
"Iya hallo non?" jawab pak Maman yang kaget karena ketiduran.
"Pak, tolong ke depan pintu ya. Rei pingsan, apa tidur nih? Saya berat bawa dia ke dalam." ucap Yola.
"Oh iya iya non." Yola pun mematikan telponnya.
"Apa? Apa ini?" Yola kaget saat menyadari Wajah Rei terbenam didadanya.
"Astagfirullah Rei?" batin Yola, sambil buru-buru memasukan hpnya ke saku.
Tak lama kemudian pak maman datang, dengan tergesa-gesa.
"Non?" Panggil pak maman, sambil menghampiri Yola. Buru-buru pak maman membuka pintu. Rei pun dibawa masuk ke dalam.
"Disofa dulu aja ya pak!" titah Yola.
"Baik non." Pak maman membaringkan Rei.
"Pak tunggu sebentar, saya ke atas dulu ya." ucap Yola sambil berlalu. Sedangkan, pak maman hanya mengerutkan alis saat melihat Yola naik ke atas.
"Benar kata bi Lea, mereka masih pisah kamar. Sampai kapan ini? Bagaimana jika Tuan Alex pulang? Apa mereka akan terus berakting?" Batin Pak Maman, sambil memandangi wajah Rei.
Sementara itu, Yola buru-buru mencharger hpnya dan memasukan pistol ke dalam lemarinya. Lalu dia buru-buru lagi keluar untuk turun. Tidak lupa, dia juga membawa minyak angin.
"Pak? Tinggalkan saja, gak apa-apa." teriak Yola yang sedang menuruni tangga.
"Oh iya iya non. Saya permisi." ucap Pak Maman, dia pun langsung keluar.
Yola langsung mendekati tubuh Rei. Dia lalu membuka jas nya, lalu ke dasi dan membuka kancing kemeja yang bagian atas.
"Ada-ada aja kamu, Rei." ucap Yola sambil mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Rei.
"Astagfirullah." ucap Yola sambil melihat ke kanan dan ke kiri, ketika tangannya malah menyentuh bibir Rei.
"Maaf Rei. Harusnya aku berhati-hati." ucap Yola ngomong sendiri. Lalu dia mengarahkan minyak nya lagi ke hidung Rei.
Tak lama kemudian, kepala Rei bererak menjauhi bau minyak tersebut. Namun, Yola malah tetap mendekatkan minyaknya lagi ke hidungnya.
"Emmmm. Bauuuuu." Lirih Rei, sambil berusaha membuka matanya.
"APA?" Ketus Yola, sambil menatap Rei yang sedang menatapnya.
Rei hanya menunduk.
"Haduh Rei-Rei, baru sebentar gendong saya aja kamu sudah begini. Gimana kamu bisa lindungi sa, ups" Yola menutup mulutnya.
"Rei? Emm. Apa yang kamu rasakan? Kalau tidak ada berarti kamu kelelahan." ucap Yola langsung mengalihkan pembicaraan.
"Saya belum menjawab, kamu sudah duluan."
"Apa? Oh, jadi kamu kelelahan."
"Sepertinya begitu, kepala saya sakit." ucap Rei berusaha untuk duduk.
"Gak usah gengsi kalau butuh bantuan Rei." Yola membantu Rei untuk bangun.
__ADS_1
"Loh? Kamu ngapain buka-buka baju saya?" Rei kaget melihat bagian dadanya kebuka.
"Kira-kira ngapain menurut kamu?" tanya Yola balik. Sambil melihat ke arah lain.
"Hemm. Jam berapa ini?" tanya Rei yang tak melihat jam ditangannya.
"Itu kan ada jam." Yola melirk jam yang Rei pakai ditangan kanannya.
"Loh? Udah hampir jam satu. Teman kamu gak jadi kesini?" Rei mencoba mengambil hp di jas nya.
"Maaf Rei, hp saya udah saya ambil tadi." Yola melirik tangan Rei yang sedang meraba hp di jas nya. Rei yang mendengarnya menatap tajam Yola.
"Kenapa kamu?" Yola sedikit mundur. Rei malah mendekatkan wajahnya.
"Reeeeeeiiii? Nagapain?" Lirih Yola saat melihat tubuh Rei, hampir menindih tubuhnya.
"Apa? Apa yang akan dia lakukan?" Batin Yola, sambil memalingkan wajahnya saat melihat dada Rei. Namun, Rei malah sengaja menjatuhkan tubuhnya.
"Awwww. Awaa. Allahu akbar. Rei apa yan kamu lakukan? Tolong minggir Rei." ucap Yola sambil mencubit pahanya sendiri.
"Aw. Allahu akbar, Reicard Putra Awas. Ini bukan mimpi." ucap Yola. Sedangkan Rei hanya tersenyum geli.
"Uhhh. Nyamannya seperti ini." Batin Rei, tanpa menghiraukan Yola yang sedang teriak-teriak.
"Reii? Saya teriak nih." kekeh Yola.
"Jangan! Nanti yang lain kaget." Bisik Rei.
"Aaaaww. Geliii. Iii ihhh. Tolonglah!" Yola ketakutan.
"Janji apa sih? Ayolah! Tubuh kamu berat ih, ngap Rei saya pake cadar." ucap Yola pasrah, dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Baiklah!" Rei mengangkat tubuhnya, namun sambil menatap Yola.
"Boleh saya tanya sesuatu?" Rei tersenyum.
"Boleh saja." Yola sambil merapihkan hijabnya.
"Mau punya anak berapa?" Goda Rei.
"Apa?" Yola melotot.
"Kamu nanya saya tentang itu?"
"Tentu kamu kan istri saya." Rei menaikan alisnya.
"Ahaooo hoho. Ayolah! Jangan bercanda, sayyaaaaaangg." Ledek Yola sambil berdiri. Rei pun ikut beridiri. Lalu Yola berlari ke arah tangga.
"Yolandaaaaa?" teriak Rei. Dengan wajah yang sangat kesal. Lalu berlari mengejar Yola.
Karena Yola memakai gamis, dia sedikit kesulitan berlari. Nafasnya juga ngos-ngosan, cadarnya dia buka untuk memudahkan bernafas.
"Teruslah berlariiiiii!" Bentak Rei ditengah-tengah tangga. Sedangkan, Yola sudah berada diatas. Mendengar Rei membentak, Yola hanya terdiam.
"Saya lelaaaaah," Rei menunduk dan duduk ditangga. Yola membalikan badan.
__ADS_1
"Terus apa mau kamu?" tanya Yola terpaksa dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Mau nya kamu jangan pergi." Lirih Rei, suaranya seperti anak kecil yang akan menangis.
"Baiklah. Tapi kamu tadi seperti kemasukan mahluk halus Rei. Saya kaget." ucap Yola sambil turun dan mendekati Rei.
"Gak." ucap Rei.
"Jangan merajuk!" Yola duduk didekat Rei dan merangkul Rei. Kemudian Rei tanpa permisi langsung menghempaskan tangan Yola. Dan beralih memeluknya. Yola langsung menyeringitkan mata.
"Apa yang kamu mau?" tanya Yola lembut.
"Kenapa kamu senekad itu? Memecahkan kasus. Itu kasus besar. Kenapa tidak lapor Polisi?"
"Hem. Saya tahu Tuan Hans kejam. Tapi pembunuh Salma kan keluarganya, itu juga tanpa sengaja. Karena mereka gak tahu Salma keluarganya. Biarkan saja Tuan Hans yang menghukumnya. Apa saya salah?"
"Tahu darimana kasus itu?"
"Waktu saya dekat sama Revan, saya diculik. Singakat cerita, saya bertemu sama orang kepercayaanya. Dan saya juga tidak sengaja mengetahui ruang rahasia kamu." ucap Yola santai.
"Jadi kamu tahu semuanya?" Rei menatap Yola.
"Tentu."
"Kenapa senekad itu? Itu kasus besar."
"Kamu sudah menanyakan itu tadi."
"Kamu belum menjawab poin nya."
"Karena saya cinta kamu. Makanya saya nekad."
"Kok bisa?" Goda Rei.
"Ya karena cinta. Ini tak seberapa sih, dibandingkan dengan orang yang nekad bunuh diri karena cinta. Benar?" Yola tersenyum manis. Rei tidak menjawab, hanya melihat bibir Yola.
"Iss. Ngelihatin bibir." Yola mencebik.
"Boleh?" Rei manja.
"TIIIIIIIIDAK BOLLLLEE! Ini first kiss. Untuk suami yang mencintai saya." Sindir Yola.
"Reicard Putra mencintai Yolanda" ucap Rei sumeringah.
"Haduh. Anak manja seperti kamu, tahu apa tentang cinta?." Yola menyunggingkan bibirnya.
"Banyak bicara. Bismillah!" Rei langsung menikmati First Kiss Yola. Yola membiarkannya, dia hanya tersenyum.
"Terimakasih Ya Allah. Gak sia-sia, semua ini." Batin Yola.
"Gimana rasanya?" Goda Rei.
"Belum tahu. Lebih ke rasa bahagia, karena kamu sudah menyatakan cinta itu." Yola tersenyum.
"Ini yang pertama. Saya suka, maaf ditangga." ucap Rei malu-malu.
__ADS_1
"Ditempat umum pun tidak masalah. Gak malu mah." Yola menjulurkan lidahnya, bikin Rei tertawa kecil. Dan menggeleng-gelengkan kepalanya.