Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Taktik Cerdas Yolanda


__ADS_3

Dimas duduk dimeja lain untuk menunggu intruksi dari Ricard. Baru duduk sebentar, dia beranjak lagi untuk menemui penjaga warung. Lalu memperlihatkan foto Revan dan Yola. Dan banyak menanyakan tentang mereka. Termasuk menanyakan berapa kali mereka bertemu. Dan penjaga warung itu bilang, bahwa pertemuan mereka kali itu adalah yang ke empat kalinya.


Sedangkan Rei, dia pergi menemui Yola dan Revan. Sebelumnya, dia memesan minuman dulu. Yang lalu membawanya ketika bertemu mereka.


Revan yang baru saja melepaskan tanganya dari bahu Yola. Meminta maaf karena sedikit melamun. Yola yang mengerti memakluminya.


"Ternyata disini." ucap Rei yang tiba-tiba datang.


"Rei?" sapa Yola yang kaget. Kalau Revan dia tidak merasa kaget. Dia hanya melirik Rei sebentar.


"Benar saja, dia memang suaminya." batin Revan.


"Kenapa ?" tanya Rei santai.


"Kamu kesini sama siapa? Kenalin Rei, ini Revan."


Yola tersenyum kepada Revan.


"Dia suami saya."


Revan mengulurkan tanganya. Namun, disambut dengan dingin oleh Rei.


"Senang bertemu dengan anda." ucap Revan tersenyum.


Ricard hanya berdecih.


"Bukannya anda sudah tahu jika dia memiliki suami?"


Revan dan Yolanda saling menatap. Lalu Revan mendekat.


"Lebih dari itu. Perlakuan anda kepadanyapun saya tahu." Revan menatap Rei. Yola hanya terdiam lemas.


"Jadi kamu sudah bercerita banyak kepadanya? Dan kalian sudah sedekat ini?" tanya Rei yang beralih menatap geram Yola.

__ADS_1


"Ya. Namun, kedekatan kita terbatas." Menatap Rei.


"Terimakasih karena kamu sangat menghargai status saya, yang sudah menjadi istri orang."


Beralih menatap Revan dan memberikan kunci mobilnya. Lalu meminta kunci motornya. Sekaligus dia pamit pulang duluan kepada Revan. Dan langsung berlalu meninggalkan mereka berdua.


Ricard yang melihatnya hanya terdiam dengan mimik yang masih kurang suka.


"Dia istri saya. Jangan terlalu dekat!" ucap Ricard dan berlalu mengejar Yola. Revan hanya menautkan kedua alisnya dan menggelengkan kepalanya.


"Yolanda?" teriak Rei yang masih melangkahkan kakinya untuk mengejar Yola.


"Kenapa Rei?" tanya Yola pasrah.


"Kamu pulang sama saya." Rei meminta kunci motornya. Lalu Yola memberikanya.


Diparkiran Rei mengirimkan chat ke Dimas. Agar dia pulang sendiri. Sekalian memberitahukan bahwa dirinya pulang bersama Yola.


Sesampainya mereka digarasi rumah. Rei yan membawa motor langsung pergi meninggalkan Yola. Yola yang saat itu masih berdiri mematung, melihat kunci motor yang masih tertancap. Lalu dia membawanya.


Keesokan harinya.


Saat itu pulang dari Kampus. Yolanda mengantarkan Imel pulang dengan motor R15 nya. Seperti biasanya dia akan pergi ke Pantai. Namun, dia agak merasa aneh dalam perjalananya. Seperti ada orang yang mengikutinya. Karena tidak tenang. Dia berhenti ditempat yang ramai. Lalu menelpon suaminya. Namun, suaminya saat itu masih mengajar. Hpnya di silent. Karena tidak diangkat. Dia menelpon Revan. Sama seperti Rei. Revan yang saat itu sedang meeting bersama papahnya tidak mengangkat telpon Yola. Lalu, Yola menchat Revan dengan mengirimkan nama gmail dan passwordnya agar Revan bisa mengecek keberadaanya lewat aplikasi. Setelah itu, dia melanjutkan perjalanannya.


Saat itu dia tidak jadi pergi ke Pantai. Dia menuju ke arah panti. Dimana, jika akan ke Panti. Dia harus melewati hutan yang panjang, dan jauh dari pemukiman warga.


Benar saja firasat Yola. Bahwa saat itu, dirinya sedang diikuti oleh salahsatu mobil berwarna hitam. Semakin kencang dia melajukan motornya, semakin kencang juga mobil itu mengikutinya.


Beberpaa menit kemudian, tepat ditengah-tengah hutan. Yola yang belum melihat mobil yang mengikutinya, buru-buru memberhentikan motornya, dan mengambil jaket yang terisi pistol dengan peluru yang full.


Flashback On


Saat itu, tiga hari selama dia berada di Panti Asuhan. Dia diajak Revan untuk pergi ke salahsatu Restoran yang tidak terlalu besar. Namun, ramai pengunjung. Dia pergi dibonceng Revan, menggunakan Motor R15 miliknya. Saat mereka tiba di Restoran tersebut. Disana banyak sekali Polisi yang sedang makan saat istirahat siang. Ada yang sudah selesai, ada juga yang belum. Waktu itu, Yola memilih untuk duduk dimeja paling belakang. Sedangkan Revan, dia masih memesan makanan. Ketika Yola sudah duduk dikursi meja tersebut. Tiba-tiba sepatunya terasa menyenggol sebuah benda. Karena penasaran, Yola pun melihatnya. Alangkah terkejutnya, dia melihat pistol yang tergeletak. Dia mengecek pistol tersebut dibawah meja. Terlihat dipistol tersebut full peluru. Karena merasa pemiliknya sudah pergi dan tidak menyadari pistolnya terjatuh. Disana juga tidak ada cctv. Yola pun membuka jaket tipisnya lalu memasukan pistol tersebut kedalam saku jaketnya. Kemudian, jaket itu dilipat kecil. Dan dia bergegas keluar untuk menyimpan jaket itu dijok motornya."

__ADS_1


Flashback Off.


Jaket yang dia pake disimpan dijok motornya, dan diganti dengan jaket yang terdapat pistol. Lalu, dia kemali melajukan motornya buru-buru. Karena dia melihat mobil yang mengikutinya sudah terlihat.


Didalam mobil tersebut, terdapat dua orang pria. Satunya menyetir, dan satunya mengamati pergerakan Yola sambil mencoba menghubungi seseorang.


"Hallo tuan. Saya sedang mengikuti motor yang dimaksud."


"Bagus. Ikuti terus. Dan skap gadis itu, lalu bawa ke markas." ucap Dewa yang saat itu akan masuk ke dalam lift.


Tidak sengaja, Revan yang baru selesai meeting mendengar percakapanya dibalik lift yang akan dimasuki Dewa. Lalu, dia langsung menyuruh orang untuk mengikuti kemana Dewa akan pergi. Selain itu, dia yang juga melihat chat dari Yola sangat kaget. Namun, dia berusaha tenang dan langsung memasukan gmail dan password yang Yola berikan ke aplikasi pencarian perangkat.


Yola yang saat itu, penasaran dengan mobil yang mengikutinya. Dia mendadak berhenti, lalu mengeluarkan kertas dan pulpen. Dia menuliskan nomor hp Ricard dan pesan yang berisi,


"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon saya? Saya diikuti oleh orang yang tidak saya kenal. Mereka mengikuti saya menggunakan mobil."


Kertas itu, dia simpan disela-sela rantai motor. Lalu dia sengaja pura-pura memeriksa motornya. Padahal dia mencopot kunci motor dan menggembok jari-jari motornya.


Mobil yang mengikutinya berhenti.


Merasa ada yang memperhatikanya. Yola berdiri dan berlari. Namun, dia sengaja pura-pura jatuh. Dan pura-pura pingsan melihat mereka. Kedua orang tersebut langsung mendekatinya dan membawa Yola masuk ke mobil. Yola yang tahu dirinya diculik, menyimpan hpnya dibawah jok mobil. Dan mengaktifkan perekam suara. Lalu dia pura-pura pingsan kembali.


"Tuan menyuruh kita langsung membawa dia ke markas." ucap pria yang tadi menelpon Dewa.


"Ya saya tahu. Oh iya. Kenapa Tuan selalu berusaha mengingkirkan orang yang dekat sama anaknya Tuan Direksi? Sebenarnya saya takut kerjasama sama dia. Kasus pembunuhan Non Salma pun masih belum terungkap. Bagaimana jika kasus penculikan sekarang dan pembunuhan itu sampai terungkap. Matilah kita." ucap pria yang membawa mobil.


"Tuan Direksi yang mana?"


"CEO PT Rafertyson Investama lah. Tuan David."


"Ntahlah. Kita ikuti saja dulu perintah Tuan."


Yola yang mendengarnya sangat shok. Dan heran. Lalu dia buru-buru mengirim pesan suara tersebut kepada Revan. Namun sayangnya, dihutan jaringan dihpnya tidak ada sinyal. Diapun kembali menyimpan hpnya dibawah jok mobil itu. Tidak lupa. Dis mensilent hpnya.

__ADS_1


__ADS_2