
Saat Yola sedang fokus menatap layar hpnya. Tiba-tiba dua orang Biduan datang ke toko itu. Mereka sangat riweh menanyakan merek hp terbaru. Yola hanya tersenyum ramah melihatnya. Dia yang merasa lapar pergi membeli baso. Paperbag nya dititipkan ke penjaga toko tersebut.
Beberapa menit kemudian. Saat Yola sedang memakan bakso. Dia ditelpon oleh Revan. Dia yang kaget tidak menghabiskan baksonya. Lalu pergi ke Toko tersebut lagi untuk mengambil paperbagnya. Dia yang terburu-buru salah mengambil paper bag. Yang dia bawa ialah paperbag milik salahsatu Biduan. Namun, Biduan yang sedang asyik mengobrol dan Yola yang langsung pergi tidak menyadarinya. Dia pergi ke dekat pinggir jalan. Rei sengaja hanya melihat Yola dari kejauhan.
Baru beberapa menit Yola berdiri dipinggir jalan. Revan datang. Belum Revan turun. Dia langsung mengetok kaca mobil.
Tuk tuk tuk
Revan membuka kaca mobil.
"Kak, gak ada orang yang ngikutin kan?"
"Gak ada." Revan berbohong.
"Yaudah. Kak, maaf. Kunci tempat rahasia itu mana?"
"Untuk apa? Jangan gegabah! Kamu baru saja kena problem jangan tambah problem yang lain dulu. Kalau ketahuan suami kamu, nanti repot."
"Please!" Yola memohon.
"Baiklah!" Revan memberikan kunci tersebut. Yola memasukanya ke dalam paper bag.
"Terimakasih. Maaf saya harus pergi kak." ucap Yola sambil berlalu dan memberhentikan angkot.
"Yolaaaa?" Teriakan Revan tidak didengar Yola yang sudah pergi untuk mencari Hotel.
Ricard yang melihatnya hanya menautkan alisnya. Lalu dia melajukan mobilnya mendekati mobil Revan. Dia turun dan menghampiri Revan.
"Dia sudah pergi. Terimakasih sudah membantu."
Reva mengangguk.
"Anda akan pergi kemana?"
"Ke kantor Polisi. Motor yang dipakai Yola udah dibawa kesana."
"Baiklah! Saya duluan."
"Oke."
__ADS_1
Malam hari di kota Jakarta.
Terlihat Rei sedang berada ruang rahasianya. Dia melihat beberapa lembar kertas yang dipegang oleh kedua tanganya.
"Kasus ini, masih belum terungkap. Identitas Revan sangat sulit diketahui. Dia seperti pria baik yang penuh rahasia. Jadi mulai sekarang, saya harus mengikuti kemana Laura pergi. Identitas Revan harus saya ketahui." ucap Rei sambil menyimpan lembaran kertas itu.
Kemudian, dia melihat foto yang dipajang dimejanya. Foto dirinya sedang memeluk mantan kekasihnya di perahu.
"Kita sudah berpisah. Memang bukan jodoh. Harusnya saya dari dulu menjadi mualaf dan menikahi kamu. Sayang sekali, itu semua terlambat. Kenapa ya? Saat sekarang kamu sudah bahagia bersamanya, saya masih saja mengingat kamu. Jujur, rasa saya pada kamu belum berubah. Dan pasti, saya masih mencintai kamu." Menatap fotonya dan mengusap-ngusapnya. Kemudian, foto itu disimlan kembali.
Saat dia akan beranjak pergi. Tangannya menyenggol beberapa kertas. Saat dia membereskannya. Terlihat, selembar pernikahan dirinya dengan Yola. Saa itu, Yols menggunakan cadar. Terlihat dari matanya dibalik cadar itu dia tersenyum bahagia. Disebelah kanan ada orang tua Yolanda. Sedangkan, disebelah kiri ada orang tuanya.
"Mama dan papa terlihat sangat bahagia, melihat saya bisa menikah sama kamu. Namun, apa jadinya jika mereka tahu problem dipernikahan kita sekarang. Sungguh, saya sangat minta maaf." ucapnya dalam hati.
Lalu foto itu disatukan dengan foto dirinya dengan mantanya tadi. Foto itu disimpan dipaling depan. Namun, tidak menghalangi foto yang ada dibelakangnya. Karena foto itu 2 cm lebih kecil. Setelah itu, dia keluar dan mengunci pintu tersebut.
Tuk tuk tuk
Suara pintu kamarnya diketuk oleh Pak Maman. Lalu dia membukanya.
"Pak? Tumben. Ada apa?"
"Maaf dhen. Apa non Yola sudah pulang?" (Pak Maman tidak tahu, kalau Ricard dan Yola belum satu kamar. Yang tahu hanya bi Lea)
"Tadi bibi pamit pergi ke saudaranya pak. Katanya dia lagi gak enak badan. Mau izin ke adhen tapi tadi lagi pergi."
"Hem. Gak apa-apa pak, semoga bibi cepat sembuh. Saya kirim nomor Yola ya. Nanti bapa telpon dia. Kasih tahu aja bibi lagi sakit."
"Baiklah dhen. Saya permisi."
Nb: Pak Maman sebenarnya heran. Kenapa tidak Rei langsung yang memberitahukannya kepada Yola. Tapi, Pak Maman gak mau banyak bertanya. Terlebih lagi dia tahu sifat majikannya yang tertutup.
Di Hotel Jakarta yang tidak terlalu mewah. Yola saat itu, sedang merebahkan dirinya menatap langit-langit kamar itu.
"Jujur Ya Allah. Aku sangat cape. Cape banget. Namun, aku lagi-lagi selalu teringat atas apa yang pernah aku lakukan kepada orang tua ku. Sampai kapan ini? Sebenarnya aku sangatlah bingung, posisi aku sekarang seperti wanita single tanpa suami. Kenapa aku yang harus mengejar cintanya? Kenapa hati dia masih belum luluh juga? Ini udah 4 bulan lebih aku menikah sama dia. Bagimana jika nanti mama Amanda dan Papa Alex, tiba-tiba menanyakan cucu. Aku harus bilang apa? Kalau Ayah dan Ibu ku, tidak terlalu aku hiraukan. Karena mereka tahu, aku masih kuliah. Mereka mungkin berfikir, aku dan Ricard menunda kehamilan sampai aku tamat kuliah. Padahal nyatanya? Apa?" ucapnya dalam hati.
Kring kring kring
Revan tiba-tiba menelponnya. Yola langsung menjawabnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum kak. Kenapa?"
"Wa'alaikumsalam. Kamu kenapa gak pulang sih? Kan udah saya bilang urusin suami kamu."
"Hem. Kok tahu sih, aku gak pulang?"
"Tahulah dari perangkat kamu."
"Besok aku pulang. Kalau dia berangkat ngajar."
"Jangan seperti itu. Pulang malam ini!"
"Kenapa kekeh sih?"
"Bagaimanapun dia suami kamu. Apapun problem dirumah tangga kalian, harus bisa dihadapi. Tapi bukan dengan cara, kamu jarang pulamg ke rumah seperti ini."
"Tapi seminggu yang lalu, kan kakak tahu. Saya dirumah, malah dia yang keluar rumah."
"Status dia suami kamu. Kamu harus bersikap adil. Kamu itu seorang istri, harus mampu memposisikan sesuatu pada tempatnya."
"Maksudnya gimana kak?"
"Marah boleh, kecewa boleh, cemburu juga boleh. Tapi ingat, tempat tinggal istri itu tetap dirumahnya. Walaupun suaminya tidak ada dirumah."
"Oh gitu ya. Pernah dengar sih, selewat doang. Tapi kok kakak bisa tahu sih? Tahu darimana coba, ilmu rumah tangga? Kakak kan belum menikah. Suamiku yang udah menikah, tidak mengajari aku. Ehh hhe. Maaf."
"Iya gak papa. Kamu kan pernah bilang. Ortunya Rei di Jerman kan, udah bertahun-tahun? Kalau Papa dan Mama saya kan ada disini. Tiap hari ketemu papa, sharing bareng. Mama juga yang seminggu sekali dikunjungi, kan kalau bertemu sharing juga. Ngasih banyak ilmu. Kalau Rei, mungkin saja tidak dekat dengan ortunya. Kamu harus husnuzan. Ingat itu suami kamu."
"Iya ih. Suami suami terus. Terimakasih kakak ilmunya."
"Kakak? Sering banget kamu panggil saya kakak. Tapi benar nganggap saya kakak?"
"Masa iya bohong sih?"
"Yaudah. Kamu saya anggap adik deh. Tapi kamu harus nurut ya."
"Iya nurut deh."
"Yaudah. Ini baru jam 8 tolong pulang sekarang. Saya gak mau tahu. Selamat malam!" Revan mematikan telponnya.
__ADS_1
"Iiiiiih. Yaudah deh. Padahal aku ngantuk banget. Sayang juga uangnya. Aku udah bayar Hotel ini 200 ribu buat malam ini sampai pagi. Tahu gitu mah, itu uang mening buat kasih makan anak jalanan hih. Eh, tapi kan uangnya dikasih Azka hihi. Yaudahlah terlanjur." Oceh Yola sambil bangun dari rebahanya.
"Biar gak ngantuk, saya mandi dulu deh." Sambil menyimpan hpnya dikasur. Lalu mengambil handuk yang disediakan Hotel dan pergi mandi."