Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Penculikan Azka


__ADS_3

Di Italia


Hans, yang berusia hampir 45 tahun itu. Terlihat gagah dengan pakaian dan kacamatanya. Wajahnya yang sangar dan gagah, sangat memperlihatkan bahwa dia seorang Mafia.


Dia terlihat sedang berbicara menggunakan bahasa Italia, dengan Mafia Italia.


"Scusa fratello. È stato il nostro accordo fin dall'inizio. Sarei dovuto restare qui altri due mesi. Ma volevo davvero incontrare mia figlia, che era scomparsa dall'infanzia. E solo pochi giorni fa ho avuto la notizia che era stato ritrovato. Spero che tu capisca mio fratello."


Artinya:


"Maaf suadaraku. Sudah menjadi kesepakatan kita dari awal. Harusnya saya disini masih dua bulan lebih lagi. Tapi saya sangat ingin bertemu dengan putri saya, yang sudah dari bayi menghilang. Dan baru beberpa hari kemarin saya dapat kabar bahwa dia sudsh ditemukan. Saya harap anda mengerti saudaraku."


"Non l'hai già detto? non hai bisogno di dire altro. Ricordare! non farmi contattare, non rispondi. la nostra attività illegale è di nuovo disprezzata" jawab Mafia Italia tersebut, sambil menandatangani berkas itu. Yang kemudian diserahkan kepada Ajudannya.


Artinya:


"Bukankah anda sudah mengatakan itu? anda tidak perlu mengatakannya lagi. ingat! jangan sampai jika saya menghubungi anda, anda tidak meresponnya. Bisnis ilegal kita ini lagi banyak dimusuhi."


"Va bene! se è così ti saluto. non ho molto tempo. l'aereo parte tra poco. Devo essere puntuale." ucap Hans sambil tersenyum.


Artinya:


"Baiklah! kalau begitu saya pamit. saya tidak punya waktu yang lama. pesawat sebentar lagi berangkat. saya harus tepat waktu."


"Tua figlia deve essere bellissima. portagli i miei saluti." Mafia itu tersenyum. Sedangkan Hans menganggukan kepalanya.


Artinya:


"Putrimu pasti cantik. Sampaikan salamku kepadanya."


Lalu Hans dan Mafia tersebut berdiri. Diikuti oleh para bodyguard dan puluhan anggotanya yang memakai pakaian serba hitam.


Hans kemudian pergi bersama satu asistantnya, meninggalkan Markas Mewah Mafia tersebut.


Ditempat lain


"Lepaskan saya! Siapa kalian?" ucap Azka, ketika dirinya sudah sadar. Tangannya sudah diikat ke belakang dan digiring masuk ke Markas oleh Devan dan temannya.


"Hey? Kenapa kalian diam saja?" Azka kesal.


"Berisik sekali kau, penghianat!" ucap temannya Devan.


"Siapa penghianat? Katakan siapa yang menyuruh kalian?"


"Kamu tidak usah banyak bicara! Kamu akan bertemu dengan seorang wanita cantik, didalam." ucap Devan.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Sudah saya katakan, jangan banyak berbicara!"


Devan dan temannya membawa Azka ke Rafael.


"Ini bos! Orangnya!" Temannya Devan menyerahkan Azka ke Rafael.


"Kenapa kalian tidak menelpon saya? Saya tidak akan menyatukan pria ini dengan pacarnya." ucap Rafael.


"Maksud kamu apa?" tanya Azka kaget.


"Ikatkan kain ke mulutnya! Saya tidak suka, jika dia terus berbicara. Dan tolong ambilkan hp yang menyimpan foto wanita itu." titah Rafael.


Devan pun ke dalam, dia lalu membuka kain yang menutup mulut Laura. Sontak Liara berteriak.


"Tolooooooong! Tolong aku Azka! Aku tadi dengar suara kamu. Tolong aku!"


Diluar, Azka hanya menggerak-gerakan tubuhnya memberontak.


Sedangkan, Devan mengambil video Laura.


"Katakan! Apa yang ingin kamu katakan kepada pacar kamu!" ucap Devan.


"Jangan lukai dia!" ucap Laura.


"Kamu gak perlu banyak tanya, bereng***. Lepaskan dia!"


"Kamu berfikir jika saya melepaskan dia, terus dia akan membebaskan kamu?"


"Mana bos kamu? Apa yang sebenarnya dia mau?" Tatapan Laura sinis.


Devan tidak menjawabnya, setelah dia mgambil videonya. Dia menutup kembali mulut Laura. Lalu keluar dan memberikan video itu kepada Rafael.


Video itu ditunjukan kepada Azka. Sedangkan Hp Azka sudah berada ditangan Rafael, setelah temannya Devan mengambil hp disaku celannya.


"Waktunya sudah habis. Anda mencintainya? Kalau iya. Tolong buka password hp ini." ucap Rafael mematikan hp yang beriai video tersebut. Lalu mengarahkan hp milik Azka, untuk dibuka passwordnya.


Azka tidak mau membukanya.


"Baiklah! Habisi wanita pembunuh itu! Jangan lupa kamu video Dev, agar Ibu dan Kakaknya yang belum tertangkap melihatnya." tegas Rafael. Sedangkan, Azka menggerak-gerakan tubuhnya. Ketika Devan akan berlalu,


"Tunggu! Sepertinya pria ini akan membuka paswordnya!" ucap Rafael mengarahkan hp itu ke Azka. Azka hanya mengedipkan matanya yang kemudian hp itu bisa terbuka.


Agar mudah dibuka saat akan dipakai. Rafael langsung mengatur hpnya dengan menonaktifkan password.

__ADS_1


"Bawa pria ini ke lantai bawah! Ingat! Jangan seperti di sinetron! Jangan sampe orang yang kita skap bisa melarikan diri!" titah Rafael mewanti-wanti.


Beberapa menit kemudian, Yolanda bertemu dengan Devan dan temannya di Lantai bawah. Buru-buru mereka mendekat ke arah Yola.


"Siapa didalam, dev?"


"Azka.


Tungu yol, apa yang terjadi? Kenapa kepala kamu?"


"Jangan banyak tanya dan khwatirkan saya Dev. Ini hanya kecelakaan biasa. Dimana Rafael?" tanya Yola yang seperti kecapean.


"Yol? Pucat sekali kamu. Apa belum makan?"


"Belum Dev. Udah ya! Saya harus menaiki tangga dulu."


Ketika Yola akan berlalu, tiba-tiba Rafael menelpon.


"Raf, kamu nelpon juga. Saya udah dilantai bawah. Sudah bertemu Devan." Yola kembali membuka maskernya.


"Jangan naik! Tunggu dibawah! Saya akan ngajak kamu pergi, untuk mengurus si Mafia." ucapnya mematikan telpon. Yola mengeluarkan nafas panjang, terlihat jelas bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana kata Rafael?" tanya Devan.


"Saya dan dia akan pergi keluar, untuk mengurus si mafia." ucapnya sambil menyender ditembok.


"Sepertinya kamu sedang banyak fikiran, yol."


"Tentu. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan dia, dev." ucap Yola.


"Owh. Pak Reicard. Gak usah difikirin. Kalau dia gak cinta, udah tinggal move on." Devan menyender disebelah Yola.


"Hem. Cukup lelah dev, ngejar orang yang gak cinta sama kita tuh. Saya kalau udah cinta sama seorang, susah berpaling dev. Obatnya cuma ada satu."


"Apa tuh?" Devan penasaran.


"Mencintai orang lain lagi. Dan saya nyaman bersamanya." ucap Yola.


Devan dan Yola saling menatap. Spontan mereka tertawa.


"Yol. Padahal dulu Imel pernah bilang, sebelum kita putus. Saat itu, kita lagi membahas pernikahan. Terus kata dia, kalau di islam itu. Ada yang namanya menundukan pandangan. Terutama untuk yang sudah menikah, masing-masing dari pasangan tersebut. Tidak boleh melirik wanita atau pria lain. Terus saya tanya, apa manfaatnya? Kata dia. Sesungguhnya nafsu seorang manusia itu tidak akan pernah puas. Ketika mereka sudah mendapatkan yang diinginkanya. Mereka ingin mendapatkan yang lain juga. Sama halnya dengan seorang wanita yang suda menikah, kalau dia tidak menundukan pandangan terus melihat ada pria yang lebih tampan dan mapan dari suaminya. Maka dia juga menginginkanya. Begitupun pria, ketika melihat wanita yang lebih cantik dan body nya bagus diapun akan menginginkannya. Nafsu kalau sudah tidak bisa dikendalikan, maka fikiran akan lupa terhadap apa yang sudah dimiliki." ucap Devan.


"Apa yang Imel katakan memanglah benar Dev. Terus kamu sendiri bisa move on dari Imel gimana ceritanya?" Yola melirik Devan.


"Boro-borooo Yol, saya bisa move on. Hati ini masih tertuju kepadanya." ucap Devan menghela nafas. Spontan Yola tertawa.

__ADS_1


"Harus bersyukur! Memiliki pasangan yang bisa menjaga hati dan pandangannya ya Dev,"


Devan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu Devan pergi naik ke atas, menggantikan posisi Rafael. Tidak lupa, dia dia menelpon tim nya yang masih dikampus. Untuk berjaga menemani satu orang temannya yang menjaga ruangan Azka.


__ADS_2