan yang menyebabkan Yola kecelakaan kan Pak Alvin pak," Rafael pun menceritakan semuanya. Sampai dia melamun.
"Benar. Susah sekali identitas orang ini ditebak. Padahal saya sudah bercerita panjang lebar. Tapi, dia tidak sampe menhinggung tentang keluarganya. Untungnya, kebenaran hanya tinggal diungkap. Semoga tim nya Devan, sudah berhasil membawa Ibu dan kakak, Laura." batinnya.
"Rafael? Ini sudah dikampu merah. Kamu turun disini kan? Kita berbeda arah. Maafya, bukannya saya tidak mau mengantarkan kamu. Tapi, saya akan pergi ke Panti. Gak enak kalau kemalaman." ucapnya.
"Oh iya-iya. Saya turun disini. Terimakasih!" Rafael pun turun. Sambil melamun melihat Kepergian Revan dengan mobilnya.
"Panti? Mungkin, dia akan menemui ibunya." ucap Rafel sambil mengeluarkan hpnya untuk memesan ojek online.
__ADS_1