
3 Jam Kemudian, Waktu menunjukan pukul 14:30 WIB
Di Restaurant Mewah, terlihat Rei yang seperti gelisah. Dia sedang berbicara dengan Jonatan dan Asistantnya.
"Bagaimana dengan istri kamu? Apa tidak jadi kesini? Sebentar lagi istri Om sampe Rei" ucap Jonatan
"Belum bia dihubungi Om, terakhir bilang dia hari ini ada ujian english." Rei menatap hpnya.
"Oh gitu, kamu satu kampus kan sama dia?"
"Iya om."
"Papah?" Seorang wanita yang berusia 40 tahun itu memanggil Jonatan.
"Mah?" Panggil Jonatan, lalu dia lanhsung mrmeluk istrinyam Rei dan Asistantnya hanya ikut berdiri menyambutnya.
"Pak maaf, nyonya kan sudah sampe. Saya pamit ke kantor lagi." ucap Asistantnya.
"Iya iya, hati-hati!" ucap Jonatan. Asistantnya pun berlalu, sambil menepuk lembut pundak Rei dan mengucapkan pamit.
"Rei? Kamu makin tampan aja." puji istri Jonatan.
"Terimakasih tante," Rei tersenyum.
Disisi lain, Yola sedang berada didepan cermin. Dia berada dirumah Rafael. Dia sudah bersiap untuk pergi ke Restaurant. Lalu, menatap layar hpnya.
"Oke. Untung aja tempatnya, hanya 10 menit dari sini. Dekat juga. Emang rumah-rumah elit sih." ucap Yola. Lalu dia langsung memasukan hp ke tas nya.
"Raf? Saya pergi sebentar doang kok. Habis itu saya langsung bertemu Dimas dan Bu Laila yah."
"Mau pergi sama siapa? Saya anterin ajalah" ucap Rafael. Namun, Yola hanya melirik ke arah Devan yang sedang melihat layar Laptop bersama teman-temannya.
"Serius amat. Ngapain Dev?" tanya Yola.
"Lihat video penyekapan kamu tadi, Yol. Udah kamu sama Rafael aja biar gak lama." ucap Devan.
"Hemm baiklah. Maafya Raf, jadi ngerepotin." ucap Yola.
"Santai, ayo!" ajak Rafael.
Di Restaurant, mereka bertiga baru saja memesan makanan sambil mengobrol.
"Kamu gak jadi kuliah lagi Rei?"
"Nggak tan, belum kepikiran."
"Mah, kesibukan Rei gak hanya Dosen. Dia juga kan CEO Hotel."
"Loh? Kenapa baru bilang pah?"
"Tadi kan bahas rumah tangga mah," ucap Jonatan. Rei hanya tersenyum.
"Gimana tuh Rei rasanya? Hotel papa kamu dari awal opening rame terus loh Rei, walaupun harganya tinggi."
"Gimana gak tinggi mah, Hotel mewah Jakarta." puji Jonatan.
"Lelah tan. Kadang hari libur mengajar, dipake untuk pergi kesana. Dua minggu gak kesana aja, pasti Dokumen numpuk kaya sekarang."
"Berarti habis dari sini kamu langsung ke kantor lagi?"
"Iya tan."
"Harus sabar Rei. Ingat jangan ngeluh! Namanya seorang suami. Harus bekerja keras untuk memenuhi tanggungjawab. Selain kepada istri, tapi kepada orang tua juga."
__ADS_1
"Betul om."
"Terus ini, Istri kamu gak jadi kesini gak?" Lagi-lagi pertanyaan itu kembali dilontarkan istrinya Jonatan.
Yola yang baru saja sampe, sedang celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya. Tiba-tiba dari belakang. Seorang anak kecil yang berusia hampir 3,5 tahun itu berlari. Lalu dia, memeluk Yola.
"Mama takut dikejar suster mah" ucap anak laki-laki itu sambil memeluk Yola dari belakang dengan erat.
"Hah? Mama? Siapa ini?" Batin Yola dan kaget mengrutkan matanya.
Lalu seorang suster berjalan dengan sedikit berlari sambil ngos-ngosan.
"Aduh, Anatasya. Jangan berlari! Kamu mau cari oma? Maafya bu," ucap Suster itu sambul tersenyum ke arah Yola.
"Gak mau. Jangan pegang!" ana kecil itu teriak sambil menangis.
"Yasudah. Jangan menangis sayang! Ayo mau ke oma" ajak Yola menatap anak kecil tersebut. Sambil tersenyum ke arah Suster.
"Aduh, maafya bu. Anaknya sedikit manja." ucap Suster.
"Gak apa-apa suster. Kenapa sayang?" tanya Yola menatap anak kecil yang sedang menatapnya.
"Tante bukan mama?"
"Hehe nah pintar kan kamu. Tante bukan mama mu sayang,"
"Mama keja tante. Aku tadi kcini sama oma. Tapi aku dilual main sama custel."
"Wah pintar banget massya allah."
"Kenapa tante pake maskel tlus?" Anatasya melihat cadar yang dikenakan Yola.
"Ini bukan masker sayang. Ayo kr oma yuk!" ajak Yola menggendongnya. Lalu Anatasya hanya terdiam, sambil menatap terus Yola.
"Dimeja nomor berpa tadi ya?" Suster celingak-celinguk mencari mejanya.
"Oh itu, itu disana bu. Ayok." Suster tidak menunjukan dimana mejanya, dia langsung berjalan dan dibuntuti oleh Yola.
"Ya Allah. Besar sekali tempat ini." batin Yola. Sambil terus berjalan.
"Omaaa?" Teriakan anak kecil itu, dibarengi dengan dikagetkannya Yola dengan keberadaan Rei. Begitupun dengan Rei yang melihatnya. Terlihat Rei yang penasaran, dia mengerutkan alisnya.
"Yola atau bukan ya?" tanya Rei dalam hati.
"Hah? Berarti anak ini, cucu nya. Rei? Haduh gimana ini? Malu sekali." batin Yola.
"Sus, kenapa ana?"
"Tadi nyariin nyonya, terus langsung lari ke dalam." ucapnya.
"Mau es clim opaa"
"Aduh. Sama Suster ya sayang. Tadi kan main sama suster. Sambil main lagi sana, mam es cream nya." Jonatan merebut Ana dari istrinya. Dsn menyerahkannya ke Susternya.
"Tuh. Pintar kan cucu opa?" Sambil mencium anatasya. Suster pun membawa lagi anatasya untuk memesan ez cream.
Yola dan Rei saling menatap.
"Maaf, tadi itu cucu saya mbak." ucap istrinya Jonatan sambil tersenyum.
"Iya gak apa-apa" Yola tersenyum dan melirik Rei. Karena mengetahui itu Yola, dari suaranya. Rei pun langsung berdiri menyambut Yola dan membentangkan tangannya. Sedangkan, Yola hanya tertawa.
__ADS_1
Ilustrasi Yola
"Jangan pelukan disini!" Yola hanya menarik tangan Rei dan menciumnya.
"Assalamu'alaikum suamiku. Maaf telat ya!" ucap Yola.
"Wa'alaikumsalam. Duduklah sayang" ajak Rei sambil duduk. Namun, Yola menghampiri istrinya Jonatan.
"Waduh. Sayang? Andai, ini semua bukanlah akting." Batin Yola.
"Tante? Saya Yolanda, istrinya Pak Reicard." Yolanda mengulurkan tangannya. Lalu langsung disambut oleh istrinya. Mereka pu pelukan. Sedangkan Jonatan masih seperti orang kebingungan.
"Wah. Kamu pasti cantik bagnget deh, maafya dulu tante sama om gak dataeng ke nikahan kalian."
"Gak apa-apa tan. Hari ini kita bertemu pun sudah senang, jadi punya keluarga baru." Yola terawa kuda. Lalu, dengan sengaja istrinya Jonatan meraba perut Yola.
"Apa kamu sudah ngisi?" masih memegang perut Yola.
"Belum tante," Yola tersenyum.
"Tidak apa-apa. Dulu tane juga gak kb. Tapi dikasih anaknya, saat pernikahan udah setahun. Ayo duduk Yol." sambil mengelus perut Yola
"Aamiin" ucap Yola. Rei hanya terdiam kikuk.
"Om?" Yola tersenyum kepada Jonatan dan langsung duduk.
"Oh iya iya. Waduh, malah saya yang kebingungan (Jonatan sedikit tertawa) kok bisa ya? Kebetetulan Yola membawa Ana?" Jonatan heran.
"Ah papah. Ana kan memang kaya gitu. Ke setiap orang minta digendong." ucap istrinya tersenyum.
Yola tanpa sadar, memegang tangan Rei. Dan Rei meliriknya.
"Tangannya dingin sekali. Apa dia gugup?" batin Rei. Namun, tetap membiarkan tangannya digenggam Yola.
"Rei, istri kamu lembut sekali yah." Puji istrinya Jonatan.
"Terimakasih tante," jawab Rei sedangkan Yola hanya mengangguk.
"Udah selesai ujiannya?" tanya Jonatan.
"Oh udah om. Maaf om, jadi telat datangnya."
"Dari jam 10 pagi om selesainya" batin Yola.
"Gak apa-apa. Nanti kita ngobrol lagi, makan dulu yah!" ucap Jonatan. Karena Pramusaji udah datang.
"Kamu pesan juga cantik." titah istrinya Jonatan.
"Iya tante." ucap Yola.
"Mas, jus mangga yah! Jangan pake susu!" titah Yola.
"Baik bu." ucap Pramusaji sambil berlalu.
"Kok gak makan? Kenapa?"
"Tadi keburu lapar om. Jadi, makan bareng teman-teman." ucap Yola.
"Oh gitu." Jonatan mengangguk.
"Kalau gitu, kamu suapin aja suami kamu!" Goda istrinya Jonatan.
"Pasti tan. Rei kalau gak disuapin mana mau makan." ucap Yola geli, sambil menyiapkan makanan untuk Rei.
__ADS_1