
Terlihat olehnya Yola yang sedang membawa air menuju ke arahnya. Buru-buru Rei menyimpan hpnya ke meja.
Yola memberikan minum ke Ricard. Namun, dia hanya meminumnya sedikit. Dia yang masih dek-dekan bingung menyembunyikan rasa geroginya.
"Saya pusiiiing." Rei memberikan gelas kepada Yola.
Yola lalu mendekatinya dan memeluknya.
Rei yang sudah mentok kebingungan. Menerima pelukan Yola dengan sangat erat. Sambil sesekali pura-pura merengek.
Yola yang juga panik melihat Rei yang sakit. Hanya mengelap keringat Rei yang banyak keluar. Dia mencoba melepaskan pelukan Rei untuk membawa hpnya. Dia mencoba untuk menghubungi Dokter.
"Aku bawa hp dulu sebentar ya."
"Mau ngapain?"
"Mau nelpon Dokter. Keringat kamu sangat banyak keluar. Nanti dehidrasi."
Karena kaget dengan perkataan Yola. Ricard kembali merajuk.
"Jangan! Disini aja jangan pergi!" Rei semakin erat memeluk Yola.
Yola tidak menjawab.
"Ya ampun. Ini orang kalau lagi sakit beda banget. Benar-benar kaya anak kecil hih."
Yola tidak merasa dek-dekan dipeluk Ricard. Dia hanya merasa aneh, dan benar-benar sangat panik. Tapi dia merasa senang.
"Ehm. Jangan hanya kalau sakit seperti ini. Kalau bisa tiap hari. Heheh." ucap Yola.
Rei yang mendengarnya hanya cemberut. Dia tidak menjawab. Hanya pura-pura tertidur.
"Ya ampun. Hasrat ini benar-benar susah sekali dikendalikan. Kalah. Kali ini benar-benar kalah." ucap Rei dalam hati.
"Rei? Apa kamu tertidur?"
Tidak ada jawaban.
"Rei?"
Tidak ada jawaban
"Kamu tidak menjawab, pasti udah tidur.
"Rei?" Yola membangunkan Rei dengan menggerakan pahanya.
Rei pun pura-pura kaget dan membuka mata. Dia tidak menjawab hanya membenamkan wajahnya ke perut Yola.
"Yaudah yaudah. Aku gak bangunin lagi. Maafya. Kamu bobo aja. Aku disini kok. Gak pergi."
Rei tidak menjawab
Saat Yola akan membenarkan selimut. Dia melihat kunci pintu yang tergeletak tanpa cantelan. Dia mengambil kunci itu, dan memasukanya ke dalam penyangga buah D*d* nya. Karena tidak ada pilihan lain.
Rei yang masih membenamkan wajahnya ke perut Yola, tidak menyadari kalau kuncinya dibawa Yola.
Seminggu Kemudian.
__ADS_1
Waktu subuh dikota Jakarta.
Tidak bisa diragukan lagi lampu yang terhampar luas dan bangunan tinggi yang megah itu sangat indah, membuat Kotanya semakin indah ketika dilihat.
Suara kendaraan yang masih sepi, mengundang lamunan dari seorang pria yang sedang merasakan dinginnya angin dan melihat pemandangan tersebut, dari jendela lantai 5 Hotel Mewah miliknya.
Dia baru saja melaksanakan sholat, karena masih menggunakan celana panjang cingkrang, koko putih setengah lengan, jam tangan, kacamata, serta rambut yang dijambul dam masih basah.
Ilustrasi Rei saat itu.
"Bagimana kabar dia? Apa saya terlalu menyakitinya?
Apa dia semakin dekat dengan pria itu?
Mumet.
Misi kali ini jangan sampai gagal. Saya harus benar-benar mengetahui identias pria itu.
Jadi, mau gak mau saya harus pulang ke rumah.
Ditempat rahasia itu, banyak sekali tersimpan pertanyaan tentang dia yang belum terjawab. Maafkan saya Yola."
Beberap menit kemudian.
Dikampus lagi ada acara pemilihan Bem Kampus.
Yolanda dan teman-teman seni nya menjadi panitia dan akan tampil mengisi panggung acara.
Sudah seminggu setelah kejadian Rei sakit.
Rei semakin dekat dengan Laura, yang membuat Yola semakin merasakan api cemburu. Sedangkan Yola sendiri semakin dekat dengan Revan. Namun, sebagai kakak. Bukan sebagai teman tapi mesra.
Ditambah lagi, Mahasiswa tampan dikelasnya sekarang mengejar-ngejar dirinya. Sampai satu kampus tahu. Karena bagimanapun ketampanan Mahasiswa tersebut hampir sebelas duabelas dengan Rei.
Satu jam kemudian dikampus.
Saat itu, adalah hari bebas dikampus. Rei ke kampus karena ada beberapa bimbingan Kelas.
Dia saat itu masih diparkiran. Dia berangkat bareng Laura. Sedangkan Yolanda dia yang saat itu baru datang, membawa mobil Adventure milik Revan dan menjadi pusat perhatian orang-orang dikampus.
Dia turun dari mobil sendiri, karena saat itu Imelda pagi-pagi berangkat ke kampus dijemput Devan.
Dia menggunakan rok payung hitam, sepatu, tas gendong hitam, tidak menggunakan kacamata, pertama kali rambutnya diurai dan sedikit polesan make up. Lalu dia berjalan menuju ruang seni.
Namun, ketika dia masih diparkiran. Tiba-tiba dia melihat Rei dan Laura yang saat itu sedang mengobrol, bersama beberapa Mahasiswi baru. Lalu mereka melihat Yola yang baru saja turun dari mobil dan menuju ke arahnya.
"Wah, lihat deh ada kakak tingkat seperti model"
"Oh iya. Cantik banget ya."
"Loh, itu kan kak Yolanda. Anak seni. Sepertinya dia akan tampil deh sekarang"
"Masa sih? Orangnya ramah banget kayanya. Jarang yang cantik kaya gituh bisa ramah yah. Kebanyakan pencitraan doang." ucap para adik tingkat. Rei yang melihat ke arah Yola tidak mengedipkan mata.
"Yola? Maafkan saya. Lagi-lagi harus menyakiti kamu." batin Rei.
__ADS_1
Laura yang mendengar perkataan para adik tingkatnya hanya berdecih.
Kemudian dia melihat ke arah Rei yang masih menatap Yolanda.
"Rei? Ih, kamu kenapa lihatin dia? Naksir juga ke si cewek ondel-ondel?" Laura menyenggol Rei.
Rei tidak menjawab.
Dia hanya menatap Laura . Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia berusaha pergi. Namun, Laura menggenggam tangannya.
Para adik tingkatnya hanya keheranan dan merasa eneg melihat tingkah Laura yang bucin ke Rei.
Yolanda yang saat itu sudah berada dihadapan mereka. Disambut baik oleh adik tingkatnya. Beda dengan Laura yang selalu menyinyirnya.
"Wah. Gak motor gak mobil. Ganti-ganti terus. Enak ya jadi cewek simpenan?" Berdecih.
Yola hanya menatap Laura dan melirik tajam Rei. Rei hanya cuek.
"Sering banget ya kepergok berduaan sama Pak Ricard. Apa kalian pacaran?" Melirik Rei dan memutarkan bola matanya.
"Kelihatanya gimana?" Ucap Laura bangga.
"Kelihatanya kamu yang bucin. Lagi setahu saya. Pak Ricard sudah menikah."
Rei, Laura, dan para adik tingkatnya sangat kaget mendengar Yola mengatakan itu.
"Jangan asal bicara kamu. Gak usah ngeles kalau dibilangin. Akuin aja sih kamu itu wanita simpanan."
Rei hanya menautkan kedua alisnya.
"Sekali lagi kamu bilang begitu. Saya tidak bercanda untuk melaporkan kamu. Atas pencemaran nama baik."
"Hey memangnya kamu siapa? Hanya cewek ondel-ondel." menekan dada tengah atas Yolanda sambil sedikit mendorongnya.
Yolanda yang saat itu akan balik mendorong Laura. Dikejutkan oleh kedatangan Rafael. Dia adalah Mahasiswa tampan yang satu kelas dengan Yolanda.
Para adik tingkat yang berjumlah kurang lebih 10 orang itu mensorakinya.
"Cie cieee."
"Kak Yola? Kakak ini pacarnya ya?"
Yola tidak menjawabnya dan hanya tersenyum.
Rafael hanya merangkul pundak Yola sambil berkata.
"Ayo sayang." ajak Rafael.
"Cieeee tuh kan." Sorak adik tingkatnya.
Ricard yang melihatnya langsung peri dsn dibuntuti Laura.
"Apa-apan dia?" batin Ricard.
"Ayo udah ditunggu anak-anak." ajak Rafael.
"Iya iya ayo. Maafya! Si mel udah dateng kan?"
__ADS_1
"Dari pagi dia." ucap Rafael. Mereka pun pergi ke ruang seni.