Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Wanita Penggoda


__ADS_3

Beberapa menit kemudian


Saat itu, Yola langsung mensearch tentang Pobia darah.


"Oh iya benar-benar. Namanya Hemophobia. Disini dikatakan, jika orang phobia darah, maka dia juga kemungkinan akan phobia oleh jarum suntik atau tripanopobia. Dan jika phobianya berlebihan, dia bisa pingsan.


Ohhh, pantes Rei gak mau banget waktu mau dicek Hb. Karena takut jarum suntik. Untung aja, Dokter gak jadi aku telpon waktu itu." Yola mengangguk-anggukan kepalanya sambil masih menatap layar hpnya. Dan sesekali melirik Rei.


"Ciri-ciri penderita phobia: badan gemetaran dan berkeringat, rasa cemas yang berlebihan atau panik, tubuh terasa lemas secara tiba-tiba, Jantung berdetak cepat, napas cepat atau terasa berat, nyeri dada, Pingsan, mual dan muntah.


Kondisi ini disebut dengan sinkop vasovagal, yaitu reaksi tubuh yang berlebihan terhadap hal-hal yang memicu pingsan, misalnya ketika melihat darah.


Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk memiliki phobia darah, di antaranya: Faktor keturunan, pola asuh anak, misalnya memiliki orang tua yang terlalu protektif, riwayat trauma psikologis, seperti pernah mengalami kecelakaan atau melihat kecelakaan yang menyebabkan keluar banyak darah.


Oh gitu. Tapi yang dialami Rei, sepertinya pola asuh anak deh. Kata ibu kan dulu Rei diasuh nenek dan pamannya dikampung." Yola membaca dengan nyaring, sehingga dia lupa kepada Rei, yang masih tak sadarkan diri.


Dia menyadari itu, saat melirik Rei dengan darah dari hidungnya yang mulai tidak menetes. Namun, baju, mukena dan kain yang dipakainya penuh dengan darah.


"Astagfirullah. Sampai lupa. Ini benar-benar karena cuaca dingin dan runangan ber Ac." ucap Yola sambil berlalu, untuk mengambil minyak kayu putih dan baju ganti untuk Rei.


Tidak lama kemudian, Yola terlihat sedang membersihkan darah yang berada dibawah hidung Rei. Lalu dia membuka baju Rei yang penuh darah.


"Ya ampun, semoga aku tidak terpesona." batin Yola, karena melihat tubuh putih dan mulus milik Rei. Perlahan-lahan dia membuka bajunya.


"Massya Allah. Ototnya membentuk juga. Ah Rei, andai kamu tak selemah ini dan sudah mencintai aku. Pasti kamu bisa melindungi aku hihi" Yola pun mengganti baju Rei.


Lalu dia mendekatkan minyak kayu putih ke dekat hidung Rei. Namun, belum ada reaksi.


"Hem. Sebaiknya, kain-kain ini saya keluarkan dulu. Saya juga harus mengganti mukena." ucap Yola sambil menyelimuti Rei dan berlalu berlalu keluar.


Namun, saat dia baru didekat pintu. Tiba-tiba Rri terbatuk.


"What? Bagaimana ini? Daeah dimukena saya sangat banyak. Jika dia melihatnya, apa akan pingsan lagi?" ucap Yola.


Ukhuk-uhuk-uhuk

__ADS_1


"Gak ada pilihan lain." Yola spontan membuka mukenanya. Dia menaruhnya dibawah dekat puntu bersama kain-kain kotor tadi.


Ilustrasi Yola



Sungguh sangat imut dan cantik. Dia yang rambutnya disanggul dan sedikit acak-acakan sangat benar-benar membuat orang yang melihatnya akan terpesona. Terlebih lagi, karena dia memakai baju putih berpayet. Hanya saja, untuk bawahanya dia memakai celana kulot.


Jarak dari pintu ke kasur sekitar 4 meter. Yola yang masih berjalan dengan jarak 3 meter dari pintu. Tiba-tiba mematung, saat melihat Rei yang sedang menatap dirinya. Beberapa menit, mereka saling tatap.


"Harusnya aku tidak membuka mukenaku, tetapi apa jadinya jika dia pingsan lagi? Aku gak mau dia kembali sakit. Karena nantinya, aku susah untuk pergi ke markas. Ah, yaudahlah.


Anggap aku sekarang yang tidak menutupi wajah, karena kamu sudah membuat aku senang. Sampai aku bisa bercerita seperti tadi. Hem, alangkah indahnya pagi ini.


Semoga ini akan bertahan sampai nanti. Semoga dia secepatnya akan mencintaiku. Agar aku tidak memikirkan terus perceraian iyu. Karena bagaimanapun, rumah tangga aku sekarang masih menggantung.


Tadi, hampir saja dia menyebutkan bahwa harusnya seorang istri yang hamil. Mana mungkin, dia saja tidak pernah menyentuhku." batin Yola. Lalu lamunan dia terbuyar, saat Rei memanggilnya.


"Sampai kapan kamu berdiri disitu? Apa tidak pegal?" tanya Rei.


Yola tidak menjawab, dia langsung menghampiri Rei. Lalu, membungkukan badannya dipinggir kasur untuk menatap Rei. Kedua tangannya ditempelkan dilutut.


"Apa yang kamu rasakan, Rei?"


Rei tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala. Yola mengerutkan keningnya.


"Yasudah. Saya keluar dulu ya! Nanti saya langsung berangkat ke kampus."


Rei tidak menjawabnya, dia yang tadinya menatap Yola. Memutarkan kedua bola matanya.


"Putaran bola mata kamu itu, mengingatkan saya. Ketika kamu duduk di sofa, menunggu saya untuk berangkat kuliah. Saya tanya, kamu udah sarapan atau belumnya. Kamu hanya memutarkan kedua bola mata kamu. Tanpa menjawab pertanyaan saya. Tapi gak apa-apa, saat itu saya sadar diri kok." Yola tersenyum.


"Memang, " Rei baru saja akan bicara. Yola berbicara kembali.


"Dan sekarang saya lebih sadar diri." Dengan cepat Yola berkata.

__ADS_1


"Memang benar wanita. Jika ada hal yang membuat dirinya merasa terluka. Hal itu selalu diingatnya. Wai Five Eit One, selalu diingatnya." ucap Rei menatap Yola.


Nb: Wai Five Eit One (5 W 1 H )


"Sudah tahu begitu. Kenapa kamu masih mengualanginya? Kamu tahu? Seseorang memutarkan kedua bola matanya, jika dia melihat sesuatu yang tidak ia sukai atau ia benci." ucap Yola, sambil berdiri, dan sedikit menghentakan kaki.


"Bagaimana saya tidak seperti itu tadi? Sedangkan kamu menatap saya dengan posisi seperti tadi?"


"Apa? Seperti ini?" Yola kembali membungkuk.


Rei tidak menjawab, dia menyingkapkan selimutnya. Lalu, menggendong Yola dan membaringkannya ditempat tidur.


"Apa yang kamu lakukan Re," Yola belum selesai berbicara. Rei langsung menempelkan bibirnya ke bibir Yola. Yola hanya kaget dan terdiam. Kedipan mata yang menatap Rei menujukan tanda tanya besar.


"Oh tidak. Apa yang akan dilakukannya? Jangan sampai aku tergoda. Ingat yol! Dia masih belum mencintai kamu Yol. Please" jerit Yola dalam hatinya.


Lalu spontan dia mendorong tubuh Rei dari tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan Reicard?" Bentak Yola, yang kemudian bangun dan menyender dikasur.


"Jaga posisi tubuh kamu ketika berbicara dengan saya. Jangan seperti tadi. Yang memperlihatkan belahan dada kamu." ucap Rei kesal.


"Andai kamu tahu saya sudah mencintai kamu. Saya akan melakukan yang lebih dari ini Yolanda." teriak Rei dalam hatinya.


"Saya tidak menyadarinya, maaf. Oh iya, memang benar apa yang kamu katakan itu. Kenapa kesadaran saya selalu dirasakan, saat saya telah melakukan kesalahan?


Saya selalu mengingat, bahwa kamu masih pria asing. Seharusnya penampilan saya seperti biasanya, walaupun itu dirumah. Jika seperti ini, saya merasa menjadi seperti wanita penggoda, untuk pria dingin seperti kamu Reicard." Yola berbicara dengan lantang. Sedangkan Rei hanya terdiam mematung, lalu pergi membuka kaca jendela.


Yola lalu bangun, berlalu mengambil pakaian dan kain yang kotor tadi. Walaupun begitu, Yola menutup pintu dengan pelan.


Lalu dia menyender dibelakang pintu itu.


"Rei? Maafkan saya yang terpancing emosi. Astagfirullah. Semoga kamu gak lanjut sakit, Rei." Yola pun berlalu pergi dari kamar Rei.


"Saya harus bertemu dengan Dimas. Jika seperti ini terus, saya akan membuatnya terus-terusan terluka. Lagipula saya sudah mencintainya." ucap Rei dalam hatinya dan mengepalkan tangan kanannya.

__ADS_1


__ADS_2