
Sekitar jam 11 Malam.
Saat itu, Revan sedang berada di panti. Dia Karina, dan para karyawan panti baru saja selesai membuat anak-anak panti istirahat. Revan yang sudah terlihat lelah dan mengantuk tidur dikamar Karina. Sedangkan Karina sendiri tidur dikamar bayi bersama satu orang karyawan panti. Saat dia akan memejamkan matanya. Tiba-tiba ada notifikasi masuk, namun bukan dari whatsApp , tapi dari SMS.
"Selamat malam Revan Davidson!
Saya tahu kamu yang membunuh kekasih kamu, Salma. Dan saya akan menuntut keadilan untuk itu."
Revan hanya mengunggingkan bibirnya.
"Saya akan terus mengirim pesan ini. Sampe kamu sendiri mengaku ke Polisi, bahwa kamu telah membunuhnya."
SMS itu kembali masuk.
Revan mengerutkan keningnya. Pengirim memprivasi nomornya.
"Apa maunya orang ini? Kenapa dia bisa tahu nomor saya?"
Tidak ada rasa takut dari Revan, dia juga bersikap tenang. Karena bagi dia itu gak penting, dia juga tidak melakukannya. Dia pun menyimpan hpnya dimeja. Lalu mematikan lampu dan tidur.
Dikediaman Rumah Dimas
Terlihat Dimas yang sedang berada dikamar Salma. Dia mengepalkan kedua tangan dan menekankan ke meja rias. Terlihat dia yang sangat tampan ketika kacamatanya dibuka. Dan rambut poni nya dijambul ke belakang.
Sorot matanya sangat tajam, dan mimiknya penuh amarah.
Dreet dreet
Notifikasi pesan masuk dihpnya.
"Sial. Lagi-lagi identitas dia sulit diketahui." umpat Dimas saat membaca pesan dari seseorang yang berisi.
"Maaf tuan. Saya chat kesini. Tuan Ricard tidak menjawab telpon saya. Identitas tersembunyi Ibu kandungnya Pak Revan belum diketahui. Kita gagal mengikuti cewek itu. Malam ini dia sepertinya tidak jadi pergi bersamanya."
Dimas yang amarahnya masih belum reda, melempar pash bunga yang ada didekat meja rias.
Laila yang saat itu tertidur dikamar sebelah terbangun karena kaget.
"Subhanallah. Ada apa?" Dia langsung bangun lalu memakai kacamatanya dan buru-buru keluar.
__ADS_1
Tuk tuk tuk
"Dimas? Apa kamu didalam? Ini mama."
Pintu tidak dibuka.
Tuk tuk tuk
Masih tidak dibuka.
Laila pun membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
Dimas yang sudah keluar dari kamar trsebut, hanya melirik Laila dan langsung pergi ke kamarnya.
Dia merebahkan dirinya dan menatap lampu tidur kamarnya.
"Maafkan aku mah. Aku masih belun ikhlas atas kepergiaan kakak." batin Dimas. Yang kemudian berusaha memejamkan matanya.
Dikamar Salma.
Laila yang baru saja masuk. Melihat banyak sekali pecahan pash bunga yang sangat berantakan dilantai.
"Ya Allah, Dimas. Mama tahu ini ulah kamu." ucpnya.
Lalu dia pergi ke kamar Dimas dan mengetuk pintu kamarnya dengan keras.
Tuk tuk tuk tuk tuk
"Dimas buka pintunya!"
Tuk tuk tuk tuk tuk
"Dimas?"
Dimas yang belum tertidur dan hanya memejamkan matanya itu langsung bangun kemudian membuka kunci kamarnya.
"Kenapa mah? Aku ngantuk sekali."
Laila tidak mengatakan apapun. Dia hanys menarik banu Dimas. Agar Dimas keluar. Karena saat itu, dia hanya mengeluarkan setengah badanya.
__ADS_1
"Mah kenapa sih? Lepasin."
"Sudah mama bilang. Jangan selidiki kasus kematian kakak mu itu. Kenapa kamu masih ngeyel?" teriak Laila.
"Memangnya kenapa mah? Kakak itu dibunuh mah, dibunuh. Apa tidak ada keadilan untuknya?" Bentak Dimas.
"Mama sudah mengikhlaskanya. Kamu jangan bikin mama pusing ya. Kita sekarang tinggal berdua. Papah kamu si Mafia itu gak tahu ada dimana." ucap Laila.
"Udahlah ma. Mama tidur lagi aja. Aku belum bisa tidur." Dimas berlalu meninggalkan Laila.
Laila yang melihat kepergian Dimas hanya duduk dan menunduk sambil memegangi pelipisnya.
Terlihat Yolanda yang sedang tertidur sambil menyender di kursi. Ricard yang saat itu terbangun dari tidurnya melihat jam di dinding. Waktu menunjukan pukul jam 12:06 WIB. Dia mengedip-ngedipkan matanya. Lalu dia mengambil hp yang sedang dichargernya.
Saat dia melihat hpnya, terlihat beberapa panggilan tak terjawab. Diantaranya dari Dimas dan nomor tak dikenal. Lalu dia membuang nafasnya dan menggelengkan kepalanya ke kanan.
"Saya benar-benar lupa. Malam ini ada penyelidikan." batinya.
Lalu dia berniat untuk mengambil minum. Tak sengaja, dia melihat Yola yang masih menggunakan sepatu dan masih rapih. Dia baru ingat kejadian sebelum dia tertidur pulas. Lalu dia menatap Yola. Namun, dia tidak berani menyentuhnya.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi malam minggu ini. Harusnya kamu pergi bersamanya. Dan saya akan tahu kalian pergi kemana."
"Kamu cantik. Benar-benar susah dibedakan antara kamu dengan Sarah (Mantan kelasihnya) sama-sama pemberani, ekstropert, kalau cantik gak usah ditanya. Saya pria normal. Yang pertama saya syukuri sekarang. Kamu ternyata wanita yang benar-benar cantik. Tubuh kamu juga benar-benar sangat indah. Sayangnya hati belum bisa dipaksa. Saya masih mengingat kenangan bersamanya." ucapnya dalam hati sambil berlalu ke kulkas.
Beberapa menit kemudian, Yolanda terbangun. Dia mengeliat, lalu dia teringat suaminya. Dia melihat suaminya ke kasur, namun tidak ada. Dia cari mengetuk pintu kamar mandi dan mencari ke balkon kamar masih tidak ada. Saat dia akan keluar kamar, dia melihat sebuah lukisan pemandangan air terjun dibelakang pintu. Lukisan itu persegi panjang, sebesar pintu. Karena lukisan itu terlihat cantik. Dia mencoba mengamatinya, dan mengelusnya. Saat dia mencoba mengamati bagian jembatan. Tiba-tiba dia mendengar suara dari belakang lumisan tersebut. Setelah dia mendengarkanya. Ternyata itu adalah suara Ricard. Dia sedang menelpon dengan seseorang dan banyak meminta maaf dengan beralasan sakit. Karena takut ketahuan, Yola buru-buru pura-pura tidur kembali.
"Mimpi apa aku? Dia benar-benar misterius. Tapi tenang saja, aku tidak takut. Sepertinya dia bukanlah orang jahat. Namun, yang dikatakan mama Amanda benar. Dia sangat introvert. Disana pasti penuh dengan rahasia. Suatu waktu, aku akan masuk kesana. Siapa tahu disana ada cinta yang tertutup. Cinta itu akan aku buka. Hahaha. Bercanda Ricardku." ucapnya dalan Hati.
Beberpa menit kemudian, Yola menyadari akan kehadiran Ricard. Dia benar-benar pura-pura tidur. Lalu pura-pura mengeliat dan membenamkan wajahnya ke pinggir sofa. Dia seperti itu karena menahan tawa. Lalu dia pura-pura batuk. Posisi dia seperti itu, menjadikan rambutnya tertindih oleh bahu kanannya. Sehingga penyangga buah d*d* nya menjiplak dan terlihat dari punggungnya yang terhalang kaos. Ricard yang melihatnya kembali melemas. Yola yang lehernya mulai pegel langsung mengeliat lagi. Dia pura-pura membuka matanya lalu melihat Ricard.
"Kamu? Jam berapa ini? Apa kamu bangun dari tadi?" Pura-pura nanya.
Ricard yang hanya menunduk karena lemas pun tidak menjawab.
Yola menghampirinya.
"Pasti kamu masih sakit. Jangan berdiri disini. Ayo tidur lagi. Tuh kan keringat dinginnya banyak lagi." Rei masih tidak menjawab. Dia dipapah oleh Yola ke kasurnya. Rei berbaring menyender dibantal yang ditinggikan. Lalu Yola memakaikanya selimut.
"Saya haus." Logat manja Rei keluar. Dia sengaja seperti itu, karena sudah bingung. Apalagi waktu masih menunjukan tengah malam. Dia harus menahan hasratnya yang mulai panas itu.
__ADS_1
"Kamu haus? Tunggu disini yah." Yola buru-buru mengambil air ke kulkas. Padahl Rei tidak haus, karena sudah minum banyak.
Ketika Yola sedang mengambil minum. Rei mengeluarkan hp dari saku celananya. Dan dia tidak sengaja menjatuhkan kunci tempat rahasia itu.