Cintai Aku Pak Dosen

Cintai Aku Pak Dosen
Adegan Panas


__ADS_3

Rei terlihat tersenyum, dia langsung merangkul bahu Yola.


"Aduh, gak salah nih? Hampir perfect aktingnya. Tapi maaf Rei, aku gak mau ke PDan nantinya." Batin Yola.


"Jangan seperti ini sayang! Ini didepan umum. Ingat kata aku dulu. Kalau kita gak sedang berdua, jangan terlalu romantis. Kenapa? Karena itu namanya mengumbar kemesraan, jangan membuat orang lain panas. Hehe." ucap Yola lalu sambil tersenyum. Lalu menyimpan tangan Rei yang merangkulnya, ke bawah meja dengan tangan kiri. Dan dia menggengam erat tangan Rei, dengan sedikit ditekan.


"Tuuuuuuhhh. Dengerin apa istrimu Rei." ucap istrinya Jonatan. Sedangkan Jonatan sendiri hanya tersenyum, dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Iya tan" Rei tersenyum malu.


"Ah, padahal biarkan saja seperti tadi. Awas aja nanti dirumah Yol." batin Rei melirik Yola dan memicingkan matanya.


"Tapi pria kalau udah cinta, memang seperti itu. Tidak mau jauh-jauh dan selalu ingat sama wanita dihatinya. Apalagi yang udah menjadi istrinya, terlebih lagi istri yang selalu menyenangkan hati suaminya. Benar begitu Rei?" tanya Jonatan menggoda.


Rei tersenyum dan mengangguk.


"Ehm. Aku menyenangkan hati kamu gak pah?" tatapannya sinis.


"Kadang-kadang mah, kalau gak lagi cerewet. Ups" Jonatan berheni mengunyah.


"Papaaaaaaaaaahhhh" Jonatan dijewer istrinya. Yola dan Rei hanya tersenyum.


"Maaf!" Yola yang baru sadar menggenggam tangan Rei, langsung melepaskannya. Sontak Rei kaget.


"Lagiiiiiiiii" nada manja Rei.


"Apanya?" Yola sedikit kaget.


"Minumnya, baru sedikit kenapa udah ditarik sedotannya?" Rei pura-pura merajuk.


"Haha. Alexandar. Diam-diam, lucu juga anaknya." ucap Jonatan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Maaf sayang," Mata Yola seketika sedikit melotot, saat keceplosan bilang sayang. Rei hanya meliriknya dengan penuh tanda tanya.


Dirumah Apartemen Penyekapan


"Tolong! Tolong! Apa diluar ada orang?" Laura teriak-teriak. Beberapa kali dia teriak-teriak. Namun, tidak ada orang satupun yang nyautin.


"Ah, untungnya pria itu baik. Dia meninggalkan air minum itu disini." ucap Laura, sambil meminum air dibotol sisa dirinya minum saat makan tadi.


"Uhhh. Legaaaanya. Mungkin sekali lagi aku teriak" ucap Yola. Dia pun kembali teriak sambil menggedor-gedorkan pintu.


"Itu kan? Lauraaa, Lauraaa," ucap Melinda dengan mulut yang masih tersumpal kain. Dia hanya pasrah, bahkan sampe meneteskan air mata karena kesal. Dia terus menggerak-gerakan tubuhnya.


"Lauraaaa? Mama disini sayang. Apa yang sebenarnya terjadi?" Melinda semakin meneteskan air mata.


"Ah. Aku yakin akan ada orang yang kesini. Aku selalu yakin, pria itu pria baik. Hanya saja, apa maksud dia menyepak aku disini?" Laura sedikit menggedorkan kepalanya ke pintu.


Setengah jam kemudian


"Terimakasih sudah datang!" ucap Rei yang duduk didepan mobilnya.


"Gak usah bilang terimakasih. Saya kan masih istri kamu, hak kamu kalau saya harus datang kesini."


"Iya. Saya akan kembali ke kantor."


"Silahkan! Hati-hati ya! Oh iya, sepertinya saya malam ini nginap dirumah Imel." ucap Yola.


"Saya akan pulang ke rumah. Jadi, kamu pulan glah! Walaupun malam."


"Yaudahlah."


"Apa kamu gak mau?"


"Mau. Udah pasti mau. Bagaimanapun kita masi pasutri. Jika kamu ada dirumah, masa saya gak ada. Allah bisa hukum saya, Rei." ucapnya.


"Harusnya pemikiran kamu itu, sebelum kamu bilang akan menginap dirumah Imel."

__ADS_1


"Kan kirain kamu mau izinin. Makanya saya bilang dulu."


"Wanita tidak mau kalah."


"Yaudah saya permisi."


"Kamu akan pergi sama siapa?"


"Teman."


"Cancel. Biar saya yang antar kamu. Masuk!" To the point Rei mengajak Yola masuk ke mobilnya.


"Hahaa. Yes. Untung saja, belum chat Rafael." Yola pun masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih!"


"Iya Yolanda."


"Hah?"


"Kenapa?"


"Kamu jarang-jarang loh, panggil nama lengkap saya, Rei."


"Suka-suka saya. Kamu mau berhenti dimana?"


"Ooowww. Em Lampu merah ya!"


"Hemm"


"Kamu gak nanya lagi saya mau melakukan apa?"


"Terserah kamu. Saya gak mau ikut campur. Banyak kerjaan Di Hotel." ucapnya datar.


"Semangat, Reicard Putra." Yola tersenyum.


"Oh iya. Habis ujian nanti, aku mau pulang kampung dulu. Boleh gak?"


Deg


"Kenapa?"


"Ya gak apa-apa. Mau bertemu Ayah sama Ibu. Sekalian refreshing dulu."


"Hem. Lihat nanti ya!" Rei hanya terus melajukan mobilnya.


Yola tidak menjawabnya, dia hanya langsung merebahkan tubuhnya dikursi.


"Saya tidak akan mengizinkan kamu pergi. Kecuali, dengan saya Yola." batin Rei.


Lalu dia menepikan mobilnya.


"Disini kan?" ucap Rei.


Yola yang sedang melamun, tidak menjawabnya.


"Hah, dia malah melamun. Yasudah." Batin Rei. Lalu dia, mengeluarkan hpnya.


Truuuut truuut


"Assalamu'alaikum, pak" Suara Dimas disebrang sana.


"Wa'alaikumsalam. Kamu ke Hotel saya, sekarang!" titah Rei.


Yola yang mendengar kata Hotel, tiba-tiba langsung melirik dan menatap tajam ke arah Rei.


"Untuk apa pak?"

__ADS_1


"Datang saja!" tegasnya, lalu mematikan telpon.


"Kenapa?" tanya Rei, tanpa melihat ke arah Yola. Namun, melihat ke arah lampu merah.


"Apa kamu mau mengajak seseorng ke Hotel? Apa itu wanita Rei?"


Rei menatap Yola


"Turunlah! Itu bukan urusan kamu."


"Katakan Rei!" Yola mencabut kunci mobil.


"Apa-apaan kamu?" Rei mencoba merebut kunci mobil.


"Kenapa? Tidak mau mengatakannya?" Yola menatap Rei.


"Kamu tinggal turun! Didepan sana lampu merah. Cepatlah! Saya masih banyak kerjaan." Rei merebahkan dirinya.


Yola yang kesal, langsung menarik cadarnya ke bawah.


"Bagaimana kalau ini?" Yola menarik tubuh Rei, lalu dia men**** bibir Rei. Rei yang masih kebingungan hanya terdiam.


"Gadis ini. Biarkan saja, enak juga" Batin Rei dan malah merespon Ci**** Yola.


"Ini first kisss aku. Ah, aku memang sudah tidak waras. Maaf, karena aku masih plin plan dengan perasaan aku Rei." batin Yola.


Ketika hasrat Rei sudah memanas, tiba-tiba Yola menarik tubuhnya. Lagi-lagi Rei kesal dibuatnya.


"Itu first kiss saya Rei. Hehhe, maaf Rei saya jadi malu."


Melihat Yola tertawa sambil tidur, membuat Rei tersenyum dan ikut tertawa. Namun, karena kasihan Rei membangunkannya.


"Yolandaaaaa?" Rei menepuk pundaknya.


"Rei?" Yola kaget.


"Astagfirullah. Kenapa aku bisa ketiduran? Hanya mimpim benar hanya mimpi." Lalu Yola menyentuh cadarnya.


"Hayah. Untungnya aku masih memakai cadar. " batinnya mengeluatkan nafas panjang. Lalu melihat ke lampu merah.


"Rei saya sangat lelah, maaf jadi ketiduran." ucapnya sambil merapihkan hijab dan cadarnya. Namun, Rei tidak menjawabnya. Dia hanya menatap Yola dengan sedikit tersenyum.


"Apa? Apa? Ada apa dengan kamu?" Ketus Yola.


"Mimpi apa kamu? Kenapa langsung menyentuh cadar kamu?" Goda Rei.


"Apaaaaa? Hem. Saya hanya tertidur, cuacanya sangat panas, jadi membuat saya mengantuk. Kirain, air liur saya keluar. Hahaa" Yola pura-pura kembali tertawa.


"Ah lucunya," ucap Yola kembali.


"Kamu tertawa saat tidur tadi." ucap Rei.


"Hem. Saya mimpi indah Rei, indah sekali. Haha. Mana mungkin sih? Ih geliiii" Yola kembali tertawa. Tanpa menyadari Rei memperhatikannya.


"Turunlah! Saya tidak ingin tahu tentang mimpi kamu." ucap Rei.


"Saya mimpi lihat film horor Rei. Ada adegan sensitif nya. Saya sama Imel malah tertawa, soalnya geli banget. Iiihh" Yola merinding.


"Saya bisa melakukannya." Batin Rei.


Rei pura-pura tidak menjawab.


"Maaf Rei saya harus berbohong. Kalau saya jujur kan malu." Batin Yola.


"Baiklah! Ayo pak suami, saya turun ya! Hati-hati. Assalamu'alaikum" ucap Yola, yang tanpa permisi langsung menarik tangan kanan Rei dan menciumnya. Lalu dia keluar.


"Waalikumsalam. Hem." Rei pun melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2